
"Nanti sore kita akan pulang sayang, kau ingin cepat pulang kan?" tanya Reza pada Riri.
"Emmm iya kak, aku tidak suka bau obat obatan, dan di sini sangat membuatku takut" bisik Riri dengan suara di seramkan.
"Hmmm, ya ya sayang, kakak akan membereskan baju mu dulu, barang yang kau pakai selama di sini" ucap Reza lalu turun dari tempat tidur Riri.
Reza memasukkan baju baju Riri ke dalam tas kecil, tidak terlalu banyak membuat Reza selesai.
Pintu terbuka, terlihat Hana masuk dan menutup pintu itu kembali.
"Reza, sedang apa?" tanya Hana saat Reza menyeletingkan tas pakaian Riri yang tadi dia bereskan.
"Aku sedang membereskan pakaian Riri, lagi pula ini hanya sedikit saja bunda"
"Ohh baiklah, dan ya Reza, Riri akan pulang hari ini, kau gendong Riri ya" ucap Hana membuat Riri mengdongakkan kepalanya menatap sang ibunda.
"Bunda!!!! aku bukan anak kecil, lagi pula ke kamar mandi saja aku selalu sendiri" rengek Riri yang tak mau di gendong oleh Reza karena merasa malu dengan orang luar.
"Tidak Riri, kita harus turun naik lift, bunda tak mau kau lelah!"
"Tapi bunda, bukankah bisa naik kursi roda?" tanya Reza kini.
"Tidak Reza, lebih baik kau gendong Riri saja!" jawab Hana dan mengedipkan matanya.
"Emm... baiklah kalau bunda memaksa" ucap Reza senang.
"Kapan pulangnya?" tanya Reza pada Hana.
"Sekarang saja, bunda sudah bicara pada dokter dan dia mengizinkan Riri untuk pulang sekarang" jawab Hana dengan jelas.
"Ohhh baiklah kalau begitu"
"Aku sudah siap bunda, aku akan menyusul bersama Riri!" sambung Reza, Hana pun keluar setelah mengecup kening Riri dan pamit.
"Jadi... bagaimana? kau mau kakak gendong?" tanya Reza pada Riri.
"Memangnya aku pernah menolak di gendong kakak!" cibir Riri dengan kesalnya.
"Haha haha haha, maafkan kakak sayang"
"Baiklah ayok kita pergi" ucap Reza lalu menggendong Riri keluar dari kamar rumah sakit.
Di luar sudah apa penjaga yang akan membawa barang barang Riri.
"Kau bawa tas Riri di dalam" perintah Reza pada pengawalnya dan tentu saja di angguki oleh mereka.
"Sebentar kak!!!" teriak Riri.
"Ada apa?"
"Hei!! bawa ransel ku dengan hati hati, itu barang barang yang kakakku berikan!" ucap Riri dan di angguki oleh mereka.
"Tentu nona muda"
"Baiklah, ayok kak kita pergi!" ajak Riri dan Reza pun melangkah keluar.
Reza pun sampai di tempat parkir, masuk ke mobil yang sudah di tempati oleh bundanya.
"Reza kenapa lama sekali?" tanya Hana yang sejak tadi menunggu mereka berdua.
"Tidak bunda, aku tadi menunggu penjaga membawa barang Riri dulu" jawab Reza bohong.
"Ohh baiklah, ayok masuk"
Reza pun masuk ke dalam mobil, Hana memerintahkan sopir untuk cepat menjalankan mobilnya.
Selama di mobil mereka tidak ada berbicara sedikitpun, bahkan untuk berdehem saja mereka tahan, setengah jam kemudian mobil pun melewati gerbang rumah suaminya Hana, di sana sudah banyak orang yang menunggu kedatangan mereka.
Mulai dari para pelayan, pengawal, Daddy Farel, Rara, Alex dan mertua Hana.
Mereka menyambut dengan senang karena Riri baik baik saja, rumah itu kini banyak pengawal yang menjaga rumah itu membuat mertua Hana seperti tahanan saja.
"Kenapa Riri di gendong oleh Reza?" tanya Farel yang bingung.
"Aku yang memerintahkan nya Daddy, tidak masalah kan? lagi pula Reza akan berpisah dengan Riri besok, jadi ya kau tahu aku ingin Reza menyempatkan dirinya untuk melepaskan rindu!" jawab Hana dengan jelas.
