
Riri kini sudah sebulan menikah dengan Aryan, kini Riri mencoba untuk mengecek, apa dirinya hamil atau tidak, karena akhir akhir ini Riri sering merasa pusing dan kadang kadang selalu lelah.
"Semoga saja, semoga saja" gumam Riri berdoa.
"Ahhh, bagaimana ini? apa positif?" celoteh Riri
Riri pun mengambil testpack itu, menghalangi nya dengan tangan, perlahan lahan, Riri terus membuka testpack itu.
Mata Riri langsung terbuka lebar, melihat dua garis itu membentang di alat itu.
"Apa?! aku tidak percaya ini!" teriak Riri di kamar mandi.
Riri pun kembali ke kamarnya, menunggu Aryan untuk pulang bekerja, Riri terus bergetar hebat, kedua kakinya seperti tidak mau berhenti bergetar
"Tolong aku ya tuhan, apa suamiku akan bahagia mendapatkan kabar ini?" tanya Riri bergumam
"Bagaimana ini? aku tidak bisa menunggu lama lama" ujar Riri.
"Tenang, satu jam lagi Aryan akan pulang" ucap Riri melihat ke arah jam yang baru pukul empat (4) sore.
"Ya ampun!!! aku tidak bisa diam saja!" pekik Riri tidak tenang.
"Huhhffttt, siapkan dirimu Riri, percayalah Aryan akan bahagia mendapatkan kabar ini.
Kini Aryan merasa hatinya begitu sangat senang, Aryan pun pulang setelah jam 16:30
Aryan langsung menaiki mobilnya lalu menyalakan mesin nya.
Mobil Aryan membelah jalanan yang mulai padat karena kebanyakan orang orang sering jalan jalan sore.
Setelah dua puluh menit, Aryan akhirnya tiba di mansion nya kini.
Masuk ke dalam mansion, lalu berjalan ke kamarnya yang berada di lantai empat, menaiki ruang lift.
Riri yang sedang duduk dengan terus bergetar, akhirnya senang setelah mendengar suara lift.
Aryan masuk ke dalam kamarnya, terdapat Riri yang sedang duduk tanpa menoleh padanya.
"Sayang, aku pulang!!! bagaimana kabarmu?" tanya Aryan mendekat pada Riri.
"Aryan, aku baik sayang, kenapa lama sekali?" jawab Riri lalu merengek.
"Kau seperti tidak biasanya, ada apa sayang, hari ini aku ingin mengajakmu jalan jalan"
"Benarkah?" tanya Riri menatap Aryan lekat.
"Tentu saja, memang ada apa?"
"A...ku... aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Riri menunduk seraya berdiri
"Apa sayang? katakan saja"
"Kau tidak akan marah kan?" tanya Riri polos.
Aryan yang mendapati pertanyaan itu hanya tersenyum dan tertawa, "Memangnya ada apa? kenapa kau sangat ketakutan?" tanya Aryan yang kini menjadi serius.
"A...ku... aku hamil" ucap Riri gugup
Aryan mendengar perkataan Riri, langsung terpaku tidak percaya akan hal yang di katakan Riri.
"Apa kau marah?" tanya Riri menatap Aryan.
Aryan langsung membalikkan badannya.
"AKU SANGAT SENANG!!!! RIRI AKU SANGAT SENANG?!!" Teriak Aryan terus berputar dengan berteriak.
"Aku sangat senang, huhhhhhh" teriak Aryan memegang pinggang Riri lalu membawa Riri berputar bersama.
"Terima kasih, yang maha kuasa!!! aku sangat senang!" teriak Aryan terus menerus
Aryan pun menurunkan Riri, setelah itu, menatap Riri lekat.
"Aku tidak percaya hal ini! aku akan menjadi seorang ayah" ucap Aryan memegang tangan Riri.
"Terima kasih Aryan, kau menerima anak dalam kandungan ku"
"Ehh, kenapa kau berbicara seperti itu? ini anakku Cherry, tentu aku senang" ucap Aryan.
"Aku khawatir kau tidak mau cepat cepat memiliki anak Aryan" ucap Riri sendu.
"Dasar istriku! aku bodoh jika menolak anak dalam kandunganmu, dia darah dagingku, aku sangat senang" ucap Aryan memeluk Riri.
"Kita harus merayakan ini sayang, kita harus memberitahu keluarga kita" ucap Aryan menatap Riri.
"Jangan dulu, lebih baik kita periksa dulu, bagaimana jika testpack itu salah?" tanya Riri.
"Baik, bersiap siaplah, kita akan makan malam bersama di restoran mewah, aku akan mengajak bunda dan ayahmu juga, kakek dan nenekmu, semuanya" ucap Aryan.
"Apa itu tidak berlebihan?" tanya Riri lirih.
"Tentu tidak sayang, itu aku lakukan untuk rasa bersyukur karena aku akan memiliki anak" ucap Aryan.
"Baiklah Aryan, kau juga bersiap siaplah, mandi dulu"
"Bagaimana jika kita mandi bersama?" Riri hanya mengangguk malu, karena Riri juga menginginkan privasi dari Aryan, dan Aryan ingin service dari Riri.
