
Mereka semua sudah berada di hotel kini, mencari siasat untuk membawa Riri pergi dan membebaskan Riri.
Segerombolan orang kini sedang mencari keberadaan nona kecil mereka.
"Di mana kau Riri?" gumam Reza mencari keberadaan Riri.
"Reza, lakukan penyerangan saja, akan sangat lama jika kita mencari Riri seperti ini" ucap Hana pada Reza.
"Tidak bunda, aku hanya takut jika Riri dalam bahaya"
"Reza, itu Willem" tunjuk Hana pada Willem yang baru saja keluar dari ruangan salin.
"Iya sepertinya bunda, aku tidak terlalu kenal wajahnya" balas Reza mengernyitkan dahinya.
"Reza, lakukan sesuatu Willem sebentar lagi pasti akan menikahi Riri!" ucap Hana geram.
"Tunggu Riri keluar bunda, lalu kita akan melakukan penyerangan" ujar Reza tersenyum.
Riri pun keluar dengan perasaan yang aneh, dirinya seperti mencium bau harum bundanya, Riri mengedarkan pandangannya, Riri tersenyum melihat bundanya berada di sana.
Hana yang seperti di lihat oleh Riri, hanya menatap aneh Riri bingung, melihat senyum Riri membuat Hana ikut tersenyum.
"Ada apa bunda?" tanya Reza melihat bundanya tersenyum.
"Riri sangat cantik memakai gaun itu, dia sedang tersenyum pada bunda" jawab Hana terus memandang Riri, memang hati seorang ibu sudah melekat di hati Hana.
"Dan aku yang akan menjadi calon pengantin nya" ujar Reza tersenyum, Hana yang mendengar itu, memukul tangan Reza pelan.
"Kau kakaknya, jangan menikah dengan adikmu sendiri!" sinis Hana, Reza hanya menghela nafas kesal atas perkataan bundanya itu.
Seseorang mendekat pada Willem dan berbisik di telinga Willem.
"Tuan, saya melihat ada yang sangat mencurigakan" ucap penjaga itu.
"Siapa? cepat atasi mereka sekarang juga, aku tidak mau jika sampai pernikahan ini gagal!" ujar Willem dan langsung di angguki oleh bodyguard nya itu.
Bodyguard itu langsung turun dari altar, berjalan ke arah Hana dan Reza, sedangkan yang lain ada di belakang mereka.
"Hei! siapa kau?" tanya bodyguard itu meletakkan tangannya di pundak Reza.
"Siapa? apanya?" tanya Reza tersenyum sinis
"Pergi dari sini sekarang juga! atau aku akan menendang mu!" usir penjaga itu pada Reza.
"Siapa kau yang berani beraninya pada ku?! kau tidak tahu siapa aku?! hah!" ucap Reza berteriak pada bodyguard itu, semua orang melihat ke arah Reza dan penjaga itu aneh.
Willem langsung mengetahui bahwa ada seseorang yang dia kenal.
"Ya! dia Reza! ckk, dari mana mereka tahu bahwa aku di sini?!" gumam Willem.
"Penjagaaaa!!! cepat tangkap mereka!" teriak Willem pada para bodyguard, mereka langsung memasang senjata.
Pertarungan tak bisa mereka hindari, suara tembakan yang terdengar nyaring membuat para tamu berlarian karena takut mereka terkena sasaran.
"Alice, ayok ikut dengan kakak" ucap Leo pada Riri.
"Siapa kau?! aku tidak mengenalmu!" teriak Riri meronta ingin di lepaskan oleh Leo.
Leo hanya menatap cengo pada Riri aneh
"Aku kakakmu! ayok ikut denganku" ajak Leo terus menerus.
"Lepaskan! bundaaaa tolong aku!" teriak Riri memanggil bundanya.
Hana langsung saja menoleh pada Riri yang memanggilnya, dengan cepat Hana berlari ke altar dimana Riri berada.
Dor! satu tembakan mengenai tangan Leo, membuat Leo sedikit sakit dan kesal, namun setelah beberapa detik kemudian seolah tidak terjadi apa apa
"Hei! apa kau tidak bisa menggunakan pistol?!" tanya Leo pada Aryan yang hanya mematung saja, Aryan hanya memukul dan meninju orang orang yang ingin menyerangnya saja.
"Maaf, aku hanya kaget" jawab Aryan lalu menerima pistol dari Leo.
"Dasar bodoh!" cicit Reza yang masih di dengar oleh Aryan.
"Aku tidak bodoh!" sangkal Aryan.
"Tapi kenyataan memang seperti itu!" teriak Reza.
"Hei! kenapa malah bertengkar!" ucap Leo pada mereka
"Dia yang memulai!"
"Kenapa saya yang salah!" ucap Aryan pada Reza.
