Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 28: Obat Sakit Kepala



"Sampe kapan sih lo bakal nolak gue. Kemarin kalo Raka gak nelpon gue, gue pasti udah ngelakuin itu sama lo." ucap Bella dengan cemberut.


Dev menyentil kening Bella dengan ibu jari dan jari tengahnya.


"Auuww!" Bella mengiris merasakan sakit pada keningnya yang disentil pelan oleh Dev.


"Otak lo harus dibersihin."


Dev berjalan menjauh dari Bella yang masih mengusap keningnya. Ia mengambil earpiece yang dilemparkan oleh Bella dan melangkah menuju pintu, berniat meminta Tere masuk ke dalam, bergantian dengannya.


"Dev, lo mau kemana? Lo disini aja." Bella menghampiri Dev dan memegang tangannya.


"Kasian Tere. Dia pasti pegel berdiri di luar." ucap Dev.


"Kan itu udah tugas dia. Udah biasa kali dia berdiri berjam-jam kayak gitu. Lagian kalo dia di dalem juga dia gak akan mau duduk dan ngomong biasa aja sama gue. Tere itu berdedikasi sama kerjaannya."


"Gue juga berdedikasi sama kerjaan gue, cuma lonya ribet gak mau kalo gue bersikap dan ngomong formal sama lo."


"Kan gue udah bilang, buat lo beda. Gue gak mau lo ngomong formal sama gue. Lo harus kayak gini terus kalo lagi bareng gue. Itu tugas utama lo ada disini." ucap Bella dengan nada manja dan menyandarkan kepalanya pada bahu Dev.


Bella merasa pucuk kepalanya dicium. Sontak Bella memandang ke arah wajah Dev.


"Baik, Nona Bella yang cantik." ucap Dev mencubit hidung mancung Bella dengan gemas, membuat Bella tertawa sumringah mendapat perlakuan manis lagi dari Dev.


Dev merengkuh tubuh Bella ke dalam pelukannya. Bella bisa mencium aroma parfum Dev yang selalu dipakainya, begitu menenangkannya.


"Apa yang lo rasain saat gue peluk kayak gini, Bel?" tanya Dev ditengah pelukannya.


"Gue ngerasa nyaman banget, gue juga suka sama wangi lo. Gue pengen kayak gini terus." Bella memejamkan matanya, menikmati setiap detik pelukan itu.


"Lo masih pusing gak?" tanya Dev mengingat tadi Bella memijit kepalanya.


"Nggak. Malah sekarang gue seneng banget. Dev yang biasanya selalu nolak gue, sekarang malah so sweet banget sama gue. Kepala gue tadi sakit banget, tapi sekarang kerasanya ringan banget."


"Syukur deh, kalo gitu. Berarti keberadaan gue berguna buat lo." ucap Dev.


"Gue gak pusing lagi sekarang. Lo emang obat sakit kepala paling mujarab buat gue." canda Bella.


"Lo kira gue bodrex extra?" sontak Bella tertawa mendengar candaan Dev.


Kemudian terdengar pintu diketuk.


"Sekarang lo harus balik kerja." Dev melepas pelukannya dan menatap lekat wajah Bella. "Lo harus lakuin tugas lo dengan baik. Lo cewek paling keren yang pernah gue kenal, Bel. Lo pasti bisa jadi pemimpin yang terbaik. Gue gak bisa bantu lo apa-apa, tapi gue bakal selalu ada di samping lo, support dan jagain lo."


Dev mengecup kening Bella, dan mengusap pipi Bella pelan. Bella mengangguk pelan dan tersenyum. Seketika ia merasa energinya terisi penuh setelah mendengar kata-kata dari Dev.


Kemudian Dev berjalan menuju pintu dan membukanya. Seorang pria paruh baya masuk ke kamar presidential Bella.


"Halo ponakan kesayangan Om." pria itu merentangkan tangannya dan menghampiri Bella.


Bella mendengus tidak suka dan membalikkan badannya kemudian kembali ke sofa, tidak menyambut laki-laki yang adalah Hendra, adik sambung mendiang ayah Bella.


"Ngapain Om ada disini?" tanya Bella dengan nada dingin sambil memakai kembali high heelsnya.


"Kebetulan Om ada acara juga disini. Tau kamu disini, Om harus dong nyamperin kamu, apalagi kamu CEO sekarang." Hendra menyilangkan kakinya dan duduk dengan begitu santai di sofa sebelah Bella.


"Oh, ya udah. Sekarang udah ketemu, 'kan? Om bisa pergi dari sini. Aku masih ada meeting." ucap Bella dengan angkuh.


Dev masih berdiri di depan pintu, kembali ke mode pengawalnya. Ia sedikit merasa heran dengan sikap Bella yang begitu dingin pada pamannya.


"Ck.. Sok sibuk kamu." Hendra berdecih dan kini menatap benci pada Bella, "Kamu tau? Om yang bekerja keras supaya Diamond Corp mau bekerja sama dengan Xander. Sekarang justru kamu yang mengambil semua keuntungan."


