Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 47: Bantuan Mr. Nates



Bibir mereka terpaut sepanjang lift yang terus bergerak menuju lantai 60. Bella sendiri tidak kuasa menolak ciuman Dev yang begitu tiba-tiba dan memabukkan seperti biasanya. Ditambah kali ini ciuman itu terasa sangat berbeda. Amarah dan dominasi Dev begitu jelas terasa melalui permainan bibir yang dilakukannya. Ia bahkan menggigit pelan bibir Bella, mencengkram tengkuk Bella cukup keras, kemudian menyentuh salah satu bukit kembar milik


kekasihnya itu.


Seketika Bella tersentak kaget karena Dev tiba-tiba saja melakukan itu. Ia mendorong tubuh Dev dengan sekuat tenaga hingga Dev terhuyung ke belakang. Nafas keduanya menderu. Bella mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Bella bukannya tidak mau, tapi kini ia sedang mengibarkan bendera perang pada Dev. Ia tidak ingin begitu saja membiarkan Dev menyentuhnya.


“Lo berani banget ngelakuin itu!” bentak Bella.


Dev menatap marah pada Bella, “Inget, Bel, kamu cewek aku! Ini kan yang selalu kamu pengen aku lakuin Sekarang kenapa kamu malah marah?”


Bella bungkam. Ia masih mencoba untuk menguasai dirinya. Ia segera keluar dari lift dan menekan tombol tutup. Seketika pintupun mulai menutup. Bella membalikkan tubuhnya dan melihat Dev berdiri di dalam lift dan menatap Bella dengan sorot mata yang dingin. Dev tidak mencoba menerobos masuk ke dalam ruangan CEO. Ia menatap Bella dengan satu tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya, dan satu tangan mengusap bibirnya, menghapus sisa saliva dan lipstick Bella yang tertinggal di bibirnya. Pintu liftpun tertutup sepenuhnya dan sosok Dev menghilang dari pandangan Bella.


“Dev kenapa tiba-tiba kayak gitu?” gumam Bella masih mencoba menormalkan nafas dan detak jantungnya.


Di sisi lain, Dev sendiri tidak menyangka gairahnya muncul begitu saja setelah rasa cemburu menguasainya melihat Bella yang dengan akrabnya bersenda gurau dan menyentuh bahu Albert. Ia ingin memperingatkan Bella bahwa ia adalah miliknya. Tidak seharusnya ia begitu akrab dengan laki-laki lain di depan matanya. Ditambah situasi mencekam di dalam lift akibat perang dingin yang sedang berlangsung diantara dirinya dan Bella, membuat Dev merasa begitu ingin memecahkan keheningan yang menyiksa itu.


Liftpun sampai di lantai 1. Dev keluar dari sana dan terdengar suara Tere di earpiece memanggilnya.


[Tere: Alpha Eagle, ke Hotel Logan Ritz sekarang]


Dev bertanya-tanya, mengapa ia dipanggil ke hotel Logan Ritz? Bukankah disana sedang ada kolega bisnis Xander Corp yang bernama Mr. Nates?


Devpun segera menuju ke hotel Logan Ritz. Disana ia langsung menuju ke penthouse room, tempat Mr. Nates menginap. Dev menekan bel, dan tidak lama ia dipersilahkan masuk. Ia melihat Tere masih berada disana.


“Lo bisa Bahasa Inggris?” tanya Tere.


“Iya, gue bisa.” Ucap Dev percaya diri. Dev memang menguasai Bahasa Inggris, sejak kecil sang ibu sudah membiasakan Dev berbahasa Inggris.


“Okay.” Ucap Tere. Ia membungkuk pada Mr. Nates dan kemudian pergi dari ruangan itu.


Dev masih kebingungan. Namun ia segera membungkuk pada Mr. Nates.


“Apakah kamu Dev Bentlee?” tanya Mr. Nates.


“Iya, betul. Ada perlu apa anda memanggil saya?” tanya Dev.


