Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 29: Pengawal vs Mantan Pengawal



Sekitar pukul 6 pagi, Bel apartemen Bella berbunyi. Bella yang sudah siap dengan setelan kantornya menghampiri pintu dan membukanya. Terlihat wajah tampan rupawan Dev menggunakan seragam jas hitam khas pengawal Xander Security berdiri disana, tersenyum lebar pada Bella, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.


Bella menghamburkan dirinya dan mengalungkan tangannya di sekeliling leher Dev, dan mengecup bibirnya seraya berkata, "Selamat pagi."


Dev tersenyum sumringah, "Pagi."


Devpun masuk ke apartemen Bella.


"Lo udah sarapan?" tanya Dev.


"Belum." Bella berjalan terburu menuju meja, meraih sesuatu, kemudian menarik tangan Dev menuju pintu keluar, "Gue mau nunjukin sesuatu."


Dev kebingungan dan pasrah tangannya ditarik keluar apartemen dan menuju lift.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Dev.


Bella menekan tombol 5 pada sisi lift. "Lo bakal tau bentar lagi."


Lift berhenti di lantai 5. Bella dan Dev keluar dari sana dan berjalan ke salah satu unit. Bella berhenti di depan sebuah unit bertuliskan 53. Ia mengakses pintu dengan kartu yang tadi diambilnya di meja, dan pintu unit itupun terbuka. Bella membimbing Dev untuk memasuki apartemen itu.


Dev mengedarkan pandangannya. Apartemen itu lebih kecil dari apartemen Bella, juga jauh lebih sederhana karena yang ditempati Bella adalah lantai paling atas yang merupakan penthouse dan unit paling mewah di apartemen itu. Namun apartemen itu tetap saja sangat nyaman dan mewah. Ruangan itu juga masih kosong, dan terdapat dua kamar tidur serta dapur dan kamar mandi. Serta ada area balkon di dekat ruang utama.


"Apartemen ini lebih kecil sih dari punya gue. Tapi gue yakin lo lebih suka yang kayak gini. Kalo terlalu bagus lo pasti gak akan mau nerimanya." ucap Bella menghampiri Dev.


"Maksud lo?" Dev mulai tidak enak hati.


"Ini apartemen buat lo. Lo tinggal disini ya. Lo kan gak mau tinggal bareng gue. Makanya gue sewain apartemen ini buat lo, biar lo masih deket sama gue. Terus lo jadi gak perlu bulak-balik dan lama di jalan. Besok kan weekend kita beli perabotannya bareng-bareng. Gimana lo suka gak?" ucap Bella bersemangat dan melingkarkan tangannya di sekeliling lengan Dev.


Kedua alis Dev terlihat menyatu, ia marah.


"Nggak. Gue gak suka. Ngapain lo sampe sewain gue apartemen? Okay kita saling suka, tapi bukan berarti lo bisa ngasih hal-hal kayak gini sama gue."


"Gue ngerasa bersalah aja sama lo, gara-gara rumah lo jauh dari Xander tiap hari lo harus bulak-balik 2 jam perjalanan. Terus kalo lo tinggal disini lo kan bisa deket sama gue."


Dev masih mencoba menahan emosinya.


"Lo gak perlu mikirin biaya sewanya. Semuanya udah gue bayar buat satu tahun." ucap Bella lagi.


Mendengar ucapan Bella, Dev semakin murka.


"Lo anggap gue apa sih, Bel?! Orang lain bakal ngomong apa kalo tau lo sewain apartemen buat gue!?"


"Lo masih aja mikirin orang lain bilang apa tentang kita?! Gue gak peduli orang lain bilang apa! Gue cuma pengen lo deket sama gue, itu doang."


"Lo bisa seenaknya kayak gitu. Tapi gue gak bisa!" Dev melepaskan tangan Bella yang melingkar di lengannya. "Gue tunggu di mobil." Devpun berjalan keluar dari apartemen itu.


"Dev!" Bella mencoba menghentikan Dev yang terus saja berlalu dengan langkah marah.


"Kenapa sih? Bukannya berterimakasih." gerutunya. Bella berjalan menuju lift dan kembali ke apartemennya kemudian mengambil tasnya dan turun menuju lobi.


Mobil alphard hitam sudah siap di depan lobi. Dev melajukan mobil itu segera setelah Bella sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil. Dev tidak mengatakan sepatah katapun pada Bella selama perjalanan.


Dev masih bungkam. Ia tidak menanggapi Bella.


