Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 38: Syarat



“Ayah kamu tidak berkutik. Ia dengan terpaksa menyerahkan semua harta, perusahaan, aset, dan laboratoriumnya pada Hendra. Kemalangan yang didapat ayah kamu tidak sampai disitu, ibu kamu mendapat serangan jantung dan meninggal setelah mendengar kabar itu. Ayah kamu pernah berniat untuk mengambil kembali apa yang jadi miliknya, tetapi ia tidak berdaya. Dia tidak punya kekuasaan. Dia juga tidak bisa melapor kepada polisi karena itu artinya iapun akan ditangkap. Ia tidak mau dipenjara karena dia masih memiliki kamu yang harus ia rawat.”


Wajah sang ayah kembali terlintas di benak Dev. Ben Mahardika seorang pria berkacamata tebal, bertubuh gemuk dan juga memiliki tawa yang khas. Ia terkenal sebagai orang yang sangat jenius. Namun dengan hobinya yang tidak lazim sejak ia masih muda, membuat Ben sering kali dirundung oleh orang-orang.


Ben juga bukan orang yang pandai bergaul. Hingga seorang perempuan cantik dan baik hati datang pada Ben. Ben bertemu dengan ibu Dev, Teana Lee. Keduanya kuliah di kampus yang sama saat menempuh kuliah S2, Teana kuliah di jurusan farmasi, sedangkan Ben jurusan teknik Kimia. Saat itu keduanya jatuh cinta dan memutuskan menikah tanpa restu orang tua Teana, karena orang tua Teana tidak setuju anaknya menikah dengan seorang pria aneh seperti Ben.


Teana dan Ben kemudian membangun perusahaan farmasinya sejak mereka menyelesaikan kuliah S2nya. Teana membiarkan Ben mengembangkan minatnya itu ditengah-tengah mereka merintis bisnisnya. Sebuah laboratorium mereka bangun untuk pengembangan produk itu. Awalnya Teana hanya memberikan ruang bagi suaminya agar minatnya itu bisa tersalurkan. Teana tidak menyangka sama sekali bahwa Ben benar-benar berhasil menciptakan s*njata berbahaya itu.


Keberhasilannya itu membuat Ben gelap mata. Ia ingin hasil jerih payahnya itu berfungsi sebagai mana mestinya. Sejak itulah mimpi buruk itu dimulai.


“Pada awalnya Hendra tidak menawarkannya pada Mr. Ryu. Dan Hendra tidak mengetahui Mr. Ryu adalah sahabat saya,” sambung Hirawan. “awalnya ia menawarkan produk itu pada Sumargo, mantan atasan kamu, yang sudah memecat kamu secara tidak hormat. Sumargo yang mendistribusikan produk itu pada Mr. Ryu.”


Dev masih mencoba berdiri dengan tenang, mencoba manjaga sikapnya di tengah-tengah kondisi pikiran dan perasaan yang hancur berantakan mendengar kebenaran mengenai kedua orang tuanya.


“Kemudian kamu mengatakan kamu ingin menjadi seorang tentara pada ayah kamu, tapi ayah kamu sangat menentangnya saat itu, bukan? Karena ayah kamu khawatir kamu akan bertemu dengan Sumargo. Tapi kamu keras kepala dan tetap kukuh pada pendirian kamu untuk masuk ke militer, hingga akhirnya ayah kamu menyerah. Ia mendatangi Sumargo untuk memohon padanya agar merahasiakan mengenai semuanya dan juga memohon agar tidak mengusik kamu yang tidak tahu apa-apa. Sumargo mulai memperhatikan kamu. Melihat kamu sangat berpotensi, dia membiarkan kamu menyelesaikan pendidikan hingga menjadi seorang LETDA.”


“Lalu, kenapa dia memberhentikan saya?” tanya Dev dengan suara yang bergetar.


“Ketika kamu dinyatakan lulus dari pendidikan, ayah kamu merasa sudah waktunya ia membuka kebusukan Sumargo dan Hendra. Kamu sudah lulus, kamu akan memiliki pekerjaan dan menopang kehidupan kamu sendiri, maka ayah kamu siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan mendekam di balik jeruji besi beserta Sumargo dan juga Hendra. Dengan gegabahnya, ia mengirimkan surat pada pimpinan tertinggi AU mengenai adanya oknum yang memperjual belikan s*njata kimia pada pihak asing. Mendengar itu Hendra dan Sumargo segera bertindak. Mereka membayar seseorang untuk menghabisi ayah kamu. Kemudian ayah kamu meninggal setelah sebuah mobil menabraknya secara tiba-tiba."


Dev merasa lututnya lemas, kepalanya berdenyut sakit, dan nafasnya sesak.


