
"Aku bukan pengemis Rara!" balas Aryan dengan kesal.
"Tidak apa apa, ayok kita makan di ruanganku" ajak Riri dengan menarik Aryan, entah apa yang terjadi, Aryan pun mengikuti Riri saja.
"Ada apa?" tanya Aryan yang melihat Riri akan ikut masuk ke lift pribadinya.
"Masuk!" jawab Riri dengan tersenyum.
"Pakai lift umum Rara!"
"Tapi aku ingin bersamamu!"
"Pakai lift umum Rara, lift ini khusus untuk diriku!"
"Tapi biasanya aku selalu bersamamu"
"Tidak!" ucap Aryan mendorong Riri pelan lalu menutup pintu lift itu.
Riri pun kesal apa yang di lakukan Aryan padanya, mau tak mau Riri harus menggunakan lift umum itu.
"Riri, kau kenapa? ada apa dengan mukamu?" tanya Alex yang sedang berjalan ke arah lift itu.
"Ahhh, kak Alex, Aryan tak mau mengajakku memakai lift ini" ucap Riri dengan manja.
Alex yang memang sudah menjalin hubungan selama lima tahun pun, memanjakan riri juga seperti Reza, namun tak ada perasaan apapun dari Alex, karena menurutnya Riri dan Rara itu berbeda, Rara lah yang sangat dicintai Alex, meskipun wajah sama tak membuat Alex menginginkan dua duanya.
"Baiklah, ikut aku saja Riri, ayok!" ajak Alex, memegang tangannya Riri.
"Terima kasih kak Alex, kau sangat baik, tidak seperti bos kak Rara!" ucap Riri dengan kesal.
"Jangan tampilkan wajah yang masam itu Riri, atau aku akan membawa kakakmu ke sini!" ancam Alex pada Riri.
"Ishhh selalu mengancam seperti itu!"
"Itu yang tebaik Riri!"
"Tapi ini Aryan, kak Rara tidak mungkin meninju wajah pak Aryan kak!" balas Riri.
"Sudahlah diam Riri, aku akan menelponnya jika mengatakan kata kata lagi!"
Riri pun hanya mengangguk anggukan kepalanya!
"Bagus Riri" ucap Alex dengan mengacak acak rambut riri.
"Jangan mengacak rambutku kak Alex!"
Lift pun terbuka, Aryan yang masih berada di depan lift umum melihat Riri dan Alex, membuat dirinya kesal.
"Rara, cepat ke ruanganmu, dan selesaikan ini" ucap Aryan dengan menyodorkan berkas pada Riri.
"Bukankah kita akan makan bersama Aryan?" tanya Riri yang aneh dengan sikap Aryan.
"Tidak jadi, pergilah makan dengan kekasihmu Rara!" jawab Aryan lalu melangkah pergi.
"Ehhh, kekasihku itu ada di depanku sekarang" balas Riri dengan menghentikan langkah Aryan.
"Ya, Alex kekasihmu Rara!"
"Bukan, dia bukan kekasihku! dia-" ucap Riri menggantung.
"Ada apa? tidak melanjutkan perkataanmu?" tanya Aryan dengan senyum sinisnya itu.
"Riri, kekasihmu tidak mau makan bersamamu, ayok kita makan berdua saja" ajak Alex, dengan mendekat pada Riri.
"Cihh, bawa saja kekasihmu Alex, aku tidak butuh dia!" ucap Aryan lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kak Alex, aku berusaha merayunya, kenapa menggagalkan rencanaku!" ucap Riri dengan kesal.
"Sudahlah Riri, jangan marah, atau aku akan menelpon kakakmu!" ancam Alex lagi.
"Ishh, selalu mengancamku seperti ini?" ujar Riri menghentak hentakkan kakinya.
"Ya ampun Riri, jangan marah!" teriak Alex, mengejar Riri.
"Ehhh siapa itu Riri? apa dia sudah mengganti namanya?" tanya wanita yang melihat kejadian itu.
"Tidak tahu, aneh saja, kenapa ada dua nama?" balas temannya itu dengan bingung.
"Huhfft, membingungkan sekali!" ucap wanita itu pasrah.
"Seperti ada yang mengganjal, benarkan?" ucap wanita lainnya.
"Iya, sangat mengganjal, waw, jika benar mereka kakak adik yang kembar, itu sangat menghebohkan pastinya!" balas wanita tersebut.
"Jangan macam macam, jangan mengumbar berita yang belum tahu asal usulnya" ucap wanita lagi memperingatinya.
Di ruangan Riri, kini Alex, sedang duduk di sofa, menatap Riri yang aneh.
"Ada apa sebenarnya Riri?" tanya Alex membuka pembicaraan.
"Tidak tahu!"
"Ehhh kakakmu bertanya Riri, kenapa menjawab seperti itu"
"Aku sedang kesal kak Alex, jangan menambah kekesalanku!"
"Baiklah baiklah, aku akan menelpon kakakmu dulu" ucap Alex, Riri pun melihat Alex sedang menelpon kakak nya.
"Kak Alex, jangan menelpon kak Rara!" teriak Riri dengan berjalan ke arah Alex, dan berusaha untuk mengambil handphone milik Alex.
"Tidak Riri, kakak hanya rindu pada kakakmu itu saja"
"Alasan, sini kakak handphone mu, kau tidak bisa di percaya?" ucap Riri masih dengan berusaha mengambil handphone Alex.
"Kak, cepat matikan!" rengek Riri.
"Hallo Alex, ada apa?" tanya Rara di sebrang sana.
"Kak Alex, cepat matikan?" rengek Riri lalu.
"Kau sedang bersama Riri?" tanya Rara yang mendengar suara Riri.
