Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 32: Komitmen



Setelah beberapa saat tawa mereka berhenti.


"Bel," ucap Dev. Ia meraih tangan Bella dan menggenggamnya, "maafin sikap gue tadi. Harusnya gue gak ninggalin lo di depan lift."


"Gue juga minta maaf ya. Gue harusnya ngomong dulu masalah apartemen itu." ucap Bella yang juga sangat menyesali keputusan sepihaknya itu.


"Lo gak salah. Gue yang gak bisa ngendaliin emosi gue. Harusnya gue gak perlu nyuekin lo tadi pagi. Maaf ya. Sekarang gosip tentang kita jadi nyebar banget."


"Ya udah kita lupain yang tadi. Lo harus belajar cuek sama omongan nyinyir orang lain. Gue tau pasti gak gampang buat lo punya hubungan sama gue, tapi gue minta sama lo, lo jangan dengerin mereka."


Dev merengkuh tubuh Bella yang duduk di sampingnya.


"Iya, Bel, gue bakal nyoba buat bisa ngendaliin emosi gue buat kedepannya. Gue udah mutusin ngungkapin perasaan gue waktu itu, gue juga udah sering ngebayangin kejadian kayak gini. Orang-orang ngomongin kita, padahal mereka gak tau apa-apa. Harusnya gue udah antisipasi itu, cuma gue malah kebawa sama emosi gue sendiri." ucap Dev menyesal karena kesalahannya itu telah membuat masalah menjadi besar.


"Terus gue juga pengen lo paham satu hal." Dev melanjutkan.


Bella mengerutkan dahinya, "Paham soal apa?"


Dev melepas pelukannya, dan menatap kedua mata Bella.


"Pertama, lo harus nerima gue sebagai bodyguard lo. Saat waktunya gue lagi tugas, lo harus biarin gue ngejalanin tugas gue dengan baik. Inget kan, lo sendiri yang bikin gue ada Xander Security.”


“Tapi gue kan jadiin lo bodyguard biar lo bisa selalu deket gue. Lo kok malah jadi menjiwai banget sih jadi bawahannya Leo? Leo harus gue kasih pelajaran, masa lo dikasih hukuman 100 keliling lapangan sepakbola?!” teriak Bella emosi.


“Tetep aja gue salah satu dari squad sekarang. Gue gak mau dibedain cuma gara-gara deket sama lo. Leo bilang, gue diterima bukan cuma gara-gara lo merekomendasikan gue, tapi juga lewat verifikasi dia. Dia udah ngakuin gue layak jagain lo, orang terpenting di Xander Corp. Lo harus bisa ngertiin posisi gue, ya?”


Bella menyerah, “Iya, ya udah. Gue bakal ngertiin tugas lo.”


Dev tersenyum merasa sangat berterimakasih akhirnya Bella bisa memahaminya.


“Kedua, Gue gak pengen lo ngelakuin hal-hal kayak tadi. Lo sewain gue apartemen. Lo inget motor lo aja gue kembaliin waktu itu. Gue gak mau lo ngeluarin uang lo buat gue. Gue gak bisa nerimanya, Bel."


"Kenapa? Gue ikhlas kok." ucap Bella dengan polosnya. Dev mencoba menjelaskan maksudnya pada Bella dengan sabar.


"Iya gue tau, lo ikhlas. Tapi gue gak bisa nerima sesuatu dari lo. Please, gue minta sama lo, hargain gue sebagai seorang cowok. Gue emang gak punya apa-apa, tapi bukan berarti gue gak bisa merjuangin keinginan lo. Kalo lo pengen gue deket sama lo, gue bakal cari cara sendiri buat dapetin tempat yang deket sama lo. Supaya lo gak khawatir lagi gue nempuh perjalanan yang jauh buat nyampe sini. Lo ngerti kan maksud gue?"


Bella menatap kedua mata hitam Dev, dan mengangguk pelan, "Tapi masa gue gak boleh ngasih sesuatu buat lo?"


"Boleh, lo bisa ngasih sesuatu buat gue. Gue juga bakal seneng nerimanya, tapi hal-hal yang biasa aja. Gue gak mau lo sampe beliin macem-macem, apalagi apartemen. Kalo lo mau ngasih sesuatu sama gue, lo bisa ngasih sesuatu yang lo bikin sendiri."


"Contohnya gimana?" tanya Bella.


"Misalnya lo bikinin gue makanan kayak barusan."


"Tapi barusan gue cuma ngangetin doang, bukan bikin. Gue gak bisa masak, Dev."


"Iya itu kan contoh doang. Pokoknya lo ngerti kan maksud gue?"


Bella menghela nafas, "Iya gue ngerti. Lo gak pengen gue jadi Bella yang kaya raya kan depan lo? Okay, gue bakal nurutin mau lo. Gue cuma bakal jadi Bella yang cantik dan seksi depan lo."


