Love You My Wife

Love You My Wife
Insiden



"Aunty, apa sudah beres?" tanya Riri pada Calista.


"Iya, aunty juga sudah membeli beberapa barang untuk Nana bundamu dan keluarga Maxwell.


"Ohhh bagus aunty, berarti aku tidak perlu memilih barang lagi, ayok pulang aku sudah sangat letih sekali" ucap Riri menggandeng Calista.


"Baiklah sayang, ayok"


Mereka pun pulang karena sudah beres memilih barang oleh oleh untuk keluarga Maxwell.


Setelah sampai mereka pun langsung masuk sedangkan para bodyguard menenteng tas barang belanjaan mereka.


"Dari mana saja? kenapa tidak mengajak grandma?" tanya Agatha saat melihat Calista dan Riri masuk ke rumah.


"Maaf grandma, aku tadi mencari grandma, tapi tak aku temukan, jadi Alice pergi saja dengan aunty" jawab Riri dengan memeluk Agatha.


"Tetap saja Alice, kau tidak mengajak grandma terutama dengan shopping, harusnya tanyakan pada pelayan di rumah ini" ucap Agatha.


"Ya ampun grandma! apa grandma marah padaku, maafkan aku ya, aku tidak mengajak grandma" bujuk Riri terus menerus.


"Mommy, lihatlah wajah sedihnya, maafkanlah Alice" mohon Calista dengan menunjuk Riri.


"Baiklah grandma maafkan" ucap Agatha lalu memeluk Riri.


"Terima kasih grandma"


__--__--__--__--__--


"Hallo Basir, kau lakukan sekarang, telpon temanmu juga agar rencananya lancar" ucap sang penelepon pada bodyguard Arif yang menyamar.


"Baiklah, aku akan lakukan sekarang" ucapnya.


"Baiklah sudah dulu, aku sedang di tunggu oleh tuan Maxwell" lanjut Basir, setelah menutup telpon, Basir sang bodyguard odong odong itu keluar dari toilet, karena tadi dia izin untuk ke toilet.


"Sudah?" tanya Arif.


"Sudah tuan, maafkan saya membuat tuan menunggu" ucapnya dengan menunduk.


"Sudahlah tidak apa apa, saya mau pulang sekarang, tolong kalian siapkan" ucap Arif pada bodyguard nya yang berjumlah empat orang.


Setelah mendapat perintah dari Arif para bodyguard langsung melaksanakan perintahnya, Basir yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan nya pun langsung kembali ke atas ruangan Arif.


"Siapa di sana?!" teriak Arif yang mendengar suara aneh.


Pintu ruangan di tendang membuat Arif sedikit tersentak karena kaget.


"Siapa kalian?!" tanya Arif melihat segerombolan orang masuk ke ruangan Arif.


"Hahaha, saya orang yang akan membuat anda terbaring di rumah sakit" ucap Basir dengan membuka topengnya.


"Kau! siapa kalian sebenarnya?!" tanya Arif lagi.


"Sudah saya katakan, kami yang akan membuat anda terbaring di rumah sakit, tuan William yang menyuruh kami" jawab Basir dengan tertawa.


"Siapa William?!" tanya Arif dengan membentak, dirinya memang tidak tahu siapa itu William.


"Dia bos kami, menugaskan kami untuk membuat anda terbaring di rumah sakit!" ucap salah satunya lagi.


"Sudahlah! jangan menjawab pertanyaan-pertanyaannya lagi, cepat habisi dia!" titah Basir, mereka pun langsung memukul Arif namun Arif masih bisa melawan dan menangkis semua pukulan.


Sampai akhirnya Basir kesal karena teman temannya itu tidak bisa melawan satu orangpun, Basir langsung memukul bagian kepala Arif, membuat Arif kesakitan dan tak bisa melawan mereka lagi.


"Cepat hajar dia sampai babak belur!" titah Basir, mereka pun langsung memukul Arif tanpa ampun, ke 3 bodyguard Arif kini sudah menyiapkan mobil dan langsung ke atas ruangan, Basir yang melihat itu langsung berdrama seolah dirinya tidak bisa menjaga Arif tuannya.


"Hei kau berani sekali kalian!" teriak Basir, berpura pura dirinya kesakitan sehingga dirinya jatuh ke lantai.


"Hei, kenapa kau?" tanya bodyguard melihat Basir duduk di lantai dengan pipi yang berwarna pink.


"Ada orang yang memukulku dan tuan, mereka sudah pergi" jawab Basir.


"Apa? lalu dimana tuan sekarang?" tanyanya lagi.


"Di dalam, keadaannya sangat parah" jawabnya.


