
Aryan meminta semua orang untuk mendengarkan dirinya berbicara, tentu Aryan tidak mau ini menjadi salah faham lagi (Apalagi ini episode nya mau tamat, nggak mungkin di tambah masalah lagi) gumam othor hehe.
"Ada apa? kenapa menyuruh kami berkumpul?" tanya Farrel bingung pada Aryan.
"Tuan, maafkan saya, sebenernya saya sangat berat mengatakan hal ini" ucap Aryan pada semuanya.
"Jangan bertele tele? kau pikir aku tidak ada kerjaan?!" ujar Reza dengan nada marah.
"Katakan saja tuan Aryan, ada masalah apa?" tanya Farrel lagi.
"Adikku akan menikah sebentar lagi" ujar Aryan menatap semua orang.
Mereka yang mendengar mengernyitkan dahi mereka, karena ini sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan mereka.
"Memangnya kenapa?" tanya Hana penasaran.
"Adikku Alena, akan menikah dengan Willem Iskander" ucap Aryan menunduk.
"APA?!" teriak Hana langsung berdiri.
"Apa maksudmu?! tuan Aryan! jika kau ingin membuat masalah lagi dengan putriku! maka aku tidak akan segan segan memotong kepalamu!" Ancam Hana dengan menunjuk jari pada Aryan.
"Nana!!" Bentak Farrel pada Hana yang tidak sopan.
"Daddy!"
"DIAM!" Hana langsung diam dan duduk kembali dengan cepat, rahangnya mengeras dan gemetar karena kesal.
"Memangnya ada apa tuan Aryan? Kenapa kau sama sekali tidak membicarakan hal ini dengan kami semua?" tanya Farrel.
"Maaf tuan, saya juga baru mengetahuinya kemarin, adikku hamil dan ayahnya adalah Willem, dia yang menculik..."
"Aryan!" teriak Hana menyela Aryan agar tak mengatakan Riri di culik oleh Willem.
"Jangan katakan lagi!" lanjut Hana menahan amarahnya.
"Kau juga diam lah Hana!" tegur Farrel kesal.
"Daddy! dia akan mengatakan hal itu"
"Sudah diam, dengarkan baik baik omongan tuan Aryan, jangan membuat masalah semakin besar" ujar Farrel tanpa menatap Hana.
"Bagaimana bisa itu terjadi? lalu apa yang akan kau lakukan tuan Aryan?" tanya Farrel pada Aryan, Aryan hanya gugup mengatakannya.
"Adikku mencintai Willem dan akan menikah seminggu lagi" jawab Aryan mengusap wajahnya frustasi.
"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi, mungkin ini yang terbaik, kau harus pulang ke rumahmu lagi Aryan, adikmu juga pasti butuh dukungan untuk melakukan semua ini" ujar Agatha mengelus punggung Aryan.
"Terima kasih nyonya, anda sangat pengertian" ucap Aryan tulus pada Agatha.
"Tentu saja, mereka hanya tidak berada di posisimu! jika mereka berada di posisimu, pasti mereka akan melakukan hal yang sama seperti dirimu" balas Agatha.
"Iya, lebih baik istirahat lah dulu, bukankah Anda baru saja datang?" tanya Agatha.
"Iya nyonya, terima kasih" ucap Aryan lagi.
Setelah mereka semua selesai, mereka pun beristirahat di kamar masing masing untuk merilekskan diri, terlebih Hana yang tersulut emosi, atas ucapan Aryan.
"Kakak, aku boleh bertanya?" tanya Riri pada Reza yang sedang memeluk Riri di kamarnya.
"Tanya apa?"
"Siapa Willem? rasanya aku sudah mendengar nama itu!" tanya Riri mengetuk dagunya.
"Bukan siapa siapa, jangan di pikirkan lagi" ujar Reza sedikit bernada tinggi.
"Memangnya siapa? apa aku mengenalnya?" tanya Riri terus.
"Sudahlah, bukankah kau mau tidur?" sergah Reza bertanya.
"Iya kak, kalau begitu aku tidur dulu" ucap Riri menengok ke belakang dan tersenyum.
"Tidurlah sayang, kakak akan di sini terus" ucap Reza mengelus kepala Riri.
Riri berusaha memejamkan matanya yang akhirnya tertidur juga.
Reza yang sedang melihat lihat sosmed pun tertidur juga karena merasa lelah hari ini.
Seminggu kemudian, pernikahan Alena dan Willem pun berjalan lancar, Riri, Rara dan Reza serta Leonard. Kini sudah sampai di negara S, tempat mereka tinggal.
"Ahhh, hallo Singapura!!! aku kembali!!!!" teriak Riri sumringah.
