Love You My Wife

Love You My Wife
Peleset Kan Saja Lah



Di dalam restoran, Reza sedang sendiri menikmati makanan, kesal kepada Riri karena lebih memilih Leo untuk jalan jalan.


Di sisi lain, Lina sedang memperhatikan Reza, mantan kekasihnya itu, meskipun sudah menggunta ganti pria lain, Lina masih tetap mencintai Reza.


"Hallo tuan, kau butuh pendamping?" tanya wanita yang kini mendekat pada Reza.


Reza tentu tidak memperdulikannya, lebih memilih untuk diam dan makan makanannya.


"Tuan, aku akan bersamamu" ucap wanita itu meraba dada Reza dari belakang.


Lina yang melihat itu, hanya mengepalkan tangannya kesal.


"Siapa dia?! rasanya aku ingin mencakar wajahnya yang penuh make up itu!" ujar Lina terus melihat kejadian Reza dan wanita tersebut.


"Tuan, kau pasti akan senang jika aku layani" ucap wanita itu terus menggoda.


Tangan wanita itu menyentuh wajah Reza, membalikkan wajahnya agar bisa melancarkan aksinya, Reza yang kesal pun langsung menggebrak meja, membuat wanita itu sedikit terlonjak.


"Berhenti menggodaku!" Bentak Reza kesal.


Wanita itu hanya tersenyum, sedangkan tangannya menaruh obat pada minuman Reza.


Lina membeo ketika melihat wanita itu memasukkan sesuatu ke dalam gelasnya Reza.


"Maaf tuan, ini minumlah agar kau tenang" ucap wanita itu menyodorkan gelasnya Reza.


Dengan cepat Reza langsung mengambilnya dan menyuruh wanita itu pergi, wanita itu langsung pergi seraya tersenyum.


"Kau akan aku dapatkan! uangmu dan kekuasaan mu?" ucap wanita itu melihat Reza meminum minumannya dengan kesal.


"Reza! kenapa kau meminumnya?" tanya Lina mendekat pada Reza.


"Memangnya ada apa?" tanya Reza kembali marah.


"Minuman itu, sudah di campuri obat!" ujar Lina.


"Jangan berbohong!"


"Aku tidak berbohong Reza!" geram Lina.


Reza langsung menjambak rambut Lina, obat perang sang itu kini sudah menjelajari tubuh Reza.


Reza yang melihat gincu Lina, sudah tak tahan dengan na*fsunya, dengan cepat Reza meraup gincu Lina dengan kasar.


"Reza! apa yang kau lakukan?!" teriak Lina menampar Reza, Reza terus menggerayangi Lina, membuat Lina mend*sah karena tangan Reza yang sudah menyelip pada roknya.


Dengan cepat Lina membawa Reza keluar restoran, setelah itu membawa Reza ke hotel agar Reza sadar kembali.


"Dasar, berat sekali aku yang bertubuh kecil!" gerutu Lina.


Setelah berada di tempat tidur, Reza semakin agresif untuk menginginkan t*buhnya Lina.


"Reza!" teriak Lina, karena Reza menyibakkan bajunya Lina.


"Ahhh" de*ah Lina tak tahan dengan pergerakan Reza.


Reza pun langsung memasukkan pisangnya ke dalam selai, langsung menghentakkan hentakannya, supaya pisang itu mendapat kepuasaan dan banyak selainya.


"Reza, ahh, pelan pelan!" pekik Lina


"Diamlah, j*lang!" bentak Reza memukul bola Lina.


"Reza, faster baby" celoteh Lina dalam kenikmatan yang menguras esmosi dan jiwa yang kena mental, sehingga membuatnya di masukkan ke rumah sakit jiwa, ralat!


"Riri!!!" teriak Reza setelah mencapai kepua*an.


Lina yang mendengar nama Riri dari mulut Reza, merasa sangat sakit hatinya, benar adanya, jika Riri masih belum bisa di hapus dalam hatinya dan kehidupannya.


"Riri!" lirih Reza lagi yang langsung ambruk.


"Kenapa kau panggil dia? sedangkan yang di bawah mu itu adalah aku!" ucap Lina bersedih.


Lina langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah beberapa menit, Lina baru keluar dan mendapati Reza tertidur di kasur itu.


Baru saja Lina akan menyentuh wajah Reza, tiba tiba saja, Reza menerkam Lina lagi, sehingga membuatnya terkejut.


"Reza! apa yang kau lakukan?!" tanya Lina berteriak.


"Ahhhhh!!!!" teriak Lina, saat pisang masuk ke selainya lagi.


"Diamlah ja*lang, kau pikir aku menikmati tub*hmu? tidak sama sekali! ini pelajaran untuk pengkhianat seperti mu!" ucap Reza sembari menyentak tubuhnya.


"Reza! apa ma sud mu?! a aku tidak mengerti!" Tanya Lina terbata bata.


"Diamlah!"


Reza melakukan itu sampai membuat tubuh Lina seperti tidak mempunyai energi lagi, selama 4 jam, Reza menghukum Lina dengan (se*sial), membuat tubuh Lina memar karena pukulan demi pukulan Reza berikan pada Lina.


Jam 12 malam, Reza langsung pulang dan melempar uang yang banyak pada tubuh Lina.


"Jika sudah menjadi ******* akan tetap menjadi ja*lang!" gumam Reza menatap sinis.


Lina yang baru bangun pun, merasakan tubuhnya sakit, hatinya pun sakit, Reza kini berubah, tidak bisa memiliki Reza kembali.


Dengan cepat Lina mengambil bajunya dan langsung memakai nya.


"Kenapa takdirku harus seperti ini?" tanya Lina terisak seraya mengambil bajunya di lantai.


"Apa aku tidak bisa bahagia tanpanya? kenapa hatiku tetap bersikukuh untuk mendapatkan nya lagi? kenapa?!" tanya Lina menangis.


Keesokan harinya, Reza sedang sarapan dengan Keluarganya


"Kak Reza, semalam dari mana aja?" tanya Riri pada Reza, Reza memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan dari adiknya.


"Kakakmu sedang bekerja kemarin Riri, jadi Reza pulang jam 1 dini hari" jawab Hana tersenyum pada Riri.


"Memangnya tidak bisa besok saja?!" tanya Riri dengan kesal.


Reza hanya menatap bundanya Hana bingung.


'Dari mana bunda tahu, jika aku pulang jam satu?' tanya Reza dalam hati.


"Reza, setelah selesai sarapan, temui bunda" ucap Hana dengan berdiri.


"Ibu, ayah, suamiku, aku ada urusan, aku pamit dulu" ucap Hana pada semuanya.


Setelah itu Hana langsung pergi ke ruangan pribadinya, Reza pun langsung menyusul bundanya.


"Apa bunda.... atau hal kemarin? tidak tidak! itu tidak mungkin!" gumam Reza menggelengkan kepalanya.


"Ada apa bunda? kenapa memanggilku?" tanya Reza setelah membuka pintunya dan masuk seraya duduk di sofa.


"Kau melakukan kesalahan lagi Reza!" ucap Hana dengan datar.


"Apa maksudmu?" tanya Reza tidak mengerti.


"Besok kau harus menikahi Lina!" ucap Hana tegas.


"Tidak ada bantahan!"


"Bunda! apa ini?! kenapa melakukan sesuatu tanpa persetujuan dariku?!" tanya Reza dengan nada tinggi.


"Reza! kau bertanya pada bundamu? kau tahu alasannya kan? kenapa bunda memintamu untuk menikahi Lina?!" ucap Hana dengan melihat Reza tajam.


"Kapan kau tidak seperti ini? kau selalu seperti ini!" ucap Reza.


"Memintaku untuk menjauhi Riri, aku sudah melakukannya, menyetujui Riri menikah dengan Aryan, aku setuju, keluar negri, pulang setahun dua kali! aku menerima semuanya! tidak terlibat dalam urusan grandfha! aku setuju! kali ini untuk menikah dengan ja*ang itu! aku tidak se tu ju!" ucap Reza panjang lebar.


"Baik! jika kau tetap tidak mau! bunda akan melakukan sesuatu di luar nalar otakmu Reza!" ancam Hana dengan serius.


"BUNDA!!!" teriak Reza membentak bundanya.


"Kau tidak mau! ya sudah, bunda tidak akan memaksa?" ucap Hana tersenyum kecut.


"Jangan membawa Riri ke dalam masalah ini! atau aku juga akan melakukan hal hal yang tidak bisa bunda pikirkan sama sekali!" ucap Reza dengan marah, Reza pun meninggalkan ruangan itu, menutup kencang pintu, membuat semua orang menjadi kaget lagi.


"Entah apa yang terjadi sekarang!" ucap Arif yang pasrah dengan memijit pelipisnya.


"Apa ibu dan anak itu tidak bisa akur sehari saja?" tanya Risma dengan menggeleng.


"Sudahlah, jangan di pikirkan, biarkan itu menjadi urusan mereka!" ucap Wisnu melerai.


Telpon berdering, Hana langsung mengangkat telpon dari anak buahnya itu.


"Hallo, ada apa?!" tanya Hana dengan sedikit membentak.


"Ma.. maafkan saya nyonya, se..sepertinya nona Lina berencana untuk bunuh diri" ucap anak buah Hana dengan terbata bata.


"Apa?! jangan biarkan itu terjadi, selamatkan dia, aku akan segera ke sana!" ucap Hana buru buru.


"Apa yang gadis itu lakukan, kenapa bisa menjadi seperti ini!" gerutu Hana, dengan berpakaian rapi.