
Tanpa sadar Dev berteriak, "APA LO BILANG?!"
Ia kira apa yang dikatakan Bella bahwa seseorang pernah melihatnya tanpa busana hanyalah sebuah omong kosong agar dirinya cemburu. Namun Tere ternyata juga mengetahuinya. Dev bersiap melontarkan pertanyaan pada Tere.
Namun pintu di belakang mereka terbuka tepat saat Dev berteriak. Bella, Raka, dan dua orang pria paruh baya keluar dari ruangan rapat itu. Wajah mereka terlihat sangat terkejut mendengar teriakan Dev. Dev memohon maaf dan kembali bersikap formal. Sepertinya pertemuan mereka berjalan lancar, karena kedua pihak kini sama-sama saling memberikan pujian dan mengobrol santai sejenak.
Setelah pertemuan itu Bella diberikan fasilitas untuk istirahat di sebuah hotel bintang lima. Saat tiba di kamar hotel Bella dan Raka duduk di sofa ruang tamu presidential room itu. Sedangkan Dev dan Tere berdiri, berjaga di dekat pintu ruangan tersebut
"Anda sudah melakukannya dengan baik, Bu Bella. Pertemuan tadi berjalan dengan lancar. Setelah ini kita masih akan bertemu dengan para investor. Ada beberapa hal yang harus anda sampaikan nanti mengenai..." Raka memberikan sarannya, namun Bella memotongnya.
"Lo bisa gak sih kasih gue waktu buat istirahat bentar aja?" ucap Bella seraya menutup matanya. Ia memegang keningnya dan memijitnya pelan.
"Maafkan saya, Bu Bella. Kalau begitu saya izin mempersiapkan pertemuan siang nanti. Saya permisi."
Bella mengangguk pelan tanpa melihat ke arah Raka. Tangannya masih memijit keningnya. Kini Bella sering kali merasa stress dan tertekan, hingga rasanya kepalanya terasa pusing seperti mau pecah. Selain harus betul-betul memahami setiap permasalahan yang ada, Bella juga harus bisa memutuskan yang terbaik bagi perusahaannya.
Setelah Raka keluar, Tere juga ikut keluar dan berjaga di luar pintu presidential room itu. Ia sengaja memberikan waktu untuk Dev dan Bella bersama.
Bella menyandarkan tubuhnya pada sofa, dan membuka high heels yang digunakannya seraya memijit tumitnya yang terasa pegal.
Dev berjalan menghampiri Bella dan duduk di sampingnya. Dev meraih kaki Bella dan meletakkannya di pangkuannya dan kemudian memijitnya perlahan.
"Lo gapapa?" tanya Dev merasa bersalah melihat Bella yang kelelahan dan tidak bersemangat. Bella hanya tersenyum melihat Dev yang mengkhawatirkannya.
"Gue seneng lo ngobrol biasa sama gue." ucap Bella sumringah mendengar Dev tidak berbicara formal padanya.
Dev masih fokus memijit kaki Bella, raut wajahnya sedih dan berkata, "Lo keliatan stress banget."
"Dikit. Gue gapapa kok. Lo tau kan ini baru banget buat gue. Jadi wajar dong kalo gue sering kepikiran." ucap Bella mencoba meredakan rasa bersalah Dev terhadapnya.
Dev tidak menjawab. Ia tau Bella berkata seperti itu karena tidak ingin membuatnya khawatir, namun dalam hatinya Bella pasti merasa sangat tertekan dengan semua pekerjaannya sebagai pimpinan perusahaan.
Bella mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan tidak ingin Dev terus mengkhawatirkannya, "tadi lo lagi ngobrol apa sama Tere sampe teriak-teriak?"
"Gapapa." ucap Dev singkat.
Untuk beberapa saat mereka terdiam.
"Dev, gue beneran gapapa. Lo biasa aja bisa gak? Lo tuh harusnya ngajakin gue ngobrol apa kek gitu. Bukannya malah nekuk muka lo kayak gitu. Ganteng lo bisa ilang nanti." Bella mencoba mencairkan suasana sambil memandang wajah Dev yang fokus memijit kakinya.
Senyum tipis terlihat merekah di wajah Dev setelah ucapan Bella itu. Ia menghela nafas dalam.
"Kalo gitu gue mau nanya." ucap Dev, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Bella mengenai hal-hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Nanya apa?" Bella terlihat tersenyum lebar, antusias dengan pertanyaan Dev.
"Menurut lo, Kris pengawal yang gimana?" tanya Dev.
"Kris?" tanya Bella dan mengerutkan keningnya, "Kenapa lo pengen tau?"
"Iya gue pengen tau. Dia kan udah pengalaman jagain lo bertahun-tahun. Gue pengen cari info aja. Biar bisa jagain lo lebih baik."
"Kenapa gak lo tanyain ke Tere?" tanya Bella.
"Ya pengen aja, gue pengen tau dari sudut pandang lo, sebagai orang yang pernah dijagain sama dia." ucap Dev.
Dev merasa terganggu dengan tatapan Bella yang membicarakan Kris dengan tatapan yang menerawang, kemudian Dev bertanya, "contohnya gimana?"
"Contohnya..." Bella menimang-nimang. Benaknya memilih-milih kejadian mana yang kira-kira akan dia utarakan pada Dev. Ini kesempatan bagus untuknya agar bisa membuat Dev lebih menyadari tentang perasaannya pada Bella.
