Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 71: Menghukum Kris



Seketika Dev ambruk. Lututnya terasa sangat lemas. Ia terduduk kembali di kursi depan ruang pemeriksaan itu. Hal yang baru didengarnya dari Dokter Vito adalah hal yang sejak tadi ia takutkan, dan itu benar-benar terjadi sekarang. Bagaimana bisa ia membiarkan orang yang sangat ia cintai mengalami hal seburuk itu? Dev menangis sejadinya merasa sangat bersalah.


Bella kini sudah berada di kamar inap. Dev masuk ke kamar inap itu. Ia melihat Bella kini menggunakan pakaian pasien rumah sakit. Wajahnya pucat dengan tangan yang diinfus, berbaring di brangkar rumah sakit. Mungkin secara fisik Bella terlihat baik-baik saja, namun secara psikis, Bella hancur lebur tak bersisa.


Dev menghampiri sang kekasih. Ia duduk di samping tempat tidurnya. Tadi pagi ia yang tidur di brangkar itu, kemudian Bella pamit untuk pergi bekerja dan berjanji akan bertemu di Rumah Besar. Namun kini justru Bella yang terbaring di brangkar itu dengan kondisi yang tidak pernah Dev bayangkan sebelumnya. Dev meraih tangan Bella. Ia menciumnya beberapa kali, tidak ada reaksi apapun dari Bella.


“Bel, maafin aku. Aku terlambat datang nyelamatin kamu.” Ucap Dev penuh sesal, air mata mengalir deras di pipinya.


Bella bergeming. Ia masih menutup matanya.


Dev membiarkan isak tangisnya keluar. Ia tidak rela, ia marah, ia merasa bersalah. Namun nasi telah menjadi bubur. Tangisnya tidak akan mengubah apapun, Kris sudah menodai kekasihnya.


Sebutir air mata melesat jatuh dari mata Bella yang terpejam. Bella sudah sadar. Ia mendengar tangis Dev, tapi ia memilih untuk tetap menutup matanya. Ia tidak mau bertemu Dev. Bukan karena ia benci ataupun marah, melainkan karena Bella merasa ia sudah tidak layak bagi Dev.


Dev melihat air mata terus berjatuhan dari mata Bella, “Bella, sayang. Buka mata kamu.” Isak Dev seraya mengusap lembut air mata yang jatuh ke sisi mata kanan dan kirinya.


Namun Bella tetap bergeming.


Dev meraup kedua pipi Bella, “Aku disini, Bel. Tolong liat aku.”


Dev mengecup kening, kedua pipi Bella, dan juga bibirnya. Namun Bella tetap menutup matanya. Dev yakin Bella telah sadar, tapi ia menolak bertemu dengannya. Itulah yang selalu Bella lakukan Ketika ia tidak ingin bertemu atau berbicara pada seseorang.


Pintu ruang inap Bella terbuka, Dokter Vito masuk bersama Hirawan. Hirawan masuk dengan terisak. Dev segera bangkit dari posisinya dan membiarkan Hirawan menjenguk sang cucu.


“Bella,” tangan keriput Hirawan meraih tangan Bella, “ini Kakek, Nak.”


“Bella nolak untuk bangun, Pak.” Ucap Dev seraya mengusap kasar air mata di wajahnya.


Hirawanpun terdiam, tidak memaksa Bella untuk bangun. Ia sudah sangat mengetahui saat Bella sudah seperti ini maka itu tandanya Bella sudah tidak ingin berbicara.


“Pak, Boleh saya berbicara di luar?” tanya Dev menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


Hirawan mengangguk. Pengawal mendorong keluar kursi roda milik Hirawan.


Dev menatap wajah Bella dengan penuh tekad. Ia mengecup kening Bella dan berkata, “Aku pergi sebentar.”


Kemudian Dev keluar dari ruang inap itu menghampiri Hirawan yang sudah berada di ruang tunggu VVIP, di depan ruang inap itu. Wajah Hirawan terlihat penuh amarah. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


“Pak, izinkan saya berbicara.” Ucap Dev, berdiri di hadapan Hirawan.


