Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 46: Tipe Ideal



“Siapa orang yang tau semua tentang Xander?” tanya Dev lagi, ia sangat penasaran.


Saat sedang asyik mengobrol, datang seorang pria muda dari arah lift bersama seorang perempuan yang berjalan dua langkah dibelakang pria itu. Tere segera mengubah posisi istirahat ditempatnya, menjadi sikap sempurna. Dev mengikuti Tere untuk berdiri dengan sikap sempurna juga.


Tere dan Dev segera membungkuk dan membukakan pintu ruang rapat untuk pria muda itu. Pria itupun masuk ke ruang rapat dan bergabung dengan para petinggi Xander Corp dan kolega mereka, Mr. Nates.


“Siapa barusan?” tanya Dev kembali ke posisi istirahat di tempat.


“Ganteng gak?” Tere bertanya balik pada Dev. Dev terdiam, merasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu.


“Dia Albert, penerus Diamonds Corp. Dia kayaknya wakilin ayahnya buat dateng ke rapat ini.” Ucap Tere dengan senyum yang mencurigakan.


“Diamonds Corp yang Bella temuin di Surabaya waktu itu?” tanya Dev.


“Iya. CEO Diamonds Corp itu ayahnya Albert.” Tere masih tersenyum penuh arti.


“Lo suka sama cowok barusan?” tebak Dev.


“Sembarangan. Gue tau diri kali. Masa bodyguard dan cewek kacrut kayak gue suka sama cowok dari kasta teratas kayak Albert.” Ucap Tere.


“Emang gak boleh bodyguard suka sama orang dari kasta teratas?” Dev merasa tersinggung.


“Sorry. Lo sama Bella pengecualian,” ucap Tere mulai cengengesan.”Lo harus tau. Albert salah satu cowok yang pernah deketin Bella.”


“Hah? Serius?” Dev terkejut.


“Bahkan dia satu-satunya cowok yang pernah dipertimbangkan sama Bella. Pokoknya lo harus hati-hati sama dia.” Ucap Tere memperingatkan.


Dev mulai menyatukan alisnya dan sontak merasa gelisah.


“Tenang, woy. Albert emang cowok yang ganteng, baik, sopan, dan gentleman banget, tapi Bella udah nolak dia. Bella bilang dia gak ada rasa sama Albert. Walaupun nyaris sempurna, bagi Bella, cowok kayak Albert itu ngebosenin.” Ucap Tere.


“Ngebosenin?” tanya Dev dengan dahi mengerut.


Tere mengangguk. “Dia gak suka soalnya katanya cowok kayak Albert terlalu pasaran. Selera Bella emang suka aneh-aneh. Makanya dia tertarik sama lo sejak pertama liat lo. Bagi Bella lo tuh beda dari semua cowok yang pernah deketin dia. Selain segala macem hal berbau badboy dari diri lo, lo juga cuek banget sama dia kan waktu awal-awal. Dia tertantang buat bisa naklukin lo. Terus satu keunggulan lo yang lebih dari semua cowok yang pernah deketin Bella dan bikin lo jadi cowok paling perfect menurut Bella: lo paling ganteng dari mereka semua, Dev.”


Dev mengerutkan kening pada Tere, merasa kikuk dengan ucapan Tere.


“Serius. Bella yang bilang, katanya lo itu cowok paling ganteng versi dia, Albert aja masih kalah ganteng sama lo.”


Dev mengalihkan pandangannya sambil menggaruk alisnya yang tidak gatal, tidak biasa menerima pujian seperti itu.


“Tapi walopun lo sangar di luar, di dalem ternyata lo sama kayak si Albert.”


“Jadi Bella juga mikir gue ngebosenin?” tanya Dev.


“Yah kurang lebih sih gitu. Otak Bella emang rada sengklek. Kalo cewek-cewek lain ditaksir sama cowok modelan Albert udah gak akan mikir dua kali. Dia lebih suka sama cowok kayak lo. Lo tipe Bella banget. Cuma sikap baik dan sopan lo itu yang gue kira harus agak lo kurangin sedikit kadarnya.”


“Nah itu masalah lo.” Ucap Tere, “lo mau baikan sama Bella kan? Coba lo ambil inisiatif lebih dan bersikap lebih dominan ke Bella.”


[Leo: Alpha Eagle, Delta Fox, asik sekali kalian ngobrol, selesai pertemuan lari di gelanggang olahraga 20 putaran!]


Terdengar suara Leo di earpiece mereka berdua. Leo memperingatkan Tere dan Dev setelah orang di ruang kontrol memperlihatkan CCTV yang menampilkan mereka malah asik mengobrol saat sedang berjaga. Seketika keduanya menghentikan obrolan mereka dan saling menatap seakan keduanya berbicara ‘gara-gara lo ngajak ngobrol sih’.