"Meskipun ayah kamu sudah dihabisi, kabar mengenai bisnis ileg*l itu terus menyebar, dan Sumargo semakin dicurigai. Ia membutuhkan seseorang untuk ia korbankan demi menjaga nama baiknya.” Ucap Hirawan.


“Dan saya yang harus jadi kambing hitamnya?” sambung Dev dengan suara tercekat.


Hirawan mengangguk pelan, mengiyakan.


Seketika Dev merasa lututnya terasa semakin lemas, membuat tubuhnya oleng, tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Iapun meraih sofa di hadapannya dan menyanggakan kedua tangannya pada bagian atas sofa itu. Seluruh darah di tubuh Dev terasa mendidih. Kedua matanya memerah dan cairan bening menggenang di pelupuk matanya.


Hirawan terdiam memberikan waktu untuk Dev meredakan emosinya.


Dev bergeming. Sekuat tenaga ia mendinginkan kepalanya dan bersusah payah mencoba untuk menguasai dirinya lagi.


“Kenapa anda memberitahukan ini pada saya?” ucap Dev akhirnya setelah beberapa saat.


Hirawan menyandarkan tubuhnya pada kursinya.


“Saya senang kamu menanyakan itu.” Ucap Hirawan.


Dev berspekulasi, pasti ada maksud tertentu mengapa Hirawan memberitahukan hal ini padanya.


“Kamu tau saya seorang pebisnis handal. Informasi yang saya berikan pada kamu barusan, tidak gratis. Kamu harus membayarnya, atau lebih tepatnya kita buat perjanjian yang sama-sama saling menguntungkan.”


“Apa yang anda ingin saya lakukan?” ucap Dev yang langsung memahami kemana arah pembicaraan ini.


“Saya sudah memperhatikan kamu sejak Bella mulai tertarik pada kamu. Kamu tidak tergiur dengan semua harta yang dimiliki oleh Bella. Kamu juga tidak memanfaatkan perasaan cucu saya untuk kepentingan kamu sendiri. Saya tidak akan mempermasalahkan masa lalu dan latar belakang kamu yang tidak sepadan dengan Bella. Justru saya sangat berterimakasih pada kamu. Berkat kamu Bella bersedia menjadi CEO dan bahkan Bella memaafkan saya setelah 17 tahun lamanya ia membenci saya. Dev, saya setuju kamu bersanding dengan cucu saya.”


Dev terdiam. Sebenarnya ia merasa sangat bahagia. Selama ini ia selalu berpikir, Hirawan akan sangat menentang hubungannya dengan Bella karena status sosial dan masa lalunya yang kelam hingga ia kini tidak bisa memiliki pekerjaan tetap. Namun kini Hirawan memberikan restunya begitu saja. Entah mengapa ini terasa terlalu mudah.


“Tetapi?” ucap Dev.


“Baiklah, saya akan langsung ke intinya. Sebelumnya saya menyetujui Kris untuk menikahi Bella karena Kris berhasil membuat saya kagum dengan menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Xander dan juga ia bersedia memenuhi syarat yang saya ajukan. Tapi ternyata belakangan saya mengetahui darimana Kris mendapatkan sahamnya. Ditambah ternyata Bella tidak menyukai Kris. Saya tidak bisa memaksakan kehendak karena saya ingin cucu saya bahagia bersama orang yang memang dicintainya, seperti yang selalu ia katakan. Jujur, sekarang saya menyesali keputusan saya yang menyetujui Kris untuk menjadi pendamping Bella. Saya tidak suka pada orang yang serakah, dan ternyata Kris menjadi salah satunya setelah saya tempatkan dia sebagai Kepala Departemen IT.” ucap Hirawan panjang lebar.


“Kini saya tau bahwa hanya kamu yang disukai oleh Bella, “sambung Hirawan, “Maka syarat yang saya ajukan pada Kris, akan saya ajukan pada kamu. Kalau kamu mau menikahi cucu saya, kamu harus bisa menyetujui syarat yang saya ajukan.”


“Apa syaratnya?” tanya Dev penasaran.


Hirawan menatap kedua mata Dev, seakan menantang pemuda itu.


“Kamu harus bisa mengenyahkan parasit-parasit pengganggu itu dari perusahaan saya.”


Dev mengerutkan keningnya tidak mengerti, “Mengenyahkan parasit pengganggu?”


“Iya. Hendra, Kris, Stuart, semuanya. Singkirkan mereka. Saya tidak peduli bagaimana cara kamu, yang penting mereka harus pergi dari hidup saya dan juga Bella. Saya akan berikan perlindungan dan bantuan apapun yang kamu butuhkan untuk melakukan keinginan saya itu.”


Dev tertegun mendengarnya. Untuk bisa menikahi Bella ia harus mengenyahkan Hendra beserta keluarganya dan juga Kris. Bagaimana caranya?