“Bicaralah.” Ucap Hirawan.


“Saya akan menghukum Kris malam ini juga.” Ucap Dev penuh tekad.


Sontak Hirawan menatap Dev, “Kamu yakin?”


“Kris sudah menodai Bella, Pak. Saya tidak mungkin diam saja. Saya harus membuat perhitungan. Izinkan saya menghukumnya dengan tangan saya sendiri.”


Sebutir air mata mengalir kembali di pipi Dev. Dagunya bergetar dan api dendam berkobar di dalam dirinya. Ia tidak akan merasa puas dan tenang jika Kris masih bisa tersenyum dan tertawa seperti yang dilihatnya tadi.


“Pergilah, hancurkan orang yang sudah membuat Bella terluka.” Ucap Hirawan mendukung penuh langkah Dev. Hirawan mengangguk pada salah satu pengawalnya. Pengawal itu memberikan senjatanya pada Dev.


“Gunakan sebaik-baiknya. Kamu tidak perlu memikirkan apapun, saya pasti akan melindungi langkah kamu ini.” Ucap Hirawan.


Dev meraih pist*l itu dengan tangan bergetar, kemudian ia sematkan senjata itu di belakang punggungnya. Dev membungkuk hormat dan iapun segera keluar dari ruang tunggu. Leo, Abbas, dan Tere sudah berada di luar. Dengan kaki yang terpincang, Dev berjalan tergesa menuju lift melewati mereka, Leo dan Abbas mengekor di belakangnya.


“Dev..” ucap Leo saat mereka di lift.


“Saya akan menghukum Kris malam ini juga.” Ucapnya penuh dendam.


Leo dan Abbas saling tatap mendengar kata-kata tanpa ragu dan penuh tekad itu.


***


Dev sampai di lapas, tempat Kris ditahan. Ia sudah menghubungi seorang oknum yang ia kenal dan sering membantunya jika anggota Black Panther membuat masalah. Polisi itu bersedia membantu setelah mengetahui Hirawan menjamin tindakan Dev ini. Polisi itu membawa Dev, Leo, dan Abbas ke sebuah ruangan kosong yang masih berada di area lapas tersebut.


Tidak lama beberapa sipir membawa Kris. Kedua tangan Kris diborgol di belakang. Para sipir, Leo dan juga Abbas menunggu di luar ruangan tersebut. Mereka membiarkan Dev menuntaskan dendamnya sendiri. Melihat Dev ada disana dengan wajah yang marah, Kris tersenyum puas.


“Wah, hebat banget lo sekarang. Bisa dengan mudah bawa gue yang lagi ditahan ke tempat kayak gini. Lo emang beneran udah jadi calon menantu kesayangannya Hirawan.” Sapa Kris seakan Dev adalah teman lamanya yang


“Lo udah menodai Bella.” Ucap Dev dengan suara tercekat, ia masih mencoba menahan emosinya melihat tingkah laku Kris.


Kris terbahak dengan keras, “Lo jangan ngomong gitu dong, gue gak menodai dia. Gue bikin Bella jadi milik gue seutuhnya. Gue menanam benih gue.” Ucap Kris dengan seringai di wajahnya.


“Sebentar lagi Bella bakal hamil, dan anak gue tumbuh di rahimnya. Pewaris Xander Corp.” lanjut Kris dengan mata yang berbinar. “Walaupun ayahnya gak bisa jadi CEO Xander Corp, senggaknya darah daging gue harus bisa gantiin gue.”


Dev meraih punggungnya dan mengeluarkan sebuah pist*l yang ia sematkan.


“Wah bahkan lo punya senjata sekarang. Lo beneran mau ngabisin gue?” tanya Kris dengan tenang.


Melihat reaksi Kris yang tidak terpengaruh dengan senjata yang dibawanya, Dev semakin kesal.


