Love You My Wife

Love You My Wife
Upaya Penculikan



DOR!


Suara tembakan terdengar jelas, seorang pelayan wanita menembak bodyguard yang ada di rumah keluarga Maxwell.


"Suara apa itu?" tanya Wisnu pada Risma.


"Tidak tahu, ayok kita periksa" jawab Risma lalu bangkit dari duduknya, mereka pun berjalan keluar kamar dan melihat pelayan sedang mengikat bodyguard nya.


"Jeni? ada apa ini? kenapa kau menembaknya?" tanya Risma pada pelayan wanita itu.


"Maafkan saya nyonya, saya di tugaskan untuk mencari orang suruhan dari orang luar, dan dia adalah suruhan orang lain" jawab Jeni, Risma dan Wisnu pun mengerutkan alisnya bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Wisnu kini.


"Tuan, nyonya muda mengatakan jika tuan muda kecelakaan sekarang"


"Nyonya menyuruh saya untuk mencari orang orang yang di suruh untuk mencelakai anda dan keluarga ini" lanjut Jeni dengan menunduk.


"Apa?! ada apa dengan Arif?" tanya Risma kaget mendengar anaknya itu kecelakaan.


"Maaf nyonya, tolong jangan merasa tertekan dulu, itu sangat bahaya bagi kesehatan nyonya" ucap Jeni dengan mendekat pada Risma dan mendudukkannya.


"Apa yang terjadi dengan putraku?" tanya Wisnu pada Jeni.


"Tuan, tuan muda sekarang berada di rumah sakit, nyonya muda berkata jika tuan muda di serang oleh beberapa orang sehingga membuat tuan muda mengalami kecelakaan parah"


"Antarkan aku sekarang juga suamiku, aku ingin ke rumah sakit sekarang" ucap Risma memohon pada Wisnu suaminya


"Baiklah, tenangkan dulu dirimu kita akan berangkat sebentar lagi" ucap Wisnu mengelus punggung Risma agar merasa tenang.


"Tapi tuan, kalian tidak boleh pergi sekarang, nyonya tidak mengizinkannya" ucap Jeni menyela.


"Kenapa Hana melarang kami?" tanya Wisnu.


"Karena di luar masih banyak orang jahat, kita tidak bisa melawan mereka karena bisa saja mereka menyerang saat tuan dan nyonya besar pergi" jelas Jeni.


"Tidak! suamiku, aku ingin ke rumah sakit sekarang, antarkan aku ke sana ku mohon" pinta Risma dengan suara serak karena sudah menangis.


"Jeni, cepat siapkan mobil untuk kami" titah Wisnu


"Tapi tuan, anda..."


"Jangan pikirkan kami, pikirkan istriku yang terus memohon, cepat siapkan mobilnya" tukas Wisnu pada Jeni, Jeni pun hanya menunduk dan mengangguk, setelah itu langsung ke luar untuk menyiapkan mobil dan beberapa bodyguard agar perjalanannya mulus.


__--__--__--__--__--


"Aunty!" teriak Riri pada Calista yang sedang berbicara dengan Agatha.


"Aunty, ayah!"


"Ada apa sayang? kenapa terlihat sangat khawatir sekali?" tanya Agatha melihat Riri khawatir dan menatap mereka sedih.


"Grandma! ayah!!! ayah di serang dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit" jawab Riri yang matanya berkaca kaca.


"Apa? bagaimana bisa itu terjadi? bukankah banyak penjaga?" tanya Calista dengan terkejut.


"Alice tidak tahu aunty, tapi tadi Alice mendapatkan info dari kak Ainsley, kakak mengatakan bahwa ayah sedang di rawat sekarang" jawab Riri.


"Lalu kita harus bagaimana sekarang?" tanya Calista bingung.


"Alice ingin pergi aunty, Alice ingin pulang sekarang" rengek Riri pada Calista.


"Tidak! ini berbahaya untukmu, William masih belum bisa di temukan, jika sudah di temukan maka baru kita akan membawamu pulang" ujar Calista dengan tegas.


"Tapi aunty, aku sangat khawatir pada ayah" lirih Riri dengan menitikkan air matanya yang sudah dia tahan.


"Maafkan kami sayang, kami sayang mengkhawatirkan menantu juga, tapi ini juga demi kebaikanmu" ucap Agatha menenangkan Riri.


"Iya grandma, aku tahu itu"


__--__--__--__--__--


"Bagaimana hasilnya?" tanya seorang paruh baya itu bernama William.


"Sudah kami lakukan tuan, Karifan Maxwell sudah kami tuntaskan" jawab sang bodyguard dengan gagahnya dan bangga.


