
"Rara, jangan tutup matamu" ucap Luna yang masih menepuk pipi Riri.
"Cepat panggil ambulan" teriak seseorang
"Sudah, barusan aku memanggilnya, mungkin beberapa menit lagi akan sampai" jawab wanita itu.
"Ya ampun Rara, bagaimana bisa ini terjadi padamu, jangan dulu tutup matamu Rara! bertahanlah" ecoh Luna agar Riri tetap tersadar.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ambulan pun tiba, untung saja hari ini tidak terlalu macet, dan langsung bisa di bawa ke rumah sakit
Luna yang bingung harus mengatakan pada siapa dulu pun, akhirnya mengambil telpon Riri dan menghidupkannya dengan sidik jari Riri.
Luna yang bingung harus yang mana.
"Bunda? ohh ya ini mungkin bundanya Rara, aku telpon dulu saja!" gumam Luna, lalu mengklik telpon Hana.
Drrtttt... Drrttt....
"Siapa yang menelpon?" tanya Arif yang kini sedang di kamar bersama Hana.
"Tidak tahu, aku akan mengangkat telpon dulu" ucap Hana lalu melangkah untuk mengambil handphone nya.
Hana yang bingung menautkan alisnya, dan di ikuti oleh suaminya juga.
"Siapa?" tanya Arif.
"Ck, dasar anak ini, Riri menelpon ku sayang, padahal kita serumah" jawab Hana dengan tertawa.
"Angkat saja dulu, mungkin dia tidak ingin mengganggu saja"
"Dasar kau Arif, pikiranmu!" ujar Hana dengan mengalihkan pandangan nya.
Hana pun menjawab telpon dari Riri, setelah mengatakan hallo, Hana langsung di kejutkan oleh suara asing, yang mengatakan bahwa Rara kecelakaan, yang artinya Riri lah yang mengalaminya.
Hana langsung menjatuhkan handphone nya itu dan terduduk lemas, Arif yang melihat Hana Tiba tiba seperti itu, langsung berdiri dan membawa Hana untuk duduk di kasur.
"Ada apa sayang?" tanya Arif yang aneh melihat istrinya seperti itu.
"Arif! hiks hikz, Riri! dia...dia sedang berada di rumah sakit sekarang haaaaa!" jawab Hana dengan terbata bata.
"Apa?!"
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Arif namun Hana menggeleng.
"Baiklah, ayok kita ke rumah sakit langsung, tapi jangan katakan apa apa pada ayah dan bunda!" ucap Arif lalu memapah Hana untuk berjalan.
"Mommy jangan mengatakan apa apa!" pinta Aryan pada Gista, karena Gista berencana untuk menghina Rara, Agara tidak di anggap di keluarga ini.
"Lihat saja Aryan, jangan mengacaukan nya!"
"Ayok kita turun, sebentar lagi makan siang di mulai" sambung Gista, lalu berjalan tanpa memperdulikan Aryan lagi.
Albert ayah dari Dian dan Seno, kini mereka sudah berada di kursi mereka masing masing, dan menikmati makan siang bersama.
"Selamat siang kek" sapa Aryan pada Albert, namun matanya melihat ke arah Rara yang sedang berbicara pada Alex dengan tersenyum.
'Pemandangan yang harus di hapus, membuatku jijik melihatnya!' batin Aryan dengan menatap sinis ke dua orang itu.
"Pak Aryan, selamat siang" sapa Rara dengan menundukkan kepalanya.
Sapaan itu hanya seperti angin saja bagi Aryan, tak melirik apalagi membalas.
"Duduklah sayang" ucap Alex menarik tangan Rara, Rara pun merasa ada yang aneh dari tatapan Aryan, namun dia selalu berpikir, bukankah dari dulu seperti itu, sapaan hanya di balas dengan deheman, pikir Rara.
"Ayok semuanya, selamat makan" ucap Albert dengan berteriak.
"Selamat makan" jawab semua orang kecuali Rara dan Aryan, Rara tentu saja dia tidak tahu, karena ini pertama kalinya, dan Aryan tentu saja malas apalagi melihat Rara di sana.
Arif dan Hana, kini mereka telah sampai di rumah sakit, menanyakan ke resepsionis.
Saat mencari Riri, Hana bertemu dengan Luna, dan Luna pun langsung menghampiri Hana.
"Bu, apakah kau bunda nya Rara?" tanya Luna dengan menatap Hana sedang menangis.
"Iya, apa kamu yang menelpon saya?" tanya balik Hana.
"Iya Bu, saya temannya Rara, dan ini handphone dan tas nya Rara" ucap Luna dengan menyodorkan tas nya Riri.