“Sudah beberapa bulan terakhir saya berniat menemui kamu. Kamu pernah mengemudikan pesawat jet pribadi dari Jakarta ke Bali ‘kan beberapa bulan lalu?” tanya Mr. Nates.


“Pesawat mana yang anda maksudkan? Saya pernah beberapa kali mengemudikan pesawat ke Bali.” Dev bertanya balik.


“Bombardier global 8.000.” ucap Mr. Nates.


Seketika Dev mengingat pesawat yang pernah dikemudikannya itu.


“Pesawat yang mengalami sedikit kerusakan di mesin pesawatnya saat akan tinggal landas?” Dev memastikan. Pesawat itu mengalami sedikit masalah saat akan tinggal landas. Untung saja Dev menyadari ada sesuatu yang tidak beres saat itu dan mengeceknya, kemudian meminta teknisi memperbaikinya terlebih dahulu sehingga pesawat bisa terbang dengan baik setelah itu, walaupun Mr. Nates harus kehilangan tender jutaan dollar karena hal itu.


“Iya, betul. Saat itu pilot yang selalu mengemudikan pesawat milik saya itu tiba-tiba saja menghilang. Maka dari itu saya mencari pilot pengganti dan ternyata kamulah yang akhirnya mengemudikan pesawat saya itu. Dan kamu tahu, saya merasa sangat bersyukur karena kamu menyadari kerusakan pada pesawat saya saat itu.”


Dev mengerutkan kening, “Apa ada masalah yang serius?”


“Ya. Sangat serius. Saya menyelidikinya karena sebelumnya tidak pernah terjadi seperti ini. Ternyata seseorang mensabotase pesawat saya. Jika saja kamu tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan mesin pesawatnya, maka saya sudah tidak akan ada di dunia ini.”


Sontak Dev terkejut mendengarnya, “Benarkah itu yang terjadi, Pak?”


Mr. Nates mengangguk. “Maka dari itu saya mencari kamu. Namun karena kesibukan saya, saya belum sempat menemui kamu. Dan saya tidak menyangka ternyata kita dipertemukan di Xander Corp. Saya juga tidak tahu kamu seorang pengawal.”


“Saya mendapatkan pekerjaan ini sekitar sebulan setelah menerbangkan pesawat anda saat itu, Pak. Saya sangat senang melihat anda sekarang baik-baik saja, dan terhindar dari sesuatu yang buruk yang mungkin bisa saja terjadi. Anda sangat beruntung dan dilindungi.” Ucap Dev.


“Ya, kamu benar saya sangat beruntung. Tanggung jawab saya terhadap perusahaan sangat besar, saya memiliki anak dan istri yang sangat saya sayangi, dan saya bersyukur masih hidup hingga hari ini. Kamu sangat berjasa bagi saya, Dev. Terimakasih banyak.” Ujar Mr. Nates tulus.


Dev tersenyum penuh rasa syukur. Tanpa ia sadari, Dev telah menyelamatkan orang penting seperti Mr. Nates.


“Untuk itu, saya akan memberikan apapun yang kamu mau sebagai rasa terimakasih saya pada kamu.”


“Tidak, Pak. Anda tidak perlu melakukan apapun untuk saya.” Ucap Dev merasa keberatan. Ia memang tidak mengharapkan apapun dari Mr. Nates.


“Ayolah, Dev. Kamu harus meminta sesuatu dari saya. Saya tidak bisa terus menerus merasa berhutang budi pada kamu.”


“Tapi saya betul-betul tidak menginginkan apapun, Pak. Saya sudah sangat senang bisa melihat anda sekarang sehat dan tidak kekurangan sesuatu apapun." ucap Dev bersikukuh.


Mr. Nates menghela nafas, “baiklah. Mungkin sekarang kamu memang tidak membutuhkan apapun. Saya akan memberikan kartu nama saya. Kamu bisa menghubungi saya kapanpun jika kamu butuh bantuan. Saya akan kabulkan apapun itu.”


Asisten Mr. Nates memberikan secarik kartu nama pada Dev. Devpun menerimanya dengan ragu.


“Saya betul-betul tidak menginginkan sesuatu dari anda, Pak.”


