
Kini semuanya sudah membaik, Rara dan kakek neneknya sudah pulang bersama, hanya tinggal Aryan, Hana dan daddy-nya yang menemani Riri.
Permasalahannya sungguh rumit, Reza yang pergi entah kemana membuat Riri dan Hana khawatir, entah pergi kemana Reza saat ini.
"Bunda, apa kita telpon saja kakak?" tanya Riri yang sudah bangun sejak tadi.
"Tidak apa apa Riri, jangan khawatir dia sudah besar" balas Hana mengelus rambut Riri.
"Aryan, kau bisa pulang sekarang, sudah beberapa hari ini kau tidak pulang kan!" ucap Riri pada Aryan yang selalu berada di sampingnya.
"Tidak, aku tidak mau Cherry, karena aku hanya ingin bersamamu sampai sembuh" balas Aryan yang memang tak mau jauh dari Riri.
"Iya tuan Aryan Mahesya, kau akan lelah jika di sini terus menerus, setidaknya pulang ke rumah lah dulu, agar tuan Mahesya dan nyonya Mahesya tidak terlalu khawatir, terlebih kau putra sulung mereka" timpal Daddy Hana Farel.
"Iya, terima kasih sudah menjaga putriku, kau bisa pulang dan kembali lagi besok" timpal Hana kini.
"Tapi aku hanya ingin disini, pagi pula mommy dan daddy-"
"Aryan, aku khawatir kau yang akan jatuh sakit nanti jika tidak menjaga dirimu sendiri" sela Riri.
"Tidak apa apa, aku baik saja"
"Jangan membantah Aryan, cepatlah pulang dan kesini lagi besok!" ucap Riri dengan tersenyum lebar.
"Hmmm baiklah, aku akan pergi, Cherry jaga baik baik dirimu, jangan terlalui lama duduk" ucap Aryan lalu pamit kepada kakek Riri dan bundanya.
"Aku pergi dulu, tuan Ryn nyonya Maxwell!" ucap Aryan lalu mencium kening Riri di depan mereka, Hana yang ingin mencegah tak jadi karena tangannya di cekal oleh Farel.
Aryan pun pergi dari ruangan Riri, dirinya tak mau menyiakan waktunya, dan lebih memilih ke rumah untuk beres beres dan pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan, sebenarnya Aryan juga kasihan karena nikil sendirian yang melakukan pekerjaan, dan sekarang setidaknya setengah hari ini ia bisa membantu sedikit.
"Aryan, sayang kamu sudah pulang" teriak Gista pada Aryan saat melihatnya.
"Iya mom, bagaimana keadaan mu?" tanya Aryan.
"Mommy baik baik saja, bagaimana keadaan Riri? mommy merasa bersalah padanya sayang" ucap Gista dengan sedih.
"Tidak apa apa mom, lagi pula ini di luar dugaan!"
"Iya, tapi mommy tetap bersalah karena sudah menuduhnya, apalagi pada Rara, membuat mommy tidak enak padanya"
"Tidak apa mom, sudah ya aku akan beres beres dulu, lalu pergi berangkat bekerja!" pamit Aryan mommynya.
"Baru pulang kau sudah mau bekerja Aryan? jangan dulu bekerja nak, kau butuh istirahat, sudah beberapa hari kau selalu di sana, pikirkan kesehatan mu sayang!" ucap Gista menasehati Aryan.
"Tidak mom, aku di sana selalu menjaga diri sendiri" balas Aryan lalu berjalan ke kamarnya yang berada di atas.
"Kau terlalu mencintainya sayang, semoga saja dia juga membalas cintamu dan menikah dengan mu" gumam Gista pelan.
Reza kini sedang berada di hutan, wanita itu viona, masih belum di bebaskan karena Reza yang belum datang, sehingga viona menahan sakitnya, dirinya hanya di beri obat penawar hilang rasa sakit, namun tentu saja saat waktu tiba dirinya akan semakin sakit.
Tuk tuk tuk
Suara sepatu mendekat ke arah viona dengan nyaring, lagi lagi viona merasa ketakutan jika Hana kembali dan menyiksanya.
"Bagaimana Vio? apa kau baik baik saja?" tanya Reza dengan senyum licik di wajahnya.
"Oh! maaf, kau pasti sangat tersiksa kan, ya ampun aku sangat tidak menduga hal itu"
"Akhirnya kita bertemu lagi vio, setelah sekian lama aku tidak melihatmu, ya ampun sungguh mengagetkan ku ketika kau membuat adikku celaka!" ujar Reza terus menerus.
"Ishh, tanganmu kenapa sampai seperti itu Vio? apa karena bundaku?" tanya Reza terus menerus meskipun tahu bahwa viona di bekap mulutnya.
