
Sudah seminggu ini Leo tak berbicara dengan Alice, Leo hanya bicara saat Riri bertanya pada Leo.
"Dia menjadi seperti anak kecil saja jika dengan dirimu Alice, aunty tidak mengerti kenapa Leo jadi seperti itu!" ucap Calista yang sedang bersama Riri di kamarnya.
"Huhhffttt, entahlah aunty, padahal saat berburu aku tidak melakukan apapun, bahkan saat kak Leo terpeleset ke lumpur saja itu bukan salahku" oceh Riri.
"Hmmmm, aunty tahu caranya Leo bisa bicara denganmu lagi dan memafkan mu" ucap Calista memberi ide.
"Apa aunty? jangan macam macam memberi ide seperti kemarin, menyuruhku naik ke atas pohon!" omel Riri kesal.
"Hehehe, aunty minta maaf sayang, lagi pula aunty tidak ada ide lagi, aunty pikir Leo akan memakanmu, ternyata tidak!"
"Bagaimana jika kau membawakan makanan ke kantornya, lalu kau minta maaflah padanya, jangan pulang sebelum Leo memaafkan dirimu" Ide Calista.
"Emmmm... tidak terlalu buruk, baiklah kalau begitu, Alice akan pergi dulu, ayok aunty siapkan makanannya" ucap Riri lalu berdiri, namun Calista menahan tangan Riri.
"Ada apa?" tanya Riri.
"Lihatlah jam, ini baru jam sebelas Alice!" ucap Calista menunjuk ke arah jam.
"Emmm, jika Alice menunggu akan sangat lama aunty" rengek Riri.
"Sabarlah dulu"
"Hmmm... sekarang saja ya aunty, lagi pula jika menunggu jam 12 akan sangat lama!"
"Alice....! baiklah, ayok kita siapkan dulu" ucap Calista menyerah pada Riri karena merengek.
Riri pun langsung tersenyum gembira pada Calista "Terima kasih aunty, kau adalah penyelamatku!"
Riri kini sudah berada di kantor Leo Riri pun berjalan masuk ke dalam kantor, namun di cegah langsung oleh penjaga security.
"Maafkan saya nona, nona tidak bisa masuk ke dalam kantor ini, ini hanya untuk para pekerja saja!" ucap penjaga itu.
"Ohhh, benarkah? tapi aku juga sedang bekerja sekarang" 'Bekerja membujuk kak Leo' lanjut batin Riri.
"Maaf, jika benar bisa serahkan kartu identitas karyawan nya nona?" tanya penjaga itu.
"Aku tidak punya, biarkan aku masuk, ku mohon! aku ingin bertemu kak Leo"ucap Riri memohon.
"Tidak nona, anda tidak boleh masuk" ucap penjaga itu kekeh tak mengizinkan Riri masuk.
"Haisshhh, bertemu dengan kak Leo saja sangat sulit!" gerutu Riri.
"PAK!!! lihat itu!" teriak Riri pada menjaga dengan menunjuk pada langit, seketika Riri pun langsung masuk dan berlari ke dalam kantor.
"Tidak ada apa apa nona!" ucap penjaga itu.
"Ehhh, kemana wanita tadi?" tanya penjaga pada dirinya sendiri.
"Ya ampun! pasti sekarang sudah masuk" ujar penjaga itu tersadar.
Security itu langsung masuk ke dalam, mengejar Riri yang masih bingung dengan letak ruangan Leo.
"Nona! nona tidak bisa masuk!" teriak penjaga itu, Riri pun menoleh seketika langsung membulatkan matanya.
BRUK
"Arrghhhhh" pekik Riri saat akan berlari namun tersandung oleh kaki orang.
"Siapa kau?! beraninya masuk ke sini!" teriak sang wanita pada Riri.
"Nona, nona sebaiknya pergi dari sini" ucap penjaga itu dengan membantu Riri berdiri.
"Tunggu!" pekik wanita itu pada penjaga.
"Siapa kau? berani masuk ke sini tanpa izin!" tanya wanita itu dengan menatap tajam pada Riri.
"A...ku.."
PLAK!
Wajah Riri di tampar oleh wanita itu sehingga membuat Riri menoleh ke kanan karena tamparan itu sangat kuat.
"Berani kau menjawab ku! hahh!" teriak wanita itu.
Riri kini sudah tidak sabar lagi, dirinya ingin sekali menampar wanita itu namun tangannya di pegang oleh security itu.
"Penjaga! keluarkan wanita ini, lempar dia ke jalanan!" titah wanita itu dengan berteriak.
"Cukup! kau sudah keterlaluan! kau ingin tahu aku siapa! hahh!" teriak Riri pada wanita tersebut.
"Hahaha!!! siapa memangnya kau? kau hanya wanita biasa, lihatlah pakaianmu! tidak modis!" ucap wanita itu tertawa menyeramkan.
"Pergi dari sini, penjaga! cepat usir wanita ini!" ucap wanita itu.
