Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 55: Instruksi Sederhana



Flashback


Setelah berhasil memenangkan balapan dan berhasil mendapatkan 50 juta, Dev harus pergi dari Jakarta. Ia harus membuat Kris berpikir bahwa Dev menepati janjinya. Dev pulang ke tempat kostnya dan membereskan semua barang-barang miliknya. Ia hanya membawa beberapa benda penting bersamanya, sedangkan yang lain, ia tinggalkan, karena memang semua perabot bukan milik Dev, semuanya milik induk semangnya.


Devpun pamit kepada pemilik kostnya, kemudian segera pergi meninggalkan Jakarta malam itu juga. Dengan tas ransel yang penuh dengan segala barang-barang penting miliknya, ia mengendarai motor ducati merahnya menuju Bandung. Ada tempat yang harus ia tuju.


Setelah beberapa jam berkendara, ia sampai di Bandung pada pagi hari. Ia datang ke sebuah rumah sederhana. Rumah itu dulu adalah rumah yang ditempatinya bersama sang Ayah setelah rumah mereka disita. Sekarang rumah itu sudah dibeli oleh seseorang. Namun terdapat sebuah ruangan terpisah yang difungsikan sebagai gudang yang dulu dititipkan sang ayah agar tidak dibuka dan dijaga dengan baik. Di gudang tersebut Dev ingat, sang ayah menyimpan beberapa berkas miliknya disana.


Dev meminta izin pada sang pemilik rumah untuk membuka gudang tersebut. Sang pemilik rumah memberikan izinnya. Kemudian Dev mulai memeriksa berkas-berkas yang ada disana. Berjam-jam Dev memeriksa berkas-berkas itu sambil mempelajarinya. Akhirnya ia menemukan sebuah dokumen. Dokumen itu berisi kontrak kerjasama sang ayah dengan Hendra dan Sumargo, lengkap beserta semua bukti mengenai jual beli, deskripsi lengkap mengenai kegunaan dan dampak dari cairan kimia yang diciptakan sang ayah.


Dev menatap tiga buah tanda tangan tertera disana, tanda tangan sang ayah, Hendra, dan juga Sumargo. Selain itu Dev juga menemukan surat perjanjian rahasia antara Mr. Ryu dengan Sumargo, disana tertera bahwa Sumargo


membeli dan menyalurkan senj*ta kimia itu pada Mr. Ryu.


Semua berkas itu sangat lengkap dan tersusun rapi. Seakan memang disiapkan untuk bisa ditemukan oleh seseorang. Sepertinya Ben, ayah Dev, sudah mempersiapkan semua ini, sebagai rencana cadangannya jika ia tidak bisa segera menghabiskan Hendra dan Sumargo oleh tangannya sendiri.


Dev membawa berkas-berkas itu. Kemudian ia datang ke sebuah pom bensin. Ia beristirahat disana dan menghubungi Abbas.


“Bro, gue minta tolong boleh gak. Gue mau minjem uang.” Ucap Dev, ia merasa malu sebenarnya. Namun ia sudah tidak memiliki sepeserpun uang saat itu. Sejak ia menjadi pengawal Bella, tidak ada pemasukan yang bisa dihasilkannya. Tabungannya juga terkuras habis untuk menghidupi dirinya sehari-hari, karena biaya hidup di Jakarta memang sangat mahal. Serta tidak ada yang ia bisa mintai tolong kecuali Abbas.


“Berapa? Lo dimana sekarang?” tanya Abbas.


“Gak banyak, Beberapa ratus ribu juga cukup. Gue di Bandung sekarang.”


“Katanya lo gak akan pergi?” tanya Abbas.


“Gue harus bikin Kris mikir gue pergi. Tapi nanti gue pasti balik lagi ke Jakarta.”


“Yauda lo cek, gue udah transfer.” Ucap Abbas.


“Okay, thanks. Gue ganti nanti uangnya.” Devpun mematikan HPnya dan mengecek mbankingnya.


Dev terkejut karena Abbas mentransfernya beberapa puluh juta ke rekeningnya. Iapun menelepon Abbas lagi.


“Bro, gila ini sih kebanyakan. Gue gak akan bisa bayarnya.” Protes Dev.


“Udah lo pake aja. Itu bonus buat panglima perangnya Black Phanter yang selalu menang kalo balapan dan bantuin kita tawuran. Lo juga selalu bantuin kita berhadapan sama polisi. Pamor geng gue makin naik gara-gara lo. Lagian selama ini kalo taruhan uangnya gak pernah lo ambil, lo selalu ngasih uang taruhan buat anak-anak. Sekarang lo harus terima uang itu. Kalo kurang lo bilang aja. Gue transfer lagi nanti.”


“Tapi lo dapet uang sebanyak itu dari mana?” Tanya Dev.


“Lo masih nanya?” Abbas bertanya balik.


“Lo menang judi? Atau lo menang taruhan game online?” Dev menerka-nerka.


“Nah itu lo tau. Udah lo pake aja. Udah dulu gue lagi sibuk.” Ucap Abbas kemudian mematikan teleponnya.


