Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 48: Transformasi



Hendra sampai di ruangannya, Kris yang mengekor di belakangnya membanting pintu setelah ia masuk juga ke ruangan wakil CEO itu.


“Saya yang bodoh mempercayakan semua ini pada kamu, atau kamu memang t*lol?! Omong kosong apa kemarin itu? Kamu sudah menyingkirkan Dev? Terus siapa tadi yang kita lihat?! Hantu?! Sia-sia sudah 50 juta yang saya keluarkan!” teriak Hendra dengan wajah yang merah padam.


“Saya juga gak tahu! Dia ngeliatin SK kalo dia sekarang udah jadi anggota resmi Xander Security. Itu bahkan rekomendasi langsung dari Pak Hirawan.” Ucap Kris kesal. Ia tidak terima dengan ucapan Hendra.


“Dia dapat rekomendasi dari ayah?” Hendra tertegun, “Apa ayah kini membuang kamu dan meminta Dev untuk menyingkirkan saya?”


“Kayaknya sih gitu. Sikap beliau juga jadi beda sama saya. Mungkin beliau udah tau kalo kita bohongin dia.” Ucap Kris.


Hendra tertawa bengis.


“Apa yang bisa dilakukan laki-laki buangan seperti Dev pada saya? Ternyata ayah tiri saya tercinta sudah kehilangan taringnya sekarang.”


“Anda masih harus terus waspada, Pak. Apapun bisa terjadi nanti.” Ucap Kris memperingatkan.


Hendra menatap mata Kris dengan murka. Matanya membulat sehingga seperti hampir keluar dari rongganya.


“Berani sekali kamu menasehati saya!? Kamu hanya laki-laki miskin yang dengan tidak tahu malunya menginginkan Bella. Jaga sikap kamu! Sekalipun saham kamu sekarang lebih besar dari Stuart, saya dan kamu tidak ada di level yang sama! Ingat kartu AS kamu sudah saya pegang, saya bisa buang kamu ke jalanan kapanpun saya mau, camkan itu!” ucap Hendra murka.


Kris mengepalkan tangannya dengan kuat, menahan emosi mendengar penghinaan yang Hendra lontarkan kepadanya.


***


Dev duduk di motor ducati merahnya yang terparkir di bawah sebuah pohon rindang di tepi jalanan perbukitan yang lengang. Kedua matanya memandang jauh ke arah matahari jingga yang sudah hampir tenggelam. Kemudian sebuah mobil Mazda hitam berhenti tepat di belakangnya. Dev segera beranjak dari motornya dan menghampiri Leo dan berdiri di hadapan Leo dengan sikap sempurna. Leo mengeluarkan sekotak rokok dan menawarkannya pada Dev.


“Tidak terimakasih, saya udah berhenti, Pak.” Tolak Dev. Ia sudah berjanji pada Bella untuk tidak lagi menghisap benda berasap itu.


“20 putaran sudah kamu laksanakan?” tanya Leo sambil menyalakan koreknya.


“Sudah, Pak. Anda bisa cek CCTV.” Ucap Dev.


Setelah pertemuannya dengan Mr. Nates ia segera ke lapangan bersama Tere dan menjalankan hukuman itu. Kemudian ia meminta Leo untuk menemuinya di tempat ini.


“Jadi apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Leo sambil menyalakan rokoknya.


Dev memasukkan tangannya ke balik jaket kulit yang dikenakannya dan mengeluarkan sebuah dokumen yang dijilid dengan plastik mika berwarna hitam yang ia simpan di saku dalam jaket miliknya. Kemudian ia serahkan itu pada Leo.


“Apa ini?” tanya Leo. Ia mulai membuka lembaran-lembaran dokumen itu.


Dev lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Mr. Nates tadi siang.


“Gimana menurut anda, Pak?” tanya Dev.


“Perasaan kamu pasti udah kayak orang yang menang lotre.” Ucap Leo.


“Apa saya harus terima bantuan Mr. Nates, Pak?” tanya Dev bimbang.


Leo menatap lekat pada Dev.


“Kamu bodoh? Kenapa kamu masih bingung. Hanya orang bodoh yang akan melewatkan kesempatan sebagus ini. Kamu gak perlu memikirkan apapun lagi. Kamu hanya perlu mempelajari bisnis dan mulai merintis start up-nya. Modal sebesar apapun akan Mr. Nates sediakan untuk kamu karena ia merasa berhutang nyawa pada kamu.” Ucap Leo meyakinkan. Ia serahkan kembali dokumen itu.


Dev memandang ke arah dokumen yang kini sudah kembali berada di tangannya.


Dev menelan salivanya. Menghirup dan menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian ia mengangguk mantap. Setelah mendengar ucapan Leo, sebuah tekad membulat sempurna di dalam benaknya.


***


Sebuah ruangan Ballroom di Hotel Logan Ritz kini sudah didekorasi dengan sedemikian mewahnya. Terdapat podium di panggung utama yang dihiasi logo dari tiga perusahaan raksasa Xander Corp, Diamonds Corp, dan Omega Group. Kini ketiga perusahaan itu sudah secara resmi menjadi mitra bisnis yang siap menguasai berbagai sektor.


Perayaan yang mewah dan megahpun dibuat untuk merayakan terjalinnya kerjasama itu. Orang-orang sudah mulai berdatangan dan menempati kursi dan meja yang telah disediakan. Semua orang mulai dari karyawan biasa hingga orang-orang penting hadir saat itu, termasuk Hirawan. Ia sangat bangga dengan pencapaian Bella yang bisa menggaet Omega Group, sebuah perusahaan multinasional yang sudah melanglang buana di banyak negara.


