Love You My Wife

Love You My Wife
Pengobatan (60)



"Riri?" panggil Reza.


"Apa itu kau?"


"Riri?" tanya Reza kesekian kalinya.


Reza pun bangun dari tidurnya dan menghampiri Riri yang berada di balkon.


Saat Reza baru akan menghampiri Riri, Riri malah loncat dari atas balkon, membuat Reza panas dinding.


"RIRI!!!!" teriak Reza dan terbangun, merasakan mimpinya itu sangat nyata sekali.


"Riri? Riri? kau dimana?" teriak Reza mencari Riri, namun saat melihat ke arah balkon, Reza menemukan Riri di sana.


Tak mau teledor, Reza langsung berlari dan memeluk Riri.


"Riri, apa yang terjadi?" tanya Reza menangkub wajah Riri.


"Kak?! aku? apa yang aku lakukan di sini?" tanya Riri linglung.


"Ada apa sayang? kenapa malah balik bertanya?" tanya Reza merasa aneh.


"Kakak, aaaarrgghhhh.... kakak!!!" teriak Riri secara tiba tiba.


"Sayang! apa yang terjadi?!"


"Kakak, hiks hiks hiks, darah... darah...." Riri melihat tangannya penuh dengan darah.


"Darah? darah siapa?" tanya Reza bingung.


"Tenang Riri, jangan berteriak, ayok masuk sayang" ajak Reza dan langsung menggendong Riri ke tempat tidur.


"Darah, kak! burung itu! aaaargggggg!" teriak Riri terus menangis.


"Biar kakak bersihkan, sebentar sayang" ucap Reza lalu membuka bajunya, seketika tersadar jika darah itu adalah darahnya sendiri.


"Sudah kakak bersihkan, tidak ada darah lagi, tenanglah" ucap Reza mengelus rambut Riri.


Riri terus berteriak namun sudah tidak terlalu lagi, akhirnya Riri pun tertidur dengan terus memeluk kakaknya itu.


Reza memilih untuk bergadang karena takut Riri akan kemana mana lagi.


Pagi hari matahari muncul, membangunkan Reza dan Riri, Reza yang merasa masih mengantuk pun terpaksa bangun karena adiknya juga sudah membuka matanya


"Selamat pagi sayang" ucap Reza pada Riri.


"Selamat pagi kakak" cup


"Ayok bangun dan mandilah, setelah itu kita makan bersama" ucap Reza.


Riri pun menurut dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri


"Reza, punggungmu kenapa bisa berdarah lagi?" tanya Hana tiba tiba masuk ke kamar Riri.


"Bunda, aku..."


"Ayok, bunda bersihkan dulu, bunda akan menyuruh kak Calista untuk ke sini dulu" ajak Hana cepat.


"Tapi Riri bunda, bagaimana jika dia mencari ku?" tanya Reza menengok ke arah pintu kamar mandi.


"Tidak perlu khawatir, ayok bersihkan dulu" ucap Hana menjawab.


"Baiklah bunda, ayok" ajak Reza mengalah.


"Bagaimana bisa seperti ini Reza? lukamu akan semakin dalam nanti" ucap Hana memarahi Reza.


"Sudahlah bunda, bukankah kita sudah terbiasa dengan hal ini!" balas Reza, Hana hanya mendengus kesal atas perkataan Reza.


"Tapi jika adik adikmu tahu kau terluka seperti ini, pasti mereka sangat sedih" ujar Hana.


"Tidak apa apa, asalkan bunda merahasiakannya" ucap Reza tersenyum.


"Husss, kau ini selalu membalas ucapan ku!"


"Sudah bunda?" tanya Reza


"Sudah, hati hati, jangan tidur terlentang dulu dan jangan beraktivitas yang berat berat"


"Huhhh baik baik!"


"Ayok sarapan, bunda akan ke kamar Riri dulu" ajak Hana, mereka pun keluar dari kamar Hana.


"Riri mungkin sudah di bawa oleh aunty, bunda." ucap Reza.


"Benarkah? bunda tidak tahu"


"Aku pintar kan?" ucap Reza menampilkan handphone nya.


Hana pun kesal pada anaknya itu "Licik kau Reza!" cibir Hana, Reza hanya tertawa dan mengikuti langkah bundanya itu


"Ehhh Riri, makan lah dengan hati hati" ucap Reza mengusap rambut Riri.


"Hati hatilah dengan hati, atau kau akan sakit hati karena tidak hati hati" ucap Riri dengan terus memakan roti itu.


"Hahaha"


"Kau bingung Reza?" tanya Farrel pada Reza.