Kemudian pintu di belakang mereka terbuka. Sepertinya pertemuannya sudah selesai. Terlihat Bella, Mr. Nates, dan juga Albert keluar lebih dulu.


“Terimakasih, George. Kita akan bertemu lagi besok. Sekarang anda bisa beristirahat di Hotel yang sudah saya siapkan. Saya harap kamu bisa beristirahat dengan nyaman disana.” Ucap Bella pada Mr. Nates. Bella mengarahkan tangannya pada Tere. “Ini Tere, dia akan mengantarkan anda dan asisten anda ke Hotel.”


“Sama-sama, Bella. Saya sangat senang bisa menjalin kerjasama dengan Xander Corp dan juga Diamonds Corp. Kita akan bertemu lagi besok. Terimakasih untuk semuanya.” Ucap Mr. Nates.


Kemudian Tere membimbing Mr. Nates bersama asistennya menuju lift dan mengantarkan mereka ke Hotel Logan Ritz yang terletak tidak jauh dari gedung Xander Corp. Bella kemudian mempersilahkan para kepala Departemen untuk kembali bekerja, dan merekapun membubarkan diri termasuk Kris dan Hendra.


Sebelum pergi, Hendra menatap Dev dengan penuh benci. Namun kini Dev bisa menguasai dirinya, ia tetap pada posisinya tidak menggubris tatapan Hendra yang begitu mengintimidasinya. Kemudian Hendra pergi bersama dengan Kris.


Sedangkan Bella terlihat masih mengobrol dengan Albert. Mereka begitu akrab, bahkan kini bukan lagi mengenai pekerjaan yang mereka bicarakan. Setelah beberapa saat kemudian keduanya melangkahkan kakinya menuju lift khusus.


“Ya udah, gue bakal anterin lo ke bawah.” Pungkas Bella mengakhiri obrolannya dengan Albert. Dev, Raka, dan asisten Albert mengekor di belakang keduanya.


Bella mengakses lift dan merekapun masuk ke dalam lift. Bella dan Albert berdiri di depan para asisten mereka dan juga Dev. Bella kembali mengobrol santai dengan Albert. Terlihat Bella sangat akrab dengan Albert bahkan


sesekali Bella menyentuh bahu Albert dan tertawa pada pria itu. Mereka tidak memedulikan kehadiran tiga orang dibelakang mereka. Dev merasa hatinya memanas melihat kedekatan Bella dengan pria yang nyaris sempurna menurut Tere itu. Di saat dirinya bahkan dianggap makhluk tak kasat mata oleh Bella, pria itu malah terlihat begitu akrab dengan Bella.


Lift terbuka di lantai 1. Merekapun keluar dari dalam lift. Bella mengantarkan Albert hingga ia masuk ke dalam mobilnya yang sudah siap di depan lobi. Setelah itu Bella kembali ke dalam liftnya bersama Raka dan juga Dev.


“Lo udah gak usah jagain gue lagi, jadi lo bisa keluar dari sini sekarang.” Ucap Bella dengan ketus saat Dev akan memasuki lift khusus.


Namun Dev terus melangkahkan kakinya ke dalam lift dan berdiri di belakang Bella, “Maaf, saya hanya akan memastikan keamanan anda hingga anda tiba di ruangan anda. Setelah itu saya akan turun lagi. Anggap saja saya tidak ada di lift ini.” Ucap Dev bersikeras.


Bella menatap kesal pada Dev, namun tidak menjawab lagi dan membiarkan Dev di lift bersamanya hingga Bella tiba di ruangannya.


Liftpun mulai bergerak naik, tiba-tiba HP Raka berdering. Segera Raka mengangkatnya dan kemudian menutupnya kembali.


“Bu Bella, saya harus menemui asisten Mr. Nates di lantai 1. Ada berkas yang tertinggal yang harus saya ambil.” Ucap Raka sambil menekan tombol buka. Pintu liftpun terbuka di lantai 3.


“Ya udah. Nanti langsung ke ruangan gue, kita harus cepet beresin semuanya sebelum acara besok.”  Ucap Bella. Rakapun keluar dari lift di lantai 3.


Lift kembali bergerak menuju ke lantai paling atas. Keadaan mencekam kembali terasa di lift itu. Baik Bella ataupun Dev tidak ada yang membuka obrolan.


Lift kini melewati lantai 7 dan Dev tidak tahan lagi dengan suasana lift yang hening mencekam. Ia mendorong tubuh Bella ke dinding lift. Masing-masing tangan Dev menyandra kedua tangan Bella. Bella terlihat sangat terkejut dengan apa yang Dev lakukan. Mata mereka saling menatap dengan tajam.


“Lo ngapain sih?!” tanya Bella marah.


Dev tidak menjawabnya, kemudian tanpa ragu mencium bibir kekasihnya itu dengan kasar.