
Bella masih menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Dev yang merengkuhnya. Kekesalannya pada Dev sudah tersalurkan melalui duel itu, namun rasa kecewa yang dirasakannya masih sangat besar.
Dev tidak berkata apa-apa, ia masih memeluk tubuh kekasihnya itu dan membiarkan Bella menangis hingga puas.
Namun tiba-tiba saja Bella merasa sesak. Nafasnya tersengal. Asmanya kambuh akibat stress yang dirasakannya dan juga aktivitas berat yang baru saja dilakukannya. Ditambah perutnya kosong, belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya sejak pagi. Menyadari tiba-tiba saja Bella yang masih dipeluknya menarik dan menghela nafas dengan cepat, Dev segera berteriak. “Bawa oksigen!”
Tubuh Bella roboh. Reflek Dev memeluk lebih erat tubuh Bella yang tiba-tiba merosot dan hampir saja lututnya menyentuh matras. Dev segera membaringkan tubuh Bella di atas matras. Tidak lama Tere, Leo, dan petugas medis Xander Security datang dan Bella segera mendapatkan pertolongan pertama. Dev merasa sangat bersalah melihat kekasihnya itu kini terbaring lemah dengan selang oksigen dihidungnya. Tangan Bella juga mulai mengerucut karena kaku.
Dev meraih tangan Bella dan mulai memijitnya, begitu juga dengan Tere meraih tangan Bella yang lain dan melakukan hal yang sama dengan Dev.
“Bel? Kamu gapapa kan? Masih sesek?” tanya Dev khawatir.
Bella tidak menjawab, ia menatap Dev dengan mata yang sendu. Ia merasa tubuhnya sangat lemas tidak ada lagi tenaga yang tersisa di tubuhnya.
Setelah beberapa saat, nafasnya sudah berangsur membaik. Tangannya yang terus dipijat oleh Dev dan Tere juga sudah tidak kaku lagi.
Bella menoleh ke arah Tere dan berkata dengan lemah, “Gue mau pulang.”
“Baik, Nona. Kita pulang sekarang.” Ucap Tere dengan khawatir.
Tere bersiap untuk membopong Bella. Namun dengan sigap Dev mengangkat tubuh Bella lebih dulu, setelah petugas medis membuka selang yang terpasang di hidung Bella. Dev yang masih menggunakan seragam latihan dan tidak menggunakan alas kaki, membawa Bella keluar kantor Xander Security dan menuju lobi.
Para karyawan terlihat terkejut melihat CEO mereka dibopong oleh pengawal pribadinya yang sudah beberapa hari lamanya tidak terlihat mendampingi pimpinan mereka itu.
Sebuah mobil sedan Mazda hitam sampai di depan pintu utama gedung tepat saat Dev keluar dari lobi. Tere membukakan pintu belakang dan membiarkan Dev membawa masuk Bella ke dalam mobil. Tere menutup pintu dan masuk ke kursi kemudi, sedangkan Dev mengitari belakang mobil, dan masuk ke sisi lain jok belakang.
Dev membimbing Bella untuk bersandar kepadanya. Dev memeluk Bella dan beberapa kali mengecup pucuk kepala Bella, masih merasa bersalah.
“Kamu udah gapapa kan? Sebentar lagi kita nyampe. Sabar ya.” ucap Dev. Namun Bella tidak mengatakan apa apa. Tubuhnya masih terasa kelelahan dan entah kenapa Bella merasa malas untuk menjawab pertanyaan Dev.
Merekapun sampai di basement apartemen Bella. Dev membopong kembali tubuh Bella dan mulai menaiki lift. Tere tidak ikut masuk ke dalam lift dan pergi mendatangi rumah besar dan meminta Ranti untuk memasakkan makanan untuk Bella. Di dalam lift Bella sama sekali bungkam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, begitu juga dengan Dev.
Sesampainya di unit apartemen, Dev membawa Bella menuju kamarnya untuk beristirahat dan membaringkan Bella di tempat tidurnya.
“Gue mau mandi.” Ucap Bella lemah.
“Ya udah, aku siapin airnya dulu ya.” Dev berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar Bella dan menyalakan air hangat di bathtub dan membiarkan bathtub itu terisi penuh.
Sambil menunggu Dev kembali ke kamar dan masuk ke walk in closet milik Bella dan mengambil kaos putih polos dan mengganti seragam latihannya. Setelah itu ia menghampiri Bella yang masih terbaring di tempat tidurnya. Dev duduk di sisi tempat tidur dan ia raih tangan Bella.
“Maafin aku, Bel. Gara-gara aku asma kamu jadi kambuh.” Ucap Dev merasa bersalah.
Bella hanya terdiam tatapannya kosong ke sembarang arah. Entah apa yang dirasakan oleh Bella, namun saat itu ia benar-benar tidak ingin mengatakan apa-apa.
Dev beranjak dan berjalan menuju kamar mandi kemudian mematikan keran.
“Airnya udah penuh, kamu mandi dulu ya. Udah ini kamu makan. Tere lagi bawain makanan dari Rumah Besar.”
Dev membantu Bella bangkit dari posisi berbaringnya. Bella duduk di sisi tempat tidur kemudian mencoba berdiri, namun kakinya terasa sangat lemas. Kemudian Dev kembali membopong tubuh Bella ke kamar mandi.
