
"Ti...dak! aku mohon jangan sakiti aku, aku meminta maaf atas kesalahan ku, aku minta maaf!" oceh viona dengan rasa takut, karena Hana tersenyum.
"Kau sudah membangunkan ku viona, sudah ku katakan jangan kembali lagi! tapi kau! kau malah datang kesini, apalagi kau sudah melakukan rencana pembunuhan untuk putriku!" teriak Hana dengan kesal dan marah.
"Maafkan aku, aku mengaku salah, maaf, aku mohon jangan lakukan apapun padaku, tolong lepaskan aku! aku mohon" ucap viona dengan mengatupkan kedua tangan nya terus memohon.
"Tidak!" bentak Hana menggelegar
"Kau akan mendapatkan hukuman viona! KAU MENYAKITI PUTRIKU! DAN AKAN AKU BALAS DENGAN YANG LEBIH MENYAKITKAN!!" teriak Hana memekakkan telinga, viona hanya menangis, namun dirinya tidak menyesal karena melakukan hal itu dan akan melakukannya lagi dan lagi.
"Mari kita mulai hukumannya" ucap Hana dengan menyunggingkan bibir nya.
"Ti... tidak, aku mohon, aku mengaku salah, jangan hukum aku!" teriak viona semakin menjerit.
Hana melihat viona seperti itu sangat senang sekali.
'Siapa suruh kau menyakiti putriku viona, siapa kau yang berani berbuat seperti itu, bahkan aku saja belum pernah membuatnya menangis' batin Hana, menatap tajam pada viona
Hana mengambil gunting, dan mencatut kuku viona hingga berdarah, viona terus meminta maaf, memohon pengampunan dan terus meronta ronta.
"Diamlah, kau membuat tanganku berdarah karena darahmu" ucap Hana dengan kesal.
"Tidak!!"
"Arrrggghhg! sakit!" teriak viona yang menanggung rasa sakit di jarinya itu.
"Sudah aku bilang, diamlah! atau kita akan lama dengan permainan ini, sedangkan aku muak melihatmu" ucap Hana dengan menggertakan giginya.
"Arrgghh, sakit, aku mohon lepaskan aku!"
"Siapa suruh viona, kau telah menyakiti putriku dengan keji, waktu dulu kau membuatnya menangis gara gara kau menghinanya, dan sekarang kau membuatnya terbaring di ranjang rumah sakit!"
"Tidak!! aku mengaku salah, arrgghhh" teriak viona, apalagi saat Hana menekan jari viona dengan jarinya.
"Mari kita bermain dengan punggung mulus sekarang" ucap Hana lalu menyibakkan bajunya viona.
"Jangan lakukan hal itu, aku mohon, lepaskan aku sekarang!" teriak viona yang menahan sakitnya.
PLAK! PLAK! PLAK!
Hana mencambuk punggung viona yang mulus, dirinya beberapa kali melakukan hal itu sampai punggungnya viona memerah padam.
Setelah 20 cambukan, Hana pun menyelesaikan nya.
"Ya ampun, aku lupa dengan tanganmu!" ucap Hana pura pura lupa.
"Tidak, jangan lakukan lagi, aku sangat kesakitan!" mohon viona yang merasa sekujur tubuhnya kini telah merasakan sakit yang sangat dahsyat.
"Aku menyesal waktu dulu aku hanya menyayat wajahmu saja, dan membebaskanmu dengan fasilitas yang Daddy ku berikan kepadamu, tapi nyatanya kau sangat tidak tahu balas Budi!" ucap Hana melihat ke atas seolah berpikir.
"Fasilitas apa? aku tidak pernah mendapatkan uang dari kalian atau pun meminta pada kalian!" teriak viona, Hana pun menengok ke arah viona dengan wajah marahnya.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu!" bentak Hana lalu menampar pipi Viona.
"Sudah cukup aku mendengar ocehan mu" ucap Hana dengan menunjukkan jarinya ke pada viona.
"Penjaga! cepat kemari! dan bekap kainnya!" teriak Hana, pengawal pun langsung saja datang dan membekap mulut viona dengan kain itu lagi.
"Kau mau bermain main denganku lagi sepertinya, baiklah, akan aku kabulkan keinginanmu" ucap Hana lalu duduk kembali.
