
Di Ruangan CEO Xander Corp
“Kakek, kok kesini gak bilang-bilang?” tanya Bella menghampiri sang Kakek yang duduk di sofa di ruang kerjanya. Kemudian memeluk sang kakek.
“Kakek lagi bosen aja. Makanya kakek kesini pengen liat kamu kerja.” Ucap sang Kakek, “Kamu kok bau asap knalpot?” Hirawan mengendus cucunya, sedikit tercium bau asap knalpot diantara wangi parfum yang Bella
kenakan.
“Iya tadi aku berangkat pake motor sama Dev. Kecium banget ya emangnya?” Bella mencubit kerah blazer yang dikenakannya dan benar saja ada sedikit bau knalpot menempel disana.
“Kamu naik motor?” ucap Hirawan terkejut.
“Iya, Kek. Kakek gak usah khawatir, Dev itu jago bawa motornya, terus dia juga kan salah satu pengawal Xander yang paling cekatan dan gesit. Iya ‘kan, Pak Leo?” tanya Bella yang berdiri bersama beberapa pengawal lain di dekat lift.
“Saya setuju, Nona.” Ucap Leo.
Hirawan tertawa mendengarnya, “Bella, apa Dev laki-laki yang baik? Sepertinya kamu sangat menyukai Dev?”
Bella menghela nafas, “Kakek gak usah pura-pura deh. Aku tau kakek udah tau semua tentang Dev. Kakek sendiri bisa menilai Dev cowok yang kayak gimana. Sekarang kakek harus ngakuin kalo yang waktu itu kakek omongin itu salah. Ternyata ada kan cowok yang bener-bener tulus suka sama aku, tanpa ngeliat siapa aku? Dan orang itu adalah Dev. Aku sayang banget sama dia, Kek.” Ucap Bella sungguh-sungguh.
“Iya, Kakek setuju dia sangat baik. Kakek berterimakasih karena dia sudah mengembalikan cucu kecil Kakek seperti dulu.” ucap Hirawan bahagia.
Bella tersenyum manis sambil bersandar di bahu sang Kakek.
“Jadi aku udah boleh nikah kan sama Dev?” tanya Bella.
“Belum, Nak. Dia masih harus menyelesaikan syarat yang Kakek ajukan.” Ucap Hirawan konsisten.
Bella bangkit dari sandarannya, dan memandang sang kakek dengan raut wajah cemberut.
“Tapi syarat itu berat banget, Kek. Masa dia harus sepadan sama aku dulu. Kemarin itu untung aja dia bisa kenal sama Mr. Nates dan dikasih kesempatan buat ngerintis start up. Kalau nggak?”
“Kakek hanya ingin melihat usahanya. Kalau dia betul-betul mencintai kamu, dia pasti akan melakukan apapun. Kalaupun ia tidak berhasil mendirikan sebuah perusahaan, asal ia menunjukkan niatnya dan usaha terbaiknya, Kakek akan mengizinkan kalian menikah.”
“Yang bener, Kek? Jadi Dev gak usah sampe bikin start up yang sukses kan?” tanya Bella penuh harap.
“Yah… untuk start up dengan bantuan Mr. Nates, minimal ia harus mencapai level unicorn.” Ucap Hirawan.
“Itu sih masih berat buat orang yang sama sekali gak ngerti bisnis kayak Dev, Kek.” ucap Bella memajukan sedikit bibirnya.
"Maka dari itu, kamu harus bantu dia. Bantu dia menguasai bisnis. Bagaimanapun jika dia jadi suami kamu, dia harus bisa mengerti dan menguasai juga apa yang kamu lakukan. Kamu bukan perempuan biasa, kamu seorang CEO, Nak. Siapapun yang menjadi suami kamu harus bisa mendampingi kamu dengan penuh rasa tanggung jawab yang sama dengan yang kamu pikul. Dia harus bisa mendukung kamu yang membawahi ratusan ribu pekerja.”
Bella mengangguk-anggukan kepalanya, ia kini paham maksud dari sang kakek.
