
Bella terhenyak melihat laki-laki yang selama ini selalu ia rindukan ada di hadapan matanya. Tiba-tiba saja terpikirkan sebuah ide gila, ide yang akan membuat Dev tidak akan lagi pergi dari hadapannya. Bella berjalan keluar ruangannya dan mengambil sebuah alat pemecah kaca di sudut lorong, yang berfungsi untuk keadaan darurat.
Bella kembali ke ruangannya dan Dev masih di luar sana membersihkan dinding kaca luar. Bella berjalan ke arah Dev dengan pemecah kaca di tangannya. Bella menatap Dev yang kebingungan, dan sekuat tenaga Bella menghujamkan pemecah kaca itu pada dinding kaca yang terbuat dari kaca tempered yang lima kali lebih keras dari kaca biasa.
Sontak Dev terkejut bukan main, ia mencoba berkata pada Bella untuk menghentikan aksinya, namun tentu saja Bella tidak bisa mendengarnya dan Bella tidak memedulikan Dev. Bella terus menghujamkan benda itu ke dinding kaca yang keras. Berulang kali hingga terdapat retakan yang cukup besar tapi tidak terlalu parah. Dirasa retakan itu sudah cukup untuk melancarkan rencananya, Bella berhenti dan memandang ke arah Dev yang masih membulatkan matanya.
Tiba-tiba Tere menghambur masuk setelah mendengar suara keras dari ruangan Bella.
"Nona Bella, ada apa?!" tanya Tere dalam mode pengawal.
Tere melihat dinding kaca di dekat kursi Bella retak, dan ia melihat Dev disana saling berpandangan dengan Bella dengan wajah yang sangat terkejut.
Bella masih terdiam dan tersenyum pada Dev, kemudian berkata pada Tere, "Facade cleaner itu nyoba buat ancurin kacanya."
Bella berjalan menuju keluar ruangannya, Tere mengikutinya dan berbicara pada seseorang melalui earpiecenya, "suruh facade cleaner itu turun sekarang."
Bella dan Tere tiba di lantai paling bawah gedung Xander Corp. Orang-orang gaduh karena melihat Bella yang berjalan dengan terburu menuju ke halaman. Beberapa satpam dan juga pengawal ada disana bersiap menyergap Dev yang kini sedang turun dengan tali karmantel yang menjaga tubuhnya. Setelah beberapa saat kaki Dev mendarat di tanah. Kedua tangannya disergap oleh para pengawal Xander Security, pengawal lainnya membuka harness dan carabiner yang digunakan Dev, kemudian membawanya ke hadapan Bella.
Dev berdiri tepat dihadapan Bella. Seketika Bella merasakan rindu yang membuncah di hatinya. Ingin rasanya melekatkan bibirnya pada bibir Dev saat itu juga. Sekitar satu bulan Bella tidak bertemu dengan laki-laki pemilik hatinya itu. Bella menatap mata Dev yang juga menatap sedih kepadanya. Otot rahangnya mengeras dan Dev menelan salivanya. Entah apa yang dipikirkannya.
"Ada apa ini?" tanya Kris yang tiba-tiba saja ada disana.
"Facade cleaner ini tadi saya liat sedang berteriak di depan dinding kaca ruangan Bu Bella, Pak." ucap seorang satpam.
"Dia mecahin kaca ruangan CEO." ucap Bella.
Dev terperangah tidak percaya, baru saja Bella telah memfitnahnya. Bella kini menatap Dev dengan tatapan dingin.
Semua orang mendongak ke arah kaca jendela itu, termasuk Kris.
"Ini buktinya." ucap Tere memperlihatkan foto dinding kaca yang retak, yang sempat difotonya tadi sebelum keluar dari ruangan Bella.
Seketika Kris menarik kaos yang Dev kenakan, "Lo lagi! Ngapain lo cari gara-gara disini?!"
Dev tidak menjawab dan masih memandang Bella tidak percaya.
"Kris, ini bukan kapasitas lo lagi. Lepasin dia." ucap Bella. Kemudian Bella berbicara pada Kepala Xander Security, "Pak leo, tolong urus orang ini."
Bella membalikkan badan dan meninggalkan Dev yang kini dibawa ke ruangan Xander Security.
