
Hana kini baru sampai di apartemennya Lina, Hana sedikit khawatir pada Lina, tentu saja Hana sudah menganggap Lina sebagai anaknya sendiri, karena ibunya waktu dulu sering mengajak Lina saat mengajar Riri di rumah.
"Nyonya" sapa bodyguard Hana menunduk.
"Dimana gadis itu?" tanya Hana datar.
"Di dalam nyonya, kami mengikatnya karena nona, selalu memberontak, maafkan saya nyonya" jawab bodyguard itu menunduk
"Tidak apa apa!" ucap Hanna, lalu berjalan masuk ke apartemen nya Lina.
"Apa ini? kenapa sangat berantakan?" tanya Hana setelah masuk ke apartemennya Lina.
"Bibi" lirih Lina dengan menatap Hana.
"Ada apa? kenapa kau tidak cerita saja pada bibi?" tanya Hana membuka ikatan di tangan Lina.
"Bibi!! hiks hiks hiks, Reza bibi, dia berubah! dia... dia tidak selembut waktu dulu!" pekik Lina memeluk Hana dengan menangis.
"Sudah sudah, bukankah bibi sudah bilang, jangan mendekati Reza lagi, bibi juga tidak tahu kenapa Reza bersikap seperti ini" balas Hana mengusap pundak Lina.
"Kembalikan Reza bibi, ku mohon!" pinta Lina berlutut.
"Ku mohon kembalikan Reza seperti dulu, jangan diam saja bibi! ku mohon!" rengek Lina menarik baju Hana.
"Lina, untuk masalah ini, kau harus menyelesaikannya sendiri" ucap Hana tegas
"Tapi..."
"Besok aku berjanji akan menikahkan mu dengan Reza!" ucap Hana berjanji.
Lina yang mendengar ucapan Hana, langsung saja tersenyum dan memeluk Hana kembali.
"Benarkah bibi? tidak berbohong padaku?" tanya Lina tersenyum lebar
"Bibi berjanji, kau dan Reza akan menikah besok"
"Terima kasih bibi, aku menyayangimu" ucap Lina dengan sangat senang.
"Sama sama, untuk kau, akan bibi lakukan"
"Sekarang lebih baik, kau istirahat. Siap siap untuk besok, bibi akan melakukannya sendiri untuk upacara pernikahan kalian" lanjut Hana tersenyum, Lina sekali lagi memeluk Hana dengan perasaan bahagia.
"Bibi pergi dulu, orang orang ku akan menjagamu, takut jika kau melakukan hal bodoh lagi seperti tadi!" ucap Hana terkekeh.
"Baik bibi, hati hati di jalan"
"Iya, jaga dirimu baik baik"
Hana pun langsung melangkah pergi keluar, bersamaan dengan bodyguard nya tadi.
Di dalam ruangan, terdapat Reza dan Hana kini saling bertatap tajam, seperti singa dan harimau yang ingin sama sama menerkam.
"Kau membawa Riri lagi kedalam masalah ini!" ucap Reza dengan dingin dan datar.
"Jika itu di perlukan!" ucap Hana tersenyum.
"Baiklah, kapan aku akan menikah dengannya?" tanya Reza dengan cepat, Hana pun langsung tersenyum, meraih rambut Reza untuk mengelus, namun langsung di tepis oleh Reza.
"Besok! besok kau akan melakukan pernikahan dengan Lina, tidak ada bantahan!" ucap Hana langsung sebelum Reza ingin membantahnya.
"Tidak bisakah sebulan atau dua bulan lagi?" tanya Reza kesal.
"Bagaimana jika Lina hamil? itu akan sangat memalukan jika menikah saat hamil!" tanya Hana tersenyum sinis.
"Hahaha, aku tahu kehidupannya! dia yang selalu menggunta ganti laki laki, tidak mungkin hamil dengan cepat seperti itu!"
"Kau salah! Lina menjadi rusak gara gara dirimu Reza!" bentak Hana dengan menggebrak meja.
"Aku yang sakit hati atas perlakuannya! sekarang kau malah membelanya!" ucap Reza lirih.
"Sampai kapan akan seperti ini?! bahkan bunda tidak tahu permasalahan mu dengan lina!" tanya Hana menatap lekat putranya itu.
"Memang jika aku menceritakan nya, apa kau akan percaya?! tidak!" jawab Reza!
"Jangan di pikirkan lagi, pikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan pada adik adikmu dan keluarga kita Reza!"
"Bukankah kau yang merencanakannya? kenapa harus aku?" tanya Reza tanpa mengalihkan pandangannya.
"Reza!"
"Iya iya, aku yang akan melakukannya!" Ucap Reza dengan cepat.
"Aku pergi dulu!" pamit Reza, lalu pergi keluar dari ruangan itu.
"Cherry, lihatlah, balon ini akan menjadi besar!" teriak Aryan pada Riri, menunjukkan balon yang sedang di tiup olehnya.
"Lebih besar lagi cutty!" teriak Riri mendekat.
"Ahhh!" pekik Riri yang baru saja akan jatuh, namun dengan cepat seseorang menangkap Riri.
"Kak!" lirih Riri menatap kakaknya Reza.
