
Langit berubah kekuningan. Bayangan laki-laki yang tengah berlari di lintasan itu kini terlihat memanjang karena matahari tidak lagi berada di atas, tapi di ufuk barat. Sejak langit masih berwarna biru di pagi hari tadi hingga kini berubah menjadi jingga kekuningan, Dev terus berlari tanpa henti di lintasan lari lapangan sepakbola gelanggang olahraga Xander Corp. Seluruh tubuhnya yang dibalut kemeja putih sudah basah sepenuhnya oleh peluh. Ia hampir menyelesaikan 100 putarannya.
Gerakan kaki Dev melambat tepat saat ia menyelesaikan putarannya yang terakhir kemudian menjatuhkan dirinya dan berbaring di rerumputan lapangan sepakbola. Nafasnya menderu, jantungnya berdetak kencang, dan ia menutup matanya mencoba menetralkan semuanya. 100 putaran sudah ia tuntaskan sebagai hukuman yang diberikan atasannya padanya akibat kelalaian yang diperbuatnya.
Sepanjang ia berlari, Dev benar-benar merenungi kejadian hari ini. Ia menyadari tidak seharusnya ia marah pada Bella. Bella hanya sedang jatuh cinta padanya. Bagi seorang Bella menyewakan Dev sebuah apartemen bukanlah sesuatu yang sulit dan mahal, mungkin uang yang dikeluarkannya untuk itu sama seperti jika seseorang dari kalangan biasa sepertinya membelikan satu stel pakaian untuknya.
Akibat kejadian itu akal sehatnya benar-benar tidak bekerja, sehingga ia dengan cerobohnya memukul Kris di area yang seharusnya menjadi area paling terlarang untuk seorang pengawal sepertinya berbuat onar.
Bruk!
Dev menyadari sesuatu dilemparkan padanya dan mengenai perutnya. Terasa dingin. Ia membuka matanya dan melihat Leo disana berdiri tidak jauh darinya. Dev bangkit dari posisi berbaringnya dan membuka tutup botol air mineral itu yang dilemparkan oleh Leo. Kemudian ia teguk hingga tetes terakhir air mineral itu tanpa jeda.
Dev berdiri setelah meremas kuat botol yang sudah kosong itu. Ia membuat dirinya ada pada posisi istirahat di tempat.
"100 putaran sudah saya laksanakan. Laporan selesai." ucap Dev dengan lantang.
Leo berdecih mendengarnya, "kamu kira kamu masih di TNI?"
Seketika hatinya berdenyut sakit mendengar ucapan Leo. Melakukan aktivitas fisik seberat ini membuatnya merasa masih berada di Korps Tempur TNI AU.
"Tapi saya akui jiwa tentara masih sangat melekat dalam diri kamu. Saya juga gak nyangka kamu langsung menyelesaikan hukuman ini tepat setelah saya menginstruksikannya. Selama ini belum ada yang bisa menuntaskan 100 keliling dengan kecepatan yang konsisten dan tanpa jeda seperti yang kamu lakukan."
Dev tidak menjawab. Ia masih berada dalam posisinya. Namun, dalam hati ia merasa tersanjung karena atasannya itu mengakui kemampuannya.
"Kenapa kamu keluar dari militer? Kamu sangat berbakat, fisik kamu juga kuat, kenapa kamu berhenti dan malah berkeliaran bersama anggota geng jalanan?" tanya Leo penasaran.
Dev masih bergeming.
"Kenapa kamu gak jawab?" tanya Leo mengerutkan kening.
"Saya punya alasan sendiri, Pak." ucap Dev menolak untuk menceritakan detail kejadian memilukan itu pada Leo.
"Kamu harus kasih tau saya, saya harus memastikan Nona Bella aman berada di dekat kamu. Jika kamu pernah terlibat sesuatu, saya gak bisa lagi membiarkan kamu menjadi pengawal pribadi Nona Bella. Sekalipun Nona Bella yang meminta kamu jadi pengawalnya."
Dev tidak punya pilihan. Iapun memberitahukan kasus yang menimpanya pada Leo.
"Jadi tato itu kamu buat untuk menutupi bekas luka? Saya ingin liat punggung kamu lagi." ucap Leo.