"Kau ini Riri! kenapa sangat kekanak Kanakan?!" ucap Rara memukul pelan tangan Riri.
"Aku sangat senang, rasanya sudah lama aku tidak kesini!" jawab Riri tertawa.
"Ayok sayang, kita pergi tinggalkan Reza di sini" ujar Leo memegang pundak Riri dan berjalan.
"Hei! dasar adik tidak berguna!" Cibir Reza kesal.
Mobil suruhan Arif, kini sudah membelah jalanan Singapura, butuh waktu dua jam untuk sampai ke rumahnya Aryan, ralat! mansion.
"Paman, jangan kencang kencang! kita tidak sedang di kejar anjing!" ucap Riri bercanda.
"Iya nona, maafkan saya" ucap sang sopir itu serius.
"Jangan sungkan paman, paman sudah tua, tidak baik jika tidak tersenyum sama sekali?" ucap Riri lagi dengan tertawa, mereka yang mendengar langsung saja tertawa di ikuti oleh supir itu.
"Nona bisa saja menggoda saya" ujar sopir menggaruk kepalanya tak gatal.
"Paman! jangan terbawa perasaan! apalagi sampai melayang, jika tidak nanti akan jatuh! pluk! sakit nanti!" ucap Rara kini menimpali.
"Ya ampun nona! saya sudah melayang tinggi! kenapa baru memberitahu saya" ucap sopir tertawa.
"Paman saja yang terbawa perasaan!" cibir Leo.
"Maaf tuan muda"
"Tuan muda?" tanya Leo mengulang perkataan sang supir.
"Maaf tuan kecil" ganti supir itu.
"Kak Leo ternyata masih kecil karena di panggil tuan kecil, rasanya itu hanya untuk anak kecil saja!" ucap Riri meledek Leo.
"Lebih baik diam lah Riri! atau aku akan menceburkan mu ke dalam kolam!" ancam Leo, seketika Riri langsung menutup mulutnya agar tak berbicara lagi.
Setelah pembicaraan panjang lebar, akhirnya mereka sampai ke mansion milik Aryan.
"Ahhh akhirnya sampai juga, aku rasanya lapar sekali melihat makanan berjejer seperti itu" ucap Riri yang perutnya keroncongan.
"Cherry!!!" teriak seseorang memanggil Riri, siapa lagi kalau bukan Aryan!
"Ah, cutty pie!!!" teriak Riri berlari.
Aryan dan Riri pun akhirnya berpelukan, melepas rindu mereka yang sudah beberapa hari tidak bertemu.
"Aku sangat merindukanmu Cherry" ucap Aryan.
"Aku juga Aryan" balas Riri masih memeluk Aryan erat.
Reza berdehem, membuat keduanya melepaskan diri dari pelukan mereka.
"Sudah pelukannya?" tanya reza dingin.
"Tidak! bahkan aku belum puas memeluknya!" ujar Riri tegas.
"Riri! kau!"
"Tentu saja tidak! aku mana berani!" sela Riri dan memegang tangannya Reza.
"Sayang, kau sudah sampai?" tanya Alex pada Rara.
"Iya sudah, dari mana saja kau ini?!" tanya Rara marah karena tak di jemput.
"Maaf sayang, aku saja baru datang ke sini setelah ke negara P!" jawab Alex memeluk Rara erat.
"Bagaimana keadaanmu dan my baby kita?" tanya Alex lagi.
"Dia baik sayang, kami sangat sehat" jawab Rara tersenyum.
"Sudahlah! ayok Alice! lebih baik kita masuk saja dan makan untuk melancarkan lambung kita" ajak Leo pada Riri yang kesal melihat Rara bermesraan, 'tidak Rara tidak Riri sama saja' batin Leo.
"Sikander?" gumam Riri melihat seorang pria yang berada di tengah pria lain.
"Ada apa?" tanya Leo pada Riri.
"Kak Leo, Sikander ada di sini" ucap Riri menatap Leo.
"Siapa Sikander? kandang?" tanya Leo tertawa, Riri yang kesal hanya melongos pergi dan mendekat pada pria itu.
"Kak!!" teriak Riri memanggil pria itu, pria itu menengok untuk mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Riri" gumam pria itu terbengong karena Riri menyapanya.
"Kak, kau di sini?" tanya Riri mendekat.
"Riri, kenapa kau ada di sini?" tanya pria itu.
"Tentu menghadiri acara pernikahan calon adik ipar ku kak!" jawab Riri tersenyum.
"Ohh, benarkah?" tanya pria itu aneh.
"Tentu saja, boleh aku memelukmu?" tanya Riri meminta izin.
"Boleh" jawab laki laki itu.
Dengan cepat Riri pun memeluk laki laki itu yang masih dalam lamunannya bingung.