Love You My Wife

Love You My Wife
Permintaan Persetujuan



"Daddy aku tidak tahu, aku hanya tahu namanya dan aku juga ingat wajahnya, aku akan berbicara padanya Daddy, aku mohon maafkan aku, jangan bunuh anakku Daddy!" ucap Alena memohon mohon pada Dian.


"Suamiku, tolong jangan berbuat apapun pada anakku! di dalam kandungan nya juga cucumu" ucap Gista pada suaminya itu.


"Kau! harusnya jaga Alena dengan benar! dia bisa saja menghancurkan martabat kita!" bentak Dian.


Dian sebenarnya tidak ada niatan untuk membunuh calon cucunya itu, tapi dia harus menikahkan putrinya dengan seseorang atau ayah dari bayi itu.


"Daddy beri waktu untukmu Alena! dalam waktu seminggu! kau harus membawa laki laki b*jing*n itu ke sini!" Ucap Dian dan berdiri untuk pergi.


"Hiks hiks hiks"


"Alena, sudah sudah jangan menangis" ucap Gista memeluk putrinya itu.


"Tenang saja Alena, jika kau mau kakak akan membunuh laki laki itu" ucap Rian mengelus rambut Alena.


"Kakak, jangan lakukan apa apa, aku mencintai dia kak" ucap Alena memohon pada Rian.


"Apa?! berapa kali kau bertemu dengan nya?" tanya Rian kaget.


"Aku sudah beberapa kali, hanya saja aku tidak berani bertemu dengannya" ucap Alena terus terisak.


"Ya sudah, mommy, antarkan Alena ke kamarnya, aku akan pergi dulu" ujar Rian memijit pelipisnya pusing atas kejadian ini.


"Ayok sayang, lebih baik kau istirahat, usia kandunganku masih rentan, jangan membuat dirimu kelelahan" ucap Gista pada Alena.


__--__--__--__--__--__--__--__


"Siapa kau?" tanya Riri dengan penuh penekanan.


"Kenapa kau, selalu saja berada dalam benakku?! Siapa sebenarnya kau? Hahh?!"


"Aku, maaf kan aku Cherry, aku tidak berniat seperti itu" Ucap Aryan bingung.


"Apa? Katakan yang jelas!" teriak Riri


"Kau ingin mendengar jawabannya?"


"Kalau begitu akan aku jawab!"


Aryan pun mulai mendekat pada Riri, membungkam bibir Riri dengan bibirnya, pagutan lembut itu membuat Riri menjadi terbuai, entah dirinya harus bereaksi apa, yang pasti hatinya kini tak mau lagi berjauhan dengan Aryan.


"Kau sudah mendapatkan jawaban nya kan?" Tanya Aryan pada Riri.


"A...ku, aku tidak tahu!" Ucap Riri terbata bata dan membelakangi Aryan.


Aryan langsung mencekal tangan Riri agar tidak langsung pergi.


"Aku sangat mencintaimu Cherry, bahkan sangat mencintaimu sehingga aku tidak bisa hidup tanpamu" ujar Aryan mendekat pada Riri yang membelakanginya, mengendus rambut harum milik Riri.


"Kenapa diam saja?" Tanya Aryan meletakkan dagunya di pundak Riri dan memejamkan matanya.


"Aku...."


"Susttttt, diamlah, aku senang seperti ini, jangan tinggalkan aku lagi Cherry, ku mohon, kau membuatku hidup tanpa raga dan jiwa, aku bagaikan hidup tapi seperti orang yang mati karena kau melupakan diriku" ucap Aryan mencium leher Riri dan mengendusnya.


"Maafkan aku, aku benar benar tidak tahu, akupun bingung dengan diriku Aryan, apa aku sakit jiwa? Apa aku tidak normal?" Ucap Riri membalikkan badannya dan menatap Aryan dengan sedih.


"Tidak, kau sehat, kau tidak sakit, hanya saja kau lupa tentang kita dan orang orang di sekitarmu" ucap Aryan menenangkan.


"Aku... Jika benar seperti itu, berarti aku gila Aryan, aku mencoba mengingatnya tapi aku malah merasa sakit dan tak bisa mengingat semuanya" ujar Riri dengan menangis.


"Sudah sudah sayang, jangan menangis, air matamu adalah siksaan bagiku, tolong jangan menangis" Riri mengangguk dan tersenyum pada Aryan.


"Aku bahagia karena aku masih ada di hatimu meskipun tidak ada dalam ingatanmu, setelah ini akan ku jadikan hari hari bahagia untuk kenangan kita bersama" ucap Aryan memeluk Riri.


"Aku tidak tahu harus apa, kau selalu dalam benakku, aku selalu memikirkan siapa kau sebenarnya?! aku tidak tahu harus apa!" ujar Riri terus memeluk Aryan.


"Aku senang sayang, kalau begitu menikahlah denganku" ucap Aryan.


