
Dev segera menghampiri orang-orang yang sedang menyaksikan duel dua putri keluarga Xander itu. Dev melihat Hirawan ada disana memangku kepalanya dengan sebelah tangannya. Tidak ada yang bisa dilakukannya ketika Bella sudah kehilangan kendalinya seperti itu.
Hirawan menyadari keberadaan Dev, “Dev akhirnya kamu datang, pisahkan mereka!” perintah Hirawan.
Dev mengangguk dan menghampiri Bella yang masih menjambak Stella, dan segenggam rambut Bella juga masih dijambak oleh Stella.
“Bel! Lepasin dia!” Dev mencoba melerai dengan membentengi dirinya diantara Stella dan Bella. Jambakan tangan Bella pada rambut Stella berhasil terlepas. Tangan Bella dengan brutal mencoba meraih kembali Stella yang berada di belakang Dev.
“Dev minggir! Gue harus bikin perhitungan sama dia!” Bella masih bersikeras menjangkau Stella yang kini rambutnya sudah berantakan akibat ulah Bella.
“Dev, kamu pengawal aku buat besok kan. Bawa cewek gila ini pergi dari sini!” perintah Stella.
“Heh, berani banget lo merintah cowok gue!! Dasar cewek kecentilan!!” Bella semakin meradang.
Dev tidak punya pilihan lain. Ia merendahkan tubuhnya, memposisikan pinggang Bella pada bahunya, seketika tubuh Bella menggantung pada pundak Dev. Kemudian Dev membawa Bella pergi menuju lift.
“Lo cewek gila!” seloroh Stella. Ia merapikan rambutnya sambil terus menangis
“Dev turunin gue! Gue harus hajar ‘tu cewek!” Bella terus meronta-ronta, namun tenaga Dev cukup kuat untuk menopang tubuh Bella yang terus bergerak dan berusaha turun. Dev meraih tangan Bella dengan paksa dan memindai sidik jarinya. Lift terbuka dan Dev segera membawa Bella masuk dan menurunkannya ketika lift mulai bergerak naik.
“Kamu tuh ngapain sih, Bel?” Dev bertanya dengan kedua alis yang menyatu.
“Stella tuh resek! Masa dia mau rebut kamu dari aku?! Dia tuh nyebelin dari dulu! Harusnya kamu biarin aku ngerontokin semua rambut dia biar dia berhenti jadi model dan berhenti kecentilan!” Bella menggerak-gerakkan jari tangannya dengan gemas.
Dev memijit dahinya, menghilangkan stress yang dirasakan akibat tingkah konyol kekasihnya itu.
“Kenapa kamu mikir Stella ngerebut aku dari kamu?” tanya Dev.
“Kamu ditugasin buat ngawal dia kan besok ke Singapura? Dia tuh ada maksud terselubung tau gak. Kamu pokoknya jangan ngawal dia besok! Aku gak mau kamu deket-deket sama cewek centil itu!” Rengek Bella.
“Yang,” Dev menggenggam tangan Bella, “Besok kan aku itu kerja. Bukan sengaja main sama dia. Lagian kan kamu yang ngeberhentiin aku jadi pengawal pribadi kamu. Jadi ya aku harus siap ngawal siapa aja.”
Bella memandang Dev dengan cemberut.
“Ya udah aku mau kamu jadi pengawal pribadi aku lagi. Aku bakal ngehubungin Leo.” Ucap Bella sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan HPnya.
Dev meraih HP Bella dan menyimpannya kembali ke saku Bella.
“Gak bisa, Sayang.” Ucap Dev, “Aku gak bisa jadi pengawal pribadi kamu lagi.”
Dev tidak mungkin kembali menjadi pengawal Bella. Mengantarkan Stella dan Lidya ke Singapura menjadi salah satu celah untuk ia melancarkan misinya untuk menyingkirkan keluarga Andhara.
“Kenapa?” tanya Bella kecewa.
“Aku..” Dev berpikir sejenak, mengarang alasan untuk Bella, “harus punya banyak waktu buat mulai belajar bisnis. Kalo jadi pengawal kamu aku harus siap sedia ngawal kamu selama 24 jam penuh. Kalo sekarang setiap harinya aku punya sejam-dua jam buat sekedar baca buku dan pelajarin handout yang kamu kasih. Kita kan pengen cepet dapet restu kakek kamu. Atau kamu maunya kita gak cepet-cepet nikah?” tanya Dev.
“ya maulah. Aku pengen cepet nikah sama kamu.” Bella dengan manjanya menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya. Devpun merengkuh tubuh Bella.
“Makanya kamu jangan banyak pikiran sekarang. Aku bakal fokus belajar bisnis dan ngerjain semua tugas aku. Kamu juga fokus sama kerjaan kamu, jangan mikirin aku bakal aneh-aneh di belakang kamu. Aku udah 10 tahun suka sama kamu, Yang. Masa kamu masih gak percaya?”
Bella melepaskan pelukannya dan tersenyum.
“10 tahun? Udah selama itu?” Bella tersipu mendengarnya.
