
Mereka kini tertidur, cukup lama mereka tidur, saat malam, Riri merasa lapar dan Aryan pun kini telah memesan makanan, dan nikil lah yang di perintahkan Aryan.
"Aryan, kau harusnya tidak menyuruh pak nikil, dia pasti sudah lelah!" protes Riri saat nikil sudah memberikan makanan.
"Tidak apa apa, dia asistenku jadi harus menuruti perintahku sayang" balas Aryan.
"Aku pikir kau akan mengajakku jalan jalan, ternyata tidak, huhhfft" ucap Riri kesal dengan menghela nafas kasar.
Aryan langsung menarik Riri dan memindahkan nya ke pangkuannya.
"Aku akan mengajakmu, tapi nanti sayang" balas Aryan menatap matanya Riri, saat akan mendekat kan bibirnya, Riri langsung menghentikan nya.
"Aku lapar Aryan, sebaiknya kita makan dulu baru aku akan menciummu, cup" ujar Riri dengan mencium bibir Aryan sekilas.
"Baiklah ayok makan"
mereka pun makan dengan saling menyuapi, merasa bahwa kini alam semesta menakdirkan mereka berdua untuk hidup bersama.
Di kediaman Maxwell, Reza sudah berada di rumah ayahnya, Reza marah mengetahui Riri tidak ada di sini, dan Hana pun tidak mengatakan bahwa Riri pergi ke kantor Aryan, karena bagaimana pun Riri mencintai Aryan bukan Reza.
"Bunda benar tidak tahu?" tanya Reza berulang kali.
"Kau tidak percaya pada bunda Reza!" balasan yang membuat Reza hanya menghela nafas.
"Aku tidak percaya pada bunda, karena bunda selalu melakukan hal ini! kenapa bunda sangat menentang diriku! sudah aku katakan bahwa aku mencintai Riri bunda!" ucap Reza penuh dengan penekanan.
"Sampai kapanpun bunda tidak akan mengizinkanmu Reza, mengertilah bahwa sekarang Riri mencintai seseorang, dan seseorang itu bukanlah dirimu Reza!" ucap Hana dengan mengacungkan jari pada Reza.
"Aku tidak butuh cinta dari Riri, aku hanya ingin memilikinya, lagipula, Riri sudah mengatakan bahwa dia akan menikah denganku!" ucap Reza dengan seringai di bibirnya.
"Kapan Riri mengatakan hal itu? bunda tahu Reza kau memaksanya!" tegas Hana.
"Dari sekian banyaknya keluarga, hanya bundalah yang tidak merestuinya! kenapa bunda?!" teriak Reza kepada Hana, sedangkan semuanya yang berada di luar hanya bisa menghela nafas, setiap pulang pasti keributan ini yang terjadi.
"Reza sudah tidak terkendali Arif, kau harus melakukan sesuatu!" ucap Wisnu pada Arif anaknya.
"Aku tidak tahu ayah, yang pasti kini Reza semakin nekat" balas Arif hanya menundukkan kepalanya pasrah.
"Jika seperti ini terus maka hal ini akan terus berlanjut Arif"
"Suamiku tenanglah, lagi pula ada Hana yang menghalanginya" ucap Risma istrinya Wisnu.
"Tapi Risma, Hana tidak pernah bisa mengerti perasaan putranya sendiri, aku heran pada menantu kita, kenapa dia sangat egois" balas Wisnu memijit kepalanya yang sedikit pusing.
"Sudahlah, ayah, bunda, jangan berpikir keras, sebaiknya kalian ke kamar saja, biar aku dan Hana yang mengurusnya" ucap Arif menghentikan perdebatan antara ayah dan bundanya itu.
"Mengertilah Reza, sampai mati pun bunda tidak akan membiarkanmu untuk menikahi Riri?" ucap Hana menatap putranya tajam.
"Bunda, hahahaha, bunda, hahaha, meskipun bunda mengancam atau apa, yang pasti aku akan berusaha membujuk Riri untuk menikah dengan diriku" ucap Reza, mencium rambut bundanya, lalu pergi.
"Reza!!! tidak akan bunda biarkan itu terjadi!" teriak Hana kini yang menggema.
"Hahaha, bunda memang keras kepala, tapi aku lebih darinya!" ucap Reza pelan setelah keluar dari kamar Hana
Setelah dua hari, Reza masih mencari Riri, entah kemana Riri pergi.
Sedangkan Riri terus membujuk Aryan untuk membawanya pulang, mengizinkannya pergi, dan dengan segala cara akhirnya Riri pun di izinkan, tentu dengan syarat, Riri akan terus mencintainya.
