
Di dalam kamar Riri, Riri sedang berbaring dengan santai dengan menonton Vidio yang berlogo merah itu, saat asyik menonton Vidio, tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamar Riri, Riri pun langsung bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa ya?" tanya Riri pada bodyguard itu.
"Nona, ada paket untuk anda" ucap bodyguard itu.
"Oh benarkah? dari siapa?" tanya Riri lagi.
"Tidak ada nama penerima nona" jawabnya.
"Oh, baiklah, apa ada yang lain?"
"Tidak ada nona, saya pergi dulu" ucap bodyguard itu dan tersenyum sinis.
"Emmm siapa yang memberiku kado? aku belum ulang tahun" gumam Riri.
"Arrggghhhg!!!" teriak Riri setelah melihat isi kado itu, isi kado itu adalah burung yang mati dan terdapat darah yang berceceran.
"Arrhgghhhh!!"
"Bunda!!!! bunda!!!!!"
"Arrrghhhhh hikz hikz" Riri terus berteriak sampai Calista mengetuk pintu Riri namun tidak di buka sama sekali, alhasil Calista langsung membuka pintu yang tidak dikunci itu.
"Alice!!!" teriak Calista melihat Riri duduk di lantai dengan memeluk lututnya.
"Sayang! apa yang terjadi?"
"Penjaga!!! cepat kemari!!!" teriak Calista.
Seketika penjaga pun langsung berdatangan untuk mengecek apa yang terjadi dengan nyonya nya itu.
"Panggil dokter! dan bereskan ini semua!" perintah Calista lalu di angguki mereka semua.
Sedangkan yang tadi memberi kado hanya berjalan menjauh dan langsung ke ruangan CCTV menghapus semua rekamannya, untuk menghapus jejaknya.
"Apa yang terjadi dokter?" tanya Calista setelah dokter memeriksa Riri.
"Nona Alice tidak apa apa, dirinya hanya syok melihat kejadian yang membuatnya takut" jawab dokter itu.
"Sebaiknya panggil dokter yang biasa menangani nona Alice, pasti dia tahu apa penyebabnya" saran dokter.
"Baik dok, terima kasih, pelayan akan mengantar anda" ucap Calista dan di angguki oleh sang dokter.
"Alice, apa yang terjadi nak? aunty harap kau baik baik saja, jangan membuat aunty khawatir, aunty akan menghukum orang yang telah menerormu" ucap Calista dengan mengecup kening Riri.
"Istirahat lah sayang"
Calista pun menutup pintu kamar Riri dan pergi.
"Apa yang terjadi dengan Alice nak?" tanya Agatha pada Calista setelah berada di bawah.
"Dia sedang tertidur mommy, dia baik baik saja" jawab Calista sedih.
"Cepat telpon Harry, dan selidiki orang yang meneror Alice, ini sudah ke berapa kalinya Alice seperti ini! tapi kenapa masih belum tahu siapa yang mengirim hal itu?!" ujar Agatha dengan kesal.
"Harry selalu mencarinya, mungkin sebentar lagi akan ketemu" ucap Calista.
Malam hari Riri terlihat biasa saja, dirinya hanya pusing sementara saja, mereka kini sudah berkumpul untuk makan malam bersama.
"Riri, bagaimana kabarmu? maaf grandfha tidak selalu ada di sini" tanya Farrel pada Riri.
"Ya aku baik grandfha, aku mengerti pekerjaan memang harus di selesaikan, tapi kasihan grandma jika harus melihat garndfha saat malam saja!" ucap Riri.
"Tidak apa apa sayang, bukankah itu sudah biasa kan, jadi tidak perlu khawatir" timpal Agatha.
"Iya grandma"
Di dalam ruangan kerja Harry, Farel, Agatha, Calista dan Leonard, kini tengah berkumpul membahas kejadian yang di alami Riri.
"Tidak ada rekaman CCTV di sini, sepertinya memang sudah di rencanakan" ucap Leo setelah mengecek CCTV.
"Iya, lalu siapa yang melakukannya?" tanya Harry.
