Love You My Wife

Love You My Wife
Dibalik Sisi Lembut Hana



"Tidak Rara, Riri membutuhkan-"


"Ada aku disini sayang, tenang saja, aku akan menjaga Riri" sela Arif dengan tersenyum pada Hana, supaya mau pulang.


"Baiklah kalau begitu, tapi aku mohon jaga Riri, jika dia bangun tolong telpon aku secepatnya" pinta Hana lalu setuju untuk pergi bersama Rara dan Alex.


"Ayah aku Rara dan bunda pergi dulu" pamit Alex.


"Baiklah, jaga dia baik baik"


Drrrttt...drrrttt....


Telpon Aryan pun berbunyi menampilkan nama Eden di layar handphone nya.


"Hallo, ya Eden? ada apa? apa sudah menemukan orang itu?" tanya Aryan dengan cepat, karena ingin secepatnya membalas rasa sakit yang di rasakan oleh Riri.


"Maaf Aryan, tapi aku tidak tahu pergi kemana dia, karena ada segerombolan orang yang sudah menangkapnya!" ucap Eden dengan rasa bingung dan penasaran.


"Benarkah?! baiklah tidak apa apa, tapi jika sudah kau temukan dia, kau harus menangkapnya!"


"Iya Aryan, oh ya, dia wanita Aryan, dia sudah menabrak Riri, dan sepertinya itu rencana, karena saat Riri menyebrang mobil itu berjalan ke arah Riri dengan cepat" ucap Eden, mendengar hal itu membuat rahang Aryan langsung mengeras.


"Baiklah, secepatnya jika sudah di temukan lagi, kau harus cepat telpon aku, aku tak mau menerima maaf nya, aku yang akan membalas nya" ucap Aryan lalu mematikan telponnya karena sudah selesai bercakap.


"Ada apa tuan Aryan? siapa yang akan kau tangkap?" tanya Arif yang mendengar percakapan Aryan dengan seseorang di telpon.


"Maaf, saya sedang menyelidiki seseorang yang telah berusaha mencelakai Cherry, maksudku Riri!" jawab Aryan yang kaku mengucap nama Riri.


"Tidak perlu sungkan kepadaku, aku melihatmu sangat mencintai Riri, dan sepertinya Riri juga sangat mencintaimu!" ucap Arif tersenyum.


"Emmm... apa maksudnya tuan Maxwell menyetujuinya?" tanya Aryan hati hati.


"Tentu saja, asalkan membuat anakku bahagia, aku menyetujuinya" jawab Arif dengan sedikit tertawa pelan.


"Terima kasih telah merestui kami" ucap Aryan dengan menundukkan kepalanya lalu menegakkan lagi.


"Tentu saja, hanya saja anda harus membuat Hana istirku tersentuh, anda lihat dan dengar sendiri kan bagaimana reaksi istri saya saat melihat anda tuan Aryan" ucap Arif dengan helaan nafas nya.


"Iya saya tahu, tapi tidak saya hiraukan"


"Tidak apa apa, dia memang begitu, keras kepala dan tidak mau melakukan apapun jika tidak di paksa" balas Arif.


"Iya, saya melihatnya, mungkin memang dia keras kepala tapi saya melihat nya sebagai ibu yang sangat menyayangi anaknya" ucap Aryan lalu menengok ke arah Riri.


"Ya! dia sangat mencintai putra dan putrinya, tapi-" balas Rama menggantung.


"Tapi apa?"


"Tidak, tidak perlu di pikirkan" mendengar itu Aryan hanya penasaran dan langsung mengiyakan saja.


"Lepaskan aku!!!" teriak viona dengan kencang.


"Lepaskan, tolong aku!!!! siapa saja!!!" teriak viona lagi.


"Hahaha, hahaha, jangan berteriak viona, ini di hutan, tidak akan ada orang lain selain pengawal ku!" ucap seseorang entah dimana.


"Hahaha, kau pikir aku bodoh viona, kau lupa bahwa mata mata ku selalu mengawasi dirimu setiap saat dan setiap detik!" teriak Reza di speaker yang berada di rumah terbengkalai itu.


"Arrgghhh, dasar kau Reza, aku tidak akan mengampuni dirimu!! aku akan membunuhmu dan keluargamu!!!" teriak viona menjadi jadi, dan memberontak agar bisa lepas dari tali yang mengikatnya.


"Jangan bodoh, meskipun kau melepaskan diri, kau tidak akan bisa lepas dari kukungan di sana!" bentak Reza dengan amarahnya.


