
Beberapa hari berlalu dan masih belum ada kabar dari Dev. Pagi itu Bella sangat tidak bersemangat. Ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan masuk menuju lobi gedung. Sejak kejadian itu Dev tidak memberinya kabar sama sekali. Dev hanya menitip pesan pada Leo, bahwa ia akan segera menghubungi Bella. Bellapun memutuskan untuk menunggu. Ia tidak meminta Tere untuk mencari informasi seperti biasa. Bella ingin mendengar semuanya langsung dari Dev, tentang pertemuannya dengan sang kakek dan darimana uang senilai 50 juta yang didapatkannya. Tapi belum ada kabar dari Dev hingga detik ini.
“Hai, Bel.” Tiba-tiba saja Kris menghampiri Bella yang berjalan menuju liftnya.
Bella menatap dingin pada Kris dan tidak menggubrisnya. Kris tidak menyerah, ia berjalan di samping Bella.
“Beberapa hari terakhir aku gak liat pengawal pribadi kamu itu? Kok cuma ada Tere?” tanya Kris dengan sumringah.
Bella mengerutkan dahi, “Emang kenapa? Biasanya juga gantian. Gak pernah dua-duanya jagain gue dalam waktu yang bersamaan, kecuali acara-acara tertentu. Baru juga berapa bulan gak jadi bodyguard, udah lupa lo?” Ucap Bella ketus.
“Tapi ngeliat kamu yang gak semangat, kayaknya dia gak ada kabar atau semacemnya.” Ucap Kris.
Bella langsung menyadari ada yang tidak beres dengan ucapan Kris.
“Apa yang udah lo lakuin ke Dev?!” Kini bella menghadap ke arah Kris dan menatapnya dengan marah.
Kris tertawa melihat wajah marah Bella. Merasa puas karena Bella benar-benar tidak mengetahui bahwa Dev telah pergi.
“Aku gak ngapa-ngapain Bel. Aku sedih aja ngeliat kamu kayak gini. Gak semangat. Kalo dia gak ada, kamu bisa panggil aku. Aku bakal nemenin kamu kayak dulu.” Ujar Kris bernostalgia.
Bella menghela nafas kasar, merasa sudah buang-buang waktu meladeni omongan mantan pengawalnya itu. Bella kembali menatap kedua mata hitam Kris.
“Denger ya, bagi gue lo bukan Kris. Kris yang gue kenal adalah pengawal yang selalu ada buat gue dan selalu siap saat gue butuh. Asal lo tau, gue gak pernah bener-bener benci sama dia. Malah gue sedikit ngerasa kehilangan dia. Dia pengawal yang baik. Sekarang Kris yang itu udah gak ada dalam hidup gue. Yang ada sekarang cuma cowok arogan, ambisius dan gak tau diri.” Ucap Bella dengan penuh penekanan
Kris tertegun mendengar ucapan Bella. Bella kembali berjalan menuju lift, memindai sidik jarinya, dan liftpun terbuka.
Bella melangkahkan kakinya ke dalam lift, sedikit demi sedikit wajah Kris yang termenung mendengar ucapan Bella perlahan menghilang seiring dengan pintu lift yang tertutup.
“Apa maksud omongan Kris barusan, Ter?” tanya Bella.
“Apa anda ingin saya mencari tau?” tanya Tere memastikan.
Bella berpikir sejenak. Ia ingin menunggu, namun rasa penasarannya sudah tidak bisa ia bendung. Ia ingin segera mengetahui apa yang terjadi pada Dev.
“Cari informasi tentang darimana 50 juta itu.” Perintah Bella sambil melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. “Gue rasa itu ada hubungannya sama Kris. Untuk pertemuannya sama Kakek, gue pengen denger sendiri dari Dev. Jadi lo cari info tentang itu aja.”
Tere pamit undur diri dan berjalan keluar pintu ruangan Bella.
Bella duduk di kursinya dan menyalakan laptopnya. Ia segera mengerjakan pekerjaannya yang sudah menunggu untuk dirampungkan. Bella mencoba memfokuskan dirinya pada pekerjaan agar perhatiannya pada Dev bisa teralihkan. Setidaknya saat ia bekerja ia bisa melupakan kekasihnya itu barang sebentar saja.
Hingga waktu menunjukkan waktunya makan siang. Bella masih tenggelam dalam pekerjaannya, tiba-tiba terdengar pintunya diketuk. Kemudian Tere masuk ke dalam, membawa kabar mengenai Dev.
“Nona, saya sudah mendapatkan informasi mengenai Dev.” Ucap Tere.
Seketika perhatian Bella tertuju pada Tere. Tere menceritakan Dev mendapatkan uang 50 juta itu karena Dev memenangkan balapan melawan anak buah Kris. Tere juga mengabarkan mengenai perjanjian antara Dev dengan Kris yang mengharuskan Dev pergi.
Bella menutup kasar laptop yang sejak pagi dipandangnya. Pandangannya mulai kabur akibat air mata yang menggenang di mata indahnya. Hatinya terluka, sekali lagi Dev pergi dari dirinya. Lebih parahnya, kini ia pergi tanpa pamit. Jika Bella tidak mencari informasi ini, akankah Dev memberikan kabar? Sepertinya tidak.
‘lo jahat banget, padahal lo udah janji sama gue gak akan pergi, dasar cowok brengs*k!’ umpat Bella dalam hati. Air mata terus mengalir deras di kedua pipi Bella. Ia menangis sesenggukan.
“Nona…” Tere merasa iba pada sahabatnya itu.
Bella meraih HPnya dan menghubungi Leo. Setelah beberapa saat Leo menjawab panggilan Bella.
“Nona Bella, ada yang bisa saya bantu?” tanya Leo.
