Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 63: Ditemukan Selamat



Bella berjalan tergesa. Ia segera menuju bandara sesaat setelah mendapatkan kabar bahwa Dev dan beberapa pengawal Alpha berhasil ditemukan dalam keadaan selamat di sebuah pulau terpencil oleh TIM SAR. Bellapun segera memasuki mobilnya yang sudah siap di depan pintu utama Xander Corp.


“Cepet Pak bawa mobilnya!” perintah Bella pada supir.


Bella merasa sangat lega. Akhirnya ia mendapatkan kabar baik itu. Berhari-hari ia terus menunggu dalam perasaan kalut dan penuh harap. Ia terus berdoa untuk bisa bertemu kembali dengan sang kekasih.


Beberapa saat kemudian mobilpun tiba di bandara. Para pengawal Xander security dan juga para wartawan, sudah bersiap menunggu kedatangan para korban selamat. Saat Bella datang, para wartawan segera menghampirinya. Namun para pengawal segera menghalau dan melindungi CEO mereka dari para wartawan yang membombardir Bella dengan segala macam pertanyaan.


“Akhirnya, Ter!” Bella memeluk sahabatnya itu. Beberapa hari terakhir Tere dan Bella saling menguatkan. Bella begitu khawatir pada Tere. Baru kali ini ia melihat sahabatnya yang selama ini selalu terlihat tangguh, justru begitu rapuh beberapa hari terakhir. Tere tidak henti-hentinya menangis dan mengingat Abbas, dan Bella terus menghiburnya.


“Iya Bel, Abbas selamat. Gue bakal bikin perhitungan sama dia gara-gara udah bikin gue cengeng kayak gini!” ucap Tere sambil terus berlinang air mata. Bella tertawa bahagia melihat sahabatnya itu kini bisa melemparkan candanya lagi.


Sebuah helikopterpun terlihat. Bella segera mengalihkan perhatiannya pada helicopter milik BASARNAS itu. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Dev. Helikopter itupun melandai dan akhirnya mendarat. Para tenaga medis segera menghampiri helikopter itu dan ketika pintu dibuka terlihat Dev, Abbas, dan dua pengawal Alpha lainnya terbaring lemah pada beberapa tandu.


Bella segera menghampiri tandu yang membawa Dev. Dev dan yang lainnya dipindahkan pada brangkar dorong dan mereka terlihat sangat lemah, kulit mereka menggelap, dan mereka tidak menggunakan jas, kemeja putih mereka robek di beberapa bagian dan kini tidak lagi berwarna putih, namun lebih mirip kecoklatan dan kotor sekali.


“Dev!” Bella tidak bisa menahan isaknya. Ia segera memeluk tubuh kekasihnya itu.


“Bel…” ucap Dev lemah.


“Akhirnya kamu pulang!” ucap Bella dengan berlinang air mata. Ia memperhatikan setiap inci tubuh Dev. Bella


melihat wajah Dev lebih tirus, kulitnya menggelap, bibirnya pucat, ada luka di pelipisnya, dan terdapat luka di tangannya yang cukup parah. Ia merengkuh tubuh kekasihnya itu, tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur.


“Maaf, Nona. Dev harus segera mendapatkan perawatan.” Ucap Leo.


“Iya, lo bener.” Bella melepas rengkuhannya dan menghapus air matanya, “Tolong kalian rawat dia dengan perawatan terbaik.” Perintahnya pada tenaga medis.


“Baik, Nona.” Ucap para tenaga medis yang memang bagian dari Xander Security.


Dev beserta pengawal lainnya dibawa menuju ambulans dan menuju rumah sakit. Bellapun kembali ke mobilnya dan mengekor di belakang ambulans-ambulans itu.


“Gimana Dev?” Tanya Tere dari bangku depan.


“Dia sehat, Ter. Gue gak percaya barusan dia manggil nama Gue.” ucap Bella terharu. “Gimana Abbas dan pengawal Alpha yang lain?”


