Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 33: Pillow Talk di Pagi Hari



"Dev, kok gue jadi tidur di kamar?" tanya Bella.


"Tadi malem gue kebangun terus gue pindahin lo, abisnya lo tidur sambil duduk gitu." ucap Dev.


Bella menggeser tubuhnya dan masuk ke dalam dekapan sang kekasih.


"Terus, lo tidur di samping gue?" Senyum merekah di wajah Bella.


"Iya. Tapi gue gak ngapa-ngapain kok. Gue beneran tidur." Dev menjadikan salah satu tangannya bantal untuk kepala Bella, dan tangannya yang lain mendekap erat tubuh Bella.


"Kenapa lo gak ngapa-ngapain gue aja? Gue mau kok." ucap Bella kembali ke mode frontalnya.


"Dasar otak lo masih aja geser. Mau kemana sih lo, buru-buru amat. Nanti juga ada saatnya, Bel." ucap Dev seraya mengecup pucuk kepala Bella dengan gemas.


"Lo kan udah jadi pacar gue. Lo bebas mau ngapain gue kok." ucap Bella.


"Lo tuh kelamaan di Amerika. Lo di Indonesia sekarang. Budaya disini beda. Cewek sama cowok ngelakuin itu pas nanti kalo udah nikah." ucap Dev masih mendekap tubuh Bella.


"Omongan lo kayak kakek-kakek tau gak sih. Sekarang mau dimana juga sama. Kalo saling suka yauda kenapa gak langsung aja."


"Terserah. Yang pasti gue ngehargain lo banget. Lo tuh spesial, Bel. Gue gak mau sembarangan nyentuh lo. Makanya lo jangan suka mancing-mancing. Udah berapa kali gue hampir aja kelepasan." ucap Dev kukuh pada pendiriannya. Sejak Bella menolongnya dari perundungan yang dialaminya waktu SMP, sosok Bella menjadi sosok yang sangat ia hormati bahkan sebelum benih-benih cinta itu muncul kemudian.


Bella melepas dekapannya dan menatap kedua mata Dev.


"Kalo gitu, cepetan lo nikahin gue." ucap Bella dengan nada serius.


Dev tersenyum mendengarnya, ia kembali merengkuh tubuh Bella dalam pelukannya.


"Kok lo diem? Lo gak mau nikahin gue?" tanya Bella.


"Gue mau. Mau banget. Tapi gak sekarang." suara Dev terdengar agak sedih.


"Lo takut orang ngomongin kita lagi?" Bella menebak.


"Nggak." ucap Dev singkat, otaknya sibuk merangkai kata agar Bella mengerti, bahwa pernikahan sesuatu yang jauh lebih rumit bagi hubungan mereka.


Bella sendiri sudah menyadari alasan Dev belum ingin menikahinya. Untuk menjadikan Bella kekasihnya saja, Dev membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memutuskannya, apalagi pernikahan. Maka dari itu, Bella tidak memperpanjang obrolan itu lagi.


"Ya udah deh, buat sekarang kita kayak gini dulu aja." Bella mempererat dekapannya pada Dev.


"Nah gitu dong. Lagian gue masih muda buat nikah. Nanti aja mikirin itunya."


"Halo, maaf ya mas. Pacarnya udah 27 tahun ini, udah gak muda lagi." sindir Bella mendengar Dev berbicara membawa-bawa usia mereka.


Dev terbahak mendengar sindiran Bella, "Tapi masih gemesin kok. Kayak baru 17 tahun." Ucap Dev berkata jujur. Usia Bella mungkin sudah 27 tahun, tapi wajah cantik Bella dan juga sikap Bella terhadapnya masih seperti anak belia yang sedang jatuh cinta.


"Kalo lo bukan kayak 23 tahun, lo malah kayak 43 tahun." Bellapun berkata jujur.


"Kenapa gue malah jadi lebih tua dari umur gue?" tanya Dev tidak terima.


"Muka lo emang ganteng, sesuai sama umur lo, tapi sikap lo udah kayak Om-om." ucap Bella.


“Kalo gue om-om, emang lo masih mau sama gue?” tanya Dev.


“Nggak. Gue sukanya berondong.” canda Bella.


“Hah, apa lo bilang?” Dev mulai menggelitik pinggang Bella. Bella terbahak geli dan tubuhnya mulai meliuk-liuk karena tidak tahan dengan rasa geli yang ditimbulkan akibat gelitikan Dev.


“Lo tega banget.” Ucap Dev cemberut dan mulai menghentikan aksi menggelitiknya. “Kalo gue bakal terus suka sama lo, bahkan seudah lo nenek-nenek.”


“Iya dong, harus. Awas aja kalo nggak.” Ucap Bella dengan nada sedikit mengancam.


“Iya aja deh, biar cepet.” Dev menarik tangannya yang menyangga kepala Bella, dan menaruh bantal di bawah kepala Bella, kemudian beranjak dari tempat tidur.


“Lo mau kemana?” tanya Bella.


“Bikin sarapan.” Ucap Dev sambil berlalu keluar kamar dan menuju dapur.


Benar saja, sarapan sudah tersedia di meja makan Bella. Seorang wanita tua sedang menuangkan susu putih pada gelas. Melihat Bella dan Dev keluar dari kamar, wanita itu segera membungkuk hormat.


“Selamat Pagi, Nona Bella. Sarapan sudah siap.” Ucapnya dengan suara yang lemah lembut.


