
(dua episode terakhir)
Seminggu kemudian, Bella diperbolehkan untuk pulang. Keadaan Bella berangsur membaik, walaupun belum pulih sepenuhnya. Dengan sabar Dev mendampingi Bella setiap harinya. Di tengah kesibukannya mengelola Xander Corp ia selalu mencurahkan perhatiannya pada sang kekasih. Hingga kini Bella tidak pernah lagi berteriak dan menangis histeris.
Suatu hari Dev baru saja pulang dari kantor. Seperti biasa ia langsung mengunjungi Bella di kamarnya.
“Selamat Sore, Sayang.” Ucap Dev menghampiri Bella yang terbaring di tempat tidurnya, “Aku pulang.”
Bella tersenyum sambil menatap sendu pada Dev.
“Gimana keadaan kamu hari ini?” tanya Dev sambil meraih tangan Bella.
“Baik.” Ucap Bella. Ia memang belum banyak bicara sekarang, sepertinya butuh waktu untuk pulih sepenuhnya.
“Ngapain aja kamu hari ini, Yang?” tanya Dev memancing Bella untuk berbicara banyak.
“Aku tadi nanem bunga mawar sama Bu Ranti.” Ucap Bella singkat.
Dev tersenyum mendengarnya, “Semoga mawar-mawarnya cepet tumbuh ya.”
Bella mengangguk pelan. Dev menggenggam tangan Bella.
“Bel, ada yang mau aku kasih ke kamu.” Dev mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna navy.
Bella memposisikan tubuhnya untuk duduk, dan tatapannya tertuju pada kotak itu.
“Coba kamu buka.” Ucap Dev.
Perlahan Bella meraih kotak itu dan membukanya. Sepasang cincin terbuat dari emas putih tersorot lampu kecil yang terdapat pada kotak itu. Satu cincin berukuran lebih besar dan polos, sedangkan satu cincin lainnya lebih kecil dan bertahtakan berlian putih yang indah berkilauan.
Sontak Bella menantap Dev, “Ini apa?”
Dev meraih cincin yang berukuran lebih kecil dan memasangkannya pada jari manis Bella, kemudian ia genggam kedua tangan Bella, menatap kedua mata Bella, dan berkata, “Bella Ratu Xander, will you marry me?”
Beberapa saat Bella masih tertegun.
“Bel, aku lagi ngelamar kamu. Aku pengen nikahin kamu. Kamu mau ‘kan nikah sama aku?” tanya Dev.
Dagu Bella bergetar, ia tatap cincin yang kini melingkar indah di jari manisnya, “Tapi aku…” tangisnya kembali pecah.
Dev merengkuh tubuh Bella dalam pelukannya. Ia tahu tidak mudah untuk Bella menerimanya sebagai suami setelah kejadian kelam itu.
“Bel,” Dev mengusap lembut rambut Bella, “Semua yang udah terjadi gak akan bisa kita ubah. Tapi kita bisa memulainya dari awal lagi. Sekarang waktunya kamu mulai hidup kamu yang baru dan jalani masa depan kamu bareng aku, bareng anak kita.”
Bella melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher Dev, ia masih terisak. “Makasih ya kamu selalu ada buat aku. Bahkan di saat terburuk aku, kamu gak pernah ninggalin aku. Makasih banyak, Dev.” Air mata terus membasahi pipinya.
Dev tercengang karena itu adalah kalimat terpanjang yang Bella ucapkan dalam beberapa minggu terakhir.
“Aku bakal selalu ada di samping kamu. Aku sayang banget sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, Bel.” ucap Dev merengkuh tubuh Bella lebih erat. Ia kecup tengkuk Bella yang tertutup rambut hitamnya beberapa kali.
Dev melepas pelukannya dan menghapus air mata Bella, ia genggam kedua tangan Bella dan matanya tertuju lagi pada kekasihnya itu. Kemudian sekali lagi ia berkata, “Marry me, Bella.”
Dev mengucapkan hal yang pernah Bella katakan padanya dulu. Beberapa kali dulu Bella pernah mengatakan 'marry me, Dev' namun selalu Dev tolak. Kini Dev mengatakannya pada Bella. Berharap Bella bisa menerimanya.
Bella tertegun sesaat setelah mendengar apa yang Dev katakan dan tersenyum sumringah. Ia ingat kalimat pendek dan sederhana itu pernah ia lontarkan pada Dev dulu.
“Aku mau, Dev, Aku mau nikah sama kamu.” Ucap Bella penuh haru.
