Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 57: Pembalasan



Leo melepas cengkraman tangan Dev pada kerahnya dengan paksa. Seketika tangan Dev terlepas. Leo menatap tajam pada Dev.


“Jaga sikap kamu. Saya atasan kamu!” ucap Leo marah.


“Kenapa ada rekaman itu?!” teriak Dev murka.


Leo menatap ke sembarang arah, iapun merasa sangat menyesal.


“Kris yang memasang kamera pengintai itu. Kamu tau Xander Security secara rutin mengecek keamanan apartemen Nona Bella. Saat terakhir kali Kris menjadi pengawal, bahkan kami pernah mencurigai ini. Tapi kami gak menemukan apa-apa. Ternyata kamera itu ada di foto Nona Bella yang dipajang di kamar dan ruang tengah. Untungnya kamera yang ada di kamar terlepas dan gak merekam apapun.”


Dev menyapukan tangannya pada rambutnya dengan kasar.


“Tetep aja selama ini Kris liat semua aktivitas Bella! Kamera itu ada di ruang tengah apartemen Bella! Lo sebagai kepala Xander Security, bisa sampe gak tau hal kayak gini?!”


Dev tidak terima. Ia tidak habis pikir hal seperti ini sampai tidak diketahui oleh Xander Security. Selama ini kecurigaannya terhadap Kris terbukti. Dev bahkan mencurigai pernah ada yang terjadi pada Bella saat Kris masih menjadi pengawal pribadinya. Namun sepertinya semuanya sudah ditutupi oleh Kris dengan rapi.


“Saya akui saya salah. Saya benar-benar kecolongan. Saya sangat menyesal.” Ucap Leo mengakui kesalahannya yang sudah lalai menjaga keamanan Bella.


“Siapa aja yang tau tentang rekaman kamera pengintai itu? Bapak gak nyebarin itu kan?!” tanya Dev.


“Tentu saja nggak! Ini aib bagi Xander Security. Juga bagi Nona Bella. Tapi kami udah cek, untungnya Nona Bella gak pernah berganti pakaian atau melakukan sesuatu yang gak biasa di ruang tengahnya. Hanya aktivitas biasa yang terekam di kamera itu.”


Dev lega mendengarnya. Ia sendiri merasa menyesal tidak mencurigai sama sekali mengenai adanya kamera pengintai di apartemen Bella, tidak seharusnya ia menyalahkan Leo. Justru ia yang harus disalahkan karena ia adalah pengawal pribadi Bella.


“Terus sekarang gimana kamera itu?” tanya Dev.


“Sudah berhasil dimatikan. Kamera pengintai itu sudah gak berfungsi sekarang.” Ucap Leo.


Dev kembali ke kursinya dan terduduk lesu. Bayangan Bella kembali hadir dalam benaknya. Ayah dan ibunya, dan kilasan balik penyiksaan yang dialaminya. Leo benar, mereka semua adalah sampah dari segala sampah. Sampah harus segera dibuang ke tempatnya agar tidak semakin berbau busuk dan mengganggu.


Dev beranjak dari kursinya, “Saya akan memikirkan cara untuk menyingkirkan mereka. Tapi anda perlu tau, saya akan menyingkirkan mereka tanpa menghabisi nyawa mereka. Saya akan membuang mereka ke tempat yang seharusnya. Saya akan membuat mereka merasakan hidup selayaknya sampah. Saya akan melihat mereka hidup menderita dengan mata kepala saya sendiri sampai mereka sendiri yang memohon untuk mati. Itu hukuman yang sebenarnya yang harus diterima oleh sampah-sampah itu.”


Setelah menyampaikan tekadnya, Dev pergi meninggalkan Leo.


***


Malam itu setelah membaringkan tubuh Bella di kasurnya, Dev kembali berkutat dengan laptopnya. Sudah cukup dengan pembelajarannya mengenai bisnis. Kini kesempatan besar datang padanya.


Beberapa hari lalu Leo mengatakan bahwa Lidya dan Stella membutuhkan pengawalan karena mereka akan pergi ke Singapura untuk menghadiri sebuah acara Fashion Show. Dev meminta Leo untuk mengirimkan dirinya dan beberapa tim alpha untuk mengawal mereka. Tanpa disangka, biasanya keluarga Andhara hanya mau dikawal oleh tim Sigma, namun kali ini mereka menerima tawaran Leo untuk dijaga oleh tim alpha termasuk Dev. Ternyata alasannya adalah Stella. Stella ingin membuat Bella marah dengan menjadikan Dev sebagai pengawalnya.


Dev mulai mengetik sebuah instruksi. Ia akan menyelesaikan semuanya secepatnya. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Segala macam hal baik tiba-tiba saja datang padanya. Bantuan dari Mr. Nates yang siap memberikan bantuan apapun padanya, dan juga kini ia mengetahui ternyata Abbas selalu membantunya, ditambah Abbas bukan orang biasa, ia adalah mata dan telinga Xander. Bahkan Hirawan sangat mempercayainya.