“Pagi, Bu. Bu Ranti, kenalin ini pacar aku, Dev.” Bella memperkenalkan Dev pada ARTnya itu.


Dev tersenyum pada Bu Ranti sambil duduk di salah satu kursi di meja makan.


“Selamat Pagi, Tuan Dev.” ucapnya.


“Kita udah ketemu waktu itu kan, Bu. Gak usah panggil saya ‘tuan’, panggil Dev aja.” Ucap Dev ramah.


Wanita tua itu tidak menjawab lagi, hanya tersenyum. Setelah itu ia pamit untuk pergi ke Rumah Besar, rumah kediaman Kakek Bella.


“Bu Ranti jadi ART lo udah lama?” tanya Dev.


“Lama banget. Dari mendiang bokap gue masih kecil sampai sekarang.” Ucap Bella.


“Pendiem ya orangnya?”


“Iya. Emang gitu. Dia orang yang paling gue hormatin, gak pernah gue kasar sama dia.” Ucap Bella sambil tersenyum.


“Kirain kakek lo yang paling lo hormatin?” tanya Dev. Dev pikir Kakek Bella harusnya yang paling Bella hormati.


“Nggaklah. Gue benci banget sama kakek dulu, sekarang udah nggak sih. Gue sayang sama Bu Ranti karena dia sosok yang bisa gantiin bokap dan nyokap gue setelah mereka meninggal. Masakannya juga enak. Ya kan?"


Dev menatap simpati dan tersenyum pada Bella, “Iya enak.”


“Kalo udah bikin sarapan, dia ke rumah kakek, buat ngerawat kakek gue.”


“Kakek lo sakit apa? Udah lama?” tanya Dev penasaran.


“Udah dari gue kelas 10 SMA. Sakit paru-paru. Dulunya dia perokok berat. Sekarang kena batunya deh. Makanya lo juga berhenti ngerokok. Lo mau kayak kakek gue?” Bella menasihati kekasihnya.


“Gue dulu juga gak ngerokok, Bel. Pas mulai gaul sama Abbas aja gue nyobain dan ternyata lumayan bikin stress gue ilang.”


“Lo harus berhenti pokoknya. Lo tau kan gue punya asma.” Pinta Bella.


“Iya, sekarang gue bakal berhenti. Sejak ngeliat lo kambuh waktu itu, gue udah ngurangin kok.” Ucap Dev bertekad. “Berarti kakek lo ngelola perusahaan pas lagi sakit dong selama ini?”


“Awalnya kakek masih ke kantor cuma lama-lama fisiknya gak kuat. Sejak itu kakek ngelola dengan cara ngasih instruksi dari rumah dan Om Hendra yang bantuin Kakek. Tapi ternyata Om Hendra gak bener kerjanya. Pantes aja kakek gak pernah mau ngasih perusahaannya secara penuh buat dikelola sama Om Hendra. Sekarang gue lagi nyari laporan-laporan keuangan dia. Soalnya banyak yang gak sesuai, gue curiga dia make uang perusahaan buat hal hal yang gak bener.”


“Hal-hal yang gak bener? Korupsi maksudnya?” tanya Dev.


“Iya. Sama banyak hal mencurigakan tentang anak perusahaan Xander yang dikelola sama dia dan anaknya, Stuart. Gue lagi nyoba nyelidikin itu.” Ucap Bella dengan nada serius.


“Anak perusahaan Xander?” tanya Dev.


“Iya, Xander punya banyak anak perusahaan, itu hasil kerja keras kakek gue buat merger dan ngeakuisisi banyak perusahaan. Salah satunya perusahaannya Nenek gue. Jadi gini, Om Hendra itu bukan anaknya Kakek. Dia anak nenek yang selingkuh sama seseorang. Pas nikah sama Kakek, nenek merger perusahaannya, namanya Andhara Farma. Perusahaan keluarga nenek itu bergerak di bidang kesehatan kayak produksi obat-obatan, suplemen, dan juga distributor alat-alat medis. Tapi gue liat banyak laporan yang aneh. Jumlah pemasukan dan pengeluarannya jomplang banget. Padahal hampir seluruh rumah sakit dan apotek di Jawa-Bali dan Sumatra disuplai dari Andhara Farma. Gak mungkin keuntungannya hanya 5% dari pengeluarannya.” Ucap Bella.


Dev tertegun melihat Bella yang begitu serius membahas mengenai perusahaannya. Iapun mencoba menanggapi semampunya.


“Iya sih, emang aneh. Tapi kebetulan banget, perusahaan bokap gue juga dulu bergerak di bidang farmasi sebelum bangkrut.”


“Oh iya? Kenapa bisa bangkrut?”


“Gue gak terlalu paham. Soalnya gue masih SMP waktu itu, katanya sih bokap gue ngelanggar perjanjian kontrak kerja gitu.”


"Gue ikut prihatin ya, Dev. Sebenernya gue udah tau masalah perusahaan bokap lo itu. Dulu gue pernah minta Tere buat nyari info tentang lo." ucap Bella bersimpati.


"Gue gapapa kok, lagian itu udah lama juga." ucap Dev dengan tegar.


"Tapi tetep aja gue sedih. Seudah itu nyokap lo meninggal kan, terus seudah itu lo sama bokap lo harus hidup sederhana karena aset dan harta bokap lo disita."