"Hei! jangan bawa Riri!" teriak Willem menekan pelatuk nya pada arah Reza
Dor! Leo menembak Willem ke arah tangannya supaya lemas dan tidak menembak Reza.
"Bermain main denganku! kau akan ku bunuh sekarang juga!" desis Leo pada Willem.
"Kak Reza, aku sangat takut" ucap Riri terus berlari dengan Reza untuk keluar.
"Tenang sayang, kita tidak akan kenapa kenapa" ujar Reza menenangkan.
"Jaga Riri, jangan sampai kemana mana" ucap resa pada bodyguard nya.
"Riri, jangan kemana mana tetaplah di sini, kakak akan kembali lagi" ucap Reza pada Riri, Riri hanya menangis saja dan mengangguk.
Reza kembali untuk menyelamatkan bundanya, meskipun tahu jika bundanya tidak akan kenapa kenapa.
"Bunda, ayok kita pergi saja, biarkan mereka yang menanganinya" teriak Reza pada Hana.
Hana menoleh pada Reza namun saat menoleh Reza melihat di belakang Hana ada orang yang membidik bundanya itu, dengan cepat Reza langsung saja memeluk sang bunda membalikkan badannya.
Dor! punggung Reza terkena tembakan, Hana yang kaget melihat putranya malah melindunginya, dengan cepat Hana menekan pelatuk dan mengarahkan pistolnya ke arah penembak tersebut.
Dor! tembakan itu terkena dahi orang tersebut dan langsung tepar karena sudah tidak bernyawa lagi.
"Leo! sekarang kita pergi saja" teriak Hana pada Leo, dengan cepat Leo menarik Aryan untuk keluar bersamanya.
Kini semua orang sudah berada di rumah sakit, Reza terkena tembakan yang cukup dalam di punggungnya sedangkan Leo terkena di lengan kanannya, Hana, Aryan, Calista dan Harry, baik baik saja, beberapa para bodyguard merekapun sedang di periksa karena terkena tembakan beberapa kali, membuat mereka harus di rawat.
Hana sedang memeluk Riri yang dari tadi tak bergeming sama sekali, dia hanya menangis tersedu sedu saja.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi, kita semua sudah selamat" bujuk Hana pada Riri.
"Bunda, aku takut, mereka banyak sekali" ucap Riri melantur.
"Siapa yang banyak?"
"Para penjahat itu sangat banyak bunda, aku takut" jawab Riri.
Aryan mendekat dan duduk di sebelah Riri, mengelus punggung Riri agar merasa lebih baik
"Bunda aku takut" ucap Riri menghindar seolah tak ingin di sentuh oleh Aryan.
"Cup cup cup, sayang sudah, kau tidak mengenal tuan Aryan?" tanya Hana.
"Tidak, aku tidak mengenalnya! memang siapa dia?" Jawab Riri menggeleng.
DEG! Aryan merasa hatinya tercubit karena Riri tidak mengenalnya sama sekali.
"Sudahlah, jangan bertanya lagi" sergah Hana yang melihat Aryan ingin berbicara.
"Alice, kau mengenal aunty?" tanya Calista pada Riri.
"Aunty, tentu aku mengenalmu" jawab Riri tersenyum.
"Kau mengenal Leo?" tanya Calista lagi.
"Leonard? aku kenal" jawab Riri, Aryan semakin sedih karena hanya dirinya sajalah yang tidak Riri kenal.
"Kau tahu siapa dia?" tanya Calista menunjuk pada Leo.
"Tidak, tapi dia yang menarik narik diriku aunty, dia jahat" jawab Riri seperti anak kecil, Aryan langsung tersenyum mendapatkan secercah harapan, karena bukan dirinya saja yang tidak di kenal oleh Riri.
"Tapi dia Leo sayang, Leonard" ucap Hana menjelaskan.
"Leo? kapan dia besar dan mempunyai janggut?" tanya Riri polos.
"Sudahlah, tidak usah di pikirkan" ucap Hana, pikirannya melayang pada Riri yang masih berumur 12 tahun.
Di mansion Ryn
'Apa jangan jangan Riri lupa lagi? bagaimana ini?' batin Hana merasa cemas.
"Ada apa?" tanya Calista memegang tangan Hana.
"Aku khawatir kak, Riri kembali takut lagi, bagaimana sekarang? apa kita harus melakukannya lagi?" tanya Hana cemas.
"Jangan Hana, ada yang ingin aku beritahukan kepadamu sekarang"
"Apa kak?"
"Alice, di sini selalu mendapatkan teror, tapi setelah beberapa bulan, Alice tidak mendapatkan teror lagi, aku juga tidak tahu! kenapa bisa ada penyusup ke dalam mansion ini?" ucap Calista memilih jujur meskipun Daddy mertuanya melarang nya untuk menceritakan hal itu.