Hana dengan gila menyayat tangan viona, ini lah yang di lakukan seorang mafia, waktu dulu dia lebih kejam dari pada sekarang, karena sosok ibu sudah sangat melekat dalam dirinya, karena itu lah, Hana hanya melakukan yang kecil saja, meskipun kecil namun bagi viona itu adalah hal yang sangat menyakitkan bagi dirinya.
Hana menyayat dengan sedikit dalam, viona yang merasakan sakit meronta ronta, tubuhnya merasakan kesakitan.
Ini lebih menyiksa dari pada dulu, karena sudah cukup hanya memberikan pelajaran kecil.
"Sudah beres"
"Pasti itu menyakitkan dari hukuman ku waktu dulu kan, ini masih kecil viona, nanti saat kau melakukannya lagi, aku akan langsung membunuh dirimu, dengan cara yang sadis!" tatap Hana dengan tajam dan bayangan hitam yang pekat di tangannya.
"Penjaga! urus wanita ini! setelah Reza bertemu dengannya, baru buang dia ke jalanan!" desis Hana, pengawal pun hanya mengangguk mengerti.
Hana keluar dari rumah terbengkalai itu dengan karismatik nya, kejam itulah dirinya, namun tidak saat berada dengan keluarganya, dirinya selalu berperilaku lembut dan baik hati kepada semua orang, namun memang tak bisa melihat satu sisi saja, karena saat melihat nya dari kedua sisi, orang akan melihatnya menyeramkan.
Hana pun pergi dengan di ikuti pengawalnya, berbahaya jika Hana hanya sendiri, karena takut jika musuh Daddy nya ada di mana mana.
Hana pun kembali ke rumah sakit saat malam, dengan pakaian yang biasa ia gunakan, Arif pun langsung bertanya tanya kepada Hana, karena takut jika Hana melakukan sesuatu di luar nalar.
"Hana, dari mana saja?" tanya Arif saat Hana sudah masuk ke bangsal nya Riri.
"Aku dari rumah, dan menenangkan ayah dan bunda dulu, mereka sangat khawatir pada kita suamiku" jawab Hana dengan tersenyum indah.
"Bagaimana keadaan Riri?" tanya Hana, lalu mendekat pada Riri.
"Dia sudah lebih baik, dia tadi makan bersama tuan Aryan Mahesya Giroud" jawab Arif, dan mengatakan bahwa Aryan makan bersama Riri, bisa di sebut menyuapi diri, agar Hana bisa menjadi luluh pada Aryan.
"Benarkah? kenapa tidak kau saja yang menyuapinya, kenapa harus dia?!" tanya Hana dengan menaikkan suaranya, dan menunjuk ke arah Aryan.
"Bunda!" lirih Riri memanggil bundanya.
"Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Hana dengan tersenyum pada Riri.
"Maaf membuatmu terbangun sayang" sambung Hana lalu mengecup Riri.
"Bunda dari mana saja?" tanya Riri dengan penuh pemaksaan agar bisa bicara.
"Jangan berbicara jika belum kuat sayang"
"Bunda dari rumah, nenek kakekmu sangat khawatir padamu" sambung Hana dengan mengelus rambut Hana.
"Oh, ya, apa Reza sudah tahu hal ini?" tanya Arif kepada Hana.
"Sudah, dia juga sudah menangkap wanita sialan itu" jawab Hana.
'Pantas saja wanita itu di culik oleh segerombolan orang orang, mungkin mereka yang telah melakukan nya' batin Aryan yang memang mendengar percakapan mereka, namun berusaha untuk tidak memperdulikan Hana yang terus saja berdesis kepadanya.
"Lalu apa yang kau lakukan kepada nya?" tanya Arif dengan rasa penasarannya.
"Ya! hanya hukuman kecil saja sayang" jawab Hana tersenyum manis pada suaminya.
"Hukuman kecil?" gumam Arif yang tahu hukuman kecil itu seperti di gigit semut sebesar kepala gajah.
"Ada apa suamiku?" tanya Hana yang bingung melihat suaminya diam saja.
"Tidak Hana, hanya memikirkan Riri saja, semoga dia cepat sembuh" jawab Arif yang entahlah perasaan nya tiba tiba takut pada istrinya.