"Kalo lo gak mau ya udah gue batalin kontraknya. Kenapa harus sampe semarah itu sih sama gue?" ucap Bella lagi.


Dev menghela nafas kasar mendengar ucapan Bella. Bellapun kini mendengus kesal melihat sikap Dev yang mengacuhkannya.


Mobilpun masuk ke area gedung Xander Corp. Pintu mobil terbuka secara otomatis, kemudian Bella turun dari mobil. Dev keluar dari kursi kemudi dan mobil itu diambil alih oleh petugas valet. Kemudian Dev mendampingi Bella hingga mereka sampai di depan lift.


Bella bersiap memindai sidik jarinya di lift khusus itu.


"Saya mohon izin untuk mengantar anda hanya sampai sini." ucap Dev, ia membungkukkan sedikit badannya dan berbalik badan kemudian berjalan menuju keluar lobi.


Sontak Bella meraih tangan Dev dan menggenggamnya, merasa tidak rela Dev akan meninggalkannya. Beberapa karyawan memekik terkejut melihat pemandangan itu, CEO mereka menggenggam tangan pengawalnya dan menatapnya dengan raut wajah yang cemberut.


"Dev, lo mau kemana? Okay, gue minta maaf karena gak bilang dulu tentang apartemen itu. Tapi lo jangan pergi." ucap Bella memohon. Wajah Bella terlihat begitu sedih, ia tidak ingin Dev meninggalkannya.


Dev melihat ke sekitarnya, begitu banyak mata yang kini menatap kaget ke arah mereka. Ia melepaskan tangan Bella perlahan, membungkukkan badannya sekali lagi pada Bella kemudian pergi menuju pintu keluar.


"Dev!" teriak Bella. Namun Dev terus saja berlalu. Semua perhatian para karyawan Xander Corp masih tertuju pada CEO mereka yang kini masih memandang punggung pengawalnya yang terus berjalan menjauh darinya. Bella mulai menyadari tatapan terkejut dari para karyawannya.


"Liat apa kalian?! Mau gaji kalian bulan ini saya sumbangin ke panti asuhan?!" ucap Bella galak. Semua orang mulai berjalan menjauhi Bella dan melanjutkan aktivitas mereka. Bellapun masuk ke dalam lift dan tidak terlihat lagi.


Di satu sisi, salah satu orang yang melihat pemandangan tak biasa itu adalah Kris. Melihat Dev keluar, Kris mengikutinya.


"Dev!" teriak Kris.


Dev yang sedang berjalan menuju keluar area gedung Xanderpun berbalik, ia menatap marah pada pria yang memanggilnya.


"Gak usah lo manggil nama gue pake mulut lo itu." ucap Dev semakin terbakar emosi.


Kris mengerutkan keningnya, "Kenapa lo?" merasa aneh dengan sikap Dev yang terlihat begitu membencinya.


Dev bersiap membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Kris.


"Sikap apaan barusan? Tiba-tiba aja lo ninggalin majikan lo gitu aja yang harusnya lo jaga setiap saat. Lo masih manggil diri lo pengawal pribadi Bella?" tanya Kris dengan nada menghina.


Mendengar ucapan Kris, Dev semakin tersulut emosi. Ia menghampiri Kris dan menarik kedua kerah jas yang Kris kenakan. Setelah mendengar semua yang Bella katakan mengenai momen yang pernah Bella lalui bersama Kris, Dev begitu membenci mantan pengawal pribadi Bella itu. Ia terus mengingat kata-kata Bella mengenai hal-hal yang pernah dilakukan Kris dulu saat masih menjadi pengawal Bella. Amarah Dev memuncak saat di kepalanya terbayang Kris yang sedang melepas setiap helai pakaian yang Bella kenakan.


BUG!!


Tanpa aba-aba sebuah pukulan Dev layangkan pada Kris, membuat Kris tersungkur ke lantai saking kerasnya Dev memukulnya.


Satpam dan beberapa pengawal yang kebetulan menyaksikan itu segera menyergap Dev. Salah satu dari mereka menolong Kris untuk berdiri, namun Kris menolak. Ia menggerak-gerakkan rahangnya mencoba mengurai rasa sakit yang dirasakannya akibat pukulan yang sangat keras dari Dev.


Kilatan mata Dev yang masih tidak merasa bersalah setelah memukulnya, membuat Kris gelap mata dan bersiap menyerang balik.


"Dev!" tiba-tiba saja Leo ada disana. Krispun mengurungkan niatnya. Ia mengepal kuat tangannya yang gagal memberikan pukulan balasan pada Dev.