"Baiklah, aku buka ikat dulu, karena pasti kau ingin mengatakan sesuatu" ucap Reza lalu membuka kain yang mengikat di mulutnya.
"Dasar kalian!! kalian benar benar pencundang!!" teriak viona menggema di ruangan itu.
"Aku tidak akan memaafkan kalian!!!"
"Aku tidak akan menyerah sampai membunuh kalian semua!" teriak viona yang memang kesal pada dirinya sendiri.
"kalian semua telah membunuh daddyku dan mommyku, kalian harus tersiksa di neraka!"
PLAK PLAK!
Reza yang kesal karena viona terus berteriak membuat telinganya berdengung.
"Yang harus ke neraka adalah dirimu! kau telah membuat adikku dalam bahaya, kau telah membuat Riri terbaring di kamar rumah sakit!" teriak Reza dengan marah.
"Hahaha, aku ingin dia mati, mati sampai tersiksa, aku hanya membalaskan dendam pada Riri dan juga kau! Hana! dan semuanya!! keluargamu akan aku bunuh!!"
PLAK
Kini Reza bukan menampar tapi menghampar viona hingga terjungkal dengan kursinya.
Reza berjongkok untuk mengucapkan sesuatu pada viona.
"Ingat viona! jika bukan karena bundaku! sekarang pun kau akan mati di tanganku hari ini!" ucap Reza lalu menepuk pipi viona berulang kali.
Reza pun keluar dari ruangan itu, dan menyuruh penjaga untuk membuang viona ke tengah jalan seperti orang gila.
"Bereskan semuanya!" ucap Reza pada pengawal dan langsung di angguki oleh mereka semua.
Reza kini mengendarai mobilnya sendiri tanpa pengawal yang biasa menemaninya, namun kini hatinya berkecamuk, dan lebih memilih ke rumah sakit, berharap Aryan sudah pergi dari sana
Reza masuk ke kamar rumah sakit Riri, dirinya sangat ingin bersama Riri kini.
"Kak" panggil Riri saat melihat Reza berada di depan pintu.
"Riri, bagaimana keadaanmu?" tanya Reza lalu duduk di kursi tepat di samping Riri.
"Aku baik kak, aku senang kau tidak apa apa, aku khawatir!" ucap Riri memeluk Reza dengan menatap sendu pada Reza.
"Dimana bunda dan grandpa?" tanya Reza yang tidak melihat mereka berdua tidak berada di kamar Riri.
"Mereka... aku tidak tahu, yang pasti bunda sedang berbicara pada grandpa!" jawab Riri karena memang dirinya tidak tahu apa apa tentang mereka semua.
"Wahh, ini kesempatan Kakak untuk menemanimu" ujar Reza dengan tertawa dan di ikuti Riri.
"Iya kak, aku senang kau disini" balas Riri dan mendekat pada Reza, dirinya ingin merasakan hal.tadi, entahlah dirinya sangat ingin mencium Reza.
Reza yang tahu Riri akan apa, dirinya segera menghentikan Riri agar tak berbuat senonoh.
"Jangan lakukan hal itu Riri, itu tidak baik!"
"Benarkah? lalu apa tadi?" tanya Riri menggoda Reza.
"Itu hanya ciuman biasa sayang" jawab Reza menyelipkan rambut Riri ke belakang telinganya.
"Hmmm, aku tidak tahu kakak jujur atau tidak yang pasti aku senang!" ucap Riri dengan riang.
"Benarkah? aku pikir aku mengganggu mu sayang" ucap Reza mengaitkan tangannya ke leher Riri.
"Tidak kak, kata siapa menggangu!"
"Ya kau selalu bersamanya terus menerus, bahkan aku sampai di pukul olehnya" Riri mengerti apa artinya dia, dan langsung memelas agar tak membahasnya lagi.
"Baiklah, ini sudah sore, bagaimana kalau kita makan bersama?" tanya Reza pada Riri dengan menunjukkan plastik pada Riri.
"Wahh, aku suka kakak seperti ini!" ucap Riri tertawa bersama Reza.
Mereka pun langsung makan, memakan apa yang di bawa Reza, Riri yang sudah sangat bosan karena makan dengan bubur terus menerus, membuatnya lahap menyantap makanan yang di bawa Reza.
"Pelan-pelan sayang, jika tidak kau akan tersedak" tegur Reza dengan menatap diri tersenyum.
"Aku sudah sangat bosan dengan bubur kak, sekalinya makan makanan luar, aku menjadi sangat lahap seperti orang kelaparan saja" bela Riri.
"Baiklah, lanjutkan makanmu" ucap Reza mengalah.