Setelah sampai di rumah sakit, bodyguard pun langsung menelpon ke nomor telepon Hana, Hana yang kaget langsung limbung dan menangis tersedu-sedu, setelah menguatkan dirinya, Hana pun langsung pergi dari rumah menuju rumah sakit.


"Di mana suamiku sekarang?" tanya Hana dengan berteriak.


"Nyonya, tuan berada di ruang UGD, keadaannya sangat parah" jawab bodyguard.


Hana langsung pergi dan menunggu dokter selesai merawat Arif, dirinya sangat ketakutan , takut jika kehilangan suaminya itu.


"Bagaimana bisa itu terjadi?!" teriak Hana.


"Kalian saya bayar untuk menjaga suamiku! bukan untuk membuat suamiku seperti itu!" lanjutnya dengan menunjuk ruang UGD.


"Maaf nyonya, kami tidak tahu sama sekali" ucap bodyguard itu dengan menunduk.


Hana melihat salah satu bodyguard yang merasa ganjal di hatinya, Basir, ya Hana sedang melihat Basir dengan tatapan aneh dan tajam.


"Kau! kau ikut saya!" perintah Hana menunjuk pada Basir, Basir langsung tersentak karena takut dirinya ketahuan.


"Ma...maaf nyonya, saya tidak tahu" ucap Basir gugup.


"Jika tidak tahu, kau tidak akan sampai terluka seperti itu!" sinis Hana.


"Ikut aku, jangan membantah!"


Sang bodyguard hanya pasrah mengikuti Hana, di lorong gelap, Hana berhenti dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Basir, dan di jawab dengan kebohongan pastinya, kek mantan.


"Baiklah kau pergi, suruh salah satu bodyguard untuk menemui ku di sini!" titah Hana dan di angguki oleh Basir.


Salah satu bodyguard pun datang dengan wajah ketakutan, karena tentu dirinya dan teman temannya lah yang akan terkena imbasnya.


"Nyo...nyonya, sa..saya datang" ujar bodyguard itu menunduk takut.


"Ceritakan kronologi nya, bagaimana bisa itu terjadi?" titah Hana, bodyguard itu makin ketakutan karena nyonya nya menanyakan kejadian tadi.


"Nyonya, sa...saya sebenarnya pergi mengecek kondisi, itu tugas kami ketika tuan akan pulang, karena takut ada yang menyabotase mobil tuan, saat kami mengecek, kami hanya bertiga, Basir tidak ikut dan saya tidak tahu, setelah selesai kami pun kembali ke ruangan tuan, saat berada di depan pintu, Basir meringis kesakitan, lalu kami menanyakan pada Basir kenapa, dia menjawab bahwa dirinya di serang segerombolan orang orang dan kami melihat tuan terluka sangat parah kami pun langsung..."


"Cukup! saya tahu siapa dalang di balik serangan ini!" potong Hana.


"Kawan, sepertinya masalah ini sangat tidak berpengaruh, bahkan aku mendapatkan tatapan intimidasi dari nyonya Hana, sangat menyeramkan!" ujar Basir di telepon.


"Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum mereka mengetahui yang sebenarnya" ucap temannya di sebrang telpon.


"Baik, aku akan pergi sekarang" ucap Basir dan langsung menutup teleponnya, Basir langsung berjalan cepat pergi karena takut ketahuan.


"Kau! mau kemana?" tanya Hana dengan suara biasa, Hana melihat Basir yang seperti ingin melarikan diri pun langsung menghentikan nya.


"Nyonya, sa.. saya mau ke toilet" jawab basir.


"Bukankah itu jalan keluar?" tanya Hana tersenyum sinis.


"Emmm nyonya, saya lupa"


"Ohhhhhh, lupa?" ucap Hana mengangguk anggukan kepalanya.


"Cepat bawa dia ke rumah, dan tanya pada ibuku di mana ruang bawah tanah itu, masukkan dia ke dalam sana!" titah Hana dengan marah.


"Nyonya, nyonya, saya tidak melakukan apa apa!" ucapan Basir ketakutan.


"Apa kau bilang? kau tidak melakukan apa apa? lalu siapa yang memukul suamiku jika bukan kau?!" tatapan sinis Hana membuat Basir merinding dirinya sangat ketakutan melakukan hal bodoh seperti ini.


"Nyonya, saya tidak melakukannya!" teriak Basir meronta ronta.


"Cepat bawa dia! jangan sampai melepaskannya!" teriak Hana, para bodyguard pun langsung mengikuti perintah Hana.


"Saya tidak melakukannya!"


"Jangan memfitnah saya!" teriak Basir terus menerus.


"Saya mohon nyonya!" Hana pun menulikan telinganya, dan segera pergi menunggu Arif di ruang UGD.