Love You My Wife

Love You My Wife
Rencana Pergi Ke Hutan



Bab 46


"Cucu grandmaaaa!!!!" teriak sang paruh baya sedikit berlari.


"Grandmaa!! jangan berlari!" ucap mereka berdua, seketika nenek itupun langsung berhenti.


"Grandma, kenapa berlari, bagaimana jika terjatuh?!" ucap Riri dengan khawatir.


"Maaf sayang, grandma sangat senang bertemu denganmu, sudah beberapa tahun kita tidak bertemu!" balas sang nenek bernama Agatha Christie Ryn.


"Baiklah grandma, asal jangan di ulangi lagi!" ancam Riri pada Agatha.


"Tentu saja sayang, oh ya, ayok masuk, Leonard sudah menunggumu dari semalam, dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu" ucap Agatha dan langsung menggandeng Riri untuk ke rumah.


"Alice! selamat datang sayang di kediaman Ryn!" teriak sang lelaki dengan merentangkan tangannya.


"Kak Leo!" panggil Riri dan tersenyum pada Leo.


"Alice, apa kabarmu hemm?" tanya Leonard setelah memeluk Riri.


"Aku baik kak, bagaimana keadaan kalian semua di sini?" tanya Riri.


"Aku di sini baik baik saja Alice, oh ya, sayang sekali Ainsley tidak ikut ke sini, padahal aku merindukannya juga!" ujar Leonard.


"Hahaha, lagi pula kenapa kak Leo tidak hadir saat kak Rara menikah, padahal acara sampai masuk televisi, tapi tidak mungkin sampai masuk televisi ke sini kan? hahaha!" tawa Riri dengan menutup mulutnya.


"Tentu saja, sudah lama aku tidak bergulat dengan Brian! huhffttt sekarang dia lebih sulit di temui dari sebelum dia pergi dari rumah bibi Hana" ujar Leo dengan nada kecil.


"Leo! ajak adikmu masuk ke dalam, dia pasti sangat lelah" sela Agatha pada Leonard.


"Tidak grandma, aku sangat senang bertemu dengan kalian semua" balas Riri dengan cepat.


"Baiklah, tapi kau harus istirahat dulu sayang, jangan terlalu lelah sangat!"


"Baiklah, ayok kita semua masuk, di sini sangat dingin sekali!" ucap Harry dan di angguki oleh semuanya.


Mereka pun masuk ke dalam mansion Ryn, mansion yang tampilan bernuansa negara Eropa itu sangat indah dan besar, mewah!


Callista, istri dari Harry, mempunyai anak tunggal yaitu Leonard.


"Hai Alice, welcomo to Ryn mansion" ucap Calista istri Harry dengan tersenyum.


"Aunt, aku sangat merindukanmu!" teriak Riri menggema di mansion itu.


"Aunty juga sangat merindukan mu Alice, apa kabarmu dan bagaimana kabar semuanya di negara S?" tanya Callista.


"Aku baik, semuanya baik aunty, bagaimana kabar aunty sekarang?" tanya Riri.


"Ohhh aunt baik sayang, hanya saja di mansion yang besar ini sangat kesepian sekali, hanya ada aunty dan mommy di sini!" jawab Calista dengan sedih.


"Makanya aunt, jangan hanya memiliki anak satu, harusnya aunty membuat anak sangat banyak, agar aunty bisa bermain dengan mereka semua!" ujar Riri dengan terkekeh.


"Ya ampun, kau pikir membuat anak itu gampang apa! ehh maksudku, kau pikir melahirkan gampang? tidak Alice!"


"Hahaha, iya aunty aku faham dan tahu"


"Oh ya, kau baru datang, lebih baik sekarang kau istirahat pasti sangat lelah setelah belasan jam di pesawat!" ujar Calista.


"Iya aunty, aunt ikut ya denganku ke kamar, aku sangat kesepian sekali" rengek Riri pada Calista.


"Baiklah kalau begitu, ayok kita ke kamar mu" ajak Calista.


"Mommy, aku ke kamar Alice dulu" pamit Calista pada Agatha, dan hanya di balas anggukan dan senyuman.


Mereka berdua pun lanjut mengobrol di kamar Riri dengan semangat, menumpahkan cerita cerita selama mereka tidak bertemu.


"Jadi kau? bagaimana Hem! pasti ponakan ku ini sedang dalam massa cinta cinta" ujar Calista dengan menggoda Riri.


"Aunty!!!! ya aku tidak tahu, apalagi bunda dan kak Reza! kau tahu kan apa sebabnya?!" ujar Riri dengan memanyunkan bibirnya.


"Tentu saja aunty tahu, tapi bukankah bundamu menyetujuinya?" tanya Calista lagi.


"Iya, tapi sekarang aku tidak tahulah, aku bingung huhffttt" ujar Riri dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


"Kenapa cintaku rumit aunty!!! kenapa tidak seperti mu saja, bertemu saling cinta menikah! sedangkan aku sangat rumit, bahkan aku pernah di tampar oleh mommy nya Aryan!" ucap Riri terceploskan.


