Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 37: Kebenaran



Leo bersama beberapa anak buahnya datang ke kamar Bella setelah Tere menyalakan earpiecenya dan memperdengarkan suara Kris yang berteriak pada Bella. Pengawal-pengawal itu mengambil alih Kris yang kedua tangannya masih dikunci oleh Dev.


“LEPASIN GUE!” teriak Kris, “Posisi gue lebih tinggi dari lo jadi lo gak bisa memperlakukan gue kayak gini!” tatapan marahnya tertuju pada Leo.


“Bawa dia keluar!” perintah Leo pada anak buahnya, sama sekali tidak menggubris ucapan Kris.


Kris yang masih memberontak dibawa pergi oleh para pengawal itu menjauh dari kamar Bella.


“Dev, kamu ditunggu di ruangan Pak Hirawan.” Ucap Leo setelah Kris pergi.


Seketika Dev menelan salivanya. Seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Akhirnya tiba saatnya ia bertemu dengan kakek Bella.


“Saya izin meninggalkan tugas untuk bertemu dengan kakek anda, Nona.” Ucap Dev pada Bella.


“Gue ikut.” Bella menggenggam tangan Dev.


“Izinkan saya bertemu beliau seorang diri, Nona.” Dev perlahan melepas tangan Bella yang menggenggamnya.


Bella menatap kedua mata Dev. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuh Dev. Segera Tere dan Leo berjalan keluar kamar dan memberikan ruang pada Bella dan Dev untuk berbicara.


“Okay, gue gak akan ikut buat ketemu kakek. Tapi lo jangan terlalu mikirin apa yang bakal kakek omongin sama lo, ya. Apapun yang kakek bilang, jangan sampe bikin lo jauhin gue. Lo udah janji sama gue buat gak pergi dari gue lagi, ‘kan?”


Dev perlahan menjauhkan tubuh Bella yang memeluknya. Ia tatap kedua mata Bella yang begitu khawatir terhadapnya.


“Saya tidak akan pergi dari anda lagi, Nona. Anda tidak perlu khawatir. Saya hanya akan menyapa beliau.” Ucap Dev menenangkan.


Dev tersenyum tipis pada Bella dan melangkah keluar kamar.


Rintangan terberat dalam hubungannya dengan Bella kini ada di depan matanya. Dengan langkah yang mantap ia melangkah menuju ruangan Hirawan bersama dengan Leo. Melihat bagaimana Kris begitu menginginkan Bella, berusaha begitu keras untuk bisa sepadan dengan Bella, membuat Dev merasa tidak ada lagi alasan untuknya menyerah pada hubungannya dengan Bella. Ia akan menggenggam tangan Bella dengan erat, dan tidak akan membiarkan siapapun melepaskannya, termasuk Hirawan.


Dev dan Leo tiba di depan pintu ruangan kerja Hirawan. Leo mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam yang mempersilahkannya untuk masuk. Leo membukakan pintu dan Devpun masuk ke dalam ruangan itu. Dev melihat Hirawan kini duduk di kursi kebesarannya. Di belakang kursi itu menggantung sebuah foto dengan ukuran yang sangat besar. Dalam foto itu terdapat Hirawan bersama seorang gadis kecil dan juga seorang laki-laki dan perempuan. Dev langsung menyadari bahwa gadis kecil itu adalah Bella dan kedua orang tuanya.


Dev menghela nafasnya, mencoba menghilangkan gugupnya dan kemudian membungkuk hormat pada Hirawan.


“Jadi kamu yang bernama Dev? Saya sudah mendengar semua hal tentang kamu dari Leo.” Ucap Hirawan dengan nada yang tenang.


“Betul, Pak. Saya Dev Bentlee. Senang bertemu dengan anda.” Ucap Dev sopan.


“Selama ini Bella selalu menolak untuk menggantikan saya sebagai CEO. Namun tiba-tiba saja ia bersedia. Saya bertanya-tanya apa yang membuatnya berubah pikiran. Ternyata cucu saya mencintai kamu. Dia akhirnya bersedia menduduki posisi CEO demi seorang Dev Bentlee.” Hirawan menatap Dev dengan mata sendunya, namun entah mengapa Dev merasa sangat terindimidasi.


Dev menelan salivanya, semakin merasa gugup. Hirawan sudah mengetahui latar belakangnya. Dan Ia tidak menyangka sama sekali, itu yang Bella lakukan pertama kali saat menjabat sebagai seorang CEO.


“Namun, Bella belum menemukan jawaban dari pertanyaannya hingga sekarang. Karena saya yang menghentikan informasi agar tidak sampai padanya.”


Dev terdiam. Apa maksud dari ucapan Hirawan?


“Apa maksud anda?” tanya Dev memberanikan diri untuk bertanya.


“Saya tau siapa kamu. Siapa orang tua kamu. Dan alasan mengapa kamu diberhentikan.” Ucap Hirawan masih dengan nada bicara yang tenang.


