
Mobil yang dikendarai Dev masuk ke halaman mansion mewah milik Hirawan. Dev menghentikan mobil tepat di depan pintu utama.
“Selamat pagi, Nona.” Tere menyambut Bella yang melangkah keluar dari mobil.
“Udah pada kumpul?” tanya Bella.
“Sudah, Nona. Semua orang sudah ada di halaman belakang. Silahkan, Kakek anda sudah menunggu.” Tere membimbing Bella untuk menuju tempat acara. Tidak lama Devpun bergabung bersama Tere dan berjalan dua langkah di belakang Bella.
Sesampainya di halaman belakang, Hirawan beserta rekan-rekan bisnisnya sedang duduk di gazebo dan asyik mengobrol dan bercanda gurau. Terlihat juga Hendra dan Stuart di antara mereka. Di sisi lain beberapa wanita yang merupakan istri dari para sahabat Hirawanpun terlihat mengobrol bersama Stella dan Lidya. Melihat kedatangan Bella, semua orang berdiri menyambutnya.
“Bella, akhirnya kamu datang.” Ucap Hirawan merasa sangat senang.
Bella tersenyum dan berjalan menuju sang Kakek, dan memeluknya. “Maaf, aku terlambat, Kek.”
“Ah, ini acara santai. Kamu pasti punya banyak hal yang harus dikerjakan sebagai CEO walaupun hari ini hari libur.” Ucap Hirawan bangga. Semua orang setuju dan mengelu-elukan Bella, kecuali Hendra dan Stuart yang malah mendengus kesal.
“Kamu masih ingat dengan Mr. Ryu? Dia sedang berlibur kesini, dia sangat ingin bertemu dengan kamu.” Sang kakek mulai berbicara Bahasa Inggris saat memperkenalkan orang disampingnya, seorang pria tua, beruban, hampir seumur dengan sang kakek, namun terlihat masih sangat bugar. Bella mengingat orang itu adalah sahabat lama sang kakek yang berasal dari Korea Utara. Ia adalah salah satu orang terpenting di kemiliteran disana.
“Iya, aku ingat, kek. Apa kabar Mr. Ryu? Senang bertemu anda lagi.” Bella mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh pria beruban itu.
“Oh, Bella. Saya sangat senang bisa bertemu dengan kamu lagi. Terakhir kita bertemu waktu di Amerika, dan kamu masih kuliah di UCLA. Sekarang kamu sudah menjadi seorang CEO. Saya tidak bisa berkata-kata lagi, kamu sekarang berubah menjadi seorang wanita yang sangat tangguh dan kharismatik. Saya begitu terpesona dengan kamu.” Ucap Mr. Ryu begitu menyanjung Bella yang ditimpali oleh rekan-rekan bisnis sang kakek yang lainnya, setuju dengan ucapan salah satu orang penting itu.
Di sisi lain, Dev dan Tere berjaga tidak jauh dari sana. Terlihat juga beberapa pengawal lain, termasuk Leo. Saat ada acara seperti ini, yang melibatkan Hirawan, Leo sendirilah yang akan menjaga sosok pendiri perusahaan raksasa Xander Corp itu.
Tatapan Dev terfokus pada Bella yang begitu luwes dan menikmati obrolannya bersama rekan-rekan bisnis sang kakek yang kebanyakan adalah orang-orang penting. Beberapa bahkan sering Dev lihat di TV dan internet. Selain pebisnis Dev juga melihat seorang yang ia tau adalah seorang menteri dan juga seorang ketua partai politik yang juga sangat terkenal dikalangan orang biasa seperti dirinya. Relasi seorang Hirawan Alexander memang bukan orang sembarangan.
Seketika Dev merasa terkejut saat matanya menangkap seorang yang sangat ia kenal, salah satu perwira tinggi di TNI AU. Orang itu adalah orang yang hadir di hari upacara pemberhentian Dev sebagai salah satu anggota korps tempur TNI AU. Orang itu yang mencopot tanda letnan dua dari bahu Dev.
Kenangan buruk itu kembali berputar dalam benak Dev. Ia mengepalkan tangannya dengan keras, mencoba menahan emosinya.
Leo: [Dev, jaga sikap!]
Tiba-tiba terdengar suara Leo di saluran komando Xander Security. Hampir semua pengawal yang mendengar suara sang komandan tertinggi Xander Security melihat ke arah Dev sekilas. Dev mulai menyadari bahwa sejak tadi ia menatap marah pada perwira tinggi itu. Devpun segera menguasai dirinya.
Tidak lama Kris datang dengan setelan pakaian golf. Kris menatap remeh kepada para pengawal yang berjaga, terutama pada Dev. Kemudian ia menghampiri Hirawan dan rekan-rekan bisnisnya yang masih bercengkrama dengan Bella sebagai pusat perhatiannya.
Beberapa pengawal terlihat kesal melihat tingkah Kris yang begitu arogan. Terdengar suara Leo lagi di earpiece mereka.
Leo: [Fokus! Kalian sedang bertugas sekarang.]
Para pengawalpun mulai mengubah ekspresi wajah mereka, termasuk Dev. Dev berusaha tidak terpengaruh dengan kehadiran Kris. Kris kini duduk di samping Bella. Bella dan Kris terlihat mengobrol dengan santai bersama sang kakek dan rekan-rekannya, sesekali bahkan Bella tersenyum dan tertawa pada Kris. Entah apa yang mereka bicarakan.
