
“Maksud lo apa?! Lo mau bunuh mereka?!” teriak Bella panik.
“Kamu gak usah histeris gitu dong, Bel. Aku gak setega itu sampe ngebunuh mereka. Aku cuma bakal bikin mereka menyesali perbuatannya karena udah bikin hidup aku kayak gini.” Ucap Kris dengan tenang.
Kris beranjak dari tepi tempat tidur. Ia berjalan menuju sisi tempat tidur yang lain dan meraih remote dan menyalakan TV layar datar yang tertempel di salah satu dinding.
“Kamu liat ini ya, Bel.” Kris menekan tombol remote.
Seketika TV itu menyala. Layar TV itu menampilkan sebuah video CCTV. Bella menatap bingung pada layar itu. Setelah beberapa saat Bella mulai menyadari latar video itu adalah kamarnya ketika ia masih berada di LA. Layar kemudian menampilkan dirinya yang satu persatu melepas pakaiannya. Semua itu terekam dalam CCTV itu.
“Ini apa...” tanya Bella lirih. Ia sangat shock. Bella masih belum mempercayai apa yang dilihatnya.
“Masa kamu gak tau? Kamu gak kenal sama dekorasi kamar itu? Itu kamar kamu waktu di LA. Aku pasang kamera di kamar kamu, demi keamanan kamu Bel. Aku kan ditugasin buat jagain kamu selama 24 jam penuh. Jadi saat kamu di kamarpun aku harus tau kamu ngapain.” Ucap Kris dengan puas melihat wajah Bella yang terpaku pada layar TV.
“Lo…” semua yang ingin Bella ucapkan seakan tertahan di tenggorokannya.
Kris tertawa puas melihat Bella yang bergitu shock. Bella mulai menangis dan terus mencoba melepaskan tangannya dari borgol itu, raut wajahnya menggambarkan jelas ketidakberdayaan yang dirasakannya. Kris sangat menikmati pemandangan di depannya itu.
“Aku bener-bener kangen sama teriakan kamu, Bel. Ayo dong teriak.” Ucap Kris dengan puas, “Selama ini kalo aku kangen sama kamu, aku bakal liat video-video kamu ini.”
“Apa lo bilang? Video-video?”tanya Bella mencoba meyakinkan bahwa yang didengarnya salah.
Kris mengangguk dramatis, “Aku punya banyak banget video kamu. Aku suka ngeliat video-video kamu, terutama yang ini.” Menunjuk ke layar TV, “Sayangnya cuma beberapa kali kamu ganti baju di kamar. Aku nyesel juga kenapa aku gak pasang di kamar mandi kamu. Siapa tau terjadi sesuatu sama kamu, misalnya kamu kepeleset di kamar mandi, bisa aja, ‘kan? Ah, beneran aku gak becus jadi pengawal kamu, Bel” Kris berpura-pura menyesal.
“KYAAAAAA!!!” Bella berteriak histeris mendengar pernyataan Kris, jiwanya terguncang. Ia tidak menyangka sama sekali pengawal yang selama 7 tahun sangat ia percayai, bisa melakukan hal seperti ini.
Kris menenangkan Bella seperti sedang menenangkan bayi yang menangis, “ssshhh.. tenang, Bel. Aku gak nyebarin ini sama siapapun. Cuma aku doang yang liat. Kamu masih gak ngerti kalo aku itu cinta banget sama kamu? Lagian aku udah niat nikahin kamu ‘kan, Bel? Jadi gak masalah kalo aku udah liat tubuh kamu. Kamu juga tau aku pernah gantiin baju kamu waktu kamu mabuk waktu itu. Kenapa sekarang kamu sekaget ini?” tanya Kris tanpa merasa bersalah.
Bella masih terus menangis histeris. Ia merasa sangat malu, menyesal, dan merasa bersalah. Kini kebenciannya terhadap Kris berkali-kali lipat bertambah.
Wajah Devpun terlintas dalam benak Bella. Ia terus berharap Dev akan segera datang menyelamatkannya.
“DEV!!” teriak Bella histeris, air mata terus mengalir deras.
Mendengar Bella meneriakkan nama Dev, emosi Kris memuncak. Ia segera menaiki tempat tidur dan mengungkung tubuh Bella. Bella semakin histeris dan ketakutan.
“Berani banget kamu manggil nama dia di depan aku Bel!” teriak Kris, “Jangan bikin aku cemburu terus bisa gak sih?” dengan suara yang lebih lembut.
Tubuh Bella gemetar ketakutan. Ia terus meronta-ronta. Namun kini pinggang Bella ada diantara kedua lulut Kris.
“Satu hal yang aku sesalin lagi, Bel.” Kris mendekatkan wajahnya pada Bella. Bella mencoba menghindar, namun tangan Kris mencengkram dagu Bella agar Bella menatap ke arahnya, “Seharusnya dari dulu aku ngelakuin ini. Dulu aku terlalu naif, pengen jagain kamu dengan baik. Tapi sekarang aku bakal jadiin kamu milik aku seutuhnya.” Ucap Kris dengan seringai di wajahnya.
***
Dev terus melajukan mobilnya memasuki jalan seukuran satu mobil dengan hutan di kanan kirinya. Tidak ada lampu di jalan itu, sehingga penerangan hanya ada pada mobil yang dikemudikan oleh Dev saja.