“Iya, Kek. Aku bakal bantuin Dev. Aku bakal bikin dia jadi CEO start up paling sukses pokoknya.” Ucap Bella penuh tekad.
Hirawan kembali tertawa, “Kakek gak sabar ingin melihat Dev sesukses itu.”
“Pokoknya kakek tunggu aja, dia itu bukan cowok sembarangan.” Puji Bella.
“Baiklah, kakek akan menunggu keberhasilan Dev dengan start upnya. Kakek pulang dulu ya. Kamu bekerjalah yang rajin, Nak.” Ucap Hirawan. Seorang pengawal senior membawakan kursi roda Hirawan dan Bella membantu sang kakek untuk duduk di kursi roda itu.
“Kakek gak usah khawatir, aku udah bisa handle semuanya dengan baik sekarang. Kakek udah liat kan Omega Group aja sekarang jadi mitra bisnis Xander berkat aku.” Bella dengan bangga sambil mengibaskan rambut panjangnya.
“Iya, Kakek percaya. Makanya selama ini Kakek menunggu kamu bersedia menggantikan kakek, karena kakek tau kamu akan sehebat Kakek dalam memimpin perusahaan ini.” Ucap Hirawan tidak mau kalah.
“Iya deh, darah bisnis kakek emang hebat banget.” Ucap Bella setuju diiringi tawa Hirawan.
Bellapun mendorong kursi roda sang kakek menuju lift.
“Aku anterin kakek ya sampe ke mobil.” Bella masuk ke dalam lift bersama dengan beberapa pengawal mereka dan juga Raka, asisten Hirawan yang kini menjadi asisten Bella.
“Pagi ini kamu senggang? Gak ada meeting atau semacamnya?” tanya Hirawan Ketika lift mulai bergerak ke bawah.
Bella dan Hirawan terus mengobrol hingga ke lantai bawah. Pintu liftpun terbuka, Bella kembali mendorong kursi roda sang kakek. Bella ingin mengantar sang Kakek sampai ke mobilnya, bahkan menolak untuk melepaskan kursi roda itu saat seorang pengawal mengambil alih.
“Kakek!” tiba-tiba seorang gadis cantik berambut panjang dengan tubuh langsing dan tinggi menyapa Hirawan.
Bella mengerlingkan matanya.
Perempuan itu mendekat pada Hirawan dan mengulurkan tangannya pada Hirawan, dan menciumnya dengan penuh hormat.
“Sedang apa kamu disini, Stella?” tanya Hirawan pada cucu sambungnya itu.
“Aku abis ketemu Daddy, ada yang mau aku obrolin. Sekalian aku mau ketemu sama pengawal yang bakal nganter aku besok ke Singapura. Besok aku ada fashion show, Kek.” Ucap Stella.
“Paling juga lo disana cuma dikasih satu-dua baju doang. Ngapain jauh-jauh kesana dan pake pengawal segala.” Cibir Bella.
“Kak Bella kenapa sih? Julid banget jadi orang. Lagian aku kan salah satu keluarga Xander, jadi aku juga harus dijagain apalagi kalo pergi keluar negeri.” Ucap Stella dengan nada manja, membuat Bella merasa mual.
“Lo tuh bukan cucu kandung kakek. Nama lo juga gak ada nama Xandernya. Gue ingetin ya, takutnya lo lupa. Nama lo Stella Silva Andhara, bukan Stella Silva Xander. Jadi lo juga harusnya ganti nama Instagram lo. Gak usah ngaku-ngaku kalo lo bagian keluarga Xander.”
“Iya, Kak. Aku gak akan lupa. Tapi username Instagram aku udah gak bisa diganti-ganti, Kak. Karena udah centang biru, kan. Terus followers aku sekarang juga udah 1 juta lebih.” Ucap Stella penuh kemenangan.
“Baru followers 1 juta aja bangga. Yuk, Kek kita pergi.” Ucap Bella meremehkan, karena ia sendiri sudah memiliki hampir 10 juta pengikut di akun Instagram pribadinya. Bellapun kembali mendorong kursi roda sang kakek dan meninggalkan Stella.