Riri melepaskan pelukannya itu dan menatap wajah Aryan lekat.


"Kau masih ingin menikah dengan seorang wanita yang bahkan memiliki gangguan jiwa?" tanya Riri pada Aryan.


"Kau tidak gila, hanya saja kau lupa akan ingatanmu? kau mau menikah denganku?"


Riri mengangguk cepat terus mengangguk, matanya terus mengalirkan air mata kebahagiaan, dirinya sangat senang akan hal itu.


"Jadi... apa itu benar princess?" tanya Farrel pada Riri.


"Grandfha, apa grandfha tidak merestui kami? jika kalian tidak merestuinya, aku akan pergi dari sini saja!" tanya Riri mengancam.


"Tidak! apa apaan ini Riri?! jangan berpikiran untuk pergi dari sini!" sergah Hana cepat.


"Bunda, aku mohon restuilah kami, aku sangat mencintai nya, kau pasti tahu hal ini!" ucap Riri meminta pada semua orang.


"Jika tentang itu, katakan pada kakakmu Reza! kau tahu alasannya grnadfha mengatakan hal ini kan?" ucap Farrel pada Riri.


"Kalian tidak bisa mengatakannya pada kak Reza?" tanya Riri, semua orang pun menggeleng menjawab pertanyaan Riri.


"Huhhffttt, baiklah kalau begitu, aku akan mengatakannya pada kak Reza, kapan kak Reza akan pulang?" ucap Riri dan bertanya tentang Reza, karena sudah dua hari Reza tidak kembali ke mansion lagi.


"Tidak tahu, yang pasti siapkan mental mu dan kekasihmu itu" ucap Hana mengulas senyum menahan tawa.


"Iya bunda"


"Alice sayang, semangat!" ucap Calista pada Riri.


"Alice! semangat, kau juga tuan Aryan, semangat menghadapi harimau yang lapar! haummmm" ucap Leonard pada Aryan.


"Aku tidak takut padanya, kita sama sama manusia!" ucap Aryan enteng.


"Kalau begitu, siapkan semuanya, setelah mengatakan pada Reza, kalian harus siap siap untuk segera menikah" ujar grandfha.


Setelah selesai, mereka pun akhirnya pergi dan melakukan aktifitas masing masing.


Aya ya ya ya bang Joni tukang j*blay!


Aya ya ya ya ya bang Joni tukang j*blay!


Telpon Aryan berdering menampilkan nama daddy-nya menelpon.


"Hallo dad" sapa Aryan setelah mengangkat telepon nya.


"Aryan, kau masih di sana? cepatlah kembali, di sini ada masalah sedikit" ucap Dian Daddy nya Aryan.


"Masalah? jika hanya masalah kantor akan aku suruh Nikil untuk menyelesaikan nya" ucap Aryan langsung.


"Tidak, bukan masalah kantor, ini masalah adikmu!" ucap Daddy Dian.


"Memangnya apa masalahnya? Daddy, aku juga ingin memberitahumu, jika aku akan menikah dengan Riri sebentar lagi" ucap Aryan memberi tahu.


"Benarkah? Daddy senang kalau begitu, kau pulang lah ke sini Aryan, adikmu membuat masalah fatal sekali" ucap Dian memijat pelipisnya.


"Aku akan mengatakannya pada Cherry dulu Daddy, aku akan pulang besok" ucap Aryan.


"Baiklah kalau begitu, secepatnya Aryan, jangan menunda lagi" ujar Dian.


"Baik Daddy, kalau begitu aku matikan dulu telponnya"


Aryan pun mematikan telponnya dan masuk ke kamarnya, sebenarnya dirinya bisa saja tidur di hotel, tapi Farrel menyuruh Aryan untuk menginap saja di mansion nya, agar Aryan bisa selalu bersama Riri.


__--__--__--__--__--__--


"Apa di sini? ah, aku tidak tahu apa dia sering ke sini atau tidak!" Gumam Alena yang baru sampai di hotel tempat waktu dulu dirinya menghabiskan waktunya bersama laki laki itu.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis pada Alena.


"Ah? aku, aku menginginkan kamar nomor 23, apa ada?" tanya Alena.


"Maaf nona, kamar ini sudah di pesan sejak 2 hari yang lalu, orang yang memesannya akan datang kesini nanti" ucap resepsionis.


"Oh begitu ya, kalau begitu aku tidak jadi saja" ucap Alena dan pergi.


BRUK!


Saat berada di luar hotel, tubuh Alena tertubruk orang sehingga dirinya meringis kesakitan karena terjungkal.


"Eh, kau tidak apa apa Nona?" tanya laki laki itu.


"A..aku tidak apa apa, ishh" ucap Alena bangun dengan memegang perutnya.


"Benar tidak apa apa?" tanyanya sekali lagi, Alena mendongak menatap wajah laki laki itu dan terkejut saat menyadari siapa yang berada di depannya ini.