
Boleh baca saja asal jangan boom like
Mampir ke ceritaku juga
Tidak Akan Berhenti Mencintaimu
Alena tak bergeming saat melihat sosok laki laki yang di depannya kini.
"Kau?" lirih Alena.
"Kau, dari mana? aku mencari mu" ucap Alena memeluk laki laki tersebut, yang tak lain adalah Willem.
"Emmm, apa maksud anda?" tanya Willem bingung.
"Kau tidak kenal aku? aku Alena, aku sedang mengandung anakmu" ucap Alena terisak.
"Apa?" teriak Willem tidak percaya.
"Kau? apa kau wanita itu?" Alena hanya mengangguk menatap Willem.
"Aku mencari mu, aku pikir kita tidak akan bertemu kembali, aku sangat senang sekali" ucap Willem memeluk Alena erat.
Willem langsung membawa Alena ke tempat restoran untuk berbicara pada Alena
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Willem setelah duduk di kursi.
"Aku mencari mu" lirih Alena.
"Untuk apa mencari ku? bukankah kau tidak pergi tanpa sepengetahuan ku?" tanya Willem menatap nanar.
"Aku... sebenarnya, aku hamil" lirih Alena nyaris tak terdengar, Willem langsung membelalak tak percaya akan hal itu.
"Apa?! bukankah aku memakai pengaman?" tanya Willem.
"Aku tidak tahu, kau tahu aku tidak sadar waktu itu" jawab Alena.
"Lalu apa mau mu ke sini? meminta tanggung jawab?" tanya Willem dengan kesal, bukan kesal karena membenci, Willem hanya marah karena Alena pergi meninggalkan dirinya tanpa pesan apapun.
"Aku, jika kau tidak mau tidak apa apa, aku akan pergi bersamanya denganku" ucap Alena dengan cepat dan berdiri untuk segera pulang.
"Tunggu, jangan pergi dulu! aku belum selesai berbicara" ucap Willem mencekal tangan Alena.
"Apalagi? bukankah sudah jelas jika anda menolak ku?"
"Bukan itu, aku hanya ingin kau mengatakan kau mencintaiku" pinta Willem.
"Apa maksudnya?"
"Katakan kau mencintaiku? apa kau jatuh cinta padaku? pada pandangan pertama?" tanya Willem menggoda.
"Ehhh, tentu saja tidak!" sergah Alena cepat.
"Benarkah? lalu kenapa bisa tahu wajahku? tidak mungkin jika kau tidak mencintai diriku!" ucap Willem pura pura tidak tahu.
"Aku ingin pergi" ujar Alena terus memegang perutnya.
"Aku mencintaimu! jangan pergi!" ujar Willem pada Alena.
Alena yang mendengar mengulas senyum dan berbalik.
"Katakan kau mencintaiku" pinta Willem.
"Aku? a..aku tentu tidak bisa" sergah Alena.
"Katakan dulu!"
"Tidak!"
"Katakan kau mencintaiku!" teriak Willem.
"Aku tidak mau!"
"Katakan lebih dulu, aku akan melepaskan mu!" mereka pun saling berteriak, membuat orang di restoran itu menjadi menonton mereka.
"Katakan!" teriak Willem.
"Iya!"
"Iya apa?!"
"Iya aku mencintaimu!" teriak Alena malu dan langsung memeluk Willem.
Orang orang langsung riuh dan girang, seraya bertepuk tangan dengan kencang, membuat Alena semakin malu dibuatnya.
"Makanlah dulu, tidak baik meninggalkan makanan begitu saja" ujar Willem.
"Aku sudah makan tadi, aku hanya ingin pulang" jawab Alena menolak.
"Ku mohon, setelah ini, aku akan mengantarmu pulang dan berbicara pada orang tuamu untuk meminta restu dan maaf" ucap Willem.
Alena pun menatap lekat Willem, dirinya sangat senang karena prianya ini sangat bertanggung jawab.
Alena pun tak bisa menolak dan langsung mengangguk, mereka pun makan bersama dengan bercerita ini itu.
__--__--__--__--__--
"Kak Reza! dari mana saja?!" tanya Riri berteriak mengikuti langkah Reza.
"Berhentilah berteriak sayang, memangnya ada apa? Kakak baru saja pulang ke sini" ucap Reza memeluk pinggang Riri.
"Kakak, aku ingin menikah!" teriak Riri dengan bersemangat.
"Menikah dengan siapa?" tanya Reza pura pura tidak tahu, sebenernya Hana sudah memberitahu Reza tentang Riri yang meminta persetujuan dari keluarga.
Tanpa ada angin gede ataupun hujan, Reza langsung menyetujuinya, dengan alasan dirinya ingin adiknya itu bahagia, Reza mengerti selamanya seorang kakak, akan tetap menjadi seorang Kakak.
"Lalu, apa kau mau menikah dengan kakak?" tanya Reza menggoda Riri.
"Tidak, tentu saja dengan orang lain, kau tahu kan tuan Aryan yang menginap di sini?" Reza pun mengangguk.
"Aku mencintai dirinya kak" lanjut Riri memelas pada Reza.
"Kau benar benar mencintai dirinya?" tanya Reza sedikit kecewa.
"Asalkan kau bahagia sayang, kakak akan melakukan apapun untukmu" ucap Reza tersenyum.
"Benarkah? kau tidak marah? aku senang sekali, terima kasih kak!" ujar Riri memeluk Reza lagi. 'untukmu, apa yang tidak bisa aku lakukan?' batik Reza.
__--__--__--__--__--
Aryan kini sudah berada di negara S, dirinya sangat penasaran tentang Alena yang di katakan oleh Daddy-nya itu.