Dev membuka satu per satu kancing kemeja yang digunakannya dan melepas kemeja yang sudah basah oleh keringat itu. Leo meraba bekas luka yang ada di punggung Dev, yang tertutup oleh tato. Ia ingin memastikan bekas luka itu betul-betul bekas sayatan dan melepuh akibat air keras atau tidak, seperti yang Dev ceritakan.
Kemudian Leo terlihat berpikir. Ia menatap simpati pada Dev.
"Selalu ada oknum yang mencari kesempatan di setiap organisasi. Itu gak aneh. Dan selalu ada orang yang harus menjadi kambing hitam untuk menutupi boroknya mereka. Sayangnya kamu adalah salah satu kambing hitam itu." ucap Leo.
Dev kembali pada posisinya, istirahat di tempat di hadapan Leo.
Dev merasa lega mendengarnya. Leo tidak lagi menghinanya seperti tadi, saat di kantornya.
"Satu hal yang harus kamu camkan, saya tidak peduli dengan hubungan apa yang kamu miliki dengan CEO Xander Corp. Saya hanya ingin kamu bisa menjadi pengawal yang profesional. Kamu salah satu squad Xander Security sekarang. Ini terakhir kalinya ada kejadian seperti ini. Jaga sikap kamu ketika kamu sedang bertugas. Jaga beliau dengan baik dan jangan memperburuk keadaan, paham?"
"Siap, paham!" ucap Dev dengan lantang.
Leo pergi setelah itu. Ucapan Leo membuat gundah yang dirasakannya sedikit berkurang. Leo benar, ia seharusnya tidak membiarkan dirinyalepas kendali akan emosinya dan lebih menjaga sikapnya.
Dev menyadari betapa bodohnya sikapnya tadi. Ia teringat wajah Bella yang begitu sedih ketika ia meninggalkannya di depan lift. Bella bahkan memanggilnya, namun ia mengabaikannya.
Pengawal macam apa dirinya ini, maki Dev pada dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak melakukan itu dan kini ia merasa sangat menyesal.
Dev segera berlari ke sisi lapangan dan menggunakan jasnya, kemudian pergi ke apartemen Bella.
Sesampainya di depan unit apartemen Bella, Dev menekan bel. Tidak lama pintu terbuka, ia melihat Bella kini sudah menggunakan pakaian santainya, kaos oversize dan hotpants.
"Dev!" Bella menatap kaget pada Dev yang berdiri di hadapannya dengan menggunakan jas tanpa kemeja dan seluruh tubuhnya berkeringat.
"Gue boleh ikut mandi gak di apartemen lo?" ucap Dev.
Bella masih tertegun, setelah beberapa saat ia tersadar dan mempersilahkan Dev masuk, "hah mandi? I-iya boleh, yuk masuk."
"Thanks ya," ucap Dev. Ia segera menuju kamar belakang dan membersihkan dirinya. Bella berjalan ke kamarnya dan melangkah ke walk in closetnya untuk mengambil kaos dan celana santai untuk Dev.
Bella mengetuk pintu kamar mandi belakang dan berkata, "Dev, ini bajunya gue simpen di atas kasur ya."
Setelah Dev mengatakan 'iya' Bellapun kembali ke ruang utama. Saat Dev datang ia sedang makan malam, karena Dev ada iapun membuat satu porsi lagi makanannya. Ia mengeluarkan seporsi makanan cepat saji yang sudah disiapkan oleh ARTnya dan tinggal dihangatkan di microwave ketika akan dikonsumsi.
Beberapa saat Dev bergabung dengan Bella di meja makan.
"Dev, yuk makan. Gue tadi lagi makan pas lo dateng, nih gue siapin makanan buat lo." Bella menyodorkan seporsi makanan rendah kalori yang selalu ia konsumsi.
"Thanks ya." ucap Dev tersenyum tipis pada Bella.
Tidak ada yang berbicara selama makan malam itu. Mereka masih merasa canggung karena pertengkaran tadi pagi.
Sampai akhirnya Bella menghampiri Dev yang sedang duduk di sofa ruang tengahnya setelah makan malam itu. Bella duduk di samping Dev dengan canggung.
"Lo gapapa?" tanya Bella.
"Lo gapapa?" tanya Dev bersamaan.
Mereka terdiam sejenak dan kemudian tertawa, bisa-bisanya mereka melontarkan pertanyaan yang sama secara bersamaan.