Dev tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan gadis cantik yang menggemaskan di hadapannya.


Bella tersenyum manis dan mengangguk pada Dev.


"Sekarang satu hal lagi yang pengen gue omongin sama lo." ucap Dev dengan nada yang serius.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Bella penasaran.


Dev beranjak dari sofa dan berjongkok di depan Bella, memegang kedua tangan Bella dan menatap lekat kedua mata indahnya.


"Sebelumnya gue pengen bilang makasih karena lo bisa nerima gue dengan apa adanya. Selama ini gue ngerasa udah cukup bisa ngeliat lo dari jauh, lewat instagram lo. Tapi makin deket sama lo, gue ngerasa makin serakah. Sekedar deket sama lo bikin gue ngerasa gak cukup. Gue pengen milikin lo. Gue pengen nyebut lo cewek gue, Bel."


Bella tertegun mendengarnya.


"Bella yang cantik dan seksi," ucap Dev diiringi tawa geli saat mengucapkan kata seksi. Bellapun tersenyum geli mendengar candaan Dev di tengah-tengah obrolan serius mereka.


Kemudian Dev melanjutkan kalimatnya, "Lo mau gak jadi pacar gue?"


Seketika senyuman sumringah menghiasi wajah Bella.


"Lo masih nanya?" tanya Bella, "Iya pasti gue mau!"


Bella melingkarkan tangannya di sekeliling leher Dev yang masih berjongkok di hadapannya. Senyum tidak berhenti merekah dari bibir indahnya. Bahagia begitu membuncah di dalam hatinya. Akhirnya hubungannya dengan Dev, bisa selangkah lebih jauh. Bella meraup pipi Dev dengan kedua tangannya dan mencium bibir kekasihnya itu dengan lembut, kemudian kembali memeluknya.


Walaupun sebenarnya dalam hati, Bella sangat ingin Dev menikahinya, bukan hanya sekedar menjadi kekasihnya. Obrolan mereka barusan membuat Bella menjadi sangat yakin akan ketulusan perasaan Dev terhadapnya. Dev adalah laki-laki pertama yang tidak melihat Bella sebagai seorang perempuan yang memiliki segalanya. Dev bahkan hanya mencintai dirinya hanya sebagai seorang Bella.


Namun, melihat sikap Dev yang begitu menjunjung tinggi martabatnya sebagai laki-laki, membuat sebuah pernikahan akan menjadi sesuatu yang sulit untuk kedepannya. Bella menyadari itu. Ia masih harus memendam keinginannya itu dan membiarkan semuanya mengalir. Jika mereka memang harus bersama dalam sebuah ikatan suci pernikahan, maka suatu saat takdir pasti akan membawa mereka ke jenjang berikutnya.


***


Usai mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih, tiba-tiba saja Raka menelpon Bella untuk menyampaikan sesuatu yang mendesak. Usai menerima panggilan itu Bella kembali ke sofa dan melihat Dev sudah tertidur disana.


"Gue kayak de javu." gumam Bella. Ia ingat kejadian saat hampir saja mereka akan melakukan penyatuan, Bella harus menerima telepon dan saat Bella kembali, Dev sudah tertidur.


Bella duduk di bawah, di karpet, dan menatap Dev yang tertidur dengan damai di sofa ruang tengahnya.


"Dev, pindah yuk tidurnya." Bella mencoba membangunkan kekasihnya itu. Namun sepertinya Dev sudah terlelap sangat pulas. Ia pasti kelelahan setelah berlari seharian.


Bella meletakkan lengannya di depan wajah Dev, dan membaringkan kepalanya disana. Ia tidak henti-hentinya tersenyum menatap wajah tampan Dev yang kini sudah menjadi kekasihnya. Ia sentuh alis tebal milik Dev, hidung mancungnya, dan bibir tipisnya.


"Lo ganteng banget sih." gumam Bella sambil terus menatap wajah Dev yang tertidur pulas.


Tanpa terasa kantuk menguasainya dan iapun terlelap di posisi itu.


Sinar matahari terasa menyilaukan mata Bella yang masih terlelap. Perlahan Bellapun membuka matanya, sedikit demi sedikit kesadarannya mulai terkumpul. Ia menatap langit-langit dan menyadari ia berada di kamarnya.


'perasaan tadi malem gue ketiduran di depan Dev.' Bella mencoba mengingat-ngingat kejadian tadi malem.


"Selamat pagi," Sebuah suara yang sangat Bella kenal menyapanya. Ia menoleh ke arah samping dan melihat Dev tersenyum cerah berbaring menghadap ke arahnya dengan sebelah tangan menyangga kepalanya.