Di luar pintu utama hotel, Bella baru saja datang. Ia turun dari mobil yang dikemudikan oleh Tere. Beberapa wartawan terlihat di luar dan terus memijit tombol pada kamera mereka untuk menangkap sosok Bella yang begitu anggun dan mempesona. Malam itu itu Bella bak seorang Ratu. Ia menggunakan gaun berwarna putih dengan belahan rendah. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai dan bergelombang, bergerak indah menutupi punggungnya. Riasan tipis namun sangat anggun menghiasi wajah Bella yang cerah dan mulus tanpa cela. Bibirnya dipoles dengan warna merah menyala, menambah kesan anggun dan berani, khas seorang Bella.


Kakinya yang jenjang melangkah indah bersama high heels bertahta berlian yang digunakannya. Bella mulai memasuki hotel dan berjalan menuju Ballroom. Semua orang terpana melihat CEO Xander Corp itu. Bella melangkahkan kakinya menuju meja paling depan. Disana terlihat Hendra, Kris, Lidya, Mr. Nates, Albert, Hirawan, dan William, ayah Albert sekaligus CEO Diamonds Corp.


“Cantik sekali cucu anda ini, Pak Hirawan.” Puji Mr. Nates berbicara pada Hirawan.


“Ya. Cucu saya memang paling cantik dari semua perempuan cantik di dunia ini.” Ucap Hirawan bangga. Bella hanya tersenyum sambil melingkarkan tangannya di lengan sang kakek, tersipu mendapat pujian yang begitu berlebihan dari Hirawan.


Merekapun mulai menduduki kursi mereka. Mereka mengobrol santai sambil menunggu dimulainya acara. Hendra dan Lidya tak henti-hentinya berbicara, mencari celah agar bisa lebih dekat dengan Mr. Nates. Namun terlihat Mr. Nates tidak terlalu nyaman dengan percakapan itu.


“Mr. Nates, saya bertanya-tanya kenapa ada kursi kosong disini. Apakah ada orang yang belum datang? Ataukah EO salah menempatkan kursi disini?” tanya Kris mengarah pada kursi kosong yang terletak diantara Bella dan Mr. Nates.


“Tidak. Kita masih menunggu seseorang. Dia adalah tamu saya. Ia meminta izin untuk datang terlambat karena sesuatu. Ah, itu orangnya datang.” Mr. Nates menatap ke arah pintu utama dan melambaikan tangannya.


Semua orang ikut melihat ke arah pintu ballroom, termasuk Bella. Mereka terperanjat melihat seorang pria muda berwajah tampan rupawan dengan alis tebal dan hidung yang mancung berjalan dengan tuxedo berwarna navy dan rambut ditata rapi. Jika orang yang tidak mengenalnya mungkin akan bertanya, CEO perusahaan mana pria tampan itu?


Sepanjang pria itu melangkah, semua mata tertuju padanya. Ia terus berjalan dan tidak memedulikan tatapan dan decak kagum dari orang-orang. Dengan percaya diri ia menghampiri meja para CEO. Kemudian Mr.Nates berdiri menyambutnya.


“Akhirnya kamu datang juga.” Mr. Nates mengulurkan tangannya dan menjabat pria itu kemudian memeluknya dan menepuk punggung pria itu sekilas.


Semua orang di meja itu, dan mungkin hampir semua orang yang ada di ruangan itu, termasuk para pengawal yang berjaga, terperanjat melihat pria yang mereka kenal sebagai pengawal kini bertegur sapa dengan begitu akrabnya dengan sang triliuner, Mr. Nates. Semua orang berdecak tidak percaya.


“Kalian sudah mengenalnya bukan, dia tamu saya, Dev Bentlee. Dia akan duduk bersama kita sekarang.” Ucap Mr. Nates sambil menepuk-nepuk punggung Dev beberapa kali.


Hendra, Lidya, dan Kris, menatap Dev dengan mata yang membulat sempurna. Masih tidak percaya, Dev yang mereka kenal sebagai seorang pengawal, kini menjadi tamu dari seorang triliuner yang sedang mereka coba untuk dekati.


Dev membungkuk hormat pada mereka semua. Kemudian Dev secara khusus membungkuk pada Hirawan, “selamat malam, Pak.”


Hirawan terlihat terkejut, namun mengangguk dan tersenyum pada Dev, “Selamat malam. Kamu sangat berbeda malam ini.”


Dev tersenyum mendengar pujian dari calon kakek mertuanya itu.


Lalu Dev menghampiri Bella yang duduk di sebelah Hirawan. Ia tatap kedua mata Bella yang sama terkejutnya dengan yang lain. Dev mengulurkan tangannya pada Bella. Bellapun tanpa sadar menyambut tangan Dev. Dev mengecup punggung tangan Bella dan kemudian membimbing Bella untuk berdiri.


Merekapun berdiri berhadapan. Bella masih begitu terpesona dengan penampilan kekasihnya itu. Sebelah tangan Dev meraih pinggang Bella, kemudian Dev berkata pada semua orang di meja itu.


“Sebelum acaranya dimulai, saya ingin memberikan konfirmasi pada Mr. Nates dan juga semua orang. Ini tentang yang saya bicarakan kemarin, Pak.” Ucap Dev pada Mr. Nates.


“Mengkonfirmasi mengenai apa?” tanya Mr. Nates.


Dev menatap Bella. Ia raih tangan Bella dan ia tautkan jari-jarinya di sela-sela jari Bella. Kemudian dengan penuh percaya diri ia berkata, “Saya ingin menegaskan bahwa Bella Ratu Xander, CEO Xander Corp, adalah kekasih saya.”