Dev tersenyum sumringah dan memeluk kembali tubuh Bella dengan erat. Ia merasa sangat bahagia. Ia bersyukur karena Bella menerima lamarannya. Dev sempat ragu, dengan kondisi Bella yang masih belum sepenuhnya pulih dari trauma, ia khawatir Bella akan menolaknya. Namun ia tidak bisa menunggu lagi.
Keesokan harinya, di halaman Rumah Besar yang tertutup rumput-rumput yang menghijau sebuah upacara pernikahan sederhana diadakan. Dekorasi sederhana yang didominasi warna putih terlihat menghiasi tempat upacara pernikahan itu. Bella menggunakan sebuah dress putih selutut yang sederhana. Tangannya memegang sebuah buket mawar merah. Ia berdiri berhadapan dengan Dev yang juga hanya menggunakan kemeja putih dibalik setelan jas hitam sederhananya. Mereka disahkan sebagai suami istri dihadapan orang-orang terdekat mereka.
Bella terlihat tersenyum bahagia, kini keinginannya untuk menikah dengan Dev akhirnya tercapai. Begitu juga dengan Dev, setelah 10 tahun mengagumi seorang Bella akhirnya kini Bella menjadi istrinya.
Hari-hari berat telah mereka lalui bersama, akhirnya kini mereka berada di titik termanis, berdua menyongsong masa depan yang bahagia di hadapan mereka.
***
(tujuh bulan kemudian)
Rintik hujan di pagi hari membasahi ratusan kelopak bunga mawar merah yang tumbuh dengan suburnya di kebun mawar di salah satu sudut mansion mewah milik Hirawan Alexander. Bella duduk di sebuah sofa dengan sebuah selimut menutupi perutnya yang kini sudah semakin membesar. Ia kenakan sweater hangat karena pagi itu cukup dingin.
Pandangan Bella tertuju pada jendela yang memperlihatkan ratusan tangkai mawar yang berada di luar kamar lamanya di mansion itu. Pelayan mengetuk pintu dan membawakan makanan untuk makan pagi.
Dev keluar dari walk in closet sembari memasang dasinya dan menghampiri sang istri.
"Pagi, Sayang.” Dev mengecup pucuk rambut Bella, meraih tangan Bella, dan duduk di sampingnya.
“Pagi juga, Yang.” Bella tersenyum lembut pada Dev. “Kamu udah siap pergi kerja?”
“Udah, dong.” Jawab Dev, “Kita sarapan di kamar?”
Bella mengangguk, “Kakek kan lagi ke Swiss. Jadi kita sarapan disini aja.”
Tatapannya tertuju pada dasi yang Dev kenakan. Dasi itu agak miring, Bella berinisiatif membetulkannya.
“CEO kok dasinya gak rapi gini, sih.” ujar Bella.
“Maklum baru juga tujuh bulan jadi CEOnya.” Ucap Dev yang membiarkan Bella membetulkan posisi dasinya.
Dev tersenyum. Mereka mulai melahap sarapan yang dibawakan pelayan.
“Tadi aku liat di instagram,” ucap bella kembali membuka obrolan, “TIM SAR akhirnya udah menyatakan kalo Stella dan Tante Lidya meninggal. Lumayan lama juga ya sampe akhirnya mereka baru dinyatakan meninggal sekarang.”
Dev terdiam.
“Maafin aku ya, Bel.” Ucap Dev menyesal.
Bella menggelengkan kepalanya, “Yang penting aku udah tau mereka ada dimana. Dan mereka baik-baik aja.”
Dev melahap sarapannya dengan malas.
“Yang kamu lakuin ke keluarga Om Hendra, itu sepadan sama apa yang udah mereka lakuin. Terutama karena udah bikin aku sama kamu gak punya orang tua lagi.” Ujar Bella.
“Kamu beneran gapapa?” tanya Dev.
Bella mengangguk, “Bukan salah kamu kalo Stuart dan Om Hendra meninggal. Juga…” Bella terdiam beberapa saat, “yang terjadi sama Kris.”
Dev terkejut Bella menyinggung masalah Kris, “Bel kamu…” ucap Dev khawatir.
“Aku udah gapapa, kok.” Ucap Bella dengan yakin, “Kadang aku masih suka kepikiran, tapi gak kayak dulu.”
Dev menghela nafas lega.
“Aku udah denger dari Tere dia ada di rumah sakit jiwa.” Ucap Bella.
Dev menyimpan garpu dan pisau miliknya, “Tere cerita sama kamu tentang Kris?” Dev menaikan sedikit nada bicaranya.