“Iyalah dari aku kelas 1 SMP, dari umur aku masih 13 tahun sampe sekarang. Cuma kamu yang aku suka.”
Bella tersenyum, melingkarkan tangannya di leher Dev, menatap kedua mata Dev lekat, kemudian berkata, “Marry me, Dev.” Ucap Bella pada kekasihnya itu.
Dev melingkarkan tangannya di pinggang Bella kemudian berkata, “I will. Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi.” Ucap Dev sambil tersenyum dan juga menatap hangat pada kekasihnya itu.
Pintu lift terbuka di ruangan Bella. Merekapun keluar dari lift.
“Kamu sekarang kerja yang rajin ya. Nanti kita makan siang bareng, mau gak?” ajak Dev.
“Ayo. Nanti ketemu di bawah ya, depan lift aku.” Ucap Bella sumringah.
“Iya.” Dev mengangguk sambil tersenyum, “Selamat bekerja, Sayang. Aku turun dulu ya.”
Bella meraih tengkuk Dev dan mengecup bibir Dev, “Selamat bekerja juga, Sayangku.”
Dev masuk kembali ke dalam lift, melambai pada kekasihnya. Bella membalas lambaian Dev dan liftpun tertutup membawa Dev kembali ke lantai bawah.
Siang harinya Dev dan Bella makan siang bersama di restoran yang biasa Bella datangi. Setelah itu Bella dan Dev kembali bekerja. Saat waktunya pulang mereka kembali bersama, menuju ke apartemen Bella, dan makan malam bersama. Setelah itu Bella akan mengajarkan Dev beberapa materi bisnis yang harus segera dikuasai Dev agar bisa segera memulai start upnya.
Sore itu mereka mulai berkutat dengan buku, berkas, dan laptop di meja kerja Bella yang terletak di sudut kamar. Bella mulai menjelaskan dasar-dasar ilmu bisnis pada Dev. Dev memperhatikan setiap penjelasan Bella dengan seksama. Ia begitu serius dan berambisi untuk segera menguasai ilmu bisnis dan mulai merintis start upnya. Hingga tidak terasa waktu menunjukkan pukul 10 malam. Bella terlihat tertidur di meja dengan lengannya sebagai bantalnya. Sedangkan Dev masih sibuk dengan laptop miliknya.
Dev merapikan rambut Bella yang menutupi wajahnya. Tidak tega melihat kekasihnya tertidur pada posisi yang tidak nyaman, Dev membopong tubuh Bella dan membaringkannya di tempat tidur. Menyelimutinya, dan mengecup keningnya, kemudian kembali ke laptopnya. Hingga matanya sudah tidak bisa berkompromi di jam 3 dini hari.
Pagi harinya Bella terbangun dan melihat Dev tertidur di meja kerjanya. Bella menghampiri kekasihnya.
“Yang, ini udah pagi.” Bella mengusap rambut Dev.
Sedikit demi sedikit Dev mulai terbangun. Kantuk masih menguasainya. Ia baru tidur selama dua jam.
“Kamu kok tidur sambil duduk gini sih.”
Dev mulai menggeliatkan tubuhnya yang pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman.
“Aku mandi dulu ya, Yang.” Dev segera berjalan menuju kamar belakang.
Bella menghela nafas kemudian berjalan menuju kamar mandinya. Beberapa saat mereka sudah siap dengan baju kerja masing-masing, sarapan, dan berjalan memasuki lift.
“Kamu berangkat sama Tere ya hari ini.” Ucap Dev mengelus rambut kekasihnya dengan lembut.
“Iya. Kamu hati-hati bawa pesawatnya ya.” Bella menyentuh kedua kantung mata Dev yang sedikit menghitam. “Kamu beneran gak papa? Gak ngantuk?”
“Nggak, Yang.” Kemudian pintu lift terbuka dan terlihat Tere sudah ada di lobi apartemen, menjemput Bella.
“Aku pergi duluan ya, Yang.” Bella mencium bibir Dev sekilas.
Dev menggenggam tangan Bella yang akan melangkahkan kakinya keluar lift. Bellapun menoleh pada Dev. Dev meraup tengkuk Bella dan mencium lagi bibir Bella beberapa saat.
‘Sampai ketemu beberapa hari lagi, Bel.’ batin Dev.
Dev melepaskan ciumannya, “Hati-hati.” Ucap Dev. Bella mengangguk dan tersenyum kemudian berjalan menuju mobilnya, sedangkan Dev menuju basement dan mengendarai mobil sedan Mazda hitam milik kantor menuju Bandara.
Terlihat Abbas yang kini tergabung di tim alpha sudah ada di dekat pesawat, menunggu Dev.
“Gimana? Udah siap semuanya?” tanya Dev, berjalan menuju kokpit.
“Lo gak usah khawatir. Gue udah lakuin sesuai instruksi yang lo kirim tadi malem.” Ucap Abbas.
HP Dev bergetar, nama atasannya muncul di layar HPnya, iapun mengangkatnya.
“Kamu yakin dengan rencana kamu itu?” tanya Leo di seberang sana.
“Iya. Saya yakin, Pak. Sekarang saatnya.” Ucap Dev dengan mantap.