“Syukurlah. Abbas dan yang lain juga sehat.” Ucap Tere yang juga terharu bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya.


“Syukurlah Ter, lo bisa ketemu sama Abbas lagi.” Bella memberikan semangat.


Tere mengangguk semangat sambil menghapus air matanya. Bella tersenyum melihat sahabatnya itu kini bisa tersenyum kembali.


Sesampainya di rumah sakit Bella menunggu di sebuah kamar inap VVIP. Dev sedang diperiksa dan diobati di UGD.


“Jadi coba ceritain semuanya, sedetail mungkin, gimana ceritanya Dev sama mereka bisa ditemuin.” Ucap Bella pada Leo.


“Mereka ditemukan di sebuah pulau terpencil, Nona. Mereka menyalakan api sehingga para tim SAR yang menggunakan helikoper bisa melihat keberadaan mereka disana. Saat ditemukan mereka ada dalam keadaan sehat, namun mengalami dehidrasi parah, kelaparan, dan juga kulit yang terbakar matahari. Dev terluka di bagian lutut dan pelipis saat berenang menuju pulau tersebut. Pengawal yang lainpun kurang lebih sama. “


“Mereka berenang ke pulau itu?” tanya Bella shock.


“Benar, Nona. Mungkin sekitar beberapa kilometer. Sepertinya saat menemukan pesawatnya bermasalah, mereka segera keluar dari pesawat dengan parasut dan kemudian mereka terombang-ambing di lautan, dan mereka berenang tak tentu arah dan beruntungnya menemukan pulau kecil tak berpenghuni. Mereka bertahan disana hingga akhirnya ditemukan.”


“Syukurlah.” Bella tak henti-hentinya mengucap rasa syukur. “Gimana dengan Stella dan Tante Lidya?” tanya Bella.


“Belum ada kabar mengenai mereka, Nona. Para pengawal belum bisa dimintai keterangan karena mereka dalam keadaan yang sangat lemah sekarang.” Ucap Leo.


“Terus cari mereka. Semoga merekapun ada dalam keadaan selamat di suatu tempat.” Perintah Bella pada Leo.


“Baik, Nona. Kami akan mengusahakan yang terbaik.” Leopun segera meninggalkan ruangan itu.


Bella membuka laptopnya sambil menunggu Dev selesai diobati dan dibawa ke ruangan itu. Ia terpaksa harus tetap bekerja karena banyak hal yang harus segera diselesaikannya. Bella tidak pernah absen dari pekerjaannya, sekalipun ia sedang dalam keadaan kalut karena menunggu kabar mengenai Dev. Ia sadar akan tanggung jawabnya yang sangat besar terhadap perusahaan. Maka ia tetap bekerja seperti tidak terjadi apa-apa. Justru saat bekerja, Bella sedikit bisa mengurangi rasa gundahnya.


Beberapa saat kemudian, perawat datang membawa Dev yang kini sudah menggunakan pakaian rumah sakit. Luka di pelipisnya sudah diobati, begitu juga dengan lututnya sudah diperban. Tangannya diinfus dan wajahnya masih terlihat pucat. Perawat sedang memindahkan Dev ke brangkar di ruang inap VVIP itu.


“Gimana keadaannya sekarang?” tanya Bella pada Dokter yang mengantarkan Dev.


Bella menghela nafas lega, “Berikan perawatan yang terbaik. Saya ingin dia sembuh secepatnya. Anda paham?”


“Kami akan mengusahakan yang terbaik, Bu Bella. Anda tidak perlu khawatir. Kami permisi.” Ucap Dokter itu.


Dokter dan perawat itupun pergi dari ruangan. Bella menghampiri Dev. Dev tersenyum lemah.


“Hey…” sapa Bella. Ia duduk di kursi sebelah brangkar tempat Dev berbaring, ia raih tangan Dev yang tidak terdapat infus.


“Hey..”sapa Dev dengan suara lirih.


Bella mencium tangan Dev beberapa kali. “Gimana keadaan kamu?”


“Aku..baik...” ucap Dev.