"Apanya yang bingung grandfha? tentu saja tidak! aku cukup faham dengan isi otak adikku ini!" jawab Reza, Farrel hanya mendengus kesal.


"Makanlah! jangan terus berbicara" ucap Reza marah.


"Matamu!" ucap Riri.


"Ada apa sayang? sepertinya kau sangat bahagia" tanya Agatha pada Riri.


"Suutttt! grandma, jangan bertanya atau dia akan tahu" ucap Riri menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.


"Uppsss, maaf sayang" ujar Agatha membekap mulutnya.


"Makanan sudah tidak ada harga dirinya jika sudah berkumpul seperti ini" ucap Calista memelas.


"Maka dari itu, tulis saja harganya aunty, biar kita bisa membelinya" ucap Riri tertawa.


"Bukan itu sayang"


"Sudahlah, lebih baik makan saja" ucap Hana.


"Baik bunda" ucap Calista seperti anak kecil.


"Kau bukan anak kecil lagi kak" cibir Hana pada Calista.


"Maaf, sepertinya aku sudah ketularan Riri, hahaha" ucap Calista.


"Ckk, yang benar saja!" cibir Hana lagi.


"Jangan marah bunda, bukankah bagus seperti ini?" ucap Rara menimpali.


"Jangan ikutan Rara, mereka bertiga saja sudah repot!" tegur Hana pada Rara, Rara hanya tertawa renyah saja.


Aryan baru tiba di meja makan, dirinya tidak tahu jika sarapan akan sepagi ini.


"Ahhh, tuan Aryan, sepertinya anda ketinggalan, tentu saja, saya lupa bahwa anda tamu di rumah ini" ucap Hana tersenyum kecil pada Aryan.


"Nana, jangan berbicara seperti itu" tegur Calista pada Hana.


"Bukankah ini kenyataan?" tanya Hana.


"Memangnya apa pelayan tidak membangunkan dia bunda?" tanya Riri pada bundanya.


"Riri, kami lupa bahwa ada pak Aryan di sini, jadi kami tidak membangunkannya" jawab Rara pada Riri.


"Ohhh, aku tidak tahu, jika pak Aryan, dia, menginap di sini" ucap Riri memasukkan roti ke dalam mulutnya.


"Tuan Aryan, silahkan duduk, mari sarapan bersama" ujar Agatha pada Aryan.


Aryan hanya tersenyum lalu duduk di sebelah Calista.


"Bunda, aunty, aku sudah selesai, boleh aku pamit?" ucap Riri bertanya.


"Boleh sayang-"


"Tidak! sayang, hargai mereka yang ada di sini" Porong Farrel.


"Tapi..."


"Sayang, menurut ya" pinta Agatha, Riri pun kembali duduk dan memilih untuk diam.


"Jangan bersedih, atau kakak tidak akan membawamu jalan jalan" ucap Reza mengacak rambutnya Riri.


Di rumah sakit


Riri, Hana dan Calista sudah berada di tempat ruangan, dimana dokter akan melakukan penghilang ingatan untuk Riri lagi.


"Bagaimana dokter? apa sudah selesai?" tanya Hana khawatir dari tadi.


"Semuanya berjalan lancar, semoga saja, nona tidak hilang ingatan semuanya" doa dokter itu.


"Semoga saja, jangan sampai itu terjadi" ucap Calista.


"Semoga saja"


Seminggu kemudian, Riri akhirnya bangun dan melupakan kejadian waktu itu.


Hana dan Calista serta semua orang sangat bersyukur Riri baik baik saja dan tidak melupakan semua ingatannya.


Karena itu lah resiko untuk melakukan pengobatan itu.


"Kau mau makan apa lagi?" tanya Hana pada Riri.


"Aku tidak mau apa apa, aku ingin di sini saja bunda" ucap Riri lesu.


"Baiklah, jangan sampai ke mana mana, jika mau keluar, katakan pada bunda dulu" ucap Hana dan meninggalkan Riri di kamar rumah sakit.


'Kenapa? siapa laki laki itu?' tanya Riri dalam hatinya.


"Apa aku mencintai orang lain? lalu siapa?" gumam Riri.


Pintu terbuka, menampilkan grandfha nya dan Aryan.


"Bagaimana keadaanmu sayang? grandfha sangat senang kau sudah sadar lagi" tanya Farrel.


"Memangnya aku kenapa? kenapa bisa sampai ada di rumah sakit?" tanya Riri bingung.


"Tidak usah di pikirkan, jangan terlalu berpikir berat" ucap Aryan kini tersenyum pada Riri.


Riri menautkan alisnya bingung, melihat Aryan yang merasa sangat asing, namun hatinya tidak begitu yakin dengan ke asingan pria yang berada di sisinya itu