"Dad, ada apa sebenarnya?" tanya Aryan berada di ruang kerja milik daddy-nya itu.
"Alena, dia sedang mengandung sekarang" ucap Dian langsung, Aryan yang mendengar sedikit terkejut atas apa yang di katakan oleh daddy-nya itu.
"Dad! jangan bercanda tentang hal itu? ini tidak lucu!" sergah Aryan tertawa hambar.
"Daddy tidak bercanda Aryan! kau pikir wajah Daddy sedang bercanda?" ucap Dian kesal.
"Bukankah wajah Daddy memang seperti itu?" tanya Aryan tertawa.
"Serius Aryan!"
"Lalu apa masalahnya? tinggal nikahkan saja Alena" ucap Aryan enteng.
"Kau akan marah setelah melihat wajahnya laki laki itu!" ucap Dian menahan amarahnya.
"Untuk apa aku marah? asalkan bukan Rian saja yang menghamili Alena!" ucap Aryan bercanda lagi.
"Jangan terus bercanda Aryan!"
"Lihatlah ini! kau pasti mengenalnya!" ucap Dian memperlihatkan Poto Willem pada Aryan.
"Daddy! jangan bercanda! kenapa selalu bercanda tentang hal ini?!" ujar Aryan kesal yang merasa daddy-nya itu bohong padanya.
"Apa yang mau kau sangkal Aryan! memang ini kenyataanya!" jawab Dian kesal.
"Tapi dia? tidak mungkin! bahkan dia tidak mencintai Alena, dia mencintai Cherry ku dad!" ucap Aryan menunjuk padanya
"Daddy tidak tahu, adikmu mencintainya, bahkan Daddy rasa, lelaki itu mencintai Alena juga!" balas Dian.
"Tidak mungkin dad! aku harus menyingkirkan dirinya!" ucap Aryan melangkah pergi.
"Kau mau apa?! jangan bertindak bodoh!" teriak Dian dengan merah.
"Dad!!!! dia lelaki tidak baik!" teriak Aryan pada Dian.
"ARYAN! kau tidak berhak melakukan apapun! Daddy menyuruhmu ke sini untuk menyelesaikan semuanya! tidak untuk memberantakkannya!" teriak Dian menunjuk jari pada Aryan.
"Dad!" geram Aryan.
"Selesaikan semuanya baik baik, jangan sampai ada yang salah!" ucap Dian berbalik membelakangi Aryan.
Aryan langsung pergi dari ruangan itu dan berjalan ke kamar adiknya.
Saat akan masuk, Aryan mendengar adiknya Alena sedang bertelepon dengan riang.
"Alena" panggil Aryan.
"Kak!kau di sini? kapan datangnya?" tanya Alena kaget melihat kakaknya yang sudah sebulan lamanya tidak pulang.
"Sedang telponan dengan siapa?" tanya Aryan dengan mendekat pada Alena.
"A...aku aku sedang telponan dengan Willem kak" jawab Alena gugup.
"Tidak perlu sungkan sayang, duduklah" ujar Aryan menarik tangan Alena untuk duduk.
"Kau mencintainya juga?" tanya Aryan menatap lekat pada Alena.
Alena hanya menunduk dan mengangguk.
"Kau ingin menikah dengannya?" tanya Aryan lagi.
"I..iya kak
"Bagaimana jika laki laki itu tidak mencintaimu?"
"Tidak! dia sangat mencintaiku kak! dia bahkan akan menikah denganku seminggu lagi" ucap Alena dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, semoga kau selalu bahagia sayang, jika kau tidak bahagia, maka Kakak akan langsung membawamu kemari lagi!" ucap Aryan mengelus rambut Alena.
"Terima kasih kak"
Setelah mengatakan itu, Aryan langsung melangkah pergi meninggalkan Alena.
Saat sudah menjumpai mommy nya, Aryan langsung pamit pergi lagi ke negara L, untuk bertemu Riri dan menceritakan tentang hal ini kepada keluarga Riri.
__--__--__--__--__--
Pagi hari, Riri kini sudah tiba di bandara untuk menjemput Aryan bersama kakaknya Reza itu.
"Dimana dia Riri? kenapa lama sekali?" tanya Reza pada Riri dengan memegang pundaknya Riri.
"Tidak tahu kak, tunggu saja" jawab Riri enteng, Reza hanya memutar bola matanya jengah.
"Itu dia kak!" teriak Riri dan melepaskan tangan Reza dari pundaknya untuk segera berlari kepada Aryan.
"Cutty pie!!!!!" teriak Riri menggema.
"Cherry!!!!" teriak Aryan sama menggema juga, Reza hanya mendengus kesal melihat adiknya itu berpelukan dengan Aryan.
"Sudah pelukannya! jangan membuatku menghancurkan bandara ini! agar kalian tidak bisa bertemu lagi!" ucap Reza kesal, Riri pun mengurai pelukannya takut jika suatu saat itu kejadian.
"Jangan marah kakak, bukankah aku juga sering memelukmu!" ucap Riri beralih memeluk pinggang Reza, kini Aryan lah yang jengah melihat Reza di peluk kekasihnya itu.
"Kalau begitu, ayok kita pulang sayang" ajak Reza dan melenggang pergi bersama Riri, sedangkan Aryan menatap tak percaya karena di tinggalkan mereka berdua.
"Ckk! menggangu saja! kenapa malah aku yang di tinggalkan?!" gerutu Aryan sepanjang jalan.
"Berhentilah mengomel! seperti wanita saja!" ucap Reza pada Aryan, Riri hanya tertawa melihat mereka berdua bertengkar.
Sedangkan Aryan hanya mencibir calon kakak iparnya itu yang paling menyebalkan!
"Dasar menyebalkan! sedunia!" cibir Aryan.