“Kamu sudah mengetahui betapa licik dan tamaknya mereka. Saya yakin setelah saya menceritakan semua kebenaran mengenai kedua orang tua kamu, dan juga pemberhentian kamu yang tidak adil itu, kamupun memiliki keinginan yang sama dengan saya. Anggaplah ini hubungan simbiosis mutualisme, saya bisa mendapatkan keinginan saya dan kamu bisa membalaskan dendam kamu.”


“Kenapa anda ingin mereka pergi dari hidup anda? Dan mengapa tidak anda sendiri yang mengenyahkan mereka? Anda memiliki kekuasaan yang besar. Hal itu tidak sulit bagi anda.” Tanya Dev.


“Saya sudah cukup bersabar selama ini menerima anak haram yang tamak dan tidak kompeten seperti Hendra berada di perusahaan saya. Lalu sebelum Kris lebih besar kepala lagi, saya juga harus segera menyingkirkannya. Saya tidak ingin menghabisi mereka dengan mengotori tangan saya sendiri. Saya tidak ingin mengambil resiko mempertaruhkan nama baik Xander. ”


Dev mulai memahami maksud Hirawan. “Jadi anda membutuhkan orang luar seperti saya untuk membuat mereka pergi?”


Hirawan mengangguk pelan.


“Kamu adalah satu-satunya orang yang tepat untuk melancarkan keinginan saya ini. Merebut kembali MD farma bisa menjadi alasan yang kuat untuk kamu mengenyahkan Hendra. Satu hal lagi yang harus kamu ingat, Bella tidak boleh mengetahuinya. Jangan libatkan dia dalam rencana ini. Saya ingin baik saya ataupun Bella tidak terlibat dalam rencana apapun yang akan kamu buat nanti untuk menyingkirkan mereka. Leo akan menjadi penghubung antara saya dan kamu. Jadi setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi, sebelum kamu bisa menyingkirkan mereka."


Dev terdiam cukup lama. Merasa tidak yakin apakah ia harus mengambil langkah ini? Namun Dev sangat mencintai Bella, ia tidak ingin kehilangan gadis yang sudah mengisi hatinya selama hampir 10 tahun itu.


"Saya rasa harga yang saya tawarkan cukup sepadan." Hirawan kembali meyakinkan Dev, "Kamu setujui syarat yang saya ajukan, maka kamu bisa mendapatkan Bella dan juga memulihkan nama baik kamu. Kamu sendiri tau umur saya tidak akan lama lagi. Saya ingin menyerahkan Xander pada cucu saya tanpa adanya gangguan dari Hendra ataupun Kris. Saya ingin Bella mengelola Xander dengan aman dan tenteram. Maka setelah itu saya bisa mati dengan tenang.” Pungkas Hirawan.


Dev kini merasa beban berat berada di pundaknya. Kepalanya masih berdenyut sakit setelah mengetahui semua fakta ini. Ia sama sekali tidak bisa memutuskan langkah apa yang harus diambilnya.


***


Bella berada di luar ruang kerja Hirawan. Ia mondar-mandir di depan ruang kerja sang kakek setelah mengantar rekan-rekan bisnis sang kakek menuju mobil mereka masing-masing. Ia meminta maaf karena dirinya merasa tidak sehat, juga sang kakek yang tiba-tiba memiliki hal yang harus dikerjakan. Para rekan bisnis Hirawan tidak mempermasalahkannya dan segera pamit pulang setelah santap siang.


“Dev lama banget sih di dalem?” gumam Bella. Leo masih berjaga di depan pintu dan tidak membiarkan siapapun masuk, termasuk Bella.


Tidak lama pintu terbuka. Dev keluar dengan wajah yang merah padam. Ia terus berjalan ke arah pintu keluar, tidak memedulikan Bella yang ada disana menunggunya sejak tadi.


“Dev! Kakek ngomong apa aja?” tanya Bella sambil berjalan mengimbangi Dev yang melangkahkan kakinya dengan cepat. Tere dan Leo mengikuti keduanya.


Dev tidak menjawab dan terus berjalan keluar dari mansion milik Hirawan. Bella tidak lagi mengikuti Dev saat Dev mulai menjauh dari pintu utama mansion.


“Dev! Lo udah janji gak akan pergi lagi dari gue!” Teriak Bella histeris, resah memandang Dev yang terus berjalan ke gerbang tanpa memedulikannya sama sekali, "Leo, Dev kenapa? Apa yang kakek omongin sampe dia marah kayak gitu?!”


“Nona Bella, tenang! Dia tidak meninggalkan anda. Dev hanya perlu waktu untuk berpikir. Tolong beri dia waktu.” Ucap Leo menenangkan Bella.