Hirawan mengetahui semuanya? Bahkan ia tau mengapa Dev diberhentikan? Namun mengapa ia tidak membiarkan Bella mengetahuinya? Hal ini sangat membuat Dev penasaran.


“Kamu putra dari Ben Mahardika, seorang ilmuwan dan pemilik perusahaan MD Farma, bukan? Sekitar 10 tahun lalu perusahaan milik ayah kamu itu bangkrut. Kamu tau kenapa?”


Dev tertegun. Ia menggelengkan kepalanya pelan merasa tidak yakin. Yang ia ketahui perusahaan sang ayah bangkrut karena perlanggaran perjanjian kontrak kerjasama.


“Karena MD Farma diakuisisi secara sepihak oleh Xander Corp dan menjadi bagian dari Andhara Farma, anak perusahaan Xander yang juga bergerak di bidang farmasi.”


Sontak amarah menguasai Dev. Jadi Xander Corp yang mengambil alih secara paksa perusahaan sang ayah? Bayangan sang ibu yang meninggal karena serangan jantung setelah mendengar kabar bahwa perusahaan sang ayah bangkrut berputar kembali dalam benak Dev. Juga saat rumah dan perusahaan sang ayah disita dan disegel sehingga ia harus hidup sederhana setelah itu, kembali memenuhi pikirannya.


Jadi Hirawan yang ada di balik semua itu?


“Bukan saya yang melakukannya.” Hirawan menyadari tatapan Dev berubah marah terhadapnya, “Hendra. Anak tiri saya yang melakukannya.”


“Kenapa dia melakukan itu?! Hidup keluarga saya hancur setelah itu! Ibu saya meninggal dan ayah saya kehilangan semuanya! Saya bahkan harus mencari beasiswa untuk melanjutkan SMA karena ayah saya tidak memiliki biaya untuk saya sekolah!” teriak Dev. Ia tidak peduli lagi dengan tanggapan Hirawan mengenai dirinya, layak atau tidak dirinya untuk mendampingi Bella. Hati dan pikiran Dev kini penuh dengan luka lama yang terbuka kembali.


“Dulu, ayah kamu melakukan banyak eksperimen. Selain mengembangkan obat-obatan ia juga sering meneliti cairan berracun, s*njata kimia, gas beracun, dan lain-lain. Ayah kamu sangat tertarik dengan hal-hal berbau seperti itu. Kamu tau itu kan?”


Betul. Sang ayah memang sangat tertarik pada s*njata\, cairan dan gas berbahaya\, dan hal-hal semacamnya. Jika ada kesempatan untuk mengobrol dengannya\, pembicaraan mengenai s*njata-s*njata yang digunakan dalam peper*ngan pasti terselip diantara obrolan mereka. Dev tidak pernah terlalu menanggapinya. Ia berpikir itu hanyalah hobi ayahnya saja\, ia tidak pernah mengetahui bahwa sang ayah sampai betul-betul melakukan eksperimen membuat s*njata kimia di laboratorium miliknya.


“Salah satu eksperimennya berhasil,” Hirawan melanjutkan. “Hingga ia mencoba mencari pihak yang akan bisa membeli produknya. Kemudian ia bertemu dengan Hendra. Merekapun melakukan kontrak kerjasama diam-diam, karena kamu tau kan produk itu dilarang, bahkan di dunia internasional. Hendra akhirnya mendapatkan konsumen pertamanya yang akan membeli produk yang ayah kamu ciptakan itu. Orang itu adalah sahabat saya, Mr. Ryu, salah satu petinggi di Korea Ut*ra. Ia tertarik dengan produk yang ayah kamu buat.”


Hati Dev terasa mencelos. Apakah ia sedang mendengar sinopsis salah satu film action sekarang?


“Bisnis itu terus berkembang secara bawah tanah. Keuntungan yang besar didapatkan oleh Hendra dan ayah kamu. Namun, melihat keuntungan yang mereka dapatkan sangat besar, Hendra tidak ingin berbagi keuntungan dengan ayah kamu. Hingga ia menyusun rencana dan meminta Stuart, anaknya, yang seorang ilmuwan sama seperti ayah kamu, untuk mempelajari pembuatan produk itu. Akhirnya Stuart berhasil mempelajari formula dari produk yang ayah kamu buat. Ia juga berhasil mengambil semua laporan eksprerimen-eksperimen yang masih ada dalam tahap pengembangan. Setelah itu mereka menjebak dan menyingkirkan ayah kamu.”


Dev merasakan seluruh tubuhnya terbakar amarah. Bayangan Hendra yang dilihatnya untuk pertama kalinya di kamar hotel di Surabaya waktu itu, kini memenuhi memorinya. Dev memfokuskan perhatiannya pada Hirawan, ia tidak ingin melewatkan satu katapun. Ia ingin mengetahui seluruh kebenaran mengenai keluarganya.