Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 25: Selamat Pagi



Bella membuka matanya setelah mendengar bunyi alarm yang nyaring dari HPnya. Ia bangkit dan meraih HPnya yang ia letakkan di nakas dan mencoba menghilangkan kantuknya. Setelah beberapa saat, ia melihat ke samping. Dev sudah tidak ada.


"Dev!" teriak Bella memanggil laki-laki yang kemarin malam resmi sudah menyatakan perasaannya pada Bella.


Tidak ada sahutan dari Dev.


"Apa semalem gue mimpi dia tidur di samping gue?" gumam Bella. Ia memandang ke arah kemeja putih Dev yang dikenakannya.


Semalam setelah gagal menyerahkan seluruh tubuhnya pada Dev, Bella membersihkan dirinya, kemudian mengambil kemeja putih milik Dev yang tergeletak di lantai dan memakainya. Kemudian berbaring di samping Dev yang sudah tertidur sebelumnya. Dev terlihat sangat kelelahan dan tidur dengan nyenyak. Bella menyelimuti tubuh Dev yang tidak berpakaian dan membiarkannya tertidur di sampingnya.


Bella memandang wajah tidur Dev yang begitu tampan. Ia masih belum bisa mempercayai laki-laki yang biasanya bersikap dingin dan selalu menolaknya itu kini telah menyatakan perasaannya dan bahkan tertidur di sampingnya. Bella menggeser bantalnya sehingga ia bisa tidur sambil memeluk tubuh Dev dan tidak lama kemudian iapun tertidur.


Menyadari Dev sudah tidak ada di sampingnya, Bella bangkit dan berjalan keluar kamar. Ia mengedarkan pandangannnya pada seluruh ruangan apartemennya. Matanya menangkap sesosok laki-laki berdiri di dapur di depan kompor dengan tato burung elang di punggungnya. Ia terlihat sedang mencicipi sesuatu yang dibuatnya. Bella menghampirinya dan memeluk sosok itu dari belakang.


"Gue kira lo udah pulang." ucap Bella dengan senyuman di wajah cantiknya.


Dev membalikkan tubuhnya dan merengkuh tubuh Bella mendekat pada tubuhnya.


"Selamat pagi." ucap pemilik suara bass nan seksi itu, sambil mencium mesra pipi Bella.


Seketika wajah Bella memerah mendapat perlakuan yang tidak biasa dari Dev. Biasanya Dev akan memperlakukannya dengan dingin dan tidak tertarik sama sekali dengan Bella.


"Pagi." ucap Bella, matanya masih terpesona dengan semua perlakuan manis dari Dev.


Dev tersenyum melihat wajah Bella yang memandang penuh cinta kepadanya. Ia membimbing Bella untuk duduk di meja makan dan menyajikan nasi, sayur sop, dan ayam goreng. Bella terperangah melihat semua yang disiapkan oleh Dev.


"Ini lo semua yang masak?" tanya Bella.


"Bukan. ART lo yang bikin. Gue cuma ngebumbuin sopnya doang." ucap Dev sambil duduk di hadapan Bella. "Lo harus makan sebelum aktivitas hari ini. Gue di kasih tau lo bakal ke Surabaya sekarang." Dev mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk Bella.


"Lo ikut kan?" tanya Bella.


"Iya, gue yang bawa pesawatnya." ucap Dev.


Seketika Bella tersenyum sumringah dan memegang kedua pipinya.


"Kenapa lo?" tanya Dev yang keheranan melihat Bella tersipu.


"Gue masih gak percaya tadi malem lo udah nyatain perasaan sama gue, terus lo tidur sama gue, lo bikinin sarapan, dan bahkan hari ini kita bakal terus-terusan bareng. Gue mimpi gak sih? Cubit gue!"


Kemudian Dev mencubit pipi Bella dengan gemas.


"Auwww. Sakit!" ucap Bella sambil meringis karena Dev mencubit pipinya lumayan keras.


"Sakit? Berarti lo gak mimpi." Kemudian Dev mengambil nasi dan lauk pauknya untuk dirinya sendiri.


Bella mengusap-usap pipinya yang sakit karena cubitan Dev. Kemudian ia memandang makanan yang ada di piringnya.


"Tumben Bu Ranti nyiapin sarapannya kayak gini." Biasanya Bella hanya sarapan dengan buah, telur, atau makanan tanpa karbohidrat lainnya.


"Gue yang minta. Mulai sekarang lo harus selalu makan yang bergizi, aktivitas lo kan padat banget. Gak ada lagi ya makanan gak sehat. Apalagi makanan pedes sama mie." ucap Dev galak.


"Kali-kali boleh dong." ucap Bella sambil mulai melahap makanannya.


"Lo mau dirawat lagi? Lo kenapa gak bilang sih waktu itu. Gue bahkan gak tau lo sakit." ucap Dev sedih.


"Lonya kan ngilang. Gue telepon lo gak pernah angkat. Gimana gue mau ngabarin?" ucap Bella dengan cemberut.