"What?! kau di tampar? bagian mana yang menamparmu? akan aunty patahkan tangannya!" tanya Calista dengan serius dan memegangi pipi Riri.


"Bu..bukan maksudku seperti itu, itu hanya tidak sengaja aunty" jawab Riri


"Yang benar saja, tidak mungkin jika tidak sengaja! apa sangat sakit?" tanya Calista lagi.


"Baiklah, kau tidur saja Alice, oh ya aunty akan memasak dulu, nanti akan aunty bangunkan saat sudah selesai" ucap Calista dan di balas anggukan, setelah Calista pergi, Riri pun langsung tidur dengan terlentang.


__--__--__--__--__


Reza kini sudah berada di negara A, dirinya lebih fokus ke pekerjaan, meskipun kadang teringat pada Riri.


"Tuan, apa kita bisa melakukan meeting ini? Anda baru kembali tadi malam" ujar sekertaris nya itu dengan menatap Reza yang sedang melihat layar monitor.


"Tentu saja Andrew, kau tahu aku bagaimana dengan pekerjaan kan?!" jawab Reza dengan membalas tatapan Andrew.


"Baiklah tuan, akan ada pertemuan meeting nanti siang jam 11, dan pertemuan dengan klien saat jam 2 siang" ujar Andrew memberitahu Reza.


"Baiklah, kembalilah ke ruangan mu Andrew!" ucap Reza dengan melambaikan tangannya pada Andrew.


"Baik tuan" Andrew pun langsung keluar setelah pamit.


__--__--__--__--__--__--__--


"Riri!!!!!" teriak Leonard di kamar Riri.


"Kak Leo! berisik! jangan berteriak!" ucap Riri tak kalah nyaring dengan suara teriakan leo.


"Riri ayok kita pergi, kita akan pergi ke hutan, ishhh kenapa aku sangat geli ketika menyebut namamu 'Riri' ini?" ujar Leo terkekeh.


"Jangan panggil aku Riri jika itu membuatmu jijik!" balas Riri dengan memutar bola matanya.


"Baiklah baiklah, kau mau ikut sekarang atau tidak?" tanya leo kembali.


"Kemana?"


"Ya ampun! tentu ke hutan Alice! tidak mungkin aku membawamu ke negara Jepara!" ujar leo.


"Untuk apa ke hutan?"


"Kita bersenang senang, setelah sebulan kau di sini, tapi masih belum pergi kemana mana!" ujar Leo malas.


"Hei! siapa bilang? aku pergi berkuda dan memanah, lalu aku main badminton bersama aunty!" ujar Riri dengan masih menyisir rambutnya.


"Alah! itu hanya di belakang saja! jangan bilang kau sudah keluar jika masih belum melewati gerbang itu!" ujar leo dengan menunjuk pintu kamar Riri.


Riri pun langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


"Alice! kau mau kemana?" tanya Leo yang sedang duduk di kasur Riri.


"Kau kan bilang, jika masih belum melewati gerbang itu masih belum di sebut keluar! nah aku mau keluar agar bisa di sebut keluar!" ujar Riri dengan jelas, leo hanya terkekeh mendengar ucapan Riri, "Baiklah! silahkan kalau bisa!" ujar leo menantang.


Riri pun pergi dan melewati pintu kamarnya, setelah itu langsung kembali ke kamarnya lagi.


"Bagaimana Alice? apa bisa? hahahaha!" tanya Leo dengan tertawa terbahak-bahak.


"Tentu sudah kak Leo! aku sudah melewati pintu kamar ku!" jawab Riri.


"Yang benar saja Alice! hahaha"


"Hei kak! kau bilang jika aku berhasil Melawati itu, maka aku bisa di sebut keluar kan?" Leo hanya mengangguk, "Nah! aku sudah keluar pintu kamarku, karena kau yang menunjuk pada pintu itu" sambung Riri.


"Ya ampun Alice! maksud ku melewati gerbang! bukan pintu!"


"Kau menunjuk pada pintuku kak!"


"Ya tapi bukan berarti memang pintu!"


"Sudahlah! terserah kau saja, gara gara dirimu aku belum menyisir rambutku dengan selesai!" marah Riri pada Leo.


"Kalau mau, biar kak Leo saja yang menyisir!" ujar Leo, Riri pun langsung menengok ke arah Leo dengan tatapan tidak percaya.


"Mana ada laki laki yang bisa menyisir rambut wanita!"


"Hei, kau pikir kakakmu ini tidak bisa apa!" ujar Leo dengan bangga.


"Benarkah? kalau begitu buktikan sekarang!"


"Baiklah jika kau menantang"


Leo pun mengambil sisir dan meletakkan nya pada rambut Riri.


"Bagaimana ini? aku tida bisa menyisir rambut wanita!" gumam Leo.


Leo pun tetap menyisir rambut Riri, namun baru saja akan menurunkan sisirnya, terdengar suara yang melengking dari Riri.