"Tidak!!! aku tidak bersalah, Riri lah yang bersalah dan kalian semua!!"


"Kalian telah menghancurkan hidupku, kalian membunuh mommy dan Daddy ku, aku tidak akan pernah memaafkan kalian!!" teriak viona lagi.


"Kau bodoh viona, kau pikir harta itu dari siapa? dan kau tidak akan ada di dunia ini jika bundaku tidak menyelamatkan mommy mu yang ingin bunuh diri!" ucap Reza dengan tertawa yang menggema di ruangan itu.


"Apa maksudmu, kami bukan pengemis!!! kalian lah yang pengemis dan pembunuh!!"


"Terserah kau saja, tunggu lah aku, besok kita akan bertemu viona, dan ya, terima hukuman dari ibuku, dia sudah sangat muak terhadapmu, kau melakukan kesalahan viona, kami memberimu fasilitas untuk hidup di negara J, tapi kau telah membangunkan singa yang tertidur" ucap Reza lalu mematikan telponnya.


"Arrggghhh, apa apaan kalian!! aku tidak percaya!!! selama ini hanya Darren yang menampungku!!!" teriak viona yang kesal karena seakan dia pengemis.


Kini Hana sedang bersiap siap untuk pergi, tampilannya kini berbeda, memakai jaket berwarna hitam, memakai make up yang tebal dan memakai lipstik berwarna merah hitam pekat, serta memakai sepatu high heels yang tinggi, rambut terurai begitu saja, membuat dirinya terkesan seram dan menakutkan.


"Kita bertemu lagi viona, kali ini, kau tidak akan lolos dariku" ucap Hana dengan seringai di bibirnya, dan bercermin memastikan penampilan yang bagus.


Kini Hana berangkat untuk ke hutan bersama para pengawalnya, Hana bukan lah ibu yang lembut lagi jika sudah menyangkut anaknya, dirinya memliki kepribadian seperti seorang pembunuh, bukan seperti tapi memang, karena ayahnya seorang mafia dan melatih Hana untuk bertarung melawan musuh.


Namun saat bertemu dengan Arif dia hanya ingin mempunyai kehidupan layaknya seperti orang normal, karena itu lah, ayahnya menjauh dari Hana, bukan karena benci, namun untuk mencegah seseorang untuk melemahkan ayah Hana.


"Nyonya, sudah sampai" ucap supir dengan menunduk, karena ia jelas tahu bahwa Hana yang di depannya bukan Hana yang berperilaku lembut dan baik, namun Hana yang kejam dan lagi sadis.


Hana turun setelah pintu di bukakan oleh orang orangnya, berjalan dengan penuh karisma, tapi penuh kebengisan di wajahnya.


Sepatu high heels mengetuk saat berjalan ke rumah itu, viona yang mendengarnya menjadi ketakutan seperti waktu dulu 3 tahun yang lalu, dia mendengar suara sepatu yang nyaring.


"Hai viona sayang, anak dari temanku yang baik dan cantik" sapa Hana dengan tersenyum tak bersahabat.


"Hmmm, sepertinya kau melakukan kesalahan lagi, karena sekarang kau berada di sini lagi!"


"Kau tak mau memohon padaku?!" sambung Hana mendekat dan menatap viona tajam.


"Buka kain nya!" perintah Hana pada pengawalnya, untuk membuka kain yang membekap mulutnya viona.


"Huhhh, tolong jangan sakiti aku, aku mohon maafkan aku, aku mengaku bersalah aku mohon jangan sakiti aku" pinta viona memohon pada Hana.


Hana kini tersenyum, dirinya menimbang nimbang akan memaafkan nya atau tidak, namun Hana berbeda dirinya lebih kejam dari Reza, dan terlebih Hana menyukai darah.


"Haissshh, aku bingung, pengawal! menurut kalian, aku harus memaafkannya atau tidak?" tanya Hana pura pura pusing dan memijat kepalanya.


Pengawal itu tak menjawab karena takut salah bicara, tentu saja mereka tak mau kehilangan pekerjaannya, apalagi sampai terlantar di jalanan, hanya karena menjawab satu pertanyaan kecil.


"Jawab aku!" teriak Hana karena masih saja tak menjawab pertanyaan nya.


"Kami.. kami tidak tahu nyonya!" ucap mereka dengan rasa takut.


"Cck, baiklah tidak apa apa, biar aku saja yang memutuskannya" ucap Hana lalu tertawa senang sekarang.