Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 49: Kelopak Mawar Merah



Semua orang di meja itu tertegun, terutama Bella. Ia tidak menyangka Dev mengumumkan hal itu pada semua orang. Bella menatap wajah Dev yang dengan percaya diri mengatakan bahwa Bella adalah kekasihnya. Bunga-bunga bermekaran di dalam hatinya. Sepertinya perang antara Bella dan Dev sudah menemui ujungnya.


“Dev..” ucap Hirawan dengan tenang.


Dev menggenggam tangan Bella lebih erat saat Hirawan memanggil Namanya. Tangan Dev dingin dan berkeringat. Wajahnya terlihat tenang, namun dalam hati ia begitu gugup.


“Ingat, masih ada yang harus kamu lakukan untuk bisa mempersunting Bella. Saya tunggu kabar baik itu.” Ucap Hirawan.


Bella sudah mengetahui semua yang dibicarakan oleh Dev dan juga sang kakek di ruang kerjanya hari itu. Ia mendapat informasi itu dari Tere. Mengapa Dev dengan raut wajah yang marah keluar dari ruang kerja Hirawan, dan mengapa Dev pergi meninggalkannya beberapa hari, Bella sudah mengetahuinya. Namun yang diketahui Bella dan Tere bukan hal yang sebenarnya. Itu adalah cerita yang Dev buat agar rencana penyingkiran Hendra dan Kris tidak diketahui oleh Bella.


“Apa yang harus Dev lakukan untuk bisa mempersunting Bella, Ayah?” tanya Hendra penasaran.


“Izinkan saya menjawabnya, Pak.” Dev meminta izin pada Hirawan dan kemudian menatap Hendra dengan tenang, “Saya harus bisa membuat diri saya sepadan dengan Bella.”


Hendra tidak bisa menahan tawanya, ia begitu meremehkan Dev. “Maaf, saya hanya salut pada kamu karena kamu sangat berani untuk bisa mempersunting keponakan saya.”


“Tidak apa-apa, Pak. Saya sangat paham. Saya akan membuktikan bahwa saya layak untuk menjadi pendamping yang sepadan untuk Bella. Anda hanya perlu menunggu.” Ucap Dev. Hendra terlihat kesal mendengar ucapan Dev.


Tidak lama MC mulai membuka acara. Dev kemudian duduk di kursi kosong yang berada di antara Bella dan Mr. Nates. Acara dimulai dengan sambutan-sambutan dari para CEO, kemudian dilanjut dengan peresmian kerjasama mereka, dan kemudian acar diakhiri dengan makan malam bersama. Suka cita begitu terasa. Musik yang mengalun dari para pemain orchestra menambah kesan mewah dari acara tersebut. Semua orang begitu menikmati acara yang berlangsung.


Setelah beberapa jam, acarapun selesai. Dev membawa Bella untuk pulang lebih dulu, merekapun berjalan menuju pintu keluar. Mobil Rolls Royce Phantom milik Bella sudah ada disana menanti pemiliknya. Kemudian Dev membukakan pintu mobil untuk Bella. Seorang pengawal terlihat di kursi kemudi dan melajukan mobil mewah itu setelah Dev dan Bella duduk dengan nyaman di kursi penumpang.


“Bel, kenapa kamu pake baju gini sih? Baju kamu tuh kebuka banget.” Protes Dev seraya membuka jas tuxedo yang digunakannya dan menggantungkannya di pundak Bella.


“Thanks.” Ucap Bella sedikit canggung. Ia tidak banyak berbicara. Sepanjang perjalanan Bella dan Dev masih sedikit merasa canggung. Hanya sesekali Dev membuka obrolan dan ditanggapi singkat oleh Bella.


Sesampainya di apartemen, Bella menatap aneh pada Dev yang juga turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam lobi apartemennya.


“Lo mau kemana, Dev? Lo kan udah bukan pengawal pribadi gue lagi.” Tanya Bella.


“Tapi aku masih pacar kamu, Bel. Yuk, masuk.” Ucap Dev sambil meraih tangan Bella dan membawanya memasuki lift.


Di dalam lift suasana canggung kembali terjadi, namun tidak lagi terasa mencekam. Sesekali mereka bahkan saling melirik dan tersenyum.


“Bel, aku punya sesuatu buat kamu.” Ucap Dev memecah keheningan.


“Sesuatu apa?” tanya Bella mengerutkan keningnya.


“Kamu bakal tau bentar lagi.” Ucap Dev.


Bella mendengus. Ia merasa penasaran, namun ia tidak bertanya dan merajuk seperti biasanya. Ia masih belum bisa begitu saja bersikap manja seperti biasa pada Dev. Ternyata butuh waktu untuk kembali bersikap nyaman dengan pasangan setelah terlibat pertengkaran.


Liftpun berhenti di lantai unit apartemen Bella. Dev yang masih menggenggam tangan Bella, membawanya memasuki apartemen milik kekasihnya itu. Dev mengakses pintu apartemen dan masuk ke dalamnya. Kemudian dengan tangan yang masih tertaut, Dev menggandeng Bella menuju kamarnya. Di depan kamar Bella, Dev


menatap Bella dengan senyum yang hangat.


“Maaf ya aku ngacak-ngacak kamar kamu.” Ucap Dev.


Bella mengerutkan keningnya tidak mengerti. Ia membuka pintu kamarnya perlahan, sedikit merasa deg-degan. Sontak Bella terperangah melihat kamarnya kini penuh dengan kelopak bunga mawar merah. Saat memasuki apartemen, wangi bunga mawar memang sudah tercium oleh Bella. Namun ia tidak menyangka wangi itu berasal dari kelopak-kelopak bunga mawar segar yang memenuhi kamarnya.


