Marry Me, Dev

Marry Me, Dev
Bab 72: Menjadi Suami Bella



Dua minggupun berlalu. Sejak kejadian itu, Bella masih berada di rumah sakit. Ia mendapatkan perawatan intensif dari dokter spesialis kejiwaan. Jiwanya sangat terguncang dan tak henti-hentinya menangis, dan jika tidak ia akan melamun sepanjang hari. Ia juga menolak untuk makan. Infus sering kali Bella lepaskan sehingga tubuhnya terus melemah.


Dev sudah menghukum Kris. Setelah malam itu Kris terluka parah di bagian inti tubuhnya. Dokter mengatakan bahwa alat vitalnya mengalami kerusakan sehingga ia dipastikan tidak akan bisa menggunakannya lagi. Kris berkali-kali mencoba untuk bunuh diri. Namun ia dijaga sangat ketat. Dev berpesan bahwa Kris tidak boleh mati. Ia harus merasakan penderitaannya hingga ajal sendiri yang menjemputnya.


Kemalangan seakan tidak berhenti datang pada Dev dan juga Bella. Kenyataan pahit harus Dev terima karena Bella benar-benar mengandung. Dokter memeriksa keadaan Bella sebagai antisipasi. Dan benar, Bella kini mengandung seorang anak. Bella hamil setelah kejadian itu. Semua orang shock, terutama Dev. Kesehatan Hirawanpun semakin lemah karena terus menerus terbebani pikirannya karena melihat keadaan cucu kesayangannya yang belum kunjung membaik.


Dev terduduk lemas di ruang tunggu ruang inap Bella. Kaki dan tangannya sudah pulih sepenuhnya. Ia selalu berada disana setiap saat, mendampingi Bella. Ia tidak masuk ke dalam ruangan Bella, karena Bella menolak untuk bertemu dengannya.


Saat pertama kali Dev mengunjunginya lagi tepat saat ia sudah menghukum Kris, Bella mengunci dirinya di kamar mandi. Bella menyalakan shower dan membasahi seluruh tubuhnya, dan menggosok-gosokan tangannya ke seluruh tubuhnya dengan marah, seakan dirinya sudah terkena benda yang sangat kotor.


“BELLA! Buka pintunya, Bel!” teriak Dev sambil terus menggedor pintu. Ia berusaha mendobrak pintu itu, kemudian Dev masuk ke dalamnya. Ia melihat Bella basah kuyup di bawah guyuran air dari shower yang menyala. Devpun mematikan shower itu.


“Pergi! Aku udah kotor, Dev! Aku harus bersihin semua tubuh aku!” teriak Bella histeris.


“Udah, Bel! Kamu gak kotor. Kamu baik-baik aja!” ucap Dev mencoba menenangkan.


“Aku kotor, aku gak layak buat kamu. Kamu harus pergi dari sini! Aku gak pantes buat kamu!” Bella terus menangis.


Dev terus meyakinkan Bella bahwa ia akan terus mencintai dan mendampingi Bella, namun Bella terus berteriak bahwa dia sudah tidak layak lagi untuk Dev.


Setiap kali bertemu Dev, Bella akan berteriak histeris seperti itu. Maka dari itu Dev hanya menunggu Bella di ruang tunggu. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini.


Tiba-tiba pintu ruang tunggu diketuk. Tere masuk kesana menghampiri Dev yang terduduk dengan kedua sikut menyangga pada kedua pahanya. Kepalanya tertunduk, tidak bereaksi dengan kehadiran Tere.


“Lo dipanggil Pak Hirawan ke Rumah Besar.” Ucap Tere duduk di sofa di hadapan Dev.


Dev mengusap wajahnya yang penuh air mata. Ia baru saja mendapat kabar mengenai kehamilan Bella.


“Gimana, Bella?” tanya Dev dengan mata yang sembab.


“Dia baru aja tidur. Dia belum tau tentang kehamilannya. Dokter menyarankan buat sementara dia gak usah dikasih tau dulu.” ucap Tere yang matanya tidak kalah sembab dengan Dev. Ia terus merasa bersalah karena membiarkan Bella pergi saat itu.


"Iya. Itu akan bahaya buat janinnya. Takutnya Bella semakin histeris dan nekat buat ngelakuin sesuatu yang ngebahayain dirinya sama janinnya." ucap Dev berusaha tabah.


"Lo gak apa-apa?” tanya Tere bersimpati.


“Bohong kalo gue bilang gue gak apa-apa, Ter.” Sebutir air mata kembali jatuh dari matanya yang sudah sembab. “Dengan keadaan Bella yang gak mau nemuin gue aja udah bikin gue nelangsa. Sekarang Bella hamil anak Kris, gimana bisa gue baik-baik aja?”