Dev berniat meninggalkan Bella, namun Bella berkata, “Tolong lepasin baju gue.” Ucap Bella lemah.
Seketika Dev menelan salivanya mendengar permintaan Bella. Sedangkan Bella berdiri mematung di depan bathtub dan tidak beranjak dari posisinya.
Dengan ragu Dev mulai membantu Bella melepas satu persatu pakaiannya. Sekuat tenaga Dev menguasai dirinya. Kini baju karate milik Bella sudah berhasil terlepas dari tubuh Bella.
“Kamu bisa lepas sendiri kan baju dalem kamu?” tanya Dev.
“Nggak, gue gak bisa.” Ucap Bella dengan lemah.
“Tapi, Bel…” Dev merasa canggung. Ia bingung akan mengatakan apa.
Namun Bella bungkam dan kembali terdiam. Ia masih berdiri mematung hanya menggunakan pakaian dalamnya dan tidak melihat ke arah Dev. Terpaksa Dev memberanikan diri untuk mulai membuka pakaian dalam Bella dan melepaskannya dari tubuh Bella.
Setelah itu Bella mulai melangkahkan kakinya memasuki Bathtub. Jantung Dev terus bergemuruh melihat kekasihnya itu kini sudah tidak menggunakan apapun.
Dev segera menguasai dirinya, “Aku keluar dulu.” Ucap Dev.
“Ambilin gue sabun.” Pinta Bella. “Tolong gosokin badan gue.”
“Bel, kamu kan bisa mandi sendiri. Aku gak bisa.” Dev menolak.
Bella kembali terdiam. Dev menyadari ada yang aneh dengan sikap Bella. Sejak asmanya membaik, Bella hanya sedikit berbicara. Tatapan Bella juga tidak pernah tertuju padanya. Biasanya Bella akan mulai berkata frontal dan hal-hal tak terduga khas seorang Bella yang selalu penuh semangat. Jika dalam keadaan normal, saat meminta untuk membantunya mandi, Bella pasti akan dengan manja memintanya pada Dev.
Tetapi kini mendengar Dev menolaknya untuk membantunya menggosok tubuhnya, Bella hanya terdiam di dalam bathtub dengan tatapan yang kosong.
Dev akhirnya membawa sabun dan shampo lengkap dengan spons mandi. Ia berjongkok di sebelah bathtub dan mulai membantu Bella membersihkan tubuhnya. Dev sedikit waspada ia khawatir jika Bella tiba-tiba saja meminta hal-hal absurd, seperti memintanya masuk juga ke dalam bathtub. Hal-hal seperti itulah yang biasa dilakukan oleh Bella. Begitu pikirnya. Tetapi itu tidak terjadi. Bella justru hanya terdiam saat Dev membantunya membersihkan diri. Tidak ada obrolan selama Dev membantu Bella membersihkan diri. Hening. Hanya ada suara gemericik air dan mungkin suara detak jantung Dev yang terus bergemuruh.
Namun pemikiran Bella berbeda dengan apa yang Dev pikirkan.
Semenjak ia mengetahui Dev ada di kantor Leo, entah mengapa ia merasa lelah dengan sikap Dev.
Ia tahu Dev mencintainya, namun Bella kecewa karena Dev sering kali mengabaikannya. Bella mulai ragu, apakah perasaan Dev adalah cinta ataukah hanya perasaan berhutang budi karena dulu Bella yang memberinya kekuatan untuk bisa jadi pribadi yang lebih kuat dan membuatnya memiliki mimpi.
Keraguan itu semakin besar saat Dev seakan tidak merasakan apapun saat melihatnya tanpa pakaian. Dalam hati, Bella sangat merindukan Dev hingga berharap Dev melakukan sesuatu padanya. Namun kini, saat membantu Bella membersihkan tubuhnya, menggosok setiap senti tubuhnya, Dev masih tidak bereaksi apapun.
Kini Bella sudah menggunakan pakaiannya. Ia duduk di depan meja riasnya dan menunggu Dev selesai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer miliknya. Tepat saat Dev mematikan hair dryer, suara pintu apartemen diaksespun terdengar.
“itu kayaknya Tere. Aku liat dulu, ya.” Ucap Dev kemudian berlalu keluar kamar.
Bella memilih untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Ia menghadap ke dinding kaca dan menatap kosong pada pemandangan indah di depannya.
Dev masuk ke kamar Bella dengan membawa nampan berisi makanan. Ia letakkan nampan itu di nakas dan duduk di samping Bella yang sedang terbaring.
“Makan dulu, ya. Aku suapin.” Ucap Dev sambil mengelus rambut Bella.
“Taro aja disitu. Ntar gue makan. Lo keluar dulu aja, gue mau istirahat.” Ucap Bella dengan nada yang datar. Tatapannya sama sekali tidak mengarah pada Dev, ia masih menatap kosong pada dinding kaca.
“Bel..” Belum sempat Dev menyelesaikan ucapannya, Bella memutuskan untuk memejamkan matanya, seakan mengatakan bahwa ia sedang tidak ingin bicara.
Dev menyerah. Ia tidak ingin memaksa Bella.
“Ya udah, kamu istirahat dulu aja ya.” Ucap Dev. Iapun mengecup kening Bella dan berlalu meninggalkan kamar Bella.
Saat pintu tertutup, Bella kembali membuka mata dan beberapa butir air mata mengalir membasahi bantalnya.