Dev merasa keberatan karena uang itu didapat dengan cara yang salah. Namun ia membutuhkan uang untuk mencari tempat tinggal selama dia di Bandung. Akhirnya Dev memutuskan untuk menerimanya dan bertekad suatu hari ia akan mengembalikan uang itu pada Abbas.


Setelah itu Dev mencari tempat kost untuknya tinggal beberapa hari di Bandung, sebelum ia kembali lagi ke Jakarta. Dev menemukan sebuah kamar dengan sewa yang lumayan terjangkau di sekitar sebuah kampus Universitas di kota Bandung.


Dev masuk ke kamar kostnya dan segera membaringkan tubuhnya di kasur. Badannya sudah sangat kelelahan karena ia tidak istirahat sejak semalam. Ia meraih HPnya dan mencari kontak Bella. Ia teringat wajah Bella yang begitu penasaran padanya, kemudian wajahnya berubah sedih. Bella juga terus meneriakkan namanya namun ia terus melangkah menjauh dan tidak menggubrisnya sama sekali.


Bella pasti sangat mengkhawatirkannya sekarang. Ia mengetik pesan beberapa kali namun tak kunjung ia kirim. Ia juga beberapa kali mencoba untuk menghubungi Bella namun kembali ia urungkan niatnya itu. Ia bingung akan mengatakan apa pada Bella. Sedangkan Hirawan sudah mewanti-wantinya agar Bella jangan sampai tahu apalagi terlibat dalam masalah ini.


Kemudian Dev menghubungi Leo. Ia meminta Leo untuk datang ke Bandung. Leo kemudian meminta mereka untuk bertemu di ruang VIP sebuah restoran, agar pertemuan mereka lebih aman dan rahasia.


Keesokan harinya Dev datang ke restoran yang ditujukan oleh Leo. Dev masuk ke ruang VIP dan Leo sudah disana melahap makanan yang sudah dipesannya.


“Makan.” Leo manawarkan makanan pada Dev.


“Makasih, Pak.” Ucap Dev namun tidak mengambil makanan apapun yang tersedia di meja itu.


Dev menunggu Leo menghabiskan makanannya, setelah Leo mengelap mulutnya ia menatap ke arah Dev.


“Jadi kenapa kamu mau ketemu saya?” tanya Leo.


Dev mengeluarkan dokumen yang ditemukannya di gudang rumah lamanya.


Leo memeriksa dokumen itu dengan seksama, setelah itu ia letakkan lagi dokumen itu di meja.


“Jadi?” tanya Leo.


“Saya akan melaporkan mereka kepada polisi dengan barang bukti ini.” Ucap Dev.


Leo tertawa mendengar ucapan Dev. Dev mengerutkan keningnya, tidak paham.


“Kamu kira Pak Hirawan akan membiarkan kamu membuat Xander terkena skandal? Kamu pikir kenapa selama ini beliau bungkam? Mendiang ayah kamupun pernah melaporkan ini pada atasan Sumargo, namun kamu tau sendiri


bagaimana kelanjutannya.”


Leo menyandarkan tubuhnya, “Kalaupun kamu bisa memasukkan Hendra dan Sumargo ke penjara dengan bukti yang kamu punya, kamu tidak akan bisa membuat mereka dipenjara dalam waktu yang lama. Kamu lupa? Mereka punya koneksi. Juga, Andhara farma akan tetap menjadi milik Hendra. Itu artinya Pak Hirawan tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.”


“Jadi saya harus bagaimana?” tanya Dev.


Leo menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa gemas dengan sikap polos Dev.


“Apa bener kamu dulu seorang LETDA? Kenapa kamu gak paham dengan instruksi sederhana dari Pak Hirawan?” tanya Leo.


Dev terdiam. Sontak ekspresinya berubah tegang.


“Apa saya harus menghabisi nyawa mereka semua?” ucap Dev hati-hati.


Leo mengangguk mantap. Seketika bulu kuduk Dev berdiri, ia merasa merinding. Jantungnya berdetak kencang dan tangannya bergetar hebat.


“Kenapa? Kamu takut?” Leo menantang Dev.


“Saya gak mau jadi seorang pemb*nuh, Pak!” ucap Dev dengan suara bergetar.


Leo kembali tertawa mendengar ucapan Dev.


“Seorang mantan tentara gak mau jadi seorang pemb*nuh. Terlebih kamu mantan pilot pesawat tempur. Jika dalam keadaan terburuk kamu harus membawa rud*l\, senapan mesin\, atau bahkan b*m. Kemudian kamu harus melemparkan benda itu ke sebuah tempat dan benda itu akan meledak kemudian memb*nuh puluhan bahkan ratusan orang. Sekarang kamu hanya akan menghilangkan beberapa nyawa saja\, Dev.”


“Itu saat saya masih menjadi seorang tentara. Tapi sekarang saya bukan tentara, Pak. Saya tidak bisa melakukan itu!”


“Tapi kamu mau menikahi Bella kan?” tanya Leo membuat Dev merasa tersudut. “Ini harga yang harus kamu bayar untuk menduduki singgasana tertinggi, sebagai pendamping seorang Ratu Xander Corp.”