Bella tersenyum melihat sikap Dev yang begitu protektif padanya.


"Sakit lagi juga gue mau kok, asal lo ada di samping gue." Bella tersenyum sumringah.


"Lo gak perlu sakit buat bikin gue selalu ada di samping lo. Mulai sekarang gue bakal selalu jagain lo."


Kata-kata Dev membuat Bella terasa seperti terbang ke awan, senyum tidak berhenti merekah dari wajah cantiknya.


"Kalo gitu lo pindah aja kesini! Lo kan bakal selalu jagain gue, jadi lo harus ada setiap saat gue butuh lo dong." ucap Bella mulai mengatakan hal-hal out of the boxnya.


"Ya gak bisa dong, Bel. Masa gue tinggal disini sama lo. Gue udah ini juga pulang dulu. Lo tolong kembaliin baju gue." Dev berdeham saat mengatakannya. Bella terlihat begitu menggoda menggunakan kemeja putihnya yang kebesaran di tubuh Bella.


"Kenapa? Kris sama Tere juga gitu kok. Mereka gantian jagain gue. Tapi kayaknya Tere gak perlu jagain gue lagi, soalnya kan ada lo yang bakal jagain gue 24 jam penuh. Lo juga gak perlu pulang. Masih ada baju Kris di kamar belakang. Lo pake baju itu aja. Terus nanti bawa barang-barang lo kesini."


"Kris pernah tidur di apartemen lo?!" Dev terperanjat mendengarnya.


"Iyalah. Kalo dia lagi tugas dia tidur di kamar belakang. Tapi kalo lo tidur di kamar gue aja. Gue bakal siapin tempat di walk in closet gue buat baju-baju lo." ucap Bella dengan santainya.


"Berarti lo berdua doang disini kalo Kris lagi tugas?!"


Bella memandang Dev yang kini menampakkan wajah yang begitu kesal.


"Iyalah. Kenapa sih lo?" tanya Bella dengan polosnya.


"Bel, lo gak pernah di apa-apain kan sama dia?" tanya Dev dengan nada menginterogasi.


"Ya nggaklah. Dia tuh robot banget. Kalo lagi tugas dia gak pernah ngajak gue ngobrol. Tere juga sama. Kalo dia lagi jadi bodyguard dia harus jaga sikap dia. Tapi kalo lo beda, lo gak boleh formal-formal sama gue. Awas lo!"


Dev masih terdiam di posisinya dengan wajah kesal.


"Lo kenapa sih? Cepetan abisin makanannya. Lo liat di kamar belakang pasti masih ada baju Kris. Kayaknya cukup di badan lo. Gue siap-siap dulu ya." ucap Bella yang telah menyelesaikan makanannya, kemudian berlalu menuju kamarnya.


Dev kehilangan selera makannya dan meninggalkan makanannya menuju kamar belakang. Ia melihat sebuah kamar berukuran jauh lebih kecil dari kamar Bella. Disana terdapat sebuah tempat tidur dan juga lemari pakaian. Dev membuka lemari itu dan melihat beberapa setelan jas milik Kris dan Tere menggantung disana.


Dev sedikit bernafas lega. Ia kira pakaian yang ada disana termasuk pakaian santai atau pakaian untuk tidur. Namun sepertinya mereka menggunakan kamar ini hanya untuk beristirahat sejenak dan tidak mengganti seragam pengawalnya dengan pakaian lain.


Devpun berjalan ke kamar mandi dan membersihkan dirinya kemudian mengganti pakaiannya dengan salah satu setelan jas yang ada disana. Kemudian dia menuju ruang utama dan duduk di sofa ruang tamu dan menyalakan earpiecenya, tidak lama terdengar suara Tere.


"Dev, gimana disana? Aman?" tanya Tere.


"Terkendali." jawab Dev. Dev beranjak dari duduknya, menyadari bahwa tidak seharusnya ia bersikap santai.


"Okay, bawa Nona Bella ke bandara. Pesawat udah siap." perintah Tere.


"Siap." jawab Dev lagi.


Iapun berdiri di dekat pintu, menunggu Bella selesai bersiap. Tidak lama kemudian Bella keluar dari kamarnya dengan setelan kantor dan riasan sederhana, membuat jantung Dev berdebar kembali melihat kecantikan Bella yang begitu mempesona.


Dev membukakan pintu apartemen untuk Bella, "Silahkan Nona. Pesawat anda sudah siap."


"Dev, gue udah bilang lo gak perlu formal sama gue!" ucap Bella dengan kesal.


"Saya akan bersikap seperti ini selama saya sedang bertugas, Nona." sahut Dev, masih keras kepala.


Bella menatap tajam ke arah Dev, berjalan keluar apartemennya dan saat berada di hadapan Dev, Bella menendang tulang kering Dev cukup keras kemudian berjalan kembali menuju lift. Dev meringis kesakitan, dan mencoba menahan kata-kata umpatan yang ingin ia keluarkan.