"Pelakunya bukan orang lain! tapi orang dalam, tidak mungkin jika orang lain yang masuk! karena penjagaan di rumah ini sangat ketat, bahkan kurir saja harus menjelaskan identitasnya!" ujar Calista.
"Ya! kau benar istriku! tidak mungkin jika orang luar, karena jika orang luar, mereka tidak akan tahu dimana letak ruangan CCTV" timpal Harry.
"Sepertinya ini sudah di rencanakan oleh William! Kita tidak bisa berdiam diri terus!" ucap Agatha dengan nada sedih.
"Iya, aku pun tidak ingin Alice di ambil oleh William, aku tidak ingin kehilangan Alice, aku sangat menyayanginya" timpal Calista.
"Tidak akan Daddy biarkan! Daddy akan berusaha untuk menemukan William, namun jejaknya saja belum diketahui dimana!" ucap Farel.
"Ya! aku ada ide!" teriak Leo.
"Bagaimana jika kita menempatkan CCTV di kamar Alice? Dengan begitu kita tahu siapa saja yang masuk ke kamar Alice" ucap Leo dan langsung mendapat geplakan dari Calista.
"Aduhh mommy! kenapa memukulku?!" tanya Leo kesal.
"Introspeksi dulu! kenapa mommy memukulmu"
"Ckk, hanya itu ide yang aku miliki" lirih Leo kesal.
"Menurutku, ide Leo tidak terlalu buruk, kita hanya menempatkan kamera di kamar Alice yang langsung ke depan pintu" ucap Harry mengiyakan ide Leo.
"Ahh, benarkan? itulah maksudku!" ucap Leo.
"Iya, kita tidak mungkin jika hanya menunggu Riri seperti itu! Daddy takut jika obat itu akan merusak otak Riri saja" timpal Farel.
"Bagaimana sayang? apa kau setuju?" tanya Harry pada Calista.
"Bagaimana Agatha? apa kau juga setuju?" tanya Farel pada Agatha.
Agatha dan Calista saling menatap.
"Kami setuju, asalkan itu yang terbaik" ucap mereka serempak.
"Baiklah bagus kalau begitu, kita akan memasang kamera besok, Leo, tugasmu membawa Riri keluar, jangan sampai dia curiga padamu dan pada kita" titah Harry pada Leo.
"Baik dad, akan aku lakukan yang terbaik"
"Ada apa Daddy? apa Daddy sakit?" tanya Calista pada Farel yang memijit pelipisnya.
"Tidak, Daddy hanya pusing, Daddy membawa Riri ke sini agar aman, tapi malah tetap sama saja" ucap Farel kesal
"Sudahlah dad, jangan di pikirkan, kita harus melakukan yang terbaik, sudah cukup bertahun tahun William mengganggu kita, sampai aku keguguran karena olehnya" ucap Calista yang kini nafasnya sesak seketika saat mengingat kejadian dirinya hampir tiada karena ulah William.
"Jangan di ingat lagi sayang, biarkan yang berlalu" ucap Harry mengelus pundak istrinya.
"Aku sudah mencoba, tapi aku masih dendam padanya, kenapa kita harus menyembunyikan Alice? kenapa tidak cari William saja dan langsung membunuhnya!" ujar Calista yang sudah memburu nafasnya.
"Tidak semudah itu menantu, kita harus mencari jejak dimana William, Dady pun sangat kesal padanya, jika sudah tertangkap, kau lah yang akan membunuhnya, dia harus menerima rasa sakit yang kau rasakan dan juga Hana" ujar Farel.
"Yasudah, kalau begitu Daddy pergi dulu, Daddy istirahat dulu" ucap Farel lalu berdiri dari duduknya.
"Baik dad, ayok aku antar" Harry pun mengantar Daddy nya ke bawah.
Genap sudah Riri enam bulan berada di negara L.
Sejak kejadian burung berdarah itu, Riri sudah tidak menerima teror lagi, dirinya bebas kemana saja, jejak William kini sudah terendus sekarang, tinggal menunggu nya keluar dan akan langsung menyeretnya ke gudang hukuman.