Bella menatap wajah Dev lekat, masih tidak percaya Dev kini ada di hadapannya.


“I miss you…” ucap Bella lirih.


“Me..too…” sahut Dev.


Bella tersenyum, ia bangkit dari duduknya dan mengusap rambut dan pipi kekasihnya dengan lembut, “Sekarang kamu istirahat ya. Kamu tidur. Nanti kalo kamu udah bangun, kita ngobrol lagi.”


Dev mengangguk lemah.


Bella tersenyum dan mengecup kening Dev pelan, menyelimuti tubuh Dev hingga ke lehernya, dan kembali duduk di samping Dev.


Beberapa saat kemudian Dev terlihat tertidur.


***


Beberapa hari sebelumnya


Dev dan Abbas berdiri menghadap para anggota Black Panther dan beberapa pengawal Alpha di luar Gudang. Kini mereka sudah menggunakan seragam pengawalnya lagi.


“Gue mau ngucapin terimakasih banyak sama kalian, karena udah bantuin gue buat ngejalanin misi ini.” Ucap Dev, diiringi dengan ucapan selamat dari anggota Black Panther karena Dev telah berhasil membalaskan dendamnya.


“Kalian sekarang silahkan kembali ke Jakarta. Simpan dan jaga baik-baik masalah ini. Gak ada yang boleh tau tentang kejadian hari ini, kecuali kita yang ada disini.”


“Lo tenang aja, Bro. Kita bakal tutup mulut.” Ucap Mondi dan diiyakan oleh yang lainnya. “Kita pergi sekarang. Mayatnya Stuart sama Hendra harus segera kita buang di deket mobil mereka yang tenggelam.”


Dev mengangguk.


“Lo gapapa, Van?” tanya Dev pada Vanessa yang berdiri diantara para anggota Black Panther.


“Gue gak apa-apa. Gue baik. Baik banget malah bisa ngabisin nyawa suami gue tercinta. Sorry gue gak ikutin instruksi lo yang bilang jangan sampe bikin dia mati. Tapi ternyata gue gak bisa. Gue harus abisin nyawa dia.” Ucap Vanessa tanpa merasa bersalah sama sekali.


Dev merinding mendengarnya, namun ia segera menguasai dirinya.


“Gue juga mau konfirmasi aja, Hendra gak kita abisin, Bro.” ucap Mondi, “Dia sendiri yang nusukin pisau ke perutnya pas kita lagi buka iketan dia buat kita bawa dia ke Hongkong. Tadi mafia yang mau bawa dia sama Stuart udah dateng, tapi balik lagi. Mereka marah banget tapi gue udah kasihin uang yang waktu itu lo kasih ke gue buat jaga-jaga.”


“Okay, gapapa. Bukan salah kalian.” Ucap Dev.


Setelah itu para anggota Black Panther dan Vanessa berangkat menuju Jakarta dengan kapal Feri. Mereka juga membawa kedua jasad Stuart dan Hendra. Para pengawal Alpha yang ikut membantupun pamit dan ikut kapal feri itu.


“Sekarang tinggal kita berempat. Ini akan jadi hal yang berat banget. Kita bakal berenang ke pulau yang di barat sana, kayak yang udah gue bilang sebelumnya.” Ucap Dev.


“Lo tenang aja, Dev. Kita pernah berenang lebih jauh dari itu.” Ucap seorang pengawal Alpha.


“Gue tau. Makanya gue milih kalian berdua buat ikut gue ngejalanin misi ini. Yang terberat lagi, di pulau itu gak ada makanan dan air bersih. Kita harus bikin tubuh kita dehidrasi dan kelaparan. Setelah itu kita berdoa semoga kita cepet ditemuin sama tim SAR.”


Dev memandang ke arah sahabatnya, “Dan lo, Bro. Gue bakal jagain lo di lautan. Lo tinggal tetep fokus dan kerahin semua tenaga yang lo punya. Inget lo harus ketemu lagi sama Tere.”


“Siap, Bro.” ucap Abbas dengan gugup.