"Baiklah kalau begitu, ayok masuk, kasihan Reza yang terus menggendong Riri" ucap Farel lalu memegang pundak Reza.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Risma pada Riri.
"Aku baik baik saja nek, bagaimana keadaan nenek?" tanya Riri balik.
"Nenek selalu baik sayang, cepatlah sembuh sayang"
"Aku sudah sembuh nek! hanya bunda saja yang terlalu khawatir!" ucap Riri dengan kesal.
"Bukan bundamu saja yang khawatir! tapi nenek juga khawatir padamu sayang!" balas Risma dengan mengusap kepala Riri.
"Bunda, Riri sepertinya harus istirahat dulu di kamarnya, dan bicara saja di kamar Riri" ucap Hana kepada Risma mertuanya.
Risma tersenyum dan mengangguk, setelah itu Risma dan Riri pun masuk ke dalam kamar Riri.
Risma dan Riri pun duduk di kasur milik Riri.
"Sayang, kau benar setuju akan pergi dari sini?" tanya Risma yang masih ragu melepaskan cucu kesayangan nya itu.
"Iya nek, nenek tahu kan bagaimana grandpa dan bunda, mereka tidak mau di bantah!" jawab Riri dengan merengut.
"Baiklah, jaga dirimu baik baik di sana sayang, jangan pergi kemana mana, turuti semua larangan grandpa mu, jangan membuat dirinya kesulitan Riri!" nasehat dari Risma di angguki oleh Riri, Riri pun memeluk neneknya itu.
Dirinya pasti merindukan sosok neneknya yang suka berceloteh dengan candaan khas nya, belum di tentukan Riri akan kembali kapan, mungkin sesekali Riri akan meminta grandpa untuk mengunjungi keluarga nya yang berada di negara S, di sini.
"Nenek, jaga diri baik baik di sini, jaga juga kakek di sini, Riri akan sangat merindukan kalian semua" pinta Riri dan menangis tersedu sedu dengan memeluk neneknya.
"Tentu saja sayang, nenek akan terus menjaga diri, kau juga jangan sampai sakit, jika kau sakit nenek akan langsung terbang ke negaramu dan membawa Riri ke sini!" celoteh neneknya membuat Riri kini tertawa dengan masih menitikkan air matanya.
"Nenek!! jangan bercanda!!" rengek Riri dan melepaskan pelukannya.
"Nenek tidak bercanda, jika nenek punya kekuatan menghilang pasti nenek akan menghilang dan menemui dirimu!" ucap Risma dengan tertawa dan di ikuti oleh Riri.
Hana yang berada di luar kamar pun menangis melihat mereka berdua, rasanya sakit jika harus berpisah dari Riri, tidak seperti Reza, waktu itu memang dirinya selalu rindu pada Reza namun beriring nya waktu membuatnya bisa tanpa ada Reza.
"Hana!! masuklah jangan hanya menguping!" teriak Risma pada Hana, Hana pun terkejut dirinya di ketahui oleh mertuanya.
"Bunda, maaf aku menguping!" ucap Hana dan masuk setelah menghapus air matanya.
"Tidak apa apa, duduklah"
"Aku akan merindukan kalian semua!!" rengek Riri dan memeluk keduanya, mereka bertiga pun berpelukan untuk acara perpisahan.
"Wah wah wah! sepertinya di sini sedang ada bawang!" celetuk Rara dan masuk ke kamar Riri.
"Kakak!!!" teriak Riri dan langsung memeluk Rara saat duduk di samping kasur Riri.
"Ya ampun Riri! aku tidak mau lebay!" celetuk Rara membuat Riri cemberut sedangkan Hana dan Risma hanya tertawa
"Jangan salahkan aku jika kakak nanti rindu padaku!" ucap Riri dengan bersedekap tangan di dada.
"Hey, untuk apa aku merindukan dirimu, jika aku rindu aku hanya perlu memeluk diriku, karena kita sama!"
"Terserah kakak saja lah!" ujar Riri marah pada Rara.
"Jangan marah jika tidak, pak Aryan tidak akan menyukaimu lagi!" ucap Rara dan Riri hanya memutar bola matanya malas.
"Sayang, nenek akan keluar sekarang, puas puaskan rindu pada Riri, Rara. jangan menyesal jika nanti kau rindu padanya!" celetuk Risma dengan tertawa.
"Baik, ayok bunda, aku juga akan keluar!" ucap Hana lalu pergi dengan mertuanya.