"Baik nona"
"Ada apa ini?" tanya seseorang yang berada di belakang orang orang, semua orang pun cepat minggir dan memberi jalan.
"Kak Leo!" teriak Riri dan langsung berlari ke arah Leo dan memeluknya.
DEGH!
Wanita yang tadi memaki Riri pun langsung terkejut dan merasa tidak percaya
"Alice! kenapa kau ada di sini?" tanya Leo bingung.
"Aku mengantarkan makan siang untukmu" jawab Riri menunjuk kotak makan yang tergeletak.
"Kenapa dengan pipimu? kenapa memerah?" tanya Leo dengan mengusap pipi Riri.
"Aku di tampar kak" jawab Riri, Leo pun langsung melebarkan matanya terkejut dengan ucapan Riri.
"Apa?! siapa yang melakukannya?!" tanya Leo dengan berteriak.
"Wanita itu" tunjuk Riri pada wanita tadi.
Sedangkan wanita tersebut hanya menunduk, merasa takut pada Leo bosnya itu.
"Dia menamparku dengan keras, bahkan bajuku di hina olehnya" lanjut Riri lagi.
"Apa? dia yang melakukannya?!" tanya Leo sekali lagi pada Riri, Riri pun hanya mengangguk saja.
"PENJAGA! CEPAT BAWA WANITA INI KELUAR! LEMPAR DIA KE JALANAN!" Perintah Leo pada penjaga, seketika penjaga pun langsung berdiri di hadapan Leo dan langsung menarik wanita tersebut.
"Ti...tidak! tuan! ku mohon maafkan saya! saya tidak tahu jika dia adik tuan! mohon ampuni saya!" teriak wanita tersebut meronta ronta pada Leo.
"Ckk, lihatlah, tadi dia seperti pemilik perusahaan ini, sekarang dia seperti orang yang gila memohon seperti itu!" ujar karyawan yang melihat wanita itu memohon.
"Ya, kau benar, aku juga rasanya ingin sekali melemparnya ke jalanan, jika bisa aku saja yang melakukan tugasnya pak Leo!" balas karyawan lainnya.
"Lihat dulu, apakah pak Leo akan memaafkan atau membunuh wanita si*alan itu!" ujar lainnya.
"Ku mohon tuan, saya minta maaf atas perlakuan saya!" ucap wanita itu dengan berlutut di hadapan Leo.
Leo yang sudah kesal dan marah, memegang dagu wanita tersebut dengan menekannya.
"Kau sudah membuat adikku kesakitan! kau akan menerima hukuman dariku setelah kau pergi dari sini! pergi lah sebelum aku yang menendangmu dari sini!" ancam Leo menatap tajam pada wanita tersebut.
"Tuan ku mohon"
"Diam!!!" sela Leo dan mendorong wanita itu sehingga terjungkal.
"Bawa dia pergi" perintah Leo pada penjaga, mereka pun langsung menarik paksa wanita tersebut, wanita itu terus meronta meminta maaf dan memohon pada Leo, namun Leo yang sudah di batas puncak kekesalannya tak menggubrisnya.
"Apa kalian lihat lihat?! cepat pergi bekerja!" teriak Leo pada semua karyawannya, mereka yang tak mau kena batu pun langsung pergi dengan berjalan menunduk.
"Dan kau? kau di pecat!" ucap Leo pada security itu, security itu pun langsung membola matanya karena kaget dan sadar akan kesalahannya.
"Tuan, saya mohon, jangan pecat saya, jika saya di pecat lalu bagaimana dengan anak istri saya?" ucap security itu dengan berlutut di hadapan Leo.
"Sebelum kau memohon, sadarkan dirimu dulu! apa kesalahanmu!" ucap Leo.
"Tuan saya benar benar minat maaf! tolong jangan pecat saya, saya hanya melakukan tugas saja!" ucapnya terus memohon.
"Kak, maafkanlah dia, memang benar dia hanya melakukan tugasnya kan!" ucap Riri memberi nasehat.
"Kau tidak ingat perlakuannya padamu?"!tanya Leo menyadarkan Riri.
"Aku tahu, Alice tahu kak, tapi Alice mohon, maafkanlah penjaga itu, kasihan dia, bagaimana jika aku yang berada di posisinya?" ucap Riri.
"Hummm, baiklah" ucap Leo menyerah.
"Kau boleh pergi sekarang!" ucap Leo pada security.
"Saya di pecat tuan?" tanyanya polos.
"Tidak, lanjutkan pekerjaanmu" jawab Leo.
"Benarkah? terimakasih tuan, terima kasih nona, mungkin jika nona tidak membujuk tuan, pasti saya sudah luntang lantung mencari pekerjaan" ucap penjaga itu bersujud lalu menatap ke arah Riri.
"Sama sama pak" ucap Riri.
"Sudahlah, ayok Alice kita ke ruangan kakak" ajak Leo, lalu di angguki oleh Riri.