“Ayo, tembak gue.” Tantang Kris. “Gue udah gak takut mati. Kalo gue hidup, gue bakal dipenjara dalam waktu yang lama. Gue udah gak akan dapetin Bella, harta gue udah disita, jadi buat apa juga gue hidup? Yang penting jejak gue di dunia ini bakal tumbuh di perutnya Bella.” Ucap Kris dengan senyum kemenangan.


Kris berjalan mendekat pada Dev tanpa rasa takut, “Lo bisa bunuh gue sekarang.” Ucap Kris seraya menutup matanya.


Dengan marah Dev menarik pelatuknya dan mengarahkan pist*l itu pada Kris.


DORR!!


Sebuah peluru kini bersarang di paha Kris sebelah kanan. Seketika Kris ambruk dan mengerang kesakitan.


“Udah selesai omong kosong lo itu?” tanya Dev akhirnya membuka suaranya. “Lo kira gue bakal ngotorin tangan gue dengan ngabisin nyawa lo?”


DORR!!


Peluru lainnya kini bersarang di paha kiri Kris. Kris kembali mengerang kesakitan.


“Lo mungkin belum tau, gue gak ngebunuh keluarga Andhara. Gue bukan psikopat kayak lo.” Ucap Dev. “Gue ngehukum mereka dengan ngebales apa yang udah mereka lakuin. Karena mati terlalu ringan buat orang-orang kayak lo dan Hendra.”


“Apa maksud lo?” ucap Kris dengan sambil menahan sakit di kedua pahanya.


“Lo udah bikin paha Bella lebam. Makanya gue lukain kedua paha lo. Stuart udah bikin punggung gue luka, diapun udah ngerasain itu sebelum dia mati.”


Dev membungkukkan tubuhnya dan menatap Kris, “Gue suka saat orang-orang kayak kalian teriak kesakitan.”


Kris terperangah, “Lo gak akan bunuh gue?!”


Dev menggelengkan kepalanya, “Gue bukan penganut nyawa dibayar nyawa. Kalo lo mati, gue gak bisa ngeliat penderitaan dan penyesalan lo. Lo akan tetap hidup di penjara ini sampe akhir hayat lo.”


“Hidup gue udah gak ada artinya! Lo bunuh gue! Kalo lo gak bunuh gue, gue bakal bunuh diri!!” teriak Kris.


“Terserah lo, gue gak peduli.” Dev berjalan ke sudut ruangan. Terdapat sebuah tabung pemadam api darurat disana. Dev mengambilnya dan kembali menghampiri Kris.


“Tapi sebelum lo ngabisin nyawa lo sendiri, gue harus ngehukum lo dengan tangan gue sendiri. Berani-beraninya lo menodai Bella.” Ucap Dev. “Dan asal lo tau, benih lo gak akan pernah tumbuh di rahim Bella atau dimanapun.”


Kris masih terus meringis kesakitan, “Maksud lo apa?!” tanya Kris menatap ngeri pada tabung pemadam itu.


“Gue bakal ancurin tempat lo memproduksi benih lo itu.” Ucap Dev dengan nada sedingin es.


Kris membulatkan matanya, “NGGAK!! Lo gak bisa ngelakuin itu!” Kris begitu panik. Ia meringkukkan pahanya yang penuh darah, mencoba melindungi inti tubuhnya.


“ABBAS!” teriak Dev.


Abbas dan Leopun masuk ke dalam ruangan. “Kenapa, Bro?”


“Posisiin tubuh dia supaya terlentang.” Ucap Dev.


Abbas dan Leo segera melakukan instruksi Dev. Kris terus meronta-ronta, namun tubuhnya kini sudah berada di posisi terlentang, kedua pundaknya dipegang oleh Abbas dan kedua kakinya yang terluka dipegang oleh Leo.


“LO UDAH GILA, DEV!! LEPASIN GUE!!” teriak Kris.


Seketika Dev mengangkat tabung pemadam darurat itu dengan tangan kirinya.


“JANGAN!!!” teriakan Kris menggema di ruangan itu, kemudian Dev mulai menghantamkan tabung itu sekuat tenaga pada inti tubuh Kris beberapa kali, diiringi teriakan Kris yang terus menggila.