
"Riri, apa yang terjadi?" tanya Lina dengan memeriksa Riri.
"Pantat ku sakit kak, Aryan menjatuhkanku!" jawab Riri dengan masih meringis.
"Itu bahaya sekali Riri, bisa membuat tulangnya retak" ucap Lina.
"Ahh, jangan menakuti aku kak!"
"Ehh, aku tidak menakutimu Riri!"
"Tenanglah, aku akan menyuntikkan rasa penenangnya dulu" ucap Lina, lalu menyuntikkan nya.
"Aduhh, sakit sekali kak!"
"Diam lah Riri, sebentar lagi akan membaik"
"Terima kasih kak!"
Lina pun keluar dari ruang rawat.
"Apa yang terjadi Lina?" tanya Alex yang khawatir.
"Ya tidak terlalu parah Alex, tapi cukup membuat Riri sakit!" jawab Lina tanpa menggunakan nama Rara.
"Baiklah, terima kasih Lina" ucap Alex.
"Iya, untuk obat penenang nya kau beli saja, aku sudah mencatatnya!" ucap Lina lalu memberikan kertas yang sudah di tulisnya.
"Emmm, baiklah"
"Baik, kalau begitu aku permisi dulu"
Lina pun pergi ke ruang apotek, untuk memberitahu pada rekan kerjanya.
"Riri bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Alex yang kini berada di kamar rumah sakit Riri bersama Aryan.
"Lumayan kak!"
"Rara, apa sudah tidak sakit lagi?" tanya Aryan kini.
"Aku ingin bersamamu Aryan, aku mohon!" pinta Riri.
"Aryan, cepat kesini!"
"Iya sayang, sebentar"
"Aryan, kau tega melakukan itu padaku!" ucap Riri dengan kesalnya.
"Maaf kan aku sayang, aku tidak sengaja!"
"Tidak apa apa Aryan!" ucap Riri.
Merekapun ber***man di depan Alex.
"Rara ada Alex disini" tegur Aryan.
"Tidak apa apa Aryan, aku hanya ingin bersamamu, lagi pula kak Alex tidak keberatan" ucap Riri enteng.
"Baiklah" kini Aryan pun semakin tergila gila pada Riri, semakin ganas juga c**man antara Riri dan Aryan.
Sedangkan Alex yang melihat itu merasa kesal karena di anggap batu.
"Ahhh, Aryan, aku mencintaimu"
"Aku lebih mencintaimu Rara!"
"Hei Aryan, jangan panggil Rara, panggil dia Riri!" tegur Alex yang tak mau nama calon istrinya di sebut.
"Kak Alex senang sekali menggangguku, tidak lihat kamu sedang apa!" ujar Riri dengan kesal.
"Maaf Riri, harusnya aku memanggil kakakmu sekarang"
"Ehhh, jangan kak Alex, bisa kena aku!"
"Enak saja, kau membuatku iri Riri!" ucap Alex dengan nada kesalnya, Aryan yang melihat perdebatan itupun bingung, apa maksudnya?
"Harusnya kakak pergi dari sini, menggangu saja!" balas Riri dengan hebat.
"Wah wah wah, lihat tadi kau meminta ku untuk membawamu, sekarang kau mengusirku Riri!" ucap Alex semakin kesal.
"Itu aku terpaksa kak Alex, karena Aryan tidak mengkhawatirkan diriku" balas Riri membuat Alex semakin kesal.
"Enak saja kau, sudahlah berdebat denganmu hanya menguras emosiku, aku pergi dulu, Aryan jaga adikku!" ucap Alex dengan kesal pad Aryan.
"Sayang ada apa ini?" adik? maksudnya?" tanya Aryan dengan penasaran.
"Sudah lah Aryan, kau tak mau menciumiku sekarang?" rengek Riri dengan kesal.
"Tidak sayang!" balas Aryan, mereka pun berc**man dengan panas.
"Aku ingin Aryan!"
"Ingin apa?"
"Ingin dirimu menjadi milikku!" jawab Riri
"Ayok kita menikah" sambung Riri lalu membalas memberi tanda pada leher Aryan.
"Kau akan menikah dengan Alex!" ucap Aryan menghentikan aktivitas Riri.
"Tidak akan, aku akan membatalkannya!" ucap Riri dengan tak sadar.
"Benarkah? aku mencintaimu Rara, I Love You" ucap Aryan, lalu mereka pun melakukan aktivitas itu lagi.