Namun Bella menoleh dan pandangannya terlihat beredar, saat menangkap sosok Dev, bibirnya tersenyum manis pada sang kekasih. Dev membalasnya dengan senyum tipis. Kemudian Bella kembali mengalihkan pandangannya dan mengobrol kembali dengan rekan-rekan sang kakek. Kegusaran yang dirasakan Dev sedikit terobati karena senyum Bella.
Tidak lama beberapa mobil club car datang menjemput para pebisnis itu.
Para pengawal mengambil alih kemudi mobil-mobil itu, termasuk Dev. Ia mengambil alih kemudi dan beberapa orangpun duduk di jok belakang. Setelah beberapa saat, mobil-mobil itu tiba di lapangan golf yang sangat luas. Lapangan itu masih terdapat di area mansion mewah milik Hirawan. Semua orang turun dari mobil club car dan permainanpun dimulai.
Bella ikut mendampingi sang kakek yang kini berjalan tanpa kursi roda. Hirawan sangat bersemangat untuk menjamu sahabat-sahabatnya itu. Selesai bermain golf, mereka kembali ke halaman belakang mansion dan menikmati makan siang.
Seperti biasa Bella duduk di sebelah kiri Hirawan. Semua orang menikmati jamuan mewah yang sudah disiapkan oleh Hirawan. Baru saja satu suap Bella menyantap makanan penutupnya, ia memegang keningnya. Bella merasa pusing. Tiba-tiba saja tubuh Bella oleng ke sebelah kanan. Kris yang duduk di sebelah kiri Bella terkejut dan reflek mengulurkan tangannya ke arah Bella. Namun ia kalah cepat karena Dev dengan sigap menangkap tubuh Bella, sehingga kini kepala Bella bersandar pada perut Dev.
“Bella, kamu gak apa-apa?” tanya Hirawan khawatir.
“Kepala aku sakit, Kek.” Ucap Bella lemah, “Kayaknya aku mau istirahat.” Seketika Dev begitu tegang karena semua mata kini tertuju padanya dan juga Bella. Termasuk Kris, yang memandang Dev dengan kesal.
Nada-nada sumbang kini mulai terdengar lagi dari beberapa rekan bisnis Hirawan, terutama para istri orang-orang penting itu. Sebagain merasa cemas dengan kondisi Bella, namun lebih banyak yang bertanya-tanya mengenai kebenaran hubungan Bella dengan pengawal pribadinya itu.
Dev menghela nafas dan mencoba mengabaikan kata-kata yang membuat telinganya itu begitu panas. Ia sama sekali tidak menyangka gosip itu menyebar begitu cepat bahkan hingga ke kalangan orang-orang penting seperti mereka. Dan tidak mungkin Hirawan tidak mengetahui tentang ini. Namun semenjak kedatangannya, Hirawan belum menunjukkan sikap apapun terhadap Dev.
Bella juga tidak mengatakan apapun saat itu. Bella malah menarik tubuh Dev agar berjongkok di sampingnya. Bella menyandarkan kepalanya di bahu Dev dan melingkarkan tangannya pada leher Dev, seakan ingin memberitahukan bahwa gosip itu benar. Dev tidak bisa berbuat apa-apa, iapun hanya terdiam pada posisinya.
“Ya sudah, kamu istirahat dulu. Antarkan cucu saya ke kamar.” Ucap Hirawan. Iapun merasa jengah dengan ucapan dari rekan-rekannya itu.
Dev mengangguk pelan dan merangkul tubuh Bella, membimbingnya bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu masuk ke dalam mansion. Bella masih menyandarkan kepalanya pada Dev dan meraih pinggang Dev dan mulai berjalan menjauh dari meja makan.
Baru beberapa Langkah, Bella berhenti.
“Gue gak kuat jalan. Lo harus gendong gue.” Ucap Bella masih dengan suara yang lemah. Dev tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Bella. Iapun mengangkat tubuh Bella dan membawanya ke dalam mansion.
Dev mencoba mengabaikan nada-nada sumbang yang kembali terdengar. Ia hanya ingin segera membawa Bella ke kamarnya untuk beristirahat. Dev mencemaskan kekasihnya itu. Tadi pagi Bella baik-baik saja, namun kini malah mengeluh sakit kepala.
Seorang pelayan menunjukkan kamar Bella di mansion itu. Sampai di depan sebuah kamar, pelayan itu membukakan pintu dan membiarkan Dev yang masih menggendong Bella masuk ke dalam. Kemudian pelayan itu kembali menutup pintu setelah Dev meminta dibawakan obat sakit kepala.
Saat pintu tertutup, Dev segera membaringkan Bella di tempat tidur. Namun saat Dev akan menjauhkan tubuhnya, tangan Bella masih melingkar di leher Dev, menahan agar Dev tidak menjauh darinya. Bella menatap nakal pada Dev.
“Anda pura-pura sakit?” tanya Dev terkejut.
“Gue kangen sama lo,” Bella tersenyum sumringah. Tidak lagi dengan suara dan ekspresi yang lemah.
Bella menarik leher Dev, kemudian mencium bibir kekasihnya itu.