“Pak Leo, jadi kan Dev yang jagain aku besok?” Tanya Stella saat berpapasan dengan Leo yang ikut mengantar kepergian Hirawan menuju mobilnya.
Mendengar nama Dev diucapkan oleh Stella, Bella berhenti melangkah dan kembali menghampiri Stella.
“Apa lo bilang? Dev bakal anterin lo besok ke Singapura?!” teriak Bella dengan geram.
“Iya, Kak. Pak Leo yang bilang besok tim alpha termasuk Dev bakal nganterin aku sama mommy ke Singapura.”
Bella menatap Leo dengan marah, “Kenapa Dev lo suruh nganterin cewek resek ini?!”
“Mohon maaf, Nona. Tim yang lain sudah ada pekerjaan lain, hanya tim alpha yang bisa mengantar Nona Stella dan Nyonya Lidya.”
“Kenapa Kak? Kakak gak usah jealous kali. Aku gak kayak kakak yang suka nyuri cowok orang,” ucap Stella dengan julidnya.
“Apa lo bilang?! Lo masih ngira gue ngerebut Logan dari lo?” Bella semakin naik pitam.
“Iya! Gara-gara kakak aku putus sama dia! Sekarang dia bahkan udah nikah! Pokoknya sekarang kakak gak usah ngelarang-larang aku dianterin sama Dev. Biar kakak tau rasanya cowok yang kita suka malah jalan sama sepupu kita sendiri itu gimana!”
Emosi Bella sudah tidak terbendung. Iapun menjambak rambut panjang Stella dengan keras.
“Auuuww!! Kak sakit! Lepasin!” kemudian cengkraman Bella semakin kuat “Rambut gue!! BESOK GUE ADA FASHION SHOW!” teriak Stella histeris karena ia merasa beberapa helai rambutnya terlepas dari akarnya.
Bella masih menatap Stella dengan bengis. Kini tangan Bella yang lain ikut menjambak rambut Stella, “Berani banget lo mau ngerebut cowok gue!!”
Semua orang di lobi kini begitu gaduh melihat dua putri keluarga Xander saling berteriak, terlebih melihat CEO mereka yang kini dengan bar-barnya menjambak sepupunya.
“KAKEK TOLONGIN AKU KEK!” teriak Stella kini diiringi dengan tangis. Ia mencoba meraih rambut Bella dan berhasil, kini kedua perempuan itu saling menjambak rambut disaksikan oleh semua orang yang ada di lobi.
Hirawan menggelengkan kepalanya melihat kedua cucunya bertarung sengit, “Bella! Lepaskan adikmu itu!” perintah Hirawan. Namun tidak digubris oleh Bella.
"Berani banget lo jambak rambut CEO Xander Corp!! Gue cabutin rambut lo biar lo gak bisa jadi model lagi!!" teriak Bella dengan murka.
Beberapa pengawal sibuk memohon pada Bella untuk segera melepaskan rambut Stella yang dijambak oleh Bella, namun tidak ada yang berani menyentuhnya.
Leo memijit keningnya, merasa frustasi. “Panggil Dev dan Tere!” perintah Leo pada seorang anak buahnya. Leo menghela nafas. Ia menyerah menghadapi tingkah majikannya itu. Pertarungan sengit Bella dan Stella benar-benar di luar kendalinya. Ia tidak bisa menangani hal konyol yang dilakukan oleh Bella kali ini.
“Tere sedang bertugas di PT. Kalingga, Pak.” Ucap Seorang anak buah Leo.
Beberapa saat kemudian Dev terlihat datang dari arah pintu utama dengan nafas terengah-engah, ia berlari secepatnya saat mendengar Bella berada dalam masalah. Ia merasa lega sekaligus terkejut melihat kekasihnya. Lega karena ternyata Bella tidak terkena masalah seperti yang dicemaskannya. Namun sangat terkejut karena Bella kini terlibat saling jambak dengan sepupunya sendiri.