"Benarkah? disaat seperti ini?" tanya Aryan yang kecewa.
"Iya"
"Tidak usah Riri, jika mau disini saja" ujar Aryan, lalu Aryan pun men***m Riri kembali.
"Sudah Aryan" ucap Riri mendorong Aryan.
"Tidak Rara sekarang kau harus memberikannya" ucap Aryan menciumi Riri dengan brutal.
"Aryan, aku tidak mau!" teriak Riri dengan kencang.
"Rara, aku mohon jangan menghentikanku"
"Aryan, sudah cukup" ucap Riri, menatap mata Aryan.
"Baiklah, maafkan aku sayang!" balas Aryan lalu merekapun ber***man.
Kini hari sudah sore, tapi Riri masih berada dalam pelukan nya Aryan, tak mau kehilangannya lagi.
"Rara, kau tak mau pulang?" tanya Aryan mengelus rambut Riri.
"Tidak mau sayang, aku ingin bersamamu disini!"
"Baiklah, kalau begitu"
Alex kembali ke rumah sakit untuk menjemput Riri pulang, Alex menceritakan semuanya kepada Rara, tanpa terlewat sedikitpun.
"Riri, ayok kita pulang" ucap Alex saat masuk ke kamar Riri.
"Ya ampun, Aryan! Riri akan sulit bernafas!" sambung Alex dengan menarik Aryan untuk turun.
"Ada apa denganmu Alex!" ujar Aryan kesal.
"Riri kau tidak apa apa kan"
"Tidak apa apa kak Alex, Riri hanya ingin bersama Aryan!" jawab Riri dengan memelas.
"Tapi tidak seperti ini Riri, dia akan membunuhmu!" ucap Alex lagi.
"Sudahlah kak, lagi pula aku baik baik saja!"
"Baiklah, Riri ayok kita pulang, kakakmu menyuruh kakak untuk menjemputmu" ajak Alex, membantu Riri berdiri.
"Aku akan bersama Aryan kak"
"Tidak Riri, kau sudah seharian bersama Aryan, tidak baik"
"Baik kak, lihatlah, dia memeluk diriku dengan kasih sayang" jawab Riri tak mau kalah.
"Baiklah, Aryan paksa Riri untuk pulang, ayok" ucap Alex pada Aryan, Aryan yang kesal di perintah hanya membalikkan matanya saja.
"Rara, ayok pulang" ajak Aryan langsung di angguki oleh Riri.
Mereka pun keluar bersama sama, kini Alex mengemudi kan mobilnya, sedangkan Aryan dan Riri bermanja pada Aryan.
Setelah sampai, Alex pun membuka pintu mobil dan pintu penumpang.
"Riri ayok kita pulang!" ajak Alex.
"Iya kak, tapi Aryan bagaimana dia pulang?" tanya Riri yang khawatir Aryan akan berjalan kaki.
"Dia pulang membawa mobilku"
"Lalu kakak pulang dengan apa?"
"Dengan mobil kakakmu Riri"
"Ohhh baiklah, sayang aku pulang dulu ya, hati hati" ucap Riri pada Aryan.
"Baiklah, sayang hati hati, Alex, jaga cintaku ini dengan baik" ucap Aryan dengan menatap sinis pada Alex.
"Tentu aryan, dia adikku, aku akan menjaganya" balas Alex dengan kesal.
"Baiklah hati hati"
Riri dan Alex pun berjalan, kini rasa sakitnya tidak terlalu sakit seperti di rumah sakit tadi.
"Riri, kau kenapa sayang?" tanya sang bunda Hana yang berada di luar rumah.
"Tidak apa apa bunda, aku hanya sakit sedikit"
"Tapi kata Alex, lukamu parah, siapa yang membuatmu seperti itu?" ucap Hana lalu bertanya.
"Bunda-"
"Aku sendiri yang salah, tidak hati hati bunda" sela Riri memotong ucapan Alex.
"Kau ini Riri, selalu ceroboh, kapan kau akan menjadi dewasa" omel bundanya.
"Aku akan selalu menjadi anak kecil bagi kalian" ucap Riri berjalan dengan bundanya.
"Kenapa selalu memutar balikkan omongan Riri, tidak sopan!" Tegur bundanya.
"Maaf!"
"Bunda, dimana Rara sekarang?" tanya Alex pada Hana.
"Dia ada di kamar Alex" jawab Hana
"Baiklah, aku izin kesana Bun!" ucap Alex lalu pergi setelah di angguki oleh Hana.