[Abbas: Di daerah situ udah gak ada CCTV, Bro. Gue udah gak bisa mandu lo. Tapi gue yakin terakhir mobil Kris masuk ke jalan itu.]
Suara Abbas terdengar di earpiece Dev.
[Dev: Okay, Thanks. Selanjutnya biar gue yang nyari sendiri]
[Dev: Roger that]
Beberapa mobil mengikuti Dev dari belakang, mereka adalah pengawal lain yang siap untuk membantu Dev jika terjadi sesuatu dan juga polisi yang juga menargetkan untuk bisa menangkap Kris.
Dev terus melajukan mobilnya masuk lebih dalam ke hutan tersebut. Jalan itu lurus, namun sedikit berkelok dan terdapat beberapa persimpangan. Sejauh ini perjalanannya dalam menemukan Bella tidak mengalami kendala apapun. Namun Dev justru merasa tidak tenang. Beberapa pengawal Sigma yang setia kepada Kris, sudah diberhentikan juga dari Xander, namun sepertinya mereka tidak membantu Kris dalam upaya penculikan Bella ini.
Kendala yang Dev temui hanya jalur yang membingungkan. Beberapa dari mereka membagi dua tim, dan pergi ke dua arah yang berbeda. Setelah sekitar beberapa jam melajukan mobilnya Dev melihat sebuah villa. Villa itu hanya satu-satunya di tengah hutan itu. Lampunya menyala. Dev segera memasuki gerbang villa yang dibiarkan terbuka tanpa penjagaan. Ini semakin membuat Dev resah, kenapa Kris bekerja sendiri? Kenapa ia tidak meminta anak buahnya untuk berjaga?
Mobil para pengawal dan juga mobil polisi segera bergabungdi area villa. Mereka turun dari mobil. Dev berjalan terpincang ke arah pintu utama, pintu itu terkunci. Seorang pengawal segera mendobrak pintu itu.
“Bella!” teriak Dev. Ia menyisir semua ruangan di villa mewah tersebut. Ia buka satu persatu kamar disana, dibantu dengan para polisi dan juga pengawal.
Dev menuju sebuah kamar. Ia raih gagang pintunya dan pintupun terbuka. Ia melihat Bella tertidur di sebuah tempat tidur dengan posisi yang nyaman diselimuti selimut tipis. Kris berada di sebelah Bella, terduduk di sebuah kursi.
“Lama banget lo nyampe sini.” Ucap Kris dengan tenang, matanya tertuju pada kaki Dev yang berjalan terpincang menuju ke arahnya.
Entah mengapa Dev merasa semakin resah melihat perilaku Kris. Dev segera menghampiri Bella dan mengecek nadi dan nafasnya. Bella masih hidup. Ia melihat wajah kekasihnya itu penuh peluh dan air mata yang mengering. Dev menyingkap selimut itu dan memperhatikan setiap inci tubuh Bella. Namun tidak ada yang aneh atau janggal, Bella terlihat sama seperti sebelumnya.
“Apa yang lo lakuin ke Bella?” tanya Dev.
Kris tersenyum penuh kemenangan, “Lo liat sendiri Bella lagi tidur. Gak ada yang aneh kan sama dia?"
Dev semakin mencurigai Kris.
BUG!!
Dev layangkan sebuah pukulan pada wajah Kris dengan tangan kirinya, “APA YANG UDAH LO LAKUIN?! BERANI BANGET LO NYULIK CEWEK GUE!!”
Saking kerasnya pukulan itu, hidung Kris mengeluarkan darah. Namun Kris tidak membalasnya. Ia malah tertawa semakin keras. Entah mengapa Dev semakin merasa gelisah. Ia berniat untuk kembali menghajar Kris. Namun polisi segera mengamankan Kris dari Dev.
Dev kembali menatap wajah Bella, “Bel, bangun, Sayang.” Dev menepuk-nepuk pipi Bella, namun Bella tidak bereaksi.
Dengan susah payah ia menggendong Bella dengan tangannya yang masih terluka. Seorang pengawal segera membantu Dev membopong tubuh Bella menuju mobil. Kemudian Dev mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, Dev berada di depan sebuah ruangan pemeriksaan. Ia mencoba untuk tenang. Sejak ia mengetahui Kris menculik Bella, ada satu hal yang sangat ia takutkan terjadi pada Bella. Saat menemukan Bella dalam keadaan baik-baik saja, juga perilaku Kris yang mencurigakan, semakin membuat Dev gelisah.
Dokter Vito keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang tegang.
“Gimana Bella, Dok?” tanya Dev cemas.
“Kedua pergelangan tangan Nona Bella terluka, sepertinya akibat benda seperti borgol. Selain itu terdapat lebam di kedua pahanya.” Terang Dokter Vito, wajahnya sangat kalut.
“Paha?” tanya Dev, ia berharap apa yang dicemaskannya sejak tadi tidak terjadi.
Dokter Vito mengangguk pelan, “Maafkan saya, Dev. Saya juga berharap saya salah.”
“Ada apa sama Bella, Dok? Jelasin semuanya!” teriak Dev tidak sabar.
Dengan sedikit ragu Dokter Vito berkata, “Kami menemukan cairan sp*rma di dalam organ kewanitaan Nona Bella.”