Bella membalas tatapan penuh benci Hendra dengan tatapan yang tidak kalah tajam pada Hendra dan berkata, "Diamond Corp justru terus nolak buat kerjasama sama Xander, karena Om yang megang projek kerjasama ini. Setelah dipegang sama aku, mereka dengan senang hati tandatangan surat perjanjian kontrak kerjasamanya. Untung Om udah gak mimpin lagi sekarang. Kalo nggak, kerjasama sama Diamond Corp gak akan pernah terjalin sampe kapanpun."


"Sombong sekali kamu, Bella! Mereka juga udah setuju waktu itu, tapi mereka masih mau mereview proposalnya dulu. Mereka gak menolak kerjasama yang Om ajukan!"


"Ngacak-ngacak kamu bilang?!" teriak Hendra, ia bangkit dari sofa, marah mendengar ucapan Bella yang begitu menghinanya.


"Iya. Aku baru nyadar sekarang ternyata Om gak becus mimpin perusahaan. Kerjasama banyak yang pending, tender banyak yang gagal, bikin laporan gak jelas. Apa aja sih yang Om lakuin selama ini sampe semuanya kacau kayak gitu? Sekarang semua kekacauan yang Om lakuin, jadi harus aku yang beresin. Pantes aja Kakek gak pernah mau mercayain Om jadi CEO. Sekarang Om pulang aja, aku sibuk." ucap Bella berjalan menuju pintu keluar.


"BELLA!! Om masih belum selesai bicara!" teriak Hendra.


"Aku ada meeting! Gak ada waktu buat ngeladenin Om!" ucap Bella galak, "Yuk, Dev. Kita pergi."


"Baik, Nona." Dev membungkuk pada Hendra sebelum pergi meninggalkan ruangan Bella.


"Tunggu." ucap Hendra, ia berjalan menghampiri Dev. "Kamu siapa?"


"Saya pengawal pribadi Nona Bella, Pak. Nama saya Dev Bentlee." ucap Dev. Bella dan Tere sudah berjalan lebih dulu.


"Jadi kamu facade cleaner yang ngancurin kaca jendela yang sekarang malah jadi pengawal pribadi Bella?"


Dev mengangguk pelan menahan emosinya, "betul, Pak. Saya permisi."


Hendra memandang Dev yang berjalan menjauh menuju lift. "Dev Bentlee? Kayaknya saya pernah dengar nama itu? Tapi dimana ya?"


***


Setelah perjalanan dinasnya yang begitu melelahkan akhirnya Bella tiba di apartemennya pada malam hari. Ia terlihat tidak bersemangat. Bella berjalan menuju sofa dan menjatuhkan dirinya di sana. Ia merogoh tasnya dan mengambil HPnya kemudian menelpon Dev, namun Dev tidak mengangkatnya.


"Kok gak diangkat sih?" Bella mendengus kesal. Ia coba beberapa kali lagi namun Dev tetap tidak mengangkatnya.


Bella melempar HPnya ke sofa, ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamarnya, memutuskan untuk membersihkan dirinya. Setelah beberapa saat Bella terlihat sudah segar, rambutnya masih basah dan sudah menggunakan pakaian tidurnya. Ia kembali ke sofa dan mengecek HPnya.


1 panggilan tak terjawab dari Dev.


Bella tersenyum sumringah melihatnya. Iapun menekan gambar gagang telepon. Tidak lama telepon diangkat.


"Halo?" terdengar suara berat dari seberang sana.


"Dev, kok lo baru angkat sih. Gue nelepon lo dari tadi."


"Gue baru nyampe Bel."


"Makanya gue bilang tadi lo ke apartemen gue lagi aja. Kenapa sih lo harus pulang?"


"Ya iyalah gue harus pulang. Rumah gue disini, bukan disana. Lagian Tere yang tugas kan sekarang."


"Nggak. Gue suruh dia pulang. Gue maunya sama lo."


Terdengar tawa sumringah Dev di seberang sana.


"Lo kangen sama gue?" tanya Dev kemudian.


"Iya. Masih nanya lagi." Bella mendengus kesal.


"Baru juga pisah. Besok juga kan kita ketemu. Tapi lo gapapa sendirian? Kenapa Tere lo suruh pulang?"


"Gue udah gede. Gak perlu kali dijagain 24 jam penuh lagi. Gue juga udah gak banyak tingkah. Tapi gue pengen lo disini, temenin gue." ucap Bella dengan manjanya.


"Beneran lo gapapa sendirian? Kalo malem ada apa-apa lo kabarin gue." ucap Dev sedikit khawatir.


"Tuh 'kan lo cemas, 'kan? Makanya gue bilang lo kesini temenin gue. Lagian kost lo tuh jauh banget dari sini. Lo gak cape?"


"Masih deket kali, cuma sejam perjalanan."


"Sejam itu lama tau. Gak efisien banget hidup lo kalo kelamaan di jalan. Ya udah sekarang lo istirahat ya, tapi besok pagi lo dateng ke apartemen gue jam 6 pagi. Ada yang pengen gue tunjukin sama lo."


"Mau nunjukin apaan?" tanya Dev penasaran.