__--__--__--__--__--__--__--
Mereka kini sedang berada di mobil, setelah mengecek kehamilan Riri, Aryan dan Riri langsung ke tempat restoran.
"Selamat malam Aryan" balas mereka semua.
"Ada apa Aryan? kenapa kau memanggil kami semua, dan mengajak kami makan malam di sini?" tanya Dian pada Aryan.
"Nanti akan aku jawab dad, setelah semua keluarga kumpul" jawab Aryan, membuat mereka semua penasaran.
"Baiklah, ayok duduk sayang" ucap Gista pada Riri, lalu mendudukkan Riri di kursi.
Setelah beberapa menit, keluarga Maxwell Baru saja datang, di antar oleh pelayan restoran.
"Selamat malam tuan Mahesya, maaf membuat kalian menunggu" sapa Arif dan Wisnu.
"Selamat malam juga, tidak apa apa, kami dengan sabar menunggu anda tuan Maxwell" ujar Dian kini.
"Mari duduk tuan" ujar Seno pada mereka.
"Ayok Aryan, apa yang mau kau katakan pada kami semua?" tanya Seno penasaran.
Aryan pun berdiri, "Sebelumnya aku ingin mengucapkan hal ini pada kalian, maaf membuat kalian penasaran" ucap Aryan terkekeh.
"Aku hanya ingin menyampaikan, jikalau istriku, kini sedang mengandung" lanjut Aryan tersenyum.
Mereka yang mendengar perkataan Aryan pun sampai menganga tidak percaya, karena begitu cepat Riri hamil, namun tetap saja membuat mereka bahagia
"Benarkah?!" teriak Rian adik Aryan.
"Benar" jawab Aryan, Riri hanya menunduk merasa malu dirinya menjadi perhatian.
"Jangan bercanda Aryan! itu benarkan?" tanya Gista tersenyum lebar.
"Benar, bahkan kini usia nya baru tiga Minggu mom" jawab Aryan.
"Ya ampun, mommy tidak percaya ini, terima kasih sayang" ujar Gista dengan memeluk Riri.
"Ya ampun, ternyata pedang mu sakti juga kak, baru juga sebulan lebih kalian menikah tapi sudah membuat kak Riri hamil" ujar Rian tertawa, mereka pun tertawa riang.
"Aku ucapkan selamat untukmu Aryan" ucap Alex memeluk Aryan dan menepuk punggungnya.
"Daddy sangat bangga padamu Aryan, kau langsung membuat Riri hamil" ujar Seno terkekeh
"Daddy sangat senang Aryan, selamat untukmu" ucap Daddy Dian.
'Terima kasih untuk semuanya" balas Aryan.
"Semoga selalu sehat sayang" ucap Hana pada Riri.
"Daddy pasti akan sangat senang mendapatkan kabar ini" ucap Dian membicarakan Albert yang tidak bisa ikut hadir.
"Aryan, aku sangat senang untukmu dan juga Riri, selamat untukmu" ucap Willem yang berada di sana.
"Tentu, terima kasih" ucap Aryan.
"Kau juga hebat" bisik Aryan pada Willem, sedangkan Willem hanya malu mendengar bisikan dari Aryan.
"Kak Riri, selamat untukmu" ucap Alena mendekat pada Riri.
"Terima kasih Alena, kau juga selamat atas pernikahan mu dan juga kehamilan mu, maaf saat kejadian di hati pernikahan mu" ucap Riri pada Alena.
"Ahh, sudah lupakan saja, lagi pula itu adalah kejadian yang tidak di sengaja kak" jawab Lena tersenyum.
"Baiklah, semuanya, ayok kita makan, saatnya makan malam di mulai" ucap Dian pada semua orang.
"Aryan, selamat untukmu, kau hebat membuat anakku langsung hamil" bisik Arif di telinga Aryan.
"Ayah, jangan mengatakan hal itu!" rengek Aryan malu.
"Hahaha, lihatlah, Aryan malu kakak ipar" ucap Dian pada Arif.
"Ya, tapi ketangguhannya sungguh patut di puji kakak ipar Dian" balas Arif tertawa
"Ayok sekarang makan" ajak Seno.
"Pelayan! cepat bawa makanannya ke sini" titah Dian pada pelayan.
Setelah makanan sudah tersedia, mereka pun memakannya, makan bersama dengan celotehan yang tidak bermanfaat membuat semuanya harmonis.
"I Love You My Wife" bisik Aryan pada Riri.
"I Love You My Husband, aku beruntung memiliki suami seperti dirimu" balas Riri menunduk.
"Aku lebih bahagia dan lebih beruntung memiliki istri seperti dirimu" balas Aryan.
Mereka semua yang berada di meja makan, hanya tersenyum melihat Riri dan Aryan saling berbisik, tentu mereka tahu, jika yang di ucapkan Aryan dan Riri adalah kecintaan mereka satu sama lain.
TAMAT.....
Jangan lupa mampir di cerita ana
Berjudul
Cinta Balas Dendam
Chat Story'
Pilihan Hati (Love You Baby Sitter)