Bella mulai memasuki kamarnya. Kakinya melangkah di atas kelopak-kelopak mawar merah yang menutupi seluruh lantai kamar dan tempat tidur Bella. Ia melihat ke arah kamar mandinya yang juga dipenuhi mawar-mawar merah itu. Perhatian Bella kini tertuju pada sebuah buket bunga mawar putih yang terlihat mencolok diantara mawar-mawar berwarna merah, tergeletak di atas kasurnya. Bella meraihnya. Terdapat sebuah kartu ucapan menyertai buket itu. Bella membukanya, tertulis sebuah kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan pada kartu itu.


Dev.


Bella tersenyum melihat kata-kata manis di secarik kertas itu. Kata-katanya singkat, namun begitu menghangatkan hati. Ia merasakan dagu Dev kini berada di pundaknya, dan kedua tangan Dev melingkar di sekeliling pinggangnya.


“Maafin aku ya, Bel. Aku udah nyuekin kamu waktu itu dan menghilang beberapa hari.”


“Lo tau dari mana gue suka bunga mawar?” tanya Bella.


“Ada deh.” Ucap Dev menolak memberitahukan narasumbernya.


Bella membalikkan tubuhnya dan menatap kekasihnya itu.


“Gue maafin lo, asal lo janji, buat ke depannya kalo ada apa-apa lo jangan nyuekin gue lagi. Lo sekarang tau kan dicuekin itu gak enak.” Ucap Bella dengan nada yang galak.


Dev merengkuh tubuh Bella dalam pelukannya, “Iya, sayang. Aku gak akan nyuekin kamu lagi. Aku salah. Kemarin harusnya aku kasih tau kamu tentang semuanya.”


“Bener, Ya? Awas loh kalo bohong.” Bella mulai menautkan tangannya di belakang punggung Dev.


“Beneran. Aku kesiksa banget dicuekin sama kamu. Aku gak mau lagi kayak gitu.” Ucap Dev dengan nada sedih.


“Bagus deh. Inget-inget perasaan itu, biar lo kapok dan gak nyuekin gue lagi.” Bella memperingatkan.


“Iya, sayang, iya.” Dev menerima kata-kata peringatan Bella dengan sungguh-sungguh.


Dev melepaskan pelukannya dan menatap lekat pada Bella. Ia tangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Bella, “Aku kangen banget sama kamu.”


Bella tersenyum mendengar Dev mengatakan itu, “Terus lo mau ngapain sekarang kalo lo kangen sama gue?”


Dev mendekatkan wajahnya lebih dekat pada Bella dan berkata, “aku mau kamu.”


Dan kemudian bibir mereka bertemu. Seluruh perasaan resah yang Dev rasakan selama ini menguap begitu saja. Begitu juga dengan Bella. Hangatnya bibir Dev sudah membuang seluruh perasaan kecewanya. Keduanya terus larut dalam perasaan hangat yang timbul akibat cumbuan itu.


Dev merasa g*irahnya sedikit demi sedikit menguasainya seiring dengan bibir mereka yang terus berp*gut. Dan kali ini Dev tidak akan membendungnya. Kali ini ia ingin memiliki Bella seutuhnya. Ia akan melepaskan semua pertahanannya. Ia akan wujudkan keinginannya dan juga keinginan Bella.


Bibirnya kini menelusuri pipi, dagu, dan kemudian leher jenjang kekasihnya itu. Dev menatap wajah Bella seraya tangannya meraih resleting pada gaun malam yang masih dikenakan Bella. Tatapan itu seakan memohon izin pada pemiliknya agar ia bisa melepaskan gaun yang menutupi tubuh indah milik kekasihnya itu.


Tatapan Bella sudah menjawabnya. Kedua mata Bella seakan berbicara bahwa ia mengizinkan Dev untuk melucutinya.


Kemudian gaun itu terlepas dan terjatuh dengan indah di sekeliling kaki Bella. Dev kembali menelusuri setiap inci tubuh Bella. Kini cumbuan itu tidak selembut seperti sebelumnya, ada hasrat yang semakin lama semakin tak terbendung. Satu persatu ia lepaskan pakaian dalam yang Bella kenakan hingga tubuh sempurna itu kini terpampang dengan indah tanpa balutan apapun. Dev membimbing sang kekasih untuk berbaring di tempat tidurnya yang dipenuhi kelopak bunga mawar merah. Tubuh Bella yang tebaring di atas kelopak bunga mawar, sungguh jadi pemandangan yang begitu mengundang bagi Dev.


Dev mulai membuka satu persatu kancing kemeja miliknya, dan kemudian melepaskannya dari tubuh kekarnya. Ia segera menghampiri Bella, dan mulai menjam*hnya. Bellapun kini dikuasai hasratnya. Tangan Bella menggapai bagian bawah pakaian yang masih melekat pada tubuh Dev dan membantu Dev melepasnya.


Sesaat Dev menatap kedua mata Bella yang berbaring di bawah tubuhnya. Bella terlihat berkali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Tangan Dev yang sejak tadi bergerilya kini berhenti dan menyentuh inti tubuh Bella, “Aku


sayang sama kamu, Bel.”


Bella tersenyum dan mengangguk pelan.


Kemudian, tanpa ragu Dev mulai memasuki inti tubuh Bella. Mengikat lebih erat jalinan kasih diantara keduanya.