
Tiba-tiba pintu gudang diketuk.
“Dev, mereka udah dateng.” Ucap Mondi. Mondi membukakan pintu dan terlihat beberapa orang asing berwajah ras kaukasoid khas timur tengah, bertubuh tinggi dan kekar masuk ke dalam Gudang itu.
“Bagus, pas banget.” Ucap Dev, “Stella dan Nyonya Lidya, seseorang udah jemput kalian. Kalian gak akan kembali lagi ke Jakarta. Yang orang lain tau, kalian udah meninggal karena kecelakaan pesawat. Sekarang kalian akan pergi ke tempat yang sedikit berbeda, tapi saya yakin kalian akan suka disana. Terutama anda, Nyonya.”
Orang-orang berwajah khas timur tengah itu menghampiri Lidya dan juga Stella.
“Kalian mau apa?!” tanya Lidya panik. Orang-orang itu mulai membuka tali yang mengikat Lidya dan Stella.
“Lepasin! Jangan berani-berani kalian sentuh gue!” teriak Stella histeris.
“Mau dibawa kemana anak dan istri saya! LEPASKAN MEREKA!” akhirnya Hendra membuka suaranya saat Lidya dan Stella kini diseret oleh orang-orang asing itu.
Dev begitu menikmati pemandangan itu. Terutama melihat wajah Hendra yang begitu murka. Begitu juga dengan Stuart yang berteriak memanggil sang ibu. Lidya dan Stella juga terus memanggil Hendra dan Stuart.
Seorang pria berambut coklat dan juga berwajah timur tengah datang menenteng sebuah koper dan menghampiri Dev.
“Saya membawa uangnya.” Ucap pria asing itu.
“Tidak, terimakasih.” Ucap Dev, “Kalian bisa membawa mereka secara Cuma-Cuma.”
“Kamu yakin? Mereka barang bagus.” Tanya pria itu.
“Saya sangat yakin. Kalian hanya perlu memastikan mereka tidak kembali ke sini.”
“Baiklah.”
Kemudian pria itu berjalan kembali keluar Gudang.
“KAMU MENJUAL LIDYA DAN STELLA?! BERANI SEKALI KAMU DEV! JANGAN BAWA MEREKA!!” kali ini Hendra berteriak tak terkendali. Ia terus meluapkan amarahnya melihat istri dan anak perempuannya dibawa paksa oleh orang-orang yang tidak dikenalnya. Namun dari percakapan yang dilakukan oleh Dev dan orang itu, sudah bisa dipastikan orang itu adalah mafia yang sering memperjual-belikan manusia.
“Tenang, istri dan anak anda tidak akan dibunuh, mereka akan menjaga Nyonya Lidya dan Stella dengan baik. Mereka akan tetap hidup, Pak Hendra. Hanya saja anda tidak akan mengetahui dimana mereka hidup setelah ini.”
Ucap Dev dengan puas.
Hendra mulai menangis, terlihat menyesali perbuatannya.
“Mon.”
“Siap, Dev.” Sahut Mondi. Mondi menunjuk beberapa anggota Black Panther.
“Sekarang anterin Stuart dan Vanessa ke ruangan belakang.” Ucap Dev.
“Ada apa, Dev? Kenapa gue sama Stuart harus ke belakang?” tanya Vanessa.
“Lo bakal dianter sama beberapa temen gue. Terserah lo mau ngapain di belakang.” Ucap Dev.
Beberapa orang yang ditunjuk Mondi menghampiri Stuart dan mulai membuka ikatan pada tubuh Stuart. Stuart terlihat tersenyum bahagia, “Vanes, sayang….”
Stuart diseret ke ruangan belakang oleh beberapa anggota Black Panther.
Vanessa menatap kesal sekaligus bingung pada Dev. Mengapa ia harus pergi ke ruangan belakang bersama dengan laki-laki yang sangat ia benci. Namun Vanessa tidak bertanya lagi iapun pergi ke ruangan belakang.
Sesampainya disana tangan Stuart diikat di tiang besi di atas kepalanya. “Kenapa gue diiket?” tanya Stuart panik. Vanessa sampai disana dan seorang anggota Black Panther menyerahkan sebuah kotak. Dengan bingung Vanessa membukanya dan terdapat beberapa pisau, silet, dan juga sebuah botol berisi air keras.
Di sisi lain, di Gudang yang luas itu kini hanya tinggal Dev, Hendra, juga Mondi dan beberapa anggota Black Panther. Hendra masih terus menangis. Dev menatap wajah Hendra dengan tatapan puas.
“PUAS KAMU MELIHAT SAYA SEPERTI INI?” teriak Hendra histeris.
“Belum. Masih ada kejutan untuk anda, Pak Hendra. Tolong anda jangan berisik. Sesuatu akan terdengar sebentar lagi.” Ucap Dev menatap Hendra sambil tersenyum.
AAAARRGGHH!!
“Stuart!?” Hendra terkejut mendengar suara teriakan sang putra.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ANAK SAYA?!” teriak Hendra semakin tak terkendali.