“Sebagai sahabatnya Bella, gue mohon sama lo, Dev. Jangan ninggalin Bella, apalagi sekarang Bella hamil bukan anak lo.” Ucap Tere sambil terisak.


Dev berusaha menahan tangisnya


“Lo gak perlu memohon sama gue, Ter. Karena gue gak akan ninggalin Bella. Gue sayang banget sama dia. Gimanapun keadaannya, gue bakal selalu ada buat dia.” Ucap Dev masih berusaha menahan isaknya, “Gue titip Bella. Hubungi gue kalo ada apa-apa.”


Tere mengangguk, merasa berterimakasih dan bersyukur sahabatnya dipertemukan dengan laki-laki sebaik Dev. Kemudian Dev beranjak dari sofa dan pergi ke mansion Hirawan.


Disana Hirawan terbaring di kamar tidurnya. Ada beberapa pengawal, Ranti, Raka, dan juga seorang pria berjas yang pernah beberapa kali Dev lihat dan ia ketahui sebagai pengacara Xander Corp.


“Saya sudah datang, Pak. Bagaimana keadaan anda?” tanya Dev.


“Ada apa anda mencari saya?” Tanya Dev lagi.


“Kamu sudah mengetahui keadaan Bella?” tanya Hirawan dengan mata berkaca-kaca.


Dev mengangguk lemah dan menundukkan wajahnya.


“Apakah kamu akan meninggalkan Bella?” tanya Hirawan dengan nada gelisah.


Seketika Dev menatap kedua mata sendu Hirawan, “Tidak, Pak. Saya gak akan pernah meninggalkan Bella. Sekalipun sekarang Bella mengandung. Saya akan tetap bersama Bella sampai kapanpun.”


Hirawan terlihat sangat lega setelah mendengar ucapan Dev.


“Terimakasih, Dev.” Hirawan mulai terisak, “Kenapa Bella harus mengalami ini semua?”


Dev kembali menunduk, merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Hirawan, juga Devpun pernah menanyakan hal yang sama.


“Dev,” Hirawan terlihat sudah bisa menguasai dirinya lagi, “Ada satu permintaan saya pada kamu.”


“Katakan, Pak. Jika saya mampu, maka saya akan melaksanakannya.” Ucap Dev dengan penuh keyakinan.


Hirawan menatap Dev lekat dan berkata, “Nikahi Bella.”


Dev tertegun mendengarnya.


“Anak dari Bella membutuhkan seorang ayah. Saya mohon pada kamu, jadilah suami dan ayah bagi Bella dan anaknya kelak. Sayangi anak itu walaupun ia bukan darah daging kamu.” Ucap Hirawan penuh harap.


Tanpa keraguan sedikitpun, Dev berkata, “Saya dengan senang hati untuk menikahi Bella, Pak. Saya sangat mencintai cucu anda. Anda tahu itu, saya bahkan sudah memenuhi syarat yang anda ajukan waktu itu.”


Hirawan merasa sangat lega, “Baiklah. Dokumen pernikahan akan segera dibuat oleh pengacara saya. Namun untuk upacara pernikahan akan kita diadakan sambil terus memantau kondisi Bella.”


“Jadi, saya akan menikah secara resmi terlebih dahulu sebelum upacara pernikahan, Pak?” tanya Dev kurang memahami maksud Hirawan.


“Iya, Dev. Bagi saya sangat mudah membuat surat legal pernikahan kalian berdua. Setelah keadaan Bella membaik, maka upacara pernikahan bisa diadakan.” Ucap Hirawan.


Hirawan menengadahkan sebelah tangan pada pengacaranya. Dengan sigap, pengacara itu meletakkan sebuah map pada tangan Hirawan. Kemudian Hirawan memberikan map itu pada Dev.


Dev menerimanya dengan bingung dan mulai membukanya.


“Ada satu alasan lagi mengapa saya meminta kamu menikahi Bella. Dengan kondisi Bella sekarang, ia tidak mungkin melaksanakan kewajibannya sebagai CEO Xander Corp.”


Dev menelan salivanya, tangannya bergetar menatap dokumen yang kini berada di tangannya.


Hirawan melanjutkan, “Sedangkan projek bersama Omega Group dan Diamonds Corp seharusnya sudah dimulai sejak dua minggu lalu.”


Dev masih mencoba mencerna apa yang terjadi, “Apa maksud dari ucapan anda, Pak?” tanya Dev. Matanya masih tertuju pada dokumen yang dipegangnya. Nama Dev Bentlee tertera disana.


Hirawan menatap Dev dan berkata, “Tanda tanganilah, Dev. Gantikan Bella sebagai CEO Xander Corp.”