Bella mengangguk, “Aku penasaran. Aku udah gak apa-apa, Yang. Malah aku kasian sama Kris sekarang. Dia depresi dan terus nyoba buat bunuh diri.”
Dev memegang tangan Bella. Ibu jarinya mengusap sebuah cincin bertahta berlian yang melingkar di jari manis Bella, “Aku lega kamu udah gak terpengaruh sama Kris sekarang.”
“Maaf udah bikin kamu selalu khawatir.” Ucap Bella yang kini meletakkan garpu yang dipegangnya.
Dev menggelengkan kepalanya dan menatap cincin itu, “Gak kerasa kita udah tujuh bulan nikah.”
“Kalo kamu gak sibuk ngurusin projek sama Omega Group dan Diamonds Corp, pasti kerasa kok tujuh bulan itu lama. Kamu gak liat perut aku sekarang udah sebesar ini.” Ucap Bella, “Bapak CEO kita sibuk banget soalnya.”
Dev tersenyum dan mengusap perut Bella, “Anak papa sehat-sehat kan?”
“Sehat dong, anaknya Papa Dev.” Ujar Bella dengan sumringah.
Dev tersenyum bahagia, ia membelai pipi Bella, “Aku lega banget kamu udah sehat sekarang.”
Bella tersenyum dan mengangguk setuju, “Sebenernya ada satu hal lagi yang pengen aku bilang sama kamu,” ucap Bella.
“Apa?” tanya Dev penasaran.
Bella menatap Dev dengan wajah yang serius, “Aku gak akan jadi CEO lagi.”
Dev tertegun.
“Dari awal aku emang gak pernah berniat buat jadi penerus kakek, kamu tau itu ‘kan? Aku jadi CEO karena pengen ngungkap kasus kamu diberhentiin dari militer.”
“Tapi, Yang…” Dev mencoba menyela, tapi Bella melanjutkan ucapannya.
“Selama tujuh bulan kamu jadi CEO, kamu udah ngejalanin peran kamu dengan sangat baik. Keuntungan perusahaan meningkat, kamu bisa bikin orang-orang nyaman kerja sama kamu, kamu bahkan nyelesaian semua hal yang udah diacak-acak sama Om hendra dan Kris. MD Farma bahkan jadi perusahaan farmasi dengan keuntungan paling besar sekarang. Orang-orang gak akan percaya loh kalo kamu bilang bukan orang bisnis, karena sekarang kamu bener-bener nguasain apa yang kamu kerjain.”
“Tapi Bel, Xander Corp itu punya kamu, aku hanya gantiin kamu. Aku udah bilang kan setelah kamu pulih dan kamu udah lahiran, kamu akan kembali jadi CEO.” Ucap Dev merasa keberatan.
“Nggak, Sayang. Xander Corp itu punya kita. Kakek bahkan puas sama kinerja kamu. Mr. Nates juga. Kamu udah luncurin aplikasi start up kamu, di tengah-tengah kamu ngelola Xander Corp. Beberapa bulan aja kamu udah bisa bikin aplikasi itu di level unicorn. Kamu emang terlahir sebagai CEO, Yang.” Ucap Bella meyakinkan Dev.
Dev terlihat belum yakin.
“Terus Xander Security juga terus maju. Kamu bahkan bikin beberapa cabang di luar negeri.”
“Kalo itu sih kerjaannya Abbas sama Leo.” Ucap Dev merendah.
“Tapi kamu yang ngasih ide dan terus mantau mereka, ‘kan? Belum lagi koneksi kamu di kepolisian dan kemiliteran, bahkan beberapa sindikat mafia kenal sama kamu. Koneksi kamu udah seluas koneksinya Kakek” Ucap Bella. “Udah gak akan ada yang debat kamu, Yang. Kamu udah paling cocok dengan posisi kamu ini.”
Dev menghela nafas dalam-dalam, “Kamu yakin nyerahin semuanya sama aku?”
“Yakin seratus persen!” ucap Bella mantap.
“Tapi kamu terus dampingin aku, ya. Jangan lepas tangan banget.”
Bella mengangguk, “Aku bakal bantu dikit-dikit aja. Soalnya aku pengen fokus sama anak kita dulu nanti seudah lahiran.”
Tiba-tiba saja Bella merasakan mulas yang amat sangat.
“Kamu kenapa, yang?” Dev panik karena Bella tiba-tiba merintih kesakitan.
“Perut aku sakit.” Ucap Bella memegang perutnya.
“Tapi ini belum saatnya kamu lahiran ‘kan?” ujar Dev semakin panik.