“Kamu simpan saja dulu kartu nama itu. Jika kamu berubah pikiran hubungi saya. Oh, dan besok Xander akan mengadakan pesta untuk merayakan terjalinnya hubungan bisnis antara Omega Group, Diamonds Corp, dan Xander Corp. Kamu harus datang sebagai tamu saya.”


“Sebagai tamu anda?” tanya Dev merasa tersanjung.


“Iya. Berpakaianlah dengan rapi, kamu akan duduk bersama saya beserta CEO Xander Corp dan CEO Diamonds Corp.”


Dev tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Dengan senang hati, Pak. Saya merasa terhormat untuk itu. Namun bisakah saya mengatakan satu hal dan bisakah anda mempercayainya?”


“Apa itu? Saya akan coba mendengarkannya dulu.” tanya Mr. Nates


“Sebenarnya, Bella Ratu Xander, CEO Xander Corp, adalah kekasih saya. Saya harus memberitahukan ini pada anda sebelum anda bertemu dengan kami besok.” Ucap Dev.


“Benarkah itu?” Mr. Nates terlihat sedikit ragu.


“Saya tahu ini sulit dipercaya. Namun saya tidak mengada-ngada. Saya dan Bella saling mencintai.”


“Apakah Pak Hirawan mengetahui hal ini?” tanya Mr. Nates.


“Iya. Beliau sudah mengetahui hubungan saya dengan cucunya. Namun anda tahu, hubungan saya dan Bella sedikit rumit.”


Mr. Nates terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Kalau begitu saya akan menawarkan kamu bantuan, yang tadi saya tawarkan pada kamu.”


“Bantuan apa itu, Pak?” Dev mulai tertarik.


“Saya yakin, kamu dan Bella terhalang restu karena status sosial kalian yang berbeda. Saya akan memberikan kamu modal awal untuk memulai sebuah start up.”


Dev merasa ia salah dengar, “Start up? Anda akan memberikan suntikan dana untuk saya memulai sebuah perusahaan berbasis teknologi?”


“Iya. Saya memiliki beberapa ide. Namun belum sempat mengembangkannya lebih jauh karena saya masih sibuk dengan berbagai macam hal dari perusahaan yang saya pimpin. Saya akan perlihatkan pada kamu beberapa perencanaan dari start up yang pernah saya buat. Kamu pilih kira-kira mana yang paling kamu kuasai. Saya akan berikan posisi CEO pada kamu.”


Apa? CEO? Dev masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar.


“Tapi, saya sama sekali tidak memiliki dasar dalam berbisnis. Dan itu sangat berlebihan bagi saya, Pak. Saya rasa saya tidak bisa menerimanya.”


“Ayolah, Dev. Kamu bilang, kamu adalah kekasih Bella. Kamu harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan juga memiliki keberanian yang besar untuk bisa bersanding dengan wanita sehebat Bella. Bisnis bisa dipelajari pelan-pelan, apalagi kamu masih sangat muda. Baiklah, begini saja, saya tidak akan memberikan kesempatan ini secara cuma-cuma. Saya akan berikan kamu waktu dan target pencapaian. Jika target itu tidak tercapai, maka saya akan mengambil kembali posisi kamu sebagai CEO. Bagaimana?”


Dev terlihat berpikir. Ia sama sekali tidak menyangka hal sebaik ini bisa terjadi padanya. Asisten Mr. Nates memberikan sebuah dokumen pada Dev. Ia menatapnya dengan bingung, masih merasa ragu untuk menerimanya.


“Dokumen itu adalah beberapa perencanaan start up yang pernah saya buat. Kamu ambil dan pelajari, kabari saya setelah kamu bisa memutuskan.”


“Apakah anda yakin akan memberikan saya kesempatan ini?” tanya Dev memastikan.


“Saya orang yang pandai menilai orang. Saya yakin kamu akan berhasil. Saya sangat yakin.” Ucap Mr. Nates.


Dengan tangan yang gemetar, Dev meraih dokumen itu. Dokumen yang akan mengubah hidupnya ke depannya.