Menurutmu Aryan sudah gila kan? hahaha, menurutku sih yes,, maaf Aryan ngehina oke!.
"Baiklah, Rara, aku akan mengantarnya, tapi kau harus terus mencintai diriku, jangan mencintai Alex, aku hanya ingin bersamamu" ucap Aryan, dengan memeluk Riri erat.
"Tidak akan Aryan, aku sangat mencintaimu, jika kau tidak percaya, harusnya kau melakukannya kemarin!" balas Riri dengan merengut.
"Tidak akan sayang, aku hanya ingin setelah kita menikah"
"Aku lebih mencintai dirimu Cherry!" balas Aryan, kini Aryan memanggil Riri dengan sebutan Cherry, bukan Rara lagi.
Kini Aryan dan Riri sedang berada di gerbang rumah Riri, Aryan yang selalu menghentikan Riri saat akan turun, membuat Riri pasrah, apalagi saat Aryan terus mencium bibirnya Riri, Riri pun selalu membalasnya.
"Aku mencintaimu Cherry!"
"Aku lebih mencintaimu cutty pie!"
"Ehhh siapa itu cutty pie?" tanya Aryan saat Riri mengatakan cutty pie.
"Kau cutty pie, aku memanggilmu seperti itu" jawab Riri dengan tawanya.
"Kau sudah berani rupanya Riri" ucap Aryan dan mengeleteki Riri membuat Riri tertawa geli.
"Sudah Aryan cukup!" ucap Riri menghentikan aktivitas Aryan.
"Baiklah, sekarang turunlah Cherry" ucap Aryan lalu Riri pun langsung turun karena tak ingin di hentikan lagi.
"Aku mencintaimu cutty! love you" ucap Riri kini berada di luar jendela mobil Aryan.
"Aku lebih lebih sayang" mereka pun ber***man kembali.
"Aku masuk dulu ya, bye Aryan"
"Hati hati" ucap Aryan membalas lambaian Riri.
Riri pun masuk ke rumahnya, di sana sudah ada Reza yang sedang teleponan bersama seseorang untuk melakukan pencarian pada Riri.
"Riri kau, kemana saja" ucap Reza yang langsung memeluk Riri.
"Aku baik kak! emmphh" balas Riri, sebelum Riri mengatakan apapun, Reza sudah menyumpal bibir Riri dengan bibirnya.
"Ahhh, kak, hentikan" ucap Riri saat Reza terus mencium Riri dengan tergesa gesa.
"Riri, ayok kita ke kamar" ajak Reza lalu menarik Riri, Riri yang tidak siap pun hanya mengikuti Reza.
"Lihatlah suamiku, Reza benar benar keterlaluan!" ucap Hana yang kesal melihat Reza langsung mencium Riri tanpa melihat ada siapa di dalam rumah.
"Biarkan saja, lagi pula mereka sudah seperti itu dari dulu!" balas Arif yang kesal istrinya masih saja tidak melihat Reza sangat mencintai Riri.
"Kau ini Arif, kenapa malah membela Reza"
"Sudahlah Hana, lagi pula kita tidak memandang tradisi, mau menikah dengan adik kakak atau sepupu juga tidak apa apa" ucap Arif,membuat istrinya semakin kesal dan pergi meninggalkan Arif sendiri disana.
"Hana kau terlalu keras kepala, sehingga tidak bisa melihat putramu sendiri mencintai Riri begitu besar!" gumam Arif pelan.
"Ada apa kak?" tanya Riri pada Reza yang kini sudah di kamar.
Reza mendorong Riri sampai Riri terjatuh ke kasur, Reza terus menciumi Riri, hilang akalnya membuat Riri risih dengan perlakuan Reza.
"Katakan Riri, kemana saja selama dua hari ini!" tanya Reza dengan menatap tajam pada Riri.
"A...aku hanya keluar sebentar kak"
"Keluar sebentar? keluar sebentar itu hanya beberapa jam Riri bukan beberapa hari!" bentak Reza membuat Riri menutup matanya.
"Riri, kakakmu ini begitu khawatir, kau tahu musuh di luaran sana berkeliaran dimana mana!" teriak Reza pada Riri membuat Riri kini menangis.
"Jangan menangis Riri, kakak khawatir" ucap pelan Reza yang merasa dirinya sudah keterlaluan.
"Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kak Reza seperti ini!" ucap Riri tersedu sedu.
"Sudahlah, maafkan aku sayang, jangan menangis ya, cup cup cup" ucap Reza mengelus rambut Riri dan memeluknya.