"Terima kasih, terima kasih karena sudah mengantar Riri kemari!" ujar Hana dengan mengelus wajah Luna pelan.
"Tentu saja Bu, dia temanku, meskipun kami tidak terlalu dekat" balas Luna, dengan menurunkan tangan Hana dari wajahnya dan mendudukkan Hana.
"Keluarga pasien bernama Rara!" tanya dokter dengan berteriak.
"Iya dokter saya keluarganya" sahut Hana dan Arif.
"Pasien kehilangan banyak darah, jadi apa ada yang bisa mendonorkan darahnya?"
"I..iya dokter suami saya sedarah dengan anak saya" jawab Hana dengan bergetar saat mengatakan hal itu.
"Tapi, apa tuan mempunyai penyakit diabetes dan darah tinggi?" tanya dokter lagi.
"Iya saya memang mempunyai penyakit itu" jawab Arif.
"Maaf tapi kami tidak bisa melakukan nya, karena sangat berbahaya" ucap dokter itu.
"Apa disini tidak ada darah?" tanya Luna.
"Tidak, sekarang darah A+ itu sedang tidak ada, tapi di rumah sakit lain ada, jika memang tidak ada yang bisa melakukannya, maka kami akan mengambil darah dari rumah sakit, namun membutuhkan waktu yang lama" jawab dokter itu dengan jelas.
"Arif, telpon Rara, dia memiliki darah yang sama, andaikan Reza ada disini" ucap Hana lalu duduk karena lemas, dan menyesal karena Reza pergi hari ini.
"Baik" ujar Arif.
Kehebohan yang dilakukan Gista membuat semuanya kembali ricuh, apalagi Albert yang termakan oleh hasutan Gista.
"Wanita ini! dia ular yang mengacaukan kehidupan putra ku!" ujar Gista dengan menatap sinis pada Rara.
"Tidak mommy! Rara tidak seperti itu!"
"Apa kau buta Alex? dari Vidio itu jelas jelas Rara melakukannya dengan Aryan!" sela Gista dengan puncak amarahnya.
Sedangkan Aryan hanya diam menutup matanya karena merasa pusing.
"Tidak mommy, yang ada dalam Vidio itu bukan Rara tapi-" sebelum Alex melakukannya, Rara memegang tangan Alex dengan erat seolah jangan berbicara lagi.
Rara menggeleng kan kepalanya, dia tak mau Reza marah kepadanya, tentu saja, Reza memang baik, tapi mana mungkin Reza akan selalu baik padanya, dia tahu Reza orang yang sangat pemarah dan orang yang kejam pada orang lain.
"Apa? kau tidak bisa berkata kata lagi?" tanya Gista dengan tersenyum puas.
Drrrtt...Drrttt...
Handphone Rara berbunyi beberapa kali, dia ingin mengangkat nya, namun tentu saja tidak sopan mengangkat telpon saat orang lain sedang berbicara.
Alex melihat handphone Rara terus bergetar, dan mengkode untuk mengangkatnya, Rara melihat kepada semua orang, kini yang kecewa bukan hanya Albert kakeknya, tapi semuanya yang ada di sana.
Rara mengangkat telponnya, dan entah kenapa air matanya mengalir begitu saja.
"Alex!" panggil Rara dengan pelan, Alex pun menoleh pada Rara yang sudah bercurai air matanya.
"Ada apa?" tanya Alex, mereka yang melihat reaksi Alex dan Rara pun menjadi aneh.
"Riri, di...dia, hikz hikz" lirih Rara menangis agar tidak terlalu bersuara.
"Bawa aku ke rumah sakit Alex," sambungnya.
"Ada apa dengan Riri?" tanya Alex membuat semuanya mendengar nama Riri.
"Dia..dia sekarang berada di rumah sakit"
"Apa?!" teriak Alex yang terkejut.
"Baiklah, ayok kita berangkat sekarang" ujar Alex lalu pergi meninggalkan mereka semua, Seno dan Thalita pun ikut dengan mereka.
"Sudah sayang, jangan menangis, Riri pasti baik baik saja!" ucap Alex menenangkan Rara.
"Alex, dia adikku, aku tidak mungkin tidak menangis" ucap rara dengan nada tinggi.
"Baiklah maafkan aku sayang"
Beberapa saat kemudian Rara dan Alex pun tiba di rumah sakit, Alex yang masih belum menyadari bahwa Thalita dan Seno mengikuti dirinya di belakang.
"Rara, sayang, Riri membutuhkan darahmu, kau tahu ayahmu tidak bisa melakukannya dia mempunyai penyakit diabetes" ucap Hana dengan memohon.