***
Bella tiba di ruangannya lagi. Tere menutup pintu ruangan Bella dan menghampiri Bella dengan terburu.
"Ada apa ini, Nona?" tanya Tere yang kebingungan dengan sikap Bella. Ia tau bukan Dev yang memecahkan dinding kaca, tapi Bella sendiri yang melakukannya.
Tere terdiam sejenak. Kemudian menghela nafas sambil menutup matanya. Ia paham dengan maksud Bella sekarang. Jika saja sekarang ia sedang tidak bertugas, ingin sekali rasanya ia melontarkan kata-kata umpatan pada Bella yang lagi-lagi berbuat nekat untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, bahkan sampai merugikan orang lain.
"Baik, Nona." Terepun meninggalkan Bella sendirian di ruangannya.
Di sisi lain, Dev kini sedang diinterogasi oleh Leo, Kepala Xander Security.
"Udah saya bilang, Pak. Saya gak mecahin kaca itu!" ucap Dev dengan putus asa.
"Terus maksud kamu, Nona Bella yang mencoba memecahkan dinding kacanya sendiri? Buat apa? Kamu bener-bener cari perkara, beliau itu sekarang adalah pimpinan perusahaan Xander Corp."
"Pimpinan Xander Corp?!" Dev terlihat sangat shock mengetahui bahwa Bella kini menjadi pimpinan dari perusahaan raksasa ini.
Tiba-tiba Tere mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Leo.
"Saya ditugaskan untuk memantau interogasi ini oleh Nona Bella." ucap Tere pada atasannya itu. Leo menganggukkan kepalanya dan kembali fokus pada Dev.
"Dua pilihan yang bisa kamu ambil, pertama kamu saya laporkan kamu ke polisi atas tindakan perusakan dan percobaan penganiayaan. Kedua, kamu bisa memilih untuk membayar ganti rugi dari dinding kaca yang sudah kamu rusak."
"Berapa biaya ganti ruginya?" tanya Dev. Ia jelas akan menolak pilihan pertama. Ia tidak ingin berurusan dengan polisi.
"Mungkin sekitar 50 juta. Kamu tau itu lantai paling atas, sulit untuk menggantinya. Walaupun yang retak hanya sedikit, tapi kami harus mengganti seluruh dindingnya. Mungkin setelah ini Nona Bella akan meminta dindingnya diganti dengan kualitas lebih bagus lagi dan harganya mungkin lebih mahal dari itu. Kamu gak tau dia sangat perfeksionis."
Dev menyapukan rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya, terlihat sangat frustasi. Ia tidak memiliki uang sebanyak itu untuk mengganti dinding yang dirusak oleh Bella.
"Mohon izin berbicara, Pak Leo." ucap Tere.
"Silahkan." ucap Leo.
"Mohon maaf sebelumnya, facade cleaner ini saya yang merekomendasikannya pada bagian kebersihan. Karena itu saya merasa bertanggung jawab mengenai kejadian ini, saya mohon maaf." ucap Tere.
Dev menoleh ke arah Tere. Dev sudah merasa curiga dari awal karena ia tiba-tiba diminta untuk membersihkan dinding kaca oleh perusahaan yang sering memintanya bekerja paruh waktu, untuk membersihkan kaca gedung Xander Corp, padahal ia tau bahwa Xander memiliki facade cleanernya sendiri.
"Tapi saya udah memeriksa latar belakang laki-laki ini, Pak. Dia punya beberapa keahlian yang mungkin bisa digunakannya untuk mengganti biaya ganti rugi." ucap Tere.
"Keahlian apa?" tanya Pak Leo penasaran.
"Dia punya lisensi untuk mengemudikan helikopter dan pesawat pribadi, ia pemegang sabuk hitam karate, dan juga terkenal cekatan dan punya refleks yang bagus. Dia juga punya pengalaman di bidang militer, Pak." ucap Tere.
Dev masih memandang Tere dengan perasaan curiga, perempuan ini mengetahui terlalu banyak mengenai dirinya, begitu pikirnya.
"Maksud kamu..." ucap Leo.
"Betul, Pak. Selama ini kan kita belum nemuin orang yang tepat untuk mengganti Kris sebagai pengawal pribadi Nona Bella, saya rasa dia mampu mengemban tugas ini."