Belum sempat Bella menjawab, terdengar suara dari kantor Leo. “Pak, Dev sudah disini.”
“Iya, dia baru saja…” Leo tidak melanjutkan kata-katanya karena Bella segera menutupnya.
Dengan langkah tergesa Bella berjalan menuju lift dan menekan angka
1 sambil menghapus air mata yang masih tersisa dipipinya. Liftpun terbuka di lobi dan Bella segera melangkahkan kakinya menuju kantor Xander Security. Seketika beberapa pegawai dan pengawal yang sedang berada disana terperanjat kaget dan segera berdiri dan membungkuk hormat pada Bella yang datang dengan membabi buta.
Brakk!!
Bella membanting pintu ruangan Leo dengan kasar. Leo dan Dev sontak menoleh ke arah pintu, dan mendapati Bella berdiri disana dengan wajah yang murka.
Dev yang saat itu berdiri menghadap pada Leo, kini terperangah melihat kekasihnya yang menatapnya dengan mata yang sembab dan penuh amarah.
Bella berjalan menuju ke ruang latihan milik Xander Security. Bella membuka lemari dan mengambil satu set seragam bela diri berwarna hitam dengan logo Xander Security di dada kiri milik para pengawal. Ia kembali ke ruangan Leo dan melemparkan seragam itu pada Dev. Dengan wajah bingung, Dev reflek menangkap seragam itu.
“Pake baju itu. Gue tunggu di tempat latihan.” Ucap Bella kemudian meninggalkan Dev yang masih kebingungan.
Beberapa saat Bella sudah siap di tempat latihan bela diri para pengawal Xander Security. Ia berdiri di tengah ruangan menggunakan baju karate berwarna putih dengan sabuk hitam miliknya. Rambutnya yang panjang ia cepol di bagian atas belakang kepalanya. Tidak lama Dev masuk ke ruang latihan dengan menggunakan baju bela diri berwarna hitam yang diberikan oleh Bella.
Bella menatap tajam pada Dev.
“Bel…” ucap Dev dengan wajah yang sedih, namun Bella memotongnya.
“Lo mau pergi dari sini? Lo harus kalahin gue dulu!” ucap Bella dengan marah.
Bella tahu tidak mungkin ia bisa mengalahkan Dev, namun ia tetap ingin menyalurkan emosinya. Beberapa pukulan dan tendangan sepertinya pantas didapatkan laki-laki yang sering kali membuatnya sakit hati itu.
“Tapi Bel….” Ucap Dev.
Tanpa aba-aba Bella memutarkan kakinya dan punggung kaki Bella mengenai pipi Dev. Seketika Dev terhuyung dan terjerembab ke matras tipis yang menutupi lantai ruang latihan itu.
“Gak usah kebanyakan ngomong! Gue disini bukan buat ngajak lo ngomong tapi ngehajar cowok brengs*k kayak lo!” ucap Bella dengan marah.
Devpun bangkit dari posisinya.
“Lawan gue!” ucap Bella bersiap dengan kuda-kudanya.
Dev tidak punya pilihan dan kini ia menuruti Bella yang ingin berduel dengannya. Bella dengan penuh emosi melayangkan pukulan demi pukulan dan juga tendangan pada Dev. Beberapa pukulan mendarat di beberapa bagian tubuh Dev tetapi lebih banyak lagi pukulan dan tendangan yang bisa dihindari olehnya. Sepanjang duel itu Dev sama sekali tidak membalasnya.
Hingga Bella meraih kerah baju yang Dev kenakan, “Kenapa lo diem aja! Lawan gue!!” teriak Bella murka.
Seketika Dev meraih tubuh Bella dan membantingnya dengan mudah. Bella terlihat terkejut namun justru semakin bersemangat untuk kembali melawan kekasihnya itu. Kemudian ia mendapat kesempatan untuk meraih kaki Dev dan secepat kilat Bella mendorong kaki Dev ke atas sehingga punggung Devpun terbanting ke matras.
Duel terus berlanjut. Bella mengerahkan seluruh tenaga dan emosinya dalam duel itu. Kedua tangan Bella kini mencengkram kuat kerah baju yang Dev kenakan. Seluruh tubuh Bella sudah penuh dengan peluh. Nafasnya menderu. Pipi Bella sudah semerah tomat, dan tenaga yang dimilikinya semakin berkurang. Namun tidak dengan Dev. Ia tidak terlalu berkeringat, dan staminanya masih sangat banyak.
Kedua mata mereka saling menatap.
“Bel, udah cukup. Aku minta maaf karena aku ngilang beberapa hari ini, tapi aku gak pergi dari kamu,” ucap Dev dengan nada sedih. Melihat Bella yang kelelahan Dev ingin segera menghentikannya.
Aku? Kamu? Bella merasakan hatinya bergetar dan menghangat saat Dev kini berbicara dengan menggunakan 'aku-kamu' padanya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, terharu dengan ucapan Dev.
Namun kekesalan yang Bella rasakan masih jauh lebih besar daripada rasa haru itu. Dengan tenaga yang tersisa Bella mencoba membanting kembali tubuh Dev, namun gagal. Tenaganya sudah terkuras habis. Devpun tidak beranjak dari posisinya. Ia menggenggam kedua tangan Bella yang mencengkram kerahnya.
Bella menatap kedua mata Dev yang menatapnya dengan sendu. Seketika butiran bening itu keluar begitu saja dari kedua mata Bella. Ia menangis sesenggukan. Cengkramannya melonggar dan kedua tangannya kini menutupi wajahnya.
Dev menghela nafas, lalu mulai merengkuh tubuh sang kekasih dan membiarkan Bella meluapkan emosinya dalam pelukannya.