"Iya sayang, aku sedang bersamanya, aku ingin mengadu!"
KLIK
Handphone pun dimatikan oleh Riri, Alex pun yang menyadari handphone nya kini berusaha untuk mengambilnya kembali.
Srekkk
Aryan yang melihat pemandangan Alex memeluk Riri dari belakang pun, kini mengerti, bahwa dirinya bukanlah satu satunya.
BRUK
Pintu tertutup dengan kencang, membuat Riri dan Alex kaget, dan menatap satu sama lain dengan bingung.
"Ahhh, kekasihku sedang marah" teriak Riri dan berjalan keluar.
"Hey-"
"Aryan!! tunggu sebentar, aku ikut ya!" teriak Riri, namun Aryan sudah menutup liftnya itu.
"Aihhh, ada apa dengannya kini"
"Kak Alex, bantu aku ayok!" ucap Riri menarik Alex keluar.
"Ehhh bentar, sayang aku tutup dulu telponnya, adikmu sangat menyusahkan" pamit Alex pada Rara, saat dia sedang telponan bersama Rara.
"Ada apa?" tanya Alex dengan bingung.
"Bantu aku, ini lift ini buka kak Alex" ucap Riri dengan tidak sabaran.
"Sebentar dulu Riri, kakak mengambil kartu dulu" ucap Alex, lalu membuka pintu lift itu.
"Kak Alex lama, Aryan tidak tahu kemana!" ucap Riri saat berada di dalam lift.
"Hey kakak tidak tahu Riri, enak saja menyalahkan kakak!" balas Alex dengan sebal.
Pintu lift terbuka, Riri yang langsung berlari, jatuh ke lantai, apalagi saat high heels nya potong, membuat Riri terjatuh dengan rasa malu dan sakitnya.
"Arrrggghhh, Aryan!" teriak Riri.
"Ehh, Riri ayok bangun"
"Tidak kak! aku tidak mau!"
"Dasar wanita, ada apa dengannya ini!" ucap Alex dengan kesalnya.
"Arhhh, Aryan sakit" teriak Riri memanggil Aryan.
Aryan pun menoleh dan langsung berlari ke arah Riri.
"Hey, Rara! ada apa?" tanya Aryan dengan berjongkok.
"Kaki ku sakit Aryan, tolong bantu aku" jawab Riri dengan memelas
"Ada Alex Rara, Alex bantu dia berdiri" ucap Aryan pada Alex.
"Riri tidak mau di gendong Aryan, sebaiknya gendong saja dia!" balas Alex, yang sedang menelpon kekasihnya Rara.
"Ckk, kau menyusahkan ku Rara!" ucap Aryan lalu menggendong Riri.
"Terimakasih my love" ucap Riri mencium bibir Aryan sekilas.
"Riri, Aryan, kau mau membawa Riri kemana hey" teriak Alex yang kini mengejar mereka yang telah meninggalkan Alex.
Setelah di luar, Aryan pun menurunkan Riri, namun Riri tak mau turun.
"Rara ayok turun!" ucap Aryan dengan nada dinginnya itu.
"Tidak mau Aryan, aku ingin bersamamu!" ucap Riri kekeh.
"Rara turunlah, lepaskan tanganmu!"
"Tidak mau, aku ingin menciumu sekarang cup" ucap Riri dengan mencium Aryan, Alex yang melihat itu langsung melebarkan matanya.
"Hei Riri, jangan mencium Aryan!" tegur Alex, yang tak tahu apa apa.
"Terserah aku kak Alex, dia kekasihku!" balas Riri semakin erat pelukannya.
"Ckk, dasar wanita" gumam Alex yang masih di dengar oleh mereka.
"Aryan, Ayok ke mobilmu" ucap Riri dengan mengacung acungkan kakinya.
"Tidak mau, lebih baik bersama Alex saja Rara! kau calon istrinya!" ucap Aryan dengan penuh penekanan.
"Hei- sudahlah, Riri, ayok ke mobilku?" sergah Alex, dan mengajak Riri.
"Aku hanya ingin bersama Aryan kak, jangan mengacaukannya, aku sudah susah payah merayu dia dengan cara ini dan itu!" rengek Riri dengan terus mengacung acungkan kakinya.
BRUK
"Arrgghhhh sakit!" teriak Riri saat Aryan menjatuhkannya.
"Ahhh, kak Alex, sakit!" ringis Riri pada Alex membuat Alex langsung menggendongnya.
"Arrgghh, kak Alex, sangat sakit"
"Riri bertahanlah, sebentar" ucap Alex, menenangkan Riri, Aryan pun mengejar mereka yang menyadari Riri sangat tersiksa karena dirinya.
"Kak Alex, sangat sakit!" ringis Riri yang kini tak berbohong.
"Alex, aku ikut" ucap Aryan lalu masuk ke mobil Alex.
"Sakit sekali kak Alex!" ringis Riri kembali.
"Tenanglah sayang, maafkan aku!" ucap Aryan dengan memeluk Riri.
"Maafkan aku Rara, maaf!"
"Aryan sakit, kenapa kau menjatuhkan ku!"
"Maaf Rara, aku tidak sengaja"
"Alex cepatlah" teriak Aryan pada Alex.
"Sabarlah Aryan, lagi pula ini salahmu, Riri memiliki penyakit itu, semoga tidak terjadi apa apa!"
"Aku tidak tahu"
"Kak Alex, di tempat kak Lina saja!" ucap Riri dengan terbata bata, karena menahan sakit.
"Iya Riri!"
Setelah menempuh perjalanan 10 menitan, akhirnya Riri langsung di bawa ke ruang rawat.