Love You My Wife

Love You My Wife
Penculikan



Hap! para orang yang mengejar Riri kini telah berhasil menangkap Riri.


"Arrgghhh tolong!!!! aunty!!! grandma!!" teriak Riri terus menerus memanggil bibi dan neneknya.


"Cherry!!! apa yang terjadi?!" teriak Aryan di sebrang sana.


"Aryan! tolong!" teriak Riri yang masih mendengar suara Aryan di telpon.


"Diamlah! ikut kami sekarang!" ucap salah satu orang itu pada Riri.


"Arrghhhh, aku tidak mau!" teriak Riri, Aryan yang di sana pun terus berjalan keluar ruangannya, dirinya harus segera menyampaikan segera ke keluarganya Riri.


"HEI!!!" teriak seorang wanita yaitu Calista, dirinya langsung panik saat mendengar teriakan Riri yang memanggilnya.


"Penjaga!!! penjaga!!" teriak Calista memanggil penjaganya, namun tak ada satu pun dari mereka yang datang menghampiri Calista, dengan cepat Calista mengambil pistol yang ada disaku pinggang nya.


Riri terus di seret oleh beberapa orang itu.


DOR!


Calista melepaskan pistolnya yang langsung mengenai punggung penculik itu.


Calista terus menembak mereka dengan terus memanggil penjaga dan pelayan, akhirnya beberapa pelayan pun langsung menembaki penculik itu, pertempuran pun tak bisa di elakkan, Riri yang merasa dirinya sedikit gelisah, Riri merasa pikirannya melayang dengan diiringi suara tembakan itu.


Pelayan berlari dengan sembunyi-sembunyi, saat sudah dekat, sebuah asap muncul membuat penglihatan mereka kabur, suara mobil pun terdengar jelas, mereka semua mengibaskan asap itu agar cepat menghilang, namun saat sudah hilang asapnya, Riri dan penculik itu sudah menghilang.


"Di mana mereka?" tanya Calista pada pelayan, sang pelayan hanya bisa menunduk dan berkata "Maafkan saya nyonya muda, saya kehilangan mereka"


"Apa?! ah, sialan! cepat siapkan mobil dan cari penjaga sekarang!" teriak Calista dengan nafas memburu.


"Menantu, ada apa ini? kenapa sangat berantakan sekali?" tanya Agatha yang baru saja tiba di luar taman pemanahan.


"Mommy, aku sudah tidak banyak waktu lagi, aku harus cepat pergi sekarang, jangan khawatirkan aku"


"Sebagian kalian, jaga mommy ku, jangan sampai dia dalam bahaya" lanjut Calista pada pelayan, sang pelayan pun langsung mengangguk.


"Nyonya sudah siap" ucap wakil kepala pelayan.


"Ayok cepat sekarang, bawa sebagian untuk mencari Alice" ucap Calista, Agatha hanya menatap gelisah dan khawatir pada menantunya itu.


Dalam ruangan Riri telah di ikat tangan dan kakinya, agar tidak bisa lepas dan kabur.


Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut, menampakkan senyuman menyeringai dan gigi yang putih berjajar itu.


"Apa kabar Riri? ah, namamu Alice jika di sini! maaf paman lupa sayang" ucap laki laki paruh baya itu bernama William.


"Hikz, a...aku takut, hikz hikz hikz" tangis Riri terus menerus.


"Cup cup cup, sayang, jangan menangis! apa kata bundamu jika kau menangis?" ucap William dengan mengelus rambut Riri.


Dengan cepat Riri langsung memundurkan kepalanya, merasa takut pada orang yang ada di hadapannya.


"Hahaha! kau takut pada paman, Alice? ckk, masih sama seperti dulu, maafkan paman Riri, paman benar benar harus menculik mu lagi kali ini" ucap William, terus berusaha mengelus rambut Riri, namun Riri terus menghindari sentuhan dari William.


"Jangan menghindar lagi! atau paman akan membuatmu sengsara di sini!" teriak William mencengangkan dagu Riri dengan kuat.


"Hiks hiks hiks, a...ku takut, bundaaaa.. aku takut" lirih Riri terus menerus menangis, pikirannya sedang terguncang dengan seiringnya teriakan William yang dilontarkannya.


"Berhenti menangis!" bentak William dan menarik rambut Riri, membuat wajah Riri terlihat jelas oleh William.


"Jika bukan karena kau! putraku tidak akan pergi dari sisiku!" teriak William.


"Kehadiran dirimu! membuat putraku jauh dariku sekarang! arrrgghhg!!" teriak William terus, sedangkan Riri hanya bisa menangis ketakutan.


"Ayahhhh, bundaaaa, hiks hiks hiks"


"Diam memanggil bundamu terus! terlebih ayahmu itu!" bentak William.


"Hiks hiks, aku ta..takut"


"DIAM!"


__--__--__--__--__--__--


"Apa?!" teriak Hana saat Aryan menceritakan kejadian yang di alami Riri tadi.


"Bagaimana bisa aku tidak khawatir Rara? Riri di sana sekarang dan mungkin sekarang dirinya sedang ketakutan, pasti sedang memanggil bunda saat ini" balas Hana dengan menitikkan air matanya.


"Bunda, lebih baik telpon saja aunty, mungkin sekarang sudah menemukan Riri" usul Rara.


Hana pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetik nama Calista, kakak iparnya itu.


Ponsel terus berdering namun tak ada sahutan apapun dari sang pemilik telpon itu.


"Tidak di angkat" ucap Hana pada Rara dengan tangannya yang terus bergetar.


"Terus panggil bunda, mungkin sedang sibuk atau bersama Riri" balas Rara, Hana pun mengangguk dengan cepat langsung menelepon lagi.


"Hallo Nana? ada apa?" tanya Calista dengan cepat.


"Hallo kakak ipar, apa Riri sudah ditemukan?" tanya Hana langsung.


DEG!


Calista hanya bisa melongo dan bingung, dari mana Hana tahu tentang Riri yang di culik.


"Nana apa maksudmu?" tanya Calista berpura pura tidak tahu apa apa.


"Kak! jangan berbohong! di mana Riri sekarang?" ucap Hana dengan nada tinggi.


"Maafkan aku Nana, kami semua tidak bisa menjaga Alice dengan baik" ucap Calista dengan menangis di sebrang sana.


"Apa?! jadi benar apa yang di katakan Aryan?! hiks hiks, kak, aku berharap ini hanya mimpi! jika memang kenyataan aku harap ini adalah hari terakhir aku hidup di dunia ini" ucap Hana dengan terduduk di kursi rumah sakit.


"Nana, jangan khawatir, aku akan mencari Alice kita, aku yakin kita semua bisa menemukan Riri dengan cepat" ucap Calista menenangkan Hana.


"Baiklah, aku mohon cari Riri sampai ketemu, jangan sampai Riri kenapa kenapa, aku akan sangat menyesali karena mengizinkan Riri ke negara sana!" pinta Hana.


"Tentu saja Nana, sudah dulu, aku sedang mencari Riri sekarang, di sana juga pasti sudah malam, tidurlah dulu" ucap Calista, Hana pun mengakhiri panggilannya dan langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.


"Nyonya, bagaimana dengan Riri?" tanya Aryan khawatir pada Hana.


Hana hanya menggeleng lemah, dirinya terus menangis karena tidak sanggup kehilangan putrinya, jika bisa dirinya ingin menukarkan posisi Riri dengannya.


"Riri masih dalam pencarian, mereka sedang berusaha, hiks hiks" jawab Hana yang menangis tersedu sedu.


Aryan tanpa pamit langsung pergi begitu saja, memerintahkan asistennya untuk segera memesankan tiket ke negara L, Aryan ingin segera menemukan Riri.


__--__--__--__--__--__


Di negara L, William telah menghubungi nomor telpon putranya, bernama Willem, putranya itu sangat arogan, terlebih putranya itu sangat mencintai Riri, membuat William hanya bisa memijit kepalanya yang pusing itu.


"Hallo! ada apa?" tanya Williem tanpa basi basi.


"Daddy sudah menepati janjiku, Wil. Cepatlah kembali ke rumah Daddy, jangan terus menghindar dari Daddy" ucap William.


"Daddy? apa maksudnya?" tanya Willem tidak mengerti.


"Jangan banyak bertanya, orang yang kau cintai sedang berada di tangan Daddy, kemari lah jika ingin bertemu dengannya" jawab William menyeringai.


"Apa?! Daddy! jangan melakukan apa apa padanya! aku akan segera ke sana!" ucap Willem dengan cepat.


"Daddy tidak melakukan apa apa, cepatlah kembali, Daddy sangat merindukanmu" ucap William tertawa


Willem yang merasa jijik hanya bisa diam dan langsung mematikan teleponnya.


Willem langsung pergi dan menemui asistennya untuk langsung menuju ke negara L, dimana Daddy nya itu berada kini.


Keesokan harinya, Willem dan Aryan kini datang bersama, hanya berbeda jam dan negara saja.


Di mansion Ryn, Farrel terus memarahi bodyguard nya yang tidak bisa menjaga rumah ini, bodyguard yang lebih dari 30 orang itu hanya menunduk takut pada Farrel.


"Tuan besar, ada yang ingin bertemu dengan tuan besar" ucap kepala pelayan pada Farrel.


"Siapa?" tanya Farrel.


"Saya tidak tahu tuan besar, yang pasti dia laki laki dan mengatakan tuan mengenalnya" jawab pelayan itu menunduk.


"Baiklah, katakan padanya, aku akan segera menemuinya" ujar Farrel dan di angguki oleh pelayan.