"Lalu bagaimana dengan Riri?" tanya William lagi, seketika penjaga itu menegang saat bosnya menanyakan hal itu.


"Maaf tuan, saya belum mendapatkan celah untuk menculik nona" jawab penjaga itu, William langsung memukul bodyguard itu dengan Bogeman mentah.


"Bod*h! begitu saja kalian tidak ada celah? lalu untuk apa aku menyuruh kalian menghabisi si Arif itu! si*l!" umpat William, sedangkan mereka semua hanya menunduk takut pada bosnya itu.


"Telpon temanmu yang berada di mansion Ryn itu, lakukan sesuai perintah" titah William lagi.


"Maaf tuan, sepertinya orang suruhan kita sudah di temukan, karena beberapa hari ini saya tidak berbicara lagi dengannya" ucap penjaga itu terus menunduk.


"Arrghhh!!! dasar kalian! apa tidak bisa menjalankan perintah kecil dariku dengan baik! percuma aku membayar kalian dengan sangat mahal!" ujar William kesal dan marah.


"Lakukan tugasmu! dalam waktu 3hari! Riri harus berada di ruangan bawah tanah! jika tidak! maka kalian akan aku masukkan ke kandang singa!" ucap William dengan mengancam mereka, membuat mereka yang mendengar sangat ketakutan.


"Baik tuan, akan saya lakukan tugasnya"


"Jika perlu, pantau mansion itu setelah mendapatkan kesempatan langsung saja culik Riri tanpa seorang pun yang mengetahui nya!" ucap William lalu berlari pergi meninggalkan mereka semua yang berada di ruangan William.


__--__--__--__--__--


"Hai sayang, kau sedang apa?" tanya Aryan di sebrang sana.


"Aku baru saja selesai belajar memanah sayang" jawab Riri tersenyum.


"Benarkah Cherry ku ini bisa memanah? pantas saja hatiku selalu terpanah olehmu! ternyata kau ahli dalam bidang itu" ucap Aryan dengan memegang dadanya, Riri pun tertawa cekikikan atas perilaku Aryan itu.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu? apa kau sudah selesai? ingat jangan..."


"Jangan menunda pekerjaanmu! lebih cepat lebih bagus!" sela Aryan yang sudah tahu apa yang akan di ucapkan kekasihnya itu.


"Aku sudah membereskan semuanya sayang, pekerjaan ku tinggal beberapa lagi, masih kekejar sampai malam nanti" ucap Aryan menjelaskannya agar kekasihnya itu tidak marah.


"Aku mencintaimu, kapan kau akan kembali lagi? aku sangat merindukanmu" tanya Aryan menatap lekat mata Riri yang sedang ada di layar handphone nya itu.


"Tidak tahu, kau sudah mendengar ayahku? bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Riri.


"Ayahmu sudah cukup baik, hanya saja sekarang bunda mu sepertinya kesulitan mengurus perusahaannya Maxwell, untung saja kakakmu Rara membantunya" jawab Aryan.


"Hmmm aku tidak membantu mereka, aku juga belum bisa menghubungi kak Reza, sudah beberapa bulan ini telponnya tidak aktif! seperti biasa!" ucap Riri dengan nada kesalnya.


"Sudahlah sayang, mungkin calon kakak ipar Reza sedang sibuk sekarang, makanya lebih memilih mematikan handphonenya" ujar Aryan memberi penjelasan.


"Tapi tetap saja, harusnya kak Reza tidak mematikan handphone nya!" balas Riri mengerucutkan bibirnya.


"Bibirmu Cherry! bagaimana jika nanti ada orang yang lihat dan berniat jahat padamu?!" ucap Aryan, Riri pun langsung mengembalikan bibirnya itu seperti biasa.


"Hei! tidak akan ada yang berani berbuat apapun padaku! aku tidak akan memaafkan nya jika itu terjadi!" balas Riri dengan nada kesal.


"Hahaha, baiklah baiklah sayang, itu siapa yang di belakangmu? kenapa banyak orang sekali?" tanya Aryan menunjuk ke handphone nya sendiri.


"Apa? siapa?" tanya Riri lalu menoleh ke arah belakang.


Riri melihat segerombolan orang memaksa masuk dan berlari ke arahnya.


"Sayang! cepat ke dalam mansion!" teriak Aryan dengan cepat.


Riri pun langsung berlari terus menerus tanpa menoleh pada orang orang itu.


"Cepat sayang! berlari terus!" teriak Aryan semakin histeris, dengan cepat Riri pun berlari dengan sekuat tenaganya.