"Waktu gue di LA pernah gue lagi jalan-jalan sore. Jalan kaki gitu, tiba-tiba perut gue sakit, Kris gendong gue sambil lari-lari ke rumah sakit. Dan lo tau, rumah sakitnya jauh banget. Terus gue juga pernah hampir tenggelam di sungai waktu di Swiss, dia terjun ke sungai dan nyelametin gue. Seudah itu gue demam. Tapi dia ngerawat gue sampe gue sembuh. Gue pernah juga kabur dari pengawasan dia, dia nyariin gue sampe dia jatoh dan tangannya digips."
Wajah Dev terlihat memerah, sepertinya kejadian-kejadian yang Bella ceritakan berhasil membuat Dev cemburu.
"Dan lo inget tadi gue bilang ada cowok yang pernah liat tubuh polos gue?" Bella melanjutkan, "waktu di LA gue pernah mabuk seudah dateng ke acara ulang tahun temen gue. Gue muntah-muntah sampe semua baju gue kena muntahannya. Pas nyampe apartemen, Kris bantu gue ganti baju karena gue udah lemes banget."
Wajah Dev semakin memerah, kemudian Bella melanjutkan. "Bener-bener semua baju gue dia ganti, juga dalemannya."
Mendengar pernyataan Bella barusan, membuat api cemburu makin berkobar di dada Dev. Iapun mendekat pada Bella dan meraup tengkuk Bella dan menciumnya dengan kasar. Bella terkejut dibuatnya, namun tidak mencoba untuk melepaskannya. Dev membuka dengan kasar blazer yang Bella kenakan dan bersiap membuka kancing kemeja paling atas yang Bella kenakan.
Seketika Dev tersadar, cemburu sudah membutakan matanya. Iapun menjauh dari Bella yang masih terduduk bersandar di sofa dengan blazer yang sudah tidak lagi menggantung di pundaknya. Nafas Bella masih menderu akibat cumbuan Dev yang begitu kasar dan menuntut, namun justru membangkitkan hasratnya.
"Sorry, Bel." ucap Dev frustasi.
"Lo kenapa? Kok kayak yang marah?" tanya Bella berpura-pura tidak tahu, sambil membetulkan blazer yang dikenakannya.
Dev masih tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada pemandangan kota Surabaya dari ketinggian yang ada di hadapannya. Bella menghampiri Dev dan melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh dev.
"Lo mau lanjutin yang tadi malem?" ucap Bella dengan pertanyaan yang memancing.
"Bel, lo bener-bener harus periksain otak lo. Kris itu emang bodyguard lo, tapi dia juga juga cowok normal. Lo bisa-bisanya ngebiarin dia gantiin baju lo?! Seudah itu lo yakin Kris gak ngapa-ngapain lo? Terus seudah semua kejadian yang lo alamin bareng Kris. Beneran gak ada sedikitpun perasaan lo buat dia?" ucap Dev masih dikuasai rasa cemburunya. Ia tidak menyambut pelukan Bella. Bellapun melepas pelukannya dan memandang ke arah Dev.
"Gue masih agak sadar kok waktu dia gantiin baju gue. Tapi gak ada niat buat ngelakuin itu sama dia, ataupun ngegodain dia. Gue gak ada rasa sama dia, Dev. Dia juga gak ngapa-ngapain gue. Gue bener-bener udah lemes aja waktu itu. Kenapa? Lo jealous?" tanya bella tepat sasaran.
Dev tidak menjawab, namun tatapannya sudah menjawab semuanya. Bella tertawa gemas melihatnya.
"Gue sama sekali gak ada rasa sama Kris." ucap Bella.
"Lo yakin?" tanya Dev meragukan Bella.
Bella menghela nafas dan menyentuh dada bidang Dev, "Kalo lo emang gak percaya. Gue bisa buktiin sekarang sama lo kalo emang cuma lo cowok yang gue suka."
Bella meraih earpiece di telinga Dev, menekan tombol kemudian berkata, "Ter, jagain jangan sampe ada yang masuk." kemudian Bella lemparkan benda itu ke sembarang arah dan bersiap mencumbu Dev.
Namun Dev menahan wajah Bella dengan meraup kedua pipinya, kemudian mencium keningnya.
"Gue percaya. Udah sekarang lo jangan macem-macem. Udah ini lo masih ada agenda lain."
Bella tersenyum melihat Dev yang kini terlihat bisa mengendalikan emosinya. Ia melingkarkan tangannya di sekeliling leher Dev.
"Lo tuh gemesin banget sih." ucap Bella menatap lekat kedua mata Dev.
"Lo harus janji, sekarang lo jangan bikin hal yang aneh-aneh lagi!" ucap Dev ingin memastikan tidak ada kejadian seperti itu lagi untuk selanjutnya.
"Lo masih gak percaya sama gue? Ya udah ayo gue pengen buktiin sekarang sama lo. Kris aja udah liat badan polos gue, masa lo gak mau?" ucap Bella kembali memancing pria di hadapannya.
Dev menelan salivanya mendengar kata-kata seduktif dari Bella, Ia meraup pipi Bella dan kemudian berkata, "Gue gak mau ngelakuin itu kalo cuma buat ngeredain perasaan jealous gue doang."