“Saya gak tau, Pak. Sepertinya sesuatu dilakukan oleh menantu anda pada putra anda.” Dev kembali duduk di kursinya. “Tapi teriakannya sama seperti teriakan saya dulu saat saya disiksa olehnya. Apa mungkin dia sekarang sedang dis*yat dan disiram air keras oleh istrinya sendiri?”
“APA??!” Hendra terhenyak. Ia mulai menangis kembali, kini bahkan suaranya hilang. Terlihat wajahnya begitu terpuruk mendengar suara teriakan sang putra yang terus terdengar seakan menyayat hatinya.
“Tolong... saya mohon….” Ucap Hendra dengan susah payah.
“Jangan siksa anak saya. Jangan pisahkan saya dengan anak dan istri saya! Saya salah… Maafkan saya… Ampuni saya…!” ucap Hendra sambil terisak.
Dev terdiam dan tersenyum puas melihat wajah Hendra yang menderita.
“Anda belum menerima hukuman anda, Pak. Bahkan saya belum mengatakan apa-apa. Kenapa anda udah meminta ampun pada saya?” tanya Dev.
“Kamu sedang menghukum saya! Kamu pisahkan saya dengan anak dan istri saya! Saya akan lakukan apapun asalkan saya bisa kembali bersama istri dan anak-anak saya!”
“Benarkah?” tanya Dev tertarik.
“Iya. Saya janji saya akan lakukan apapun. Tolong kembalikan mereka pada saya!” ucap Hendra penuh tekad dengan wajah yang sudah basah oleh keringat, darah, dan air mata.
“Mon.” ucap Dev lagi.
“Siap, Dev.” Mondi menghampiri Hendra. Ia memperlihatkan sebuah surat pernyataan bahwa Andhara Farma akan diserahkan kembali pada Dev, dan akan diganti namanya menjadi MD Farma.
“Saya tidak berniat mengembalikan keluarga anda pada anda. Sekarang saya juga akan mengambil apa yang sudah anda curi dari ayah saya dulu.” ucap Dev.
“TIDAK!!” teriak Hendra setelah mengetahui apa isi surat itu, “Lebih baik kamu bunuh saya! Saya tidak akan pernah melepaskan perusahaan warisan ibu saya pada siapapun! BUNUH SAYA!!”
Mondi mengeluarkan isi tinta dari sakunya. Dengan susah payah, Mondi menempelkan ibu jari Hendra dengan paksa pada tinta tersebut, dan menempelkannya pada surat pernyataan itu, tepat pada nama Hendra Andhara. Sidik jari Hendra tertera pada surat itu sekarang.
“SURAT ITU TIDAK SAH! ANDHARA FARMA HANYA MILIK SAYA!!!” teriak Hendra semakin tak terkendali. Matanya menatap nanar pada Dev. Ia terus berteriak seperti orang yang terganggu jiwanya. Ia terus mengguncang-guncangkan tubuhnya saking marahnya, hingga tubuhnya terjerambap kembali ke lantai.
Begitu juga Stuart, teriakannya terus terdengar dari ruang belakang, membuat Hendra semakin tersiksa.
Kini Hendra tidak memiliki apapun lagi dalam hidupnya.
Merasa sudah cukup dengan hukuman yang ia berikan pada keluarga Andhara, Devpun beranjak dari kursinya.
“Gue serahin dua orang itu ke kalian. Terserah kalian mau apain mereka.” Ucap Dev pada Mondi dan beberapa anggota Black Panther. Devpun berlalu keluar dari Gudang dan membiarkan Mondi dan kawan-kawannya beraksi.
Dev terus berjalan menuju pantai yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Gudang itu. Jujur saja ia sendiri merasa tidak nyaman mendengar teriakan Stuart dan Hendra. Ia masih memiliki hati Nurani. Namun ia harus menuntaskan dendamnya. Membayar semua penderitaan ayah dan juga dirinya sendiri selama ini. Ia juga harus melakukan itu karena syarat yang diajukan oleh Hirawan.
Abbas menghampiri Dev yang tengah menatap jauh ke lautan. Ia menyentuh pundak sahabatnya itu dan berdiri di sebelahnya.
“Gimana rasanya?” tanya Abbas.
Dev menghela nafas, “Beban gue udah keangkat. Perasaan gue seringan kapas sekarang.”
“Tapi..?” tanya Abbas saat mendengar ucapan Dev yang seperti menggantung.
“Tapi, gue ngerasa gak ada bedanya sama mereka. Gue sendiri gak nyangka bisa setega itu.” Tatapan Dev masih terus tertuju pada birunya lautan.
“Wajar sih, tapi mereka pantes ngedapetin itu. Terutama Hendra. Udah, lo gak usah baper. Masih ada satu lagi yang harus lo beresin.” Ucap Abbas kembali menyalakan api dendam Dev. “Laptop gue lowbat. Ntar kalo udah di Jakarta lagi, gue liatin hasil kerja gue barusan buat nyingkirin dia.”
“Lo bener. Gue masih punya satu PR lagi.” Ucap Dev.
Dengan sorot mata penuh dendam Dev menyebutkan sebuah nama, “Kris.”