Setelah berjam-jam mencurahkan segala perencanaan yang selama ini sudah tersusun rapi di kepalanya sejak kepergiannya ke Bandung, ia segera menghubungi Abbas yang kini sudah bergabung dengannya di tim alpha. Ia mengetik chat pada Abbas.


[Dev] : Bas, gue kirim lo rencana buat besok. Tolong lo lakuin sesuai instruksi gue.


Devpun mengirimkan sebuah file pada Abbas.


[Abbas] : Mantap, Bro!


Selain Abbas, Dev juga menghubungi Leo dan memberitahukan rencananya. Kemudian Dev menghubungi satu orang lainnya yang ia yakin akan membantunya melancarkan misinya esok hari.


***


Dev sudah bersiap di kokpit pesawat. Ia mendengar Lidya, Stella, dan Vanessa sudah mulai memasuki pesawat. Beberapa tim Alpha sibuk membawakan koper-koper mereka. Lidya dan Stella terlihat tertawa gembira dan


“Ngeselin banget kan, Mom? Untung Dev tetep bakal pergi sama kita. Dia pasti kesel banget sekarang.” Ucap Stella.


“Mommy harus bikin perhitungan sama Nona manja itu. Dia makin ngelunjak pas udah jadi CEO. Mommy gak habis pikir kenapa kakek kamu itu bukannya nyerahin Xander sama daddy, malah ngasih ke Nona manja itu sih.” Ucap Lidya menimpali sang putri.


“Bella jauh lebih kompeten dari Daddy, Mom.” Vanessa, istri Stuart, ikut menimpali, “Kalian tau sendiri Bella berhasil bikin Omega Group jadi mitra bisnis.”


“Duh kamu tuh bikin mood jelek aja. Gak usah ikut komentar deh!” teriak Lidya pada menantunya itu.


“Iya nih, ngapain juga sih lo ikut?!” ucap Stella pada kakak iparnya itu.


“Aku pengen aja ikut. Bosen di rumah terus. Gak boleh kemana-mana, disiksa, dijambak, diludahin.” Sindir Vanessa.


“Ssstt!! Kamu bisa gak sih jangan berisik?! Kita bukan lagi dikawal sama Sigma. Awas ya kalo kamu bilang ini sama orang-orang. Masih untung dibantuin! Kamu mau Daddy gak akan bantuin bisnis ayah kamu lagi! Kamu mau perusahaan ayah kamu bangkrut?!” ancam Lidya.


Vanessa tertawa sinis, “Bisanya ngancem. Ya udah sekarang biarin aku ikut sama kalian. Dan gak usah peduliin ada aku disini.”


Vanessapun beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kokpit meninggalkan kedua perempuan itu yang kini sibuk membicarakan baju-baju yang akan dikenakan Stella dalam fashion shownya. Ia masuk ke kokpit dan melihat Dev di kursi kemudi.


“Kamu yang nelpon saya tadi malem?” tanya Vanessa.


Dev mengangguk, “Iya. Kamu dateng kesini, berarti kamu setuju buat kerjasama?”


“Selama bisa ngancurin Stuart, saya bakal lakuin apapun.” Ucap Vanessa penuh benci.


***


Bella berada di ruangannya seperti biasa. Ia berdiskusi dengan Raka mengenai pekerjaannya. Tiba-tiba saja pintu ruangan Bella terbuka dengan keras. Bella terkejut melihat Tere yang menghampirinya dengan wajah pucat dan khawatir. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Selama 20 tahun mengenal Tere, itu pertama kalinya Bella melihat wajah sahabatnya seperti itu.


“Ter, ada apa?” tanya Bella khawatir.


“Abbas..” ucap Tere tercekat.


“Abbas?” Bella mengulangi ucapan Tere.


Tere segera berusaha menguasai dirinya.


“Abbas, sahabatnya Dev, kemarin baru gabung ke Xander Security. Dia detektif swasta yang selalu gue sewa buat dapetin info buat lo.”


Bella semakin khawatir. Tere tidak pernah sekalipun berbicara tidak formal selama ia mengenakan seragam pengawalnya. Namun kini Tere terlihat sangat kalut.


“Abbas, ketua Black Panther? Jadi dia yang selama ini bantuin lo dapetin info buat gue?” tanya Bella tidak percaya.


Tere mengangguk, kini air mata terus berurai dari kedua matanya.


“Ter, lo jangan nangis dulu. Bilang dulu sama gue ada apa?” Bella berusaha menenangkan sahabatnya itu.


“Dia..” Tere mencoba menghentikan tangisnya, “Dia sama tim alpha nganter Stella sama Lidya ke Singapura. Dia bareng sama Dev.”


Perasaan Bella mulai tidak enak.


“Terus, ada apa sama mereka?” tanya Bella.


Tere kembali menangis, “Pesawat yang bawa mereka, yang dikemudiin sama Dev, sekarang hilang kontak.”