
Bella tiba di bandara. Ia didampingi Dev berjalan menuju landasan udara tempat pesawat jet pribadinya berada.
"Tunggu." Bella berhenti berjalan dan menghadap ke arah Dev.
"Lo bakal kayak gini terus?" tanya Bella cemberut melihat wajah Dev yang kembali menunjukkan ekspresi yang kaku.
Dev tidak menjawab dan masih pada mode pengawalnya.
"Gue kan udah bilang, khusus buat lo, lo gak perlu ngomong formal sama gue." ucap Bella berusaha meyakinkan Dev yang keras kepala.
"Mohon maaf, Nona. Saya mencoba untuk profesional. Saya harap anda juga fokus pada pekerjaan anda." ucap Dev.
Bella menghela nafas dengan kesal. Ia kira Dev akan terus bersikap manis padanya sepanjang hari. Bella melangkah mendekat, sehingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Yakin lo mau terus kayak gini setelah kejadian tadi malem?" Bella mengingatkan Dev mengenai kejadian semalam yang hampir saja membuat tubuh mereka bersatu.
Dev masih bergeming, namun terlihat menelan salivanya. Kejadian semalam kembali berputar di benaknya.
"Kita harus lanjutin apa yang udah kita mulai." Bella merapikan dasi yang Dev kenakan dan kembali melontarkan kata-kata seduktif, namun pertahanan Dev terlihat masih kokoh. Ia masih terlihat belum mematikan mode pengawalnya.
Bella menghela nafas kesal, dan mutuskan untuk pergi saja. Sambil berlalu ia berkata, "Ya udah kalo lo gak mau. Asal lo tau ya, cowok lain aja udah ada yang ngeliat tubuh polos gue."
Seketika api cemburu berkobar di dada Dev, "Siapa yang pernah liat lo gak pake baju?!"
"Lo bukannya lagi tugas? Kenapa nanya pake bahasa gak formal?" sindir Bella dengan puas melihat wajah Dev yang terlihat begitu marah.
Bella sampai ke landasan udara. Disana sudah ada Tere dan juga Raka. Wajah Raka terlihat tegang karena kemarin Bella mengatakan dia tidak akan mendapatkan gajinya bulan ini.
"Pak, bapak gapapa?" tanya Tere khawatir pada asisten pribadi Bella yang berusia 40 tahunan itu, terlihat tegang dan berkeringat melihat Bella yang berjalan menghampiri pesawat jetnya.
"Selama 20 tahun saya kerja bersama Pak Hirawan, baru kali ini saya tidak akan mendapatkan gaji." ucap Raka dengan sedih.
Tere tidak bertanya lagi dan menatap Raka dengan bingung. Bellapun masuk ke dalam pesawat begitu juga dengan Tere dan Raka masuk setelah Bella. Pesawat yang dikemudikan Devpun lepas landas dan mengudara menuju timur pulau Jawa. Selama perjalanan Bella sibuk berdiskusi dengan Raka mengenai pertemuan yang akan dilakukannya dengan salah satu CEO perusahaan yang menawarkan kerjasama dengannya.
Setelah sekitar 2 jam perjalanan, pesawatpun mendarat. Bella disambut dengan sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang membawanya menuju tempat pertemuan. Sampai disana Bella dan Raka masuk ke dalam sebuah ruangan rapat di sebuah gedung perkantoran. Sedangkan Tere dan Dev berjaga di luar dan menunggu pertemuan itu selesai.
Setelah melaporkan pada atasannya mengenai keberangkatan Bella yang berlangsung aman terkendali, iapun melepas earpiecenya sejenak dan sedikit meregangkan tubuhnya yang pegal karena duduk lumayan lama di pesawat.
"Ter, gue mau nanya. Lo dari kapan jadi pengawalnya Bella?" tanya Dev.
"Gue kenal dia dari SD. Gue sama dia seumuran, kita sering main bareng dan latihan karate bareng. Sebelum Pak Leo, bokap gue yang megang posisi Kepala Xander Security. Sampe akhirnya gue mutusin buat jadi pengawal pribadi dia sejak gue lulus kuliah."
"Jadi lo lebih baru dari Kris?" tanya Dev.
"Iya. Gue baru 5 tahun jadi pengawal dia. Kalo Kris, udah dari 7 tahun lalu. Waktu Bella kuliah di UCLA Kris ditugasin buat jagain dia selama disana."
"Kenapa lo mutusin buat jadi bodyguard dia?" tanya Dev yang masih penasaran.
"Pertama karena gue udah nganggep Bella sebagai sahabat gue sejak kecil. Dia gak pernah mandang gue sebagai anak dari anak buah kakeknya. Kita temenan bener-bener gak ngeliat siapa kita. Kedua, gue kasian sama dia karena dia kan udah gak punya orang tua. Gara-gara itu juga dia udah dipersiapin dari dia masih kecil buat gantiin kakeknya jadi CEO, karena dia satu-satunya penerus kakeknya. Dia juga gak punya temen deket selain gue. Akhirnya pas gue lulus kuliah gue mutusin buat kerja di Xander. Gue dikirim ke LA dan gue sama Kris gantian jagain dia."
"Iya. Harus. Waktu dia kecil dia sering kabur. Diculikpun pernah. Makin dia gede makin macem-macem aja kelakuannya. Dia sering cari masalah sama orang dan gaul sama orang-orang gak jelas. Belom lagi cowok-cowok yang deketin dia. Kalo udah gak suka, dia bakal nolak dengan cara yang bikin cowok-cowok itu dari suka malah jadi benci sama Bella. Bella itu keras kepala dan nekat orangnya. Terus Bella mungkin keliatan cewek bar-bar dan kuat, tapi dia punya asma dan pencernaannya sensitif. Salah makan sedikit, dia bakal sakit. Makanya dari dia kecil dia harus selalu dijagain bodyguard."
"Tapi kenapa dia selalu nolak jadi CEO?"
"Bella tuh benci banget sama kakeknya. Dia nganggep orang tuanya meninggal itu gara-gara kakeknya. Kakeknya nyuruh bokap nyokapnya pergi pake pesawat jet pribadi padahal waktu itu cuaca lagi jelek banget. Demi apa? Demi ngejar tender. Makanya Bella disitu berontak sama kakeknya. Dia bikin banyak masalah, tujuannya buat bikin kakeknya marah. Dan lo tau, gak keitung berapa bodyguard yang nyerah buat jagain dia sebelum gue sama Kris."
Seketika Dev merasa cemburu membakar hatinya.
"Kenapa Kris bisa sampai selama itu jadi bodyguardnya Bella?" tanya Dev dengan nada tidak suka.
"Gue gak tau pertamanya. Tapi lama-lama gue curiga Kris suka sama Bella. Dia bertahan di samping Bella padahal Bella sering bikin Kris dalam masalah. Sampe bener dugaan gue kalo dia suka sama Bella. Selama ini Kris investasi dan ngumpulin kekayaan, berusaha buat memantaskan diri sama Bella. Cuma Bella gak pernah nganggep Kris. Dia malah benci banget sama Kris karena Bella gak bisa bikin Kris berhenti jadi bodyguardnya."
"Lo yakin Kris gak pernah macem-macem sama Bella?" Dev ingin memastikan. Jika Kris menyukai bella ia khawatir Kris pernah melakukan sesuatu pada Bella.
"Lo kira Bella kayak cewek lain? Yang gampang dimacem-macemin? Dia berantem ngelawan lo juga berani. Dia juga sabuk hitam karate tau."
"Tetep aja gue gak yakin Kris cuma jagain Bella selama ini. Dia sering kan sampe nginep di apartemen Bella."
"Lo jangan heran kalo gue ataupun Kris sering nginep di tempatnya Bella. Kita itu bener-bener jagain dia. Kita sama sekali gak bisa meleng dikit aja kalo lagi bareng dia. Sekarang aja dia agak waras tiba-tiba mau jadi CEO. Dan itu semua berkat lo."
Dev terdiam. Kembali merasa bersalah.
"Gue malah ngerasa beban banget sekarang. Dia sampe ngorbanin dirinya demi gue." ucap Dev
"Lo suka sama Bella?" tanya Tere.
Dev tidak menjawab.
"Kalo lo suka sama dia, perjuangin dong. Bella yang hobi foya-foya, seenaknya dan bar-bar banget, berubah jadi CEO yang elegan dan berwibawa. Buat ngubah cara hidup 180 derajat berbeda itu gak gampang. Tapi Bella ngelakuin itu buat lo. Gue sendiri gak nyangka dia bisa ada di posisi ini."
"Gue cuma orang biasa, Ter. Gak pantes buat Bella." ucap Dev masih merasa rendah diri.
"Cemen lo. Lo gak liat si Kris? Dia aja merjuangin Bella sampe segitunya. Hati-hati lo. Walaupun Bella gak suka sama dia, bukan berarti dia gak bisa nikung lo."
"Dia punya cara buat bikin dia sepadan sama Bella. Gue? Dapet pekerjaan tetap aja gue gak bisa."
"Bella gak butuh lo punya pekerjaan tetap. Bella udah suka sama lo dengan apa adanya lo sekarang. Lo tinggal siapin aja ngehadepin kakeknya. Yakinin dia, kalo lo pantes buat Bella. Dan ubah kata 'pantas' yang ada di kamus lo, dengan 'pantas' yang ada di kamus Bella."
Dev terdiam dan menghela nafas sambil merenungi kata-kata Tere. Tere melihat Dev masih terlihat belum yakin untuk mendampingi seorang Bella.
'kayaknya ini orang harus dikasih semangat.' ucap Tere dalam hati.
"Kris mungkin gak pernah ngapa-ngapain Bella, dia murni ngejalanin tugasnya. Tapi dalam beberapa situasi, Kris kepaksa untuk megang tangan, meluk, dan bahkan gendong Bella. Bella tidur di pelukan dia juga pernah. Bahkan, Kris pernah ngeliat tubuh polos Bella tanpa sehelai benangpun."
Bagai disambar petir tanpa adanya tanda-tanda akan turun hujan, seperti itulah perasaan Dev saat mendengar ucapan Tere. Kemudian tanpa sadar ia berteriak, "APA LO BILANG?!"