"Hati hati sayang, ayok aku bantu duduk" ucap Reza menggendong Riri.
"Cherry, kau tidak apa apa?" tanya Aryan khawatir.
"Tidak perlu seperti itu kak! bukankah aku tidak apa apa?" ujar Riri pada Reza yang sedang memijatnya.
"Bagaimana jika kakimu keseleo, itu harus segera di pijit!" jawab Reza tanpa menatap Riri.
"Tapi kak, aku tidak apa apa!"
"Reza! kau tidak melihat Riri risih dengan tingkah mu yang keterlaluan?!" tanya Aryan dengan marah.
"Tahu apa kau?! aku selalu seperti ini! dan kau Riri! kenapa merasa kesal atas apa yang aku lakukan?!" tanya Reza kesal pada adiknya itu, Riri hanya menunduk saat kakaknya itu memarahi dirinya.
"Wah wah wah, sepertinya ada drama lagi!" ucap Alex yang sering sekali menggoda mereka bertiga.
"Diamlah kau!" ucap mereka bersamaan.
"It's Oke, santai men!" ucap Alex mengangkat tangannya..
"Kak, bunda bilang, saatnya untuk sarapan" ucap Rara saat sudah berada di dekat mereka berempat.
"Baiklah, Ayik Riri" ajak Reza, namun baru saja Riri akan berdiri, Reza sudah menggendong Riri, membuat mereka menautkan alisnya
"Ayok!" ajak Reza pada semua orang, mereka hanya mengangguk, sedangkan Aryan dengan kesal mengepalkan tangannya.
"Kau mau di gendong?" tanya Alex pada Rara.
"Aku bukan anak kecil!" sergah Rara.
"Etss, kau memang bukan anak kecil, tapi... kau adalah istriku!!" teriak Alex mengangkat tubuh Rara.
"Arrrhhh, Alex! dasar kau!" teriak Rara terkejut tubuhnya seperti melayang.
"Jangan berteriak, jalan ke rumahmu jauh sayang" ucap Alex.
"Ckk, apa apaan ini? kenapa di sini, aku merasa akulah yang paling tersiksa?!" gumam Aryan kesal.
"Ehh, ada apa ini? aku harap kalian tidak salah menggendong" ucap Wisnu, kakek mereka.
"Tentu saja tidak, Rara orang yang sangat pendiam, sedangkan Riri orang yang sangat ceria" balas Alex tertawa.
"Hahaha, benar sekali, ayok makan, semuanya sudah siap" ajak Arif.
Reza dan Alex, langsung mendudukkan Rara dan Riri, di kursi mereka.
Mereka pun langsung menduduki kursi masing-masing.
"Aku ingin berbicara serius dengan kalian" ucap Reza pada semuanya.
"Oh, ya? kalau begitu bicaralah Reza" ucap Arif.
"Aku sebentar lagi akan menikah"
"Uhuk uhuk" batuk Riri saat mendengar ucapan dari sang kakaknya.
Arif hanya menatap Hana, seolah bertanya apa itu benar.
"Kenapa terburu buru sekali?" tanya Wisnu dengan heran.
"Karena memang harus cepat kakek" jawab Reza.
"Ta..tapi tidak secepat itu kak!" ucap Riri sedikit berteriak.
"Kenapa Riri? bukankah kau juga ingin aku menikah?!" tanya Reza bernada tinggi.
"Ma...maksudku, itu..." ucap Riri menggantung
"Besok aku akan menikah, jadi kalian bisa kan menghadiri pernikahanku?" ucap Reza dan bertanya.
"Ahhh, tentu saja bisa, kakek sangat senang kau akhirnya akan menikah" jawab Wisnu, dengan tersenyum palsu.
"Terima kasih, aku pergi dulu. Aku merasa tidak lapar" pamit Reza, lalu berdiri. Sebelum meninggalkan mereka, Reza melepaskan tangan Reza dari Riri.
"Ayok makan sayang" ucap Alex pada Rara.
"Hmmm, iya"
Keesokan harinya, pernikahan benar adanya dan sekarang akan di rayakan di gedung yang mewah.
Setelah mengganti pakaian, Lina langsung keluar di dampingi oleh Hana, sedangkan Riri tidak mau sama sekali menghadiri pernikahan itu, Rara lebih memilih untuk pergi ke mansion mertuanya, memilih untuk menyegarkan dirinya.
"Bibi, dimana Rara dan Riri?" tanya Lina pada Hana.
"Riri sedang sakit, sedangkan Rara, dia sedang mengandung" jawab Hana berbohong.
Reza memberi kode pada Hans, dengan cepat Hans langsung menghampiri Reza.
"Bunda, aku pergi dulu" ucap Reza pada Hana.
"Tidak bisa! kau harus berada di sini terus Reza! kasihan Lina jika di tinggal sendiri!" ucap Hana dengan memelankan suaranya.
"Kasihan Riri, dia sendiri di rumah" ucap Reza, lebih memikirkan Riri.
"Riri bersama Aryan, tenang saja!" ucap Hana, Reza pun tak bisa membantahnya lagi.
Tanpa mereka duga, Lina mendengar percakapan antara Reza dan Hana, membuatnya sakit